Prof Dr Muhibbin: Hadis Palsu dan Lemah dalam Sahih Bukhari

Prof Dr Muhibbin: Hadis Palsu dan Lemah dalam Sahih Bukhari

SUMBER: REPUBLIKA ONLINE

”Telitilah kembali setiap hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Jangan asal riwayat Bukhari, lalu dikatakan sahih.”

Prof Dr MuhibbinSebagian besar umat Islam di seluruh dunia, yakin dan percaya bahwa kitab hadis Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari adalah sebuah kitab yang berisi kumpulan hadis-hadis paling sahih. Karena keyakinan itu pula, sebagian besar ulama pun turut meyakini dan menempatkannya pada urutan pertama kitab hadis sahih.

Benarkah demikian? ”Tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari itu benar-benar sahih. Terdapat beberapa hadis yang termasuk kategori lemah dan palsu,” kata Prof Dr H Muhibbin MAg, guru besar dan pembantu Rektor I IAIN Walisongo, Semarang.

Menurutnya, berdasarkan penelitian yang dilakukannya (hasilnya penelitian Muhibbin ini sudah dibukukan–Red), terdapat hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun antarhadis di dalam kitab tersebut.

”Hadis palsunya bermacam-macam. Ada yang karena tidak sesuai atau bertentangan dengan Alquran, namun ada pula yang tidak sesuai dengan kondisi kekinian,” terang mantan dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo ini.

Kepada Syahruddin El-Fikri, wartawan Republika, Muhibbin mengungkapkan berbagai kelemahan hadis yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Shahih tersebut. Berikut petikannya.

Benarkah hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari itu semuanya masuk kategori hadis sahih?

Tidak. Tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab itu masuk dalam kategori sahih. Terdapat beberapa hadis palsu dan lemah (dlaif). Saya sudah mengungkapkan hal ini dalam disertasi doktoral saya yang sekarang sudah dibukukan.
Perlu diketahui, sebelumnya pengungkapan hadis palsu dan lemah dalam karya Imam Bukhari itu juga sudah pernah diungkapkan para pemikir dan peneliti hadis lainnya. Misalnya, Fazlurrahman (1919-1988 M), Abu Hasan al-Daruquthni (306-385 H), al-Sarkhasi (w 493 H/1098 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M), Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935 M), Ahmad Amin (w 1373 H/1945 M), dan Muhammad Ghazali (w 1416 H/1996 M).

Bisa dicontohkan, beberapa hadis palsu yang Anda temukan dalam kitab tersebut?

Misalnya, hadis palsu yang terdapat dalam kitab itu, setelah diteliti, ternyata ada yang tidak sesuai dengan fakta sejarah. Misalnya, tentang Isra Mi’raj. Di dalam kitab itu, disebutkan bahwa terjadinya Isra Mi’raj itu sebelum jadi Nabi. Faktanya, Isra Mi’raj itu setelah Rasulullah diutus menjadi Nabi.

Kemudian, ada pula hadis Nabi yang bertentangan dengan ayat Alquran. Contohnya, tentang seseorang yang meninggal dunia akan disiksa bila si mayit ditangisi oleh ahli warisnya. (Lihat Kitab Jenazah, bab ke-32, hadis ke 648/I–Red). Ini kan bertentangan dengan ayat Alquran, bahwa seseorang itu tidak akan memikul dosa orang lain. (Lihat ayat Alquran surah al-Fathir ayat 18, Al-An’am ayat 164, Az-Zumar ayat 7, Al-Isra ayat 15, dan An-najm ayat 38–Red). Dan, masih banyak lagi hadis yang bertentangan atau tidak sesuai dengan ayat Alquran maupun hadis Nabi SAW.

Apa kriterianya sehingga ungkapan itu dikatakan benar-benar hadis Nabi, padahal menurut Anda, itu bukan hadis sahih?

Dalam penelitian yang kami lakukan, ada beberapa kriteria dalam menilai sebuah hadis itu dikatakan sahih atau tidak, mutawatir atau tidak, ahad, atau lainnya.

Dalam kitab Bukhari, beliau sendiri tidak memberikan keterangan perinci mengenai kriteria kesahihan hadis. Bukhari hanya mengatakan bahwa semua hadis yang ditulisnya dalam al-Jami’ al-Shahih itu sebagai hadis, dari seleksi sekitar 300 ribu hadis. Dan, satu-satunya yang dapat ditemukan dari Al-Bukhari adalah kriteria keharusan adanya pertemuan (al-Liqa`) antara satu perawi dengan perawi terdekatnya.

Menurut beberapa ahli hadis, seperti al-Naysaburi (w 405 H/1014 M), al-Maqdisi (w 507 H), al-Hazimi (w 584 H), dan lainnya, kriteria hadis sahih yang dipakai Bukhari adalah kesahihah yang disepakati, diriwayatkan oleh orang yang masyhur sebagai perawi hadis dan minimal dua orang perawi di kalangan sahabat yang tsiqah (adil dan kuat hafalan), serta lainnya.

Padahal, para ulama hadis lainnya menyusun sejumlah kriteria dalam menilai hadis sebuah dapat dikatakan sahih dan tidak, mulai dari segi sanad (tersambungnya para perawi hadis), matan (isi hadis), serta kualitas dan kuantitas para perawi hadis. Bagaimana tingkat hafalannya, keadilannya, suka berbohong atau tidak, dan lain sebagainya.

Karena itu, kami menilai, kriteria yang dirumuskan oleh al-Bukhari mengandung beberapa kelemahan, terutama bila diverifikasi terhadap kitab al-Jami’ al-Shahih itu sendiri.

Apa saja kelemahannya?

Kelemahan itu, antara lain, tentang minimal jumlah perawi hadis yang harus meriwayatkan hadis. Di dalam kitab tersebut, ditemukan cukup banyak hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi.

Begitu juga, dalam hal persambungan sanad hadis juga terdapat kelemahan. Di antaranya, seperti diakui sendiri oleh al-Bukhari, di dalamnya ada hadis yang muallaq, mursal, bahkan munqathi` (terputus).

Juga, ada perawi hadis yang tidak tsiqah, bahkan dituduh majhul (tidak diketahui identitasnya), dianggap kadzab (berbohong), dan lainnya.

Bisa disebutkan beberapa contoh perawi hadis yang diketahui tidak tsiqah atau lemah dalam Shahih Bukhari itu?

Misalnya, Asbath Abu al-Yasa` al-Bashri. Ia tidak diketahui identitasnya atau majhul, dan menyalahi riwayat orang-orang tsiqah.
Lalu, ada Ismal bin Mujalad, seorang perawi yang dlaif (lemah) dan tidak termasuk orang yang kuat hafalannya.

Kemudian, ada Hisyam bin Hajir, Ahmad bin Yazid bin Ibrahim Abu al-Hasan al-Harani, dan Salamah bin Raja’ sebagai perawi dlaif. Begitu juga, dengan Ubay bin Abbas, dikenal sebagai perawi yang tidak kuat hafalannya dan munkir al-Hadits.

Selain kedua contoh hadis yang ditengarai palsu tadi, apalagi contoh hadis yang diduga palsu dalam kitab al-Jami’ al-Shahih tersebut?

Selain ada hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun hadis Nabi sendiri dan tidak sesuai dengan fakta sejarah, juga diragukan hadis yang banyak mengungkapkan tentang masa depan. Misalnya, tentang ungkapan, ‘Alaikum Bi sunnati wa sunnati khulafa`ur rasyidin (Ikutlah kalian akan sunahku dan sunah khulafa`ur rasyidin). Bagaimana mungkin Rasulullah SAW mengucapkan hadis ini, padahal saat itu belum ada khulafa`ur rasyidin. Khalifah yang empat itu baru ada setelah Rasulullah SAW wafat.

Fathurrahman, seorang peneliti hadis mengungkapkan, dirinya tidak mau sama sekali menerima hadis-hadis Nabi Saw yang menyatakan tentang peristiwa masa depan. Istilahnya seperti ramalan.

Saya pribadi, masalah ini masih bisa diterima. Sebab, memang ada yang sesuai dan ada pula yang tidak.

Dalam penelitian Anda, ada berapa banyak hadis yang tidak sahih dalam jumlahnya?

Secara spesifik, saya tidak menyebutkan berapa jumlah hadis palsu atau lemah di dalam kitab tersebut. Namun, al-Daruquthni menyatakan, terdapat sekitar 110 hadis palsu di dalam kitab tersebut dari sejumlah 6.000-an hadis. Muhammad al-Ghazali menyebutkan lebih banyak lagi.

Beberapa di antara hadis yang kami nilai lemah dan palsu, yakni tentang hadis masalah poligami, tentang kehidupan dalam rumah tangga, tentang pernikahan. Misalnya, di dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan, Rasulullah SAW menikahi Maimunah pada saat berihram. Ini bertentangan dengan hadis Nabi sendiri yang melarang melakukan pernikahan selama masa haji atau berihram. Kemudian, pernyataan Rasulullah menikahi Maimunah pada waktu ihram itu juga bertentangan dengan hadis yang ditulis al-Bukhari di dalamnya kitabnya itu, yang menyatakan Rasulullah menikahi Maimunah ketika usai bertahalul.

Dari hasil penelitian Anda, bisa ditarik kesimpulan bahwa tidak semua hadis dalam Shahih Bukhari benar-benar sahih?

Ya. Tidak semuanya bisa dikatakan sahih. Sebab, Bukhari sendiri ada yang disebutkannya hadis mursal, hasan, dan lain sebagainya.
Ketidaklayakan disebut sebagai hadis sahih itu meliputi adanya pertentangan atau ketidaksesuaian dengan nas Alquran dan Sunnah Mutawatirah. Materi hadis bertentangan dengan keadaan dan Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi), bertentangan dengan fakta sejarah, adanya materi hadis yang mengandung prediksi atau ramalan dan bersifat politis, serta mengandung fanatisme kesukuan.

Lalu, bagaimana sikap umat untuk menggunakan hadis-hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari itu?

Saran saya, umat Islam hendaknya berhati-hati setiap akan menggunakan atau mengamalkan sebuah hadis Nabi. Sebab, sahih menurut perawi hadis A, belum tentu sahih menurut perawi hadis B. Demikian pula yang lainnya. Telitilah kembali sebelum menggunakan dan mengamalkannya.

Bagi para mubalig, kami menyarankan, hendaknya tidak asal mengutip hadis. Jangan selalu mengatakan bahwa itu hadis Nabi. Padahal, sesungguhnya bukan. Rasul menyatakan, barang siapa yang berbohong atas namaku maka tempatnya di neraka. Man Kadzdzaba alayya muta’ammidan fal yatabawwa’ maq’adahu minan nar.

Telitilah kembali hadis-hadis yang ada sebelum diamalkan. Sudah benarkah itu hadis Nabi SAW. Jangan asal termuat dalam Shahih Bukhari, lalu diklaim sahih. Tanyakan pada yang lebih paham tentang hadis.

25 Tanggapan

  1. Bapak ini ngak faham hadits..
    makanya jika ingin mengkritik buku bukhori fahami dulu manhaj bukhoir dalam menulis buku shahihnya. Juga fahami istilah2x ulama, seperti “hasan” apa maksudnya menurut mutaqoddimin dan apa maksdnya menurut mutaakhirin,,,biar faham..

    terus belajar lah dari guru, ulama2x salaf dulu sering mengatakan
    “la takhuz al qur’ana min mushafy wa la al ‘ilm min suhufy”
    jangan mengambil al quran dari orang yang tidak pernah belajar al qur’an dari guru, dan jangan memperljarai ilmu dari ornag yang tidak punya guru.

    karena kalau tidak punya guru maka akan sesat dijalan…
    terimakasih

    • @kozm

      Bapak ini ngak faham hadits..

      nggak salah mas, bukannya sampean yg nggak ngerti hadis? karena omongan ente tanpa dalil, cuman taklid buta, katanya..ulama salaff… katanya bin katanya.. !

      saya yakin ente yang nggak pernah belajar hadis bukhari… !

      belajar dulu baru nyalahin orang oke!

      • Pak Muhibbin itu hafal berapa hadits ya?
        Pak Muhibbin itu punya guru nggak? Siapa gurunya? Apakah gurunya tersebut tersambung sanad/silsilah ilmunya hingga sampai Rosulullah Saw?

        (Belajar QURAN & HADITS, dari dulu, sekarang, hingga kiamat nanti harus tersambung narasumber gurunya…)

        Kalau jawabannya TIDAK JELAS, berarti Pak Muhibbin itu TIDAK SHOHIH, alias DHOIF, PALSU…! Nggak usah diperpanjang masalahnya karena apa yang ditulis/dikatakannya tidak sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Beliau menulis sesuatu yang tak diketahuinya… Menuduh hadis tidak sohih (terputus sanadnya) tapi dirinya sendiri tidak sohih (terputus ilmu/gurunya).

        Kalau software komputer, Pak Muhibbin ini bukan software original, tapi software bajakan.

        Maaf.

  2. Apa anda lebih paham tentang hadist dari pak Muhibbin. Beliau mengemukakan dg metode ilmiah juga menjelaskan ttg beberapa ulama besar yang mengkritisi Kitab Bukhari. Apa yang salah mas?

    Kalau Anda merasa tidak sependapat coba aja membahasnya secara ilmiah. Mungkin anda perlu membaca tulisan2 Muhammad Al Ghazali, Fazlurrahman Abu Hasan al-Daruquthni, al-Sarkhasi, Muhammad Abduh Muhammad Rasyid Ridla, sebelum jatuh pada kesimpulan anda itu. Gampang sekali mengatakan orang tidak paham. Masya Allah. Dari waktu ke waktu juga terjadi perbedaan ttg periwayatan hadist itu. Kecuali kalau anda ga banyak baca.

    Dari cara menulis anda kelihatan kalo Anda lebih banyak taklid daripada menggunakan akal anugrah Allah.

    Terimakash.

  3. Yaa.. Kemungkinan mas yg d atas adalah termasuk orang yg terdoktrin oleh paham2 dunia kepesantrenan yg notabenenya adalah larangan membantah terhadap guru dan harus mengikuti apa yg d katakan oleh gurunya..Tanpa mengkoreksi apa itu benar atau justru menjerumuskan pada keterbelakangan dunia keilmuan islam..
    Jujur saja,sy berkata begitu karana sy alumnus pesantren salaf.. So,dulunya sy jg gitu,slalu bertaklid buta..
    Namun yg perlu d ambil pelajaran adalah, apabila kita selalu bertaklid buta seperti itu,maka dunia islam tidak akan pernah menemukan kemajuan..
    Innallaha La Yughayyiru Ma Bi Qaumin Hatta Yughayyiruu Ma Bi Anfusihim..
    Dulu Islam mampu mencapai puncak keemasan ya karena diantaranya adalah nuansa kritis tumbuh berkembang diantara para ilmuwan islam.. Sebut saja Seperti Imamuna al-Syafi’i yang terkadang tidak sependapat dengan gurunya sendiri…

    Wallahu A’lam…

  4. Saudara koe… siapapun yg tdk spendapat dgn Prof. Dr.H.Muhibin, M.Ag, lbh baik anda silaturahmi dan tabayyun dgn beliau… sara rasa itu solusi yg “lumayan” cerdas. Wassalam.

  5. BISMILLAH

    Astaghfirullah.. Sungguh berbahaya ucapan ini.. Bertobatlah ya akhi..

    Tdklah seorangpun dari ulama yg benar2 ahli hadis sanggup mengucapkan demikian, jk akhi mengikuti ucapan Ghazali cblah periksa kitab ihya disana dipenuhi hadis2 yg palsu, dia sendiri berkata dlm kitabnya: sesungguhnya pemahaman saya dlm hadis sedikit sekali.

    Tdklah hadis2 bukhari bertentangan dgn Al-Qur’an hanya saja pemahaman kita yg keliru cblah bc ktb tafsir ibnu katsir dan ibnu jarir. Jika sy memuatnya disi tdk memungkinkan

    Akhi menolak hadis dgn logika: (ini tidak masuk akal) sungguh sahihnya suatu hadis tdklah menjadi lemah karena tdk sesuai dgn logika seseorang, karena logika seseorang berbeda2. Masuk logika kah ini:

    » jika kita buang angin setelah wudhu kita wudhu kembali, secara logika kita harus basuh bekas tmpt buang angin.

    » masuk logika kah: hari berbangkit, siksa kubur, pertanyaan kubur, malaikat, surga, neraka dll.

    » umat islam diperintah mendahulukan wahyu baru akal, bukan menerima wahyu cm yg msk akal kita. Karena akal org berbeda2

    Akhi menolak hadis yg ramalan: itu pemberitahuan ya akhi, jk akhi menolak hadis yg ramalan berarti akhi jg menolak Al-Qur’an yg ramalan: akan ada hari berbangkit, akan ada surga, bumi akan digulung, gunung2 akan berterbangan bagai debu, dan bnyk lg dlm Al-qur’an.

    Sungguh pemahaman akhi menyelisi ulama2 besar yg hapal ribuan hadis seperti:
    syakhikul islam Ibnu Taymiah, ibnu Qoyyim, ibnu katsir, ibnu jarir, ibnu hajar, imam nawawi, dosen2 universitas islam di: madinah, mesir, mekah dan lain2 disaudi arabia.
    Sungguh akhi berdiri sendiri dgn pemahaman yg baru ini, orang2 yg akhi sebut diatas tdklah mengucapkan hadis2 bukhari ada yg palsu, namun akhi hanya menukil potong-potongan ucapan mereka saja.

    → Berhati-hatilah akhi karena akhi bisa menyesatkan bnyk umat islam.

    → Semoga Allah memberi rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, amien.

  6. kalo Prof Dr Muhibbin yakin dengan apa yang anda tulis di sini
    tolong dibuatkan daftar serta alasan ke dhaifannya
    saya juga mau belajar tentang masalah ini
    kalo bisa di sertai dengan rujukan dalil yang lain
    terima kasih

  7. Bukhari adalah manusia biasa tidak maksum begitu juga dengan ahli hadis yang lain, kalo anda mau membaca hadis-hadis bukhari anda akan temukan hadis-hadis yang kontradiksi, yang melecehkan rasulullah saw…. hal itu semua adalah biasa karena beliau tidak maksum bukan manusia yang turun dari langit….

    bahkan banyak ahli hadis yang menyalahi aturan yang mereka terapkan sendiri…. satu contoh semua ahli hadis termasuk bukhari membuat peraturan bahwa perawi yang mencaci maki sahabat RIWAYATNYA DITINGGALKAN/DIBUANG tapi ternya kitab shahih bukhari juga dipenuhi oleh hadis-hadis perawi yang mencaci maki sahabat sebagaimana diungkap oleh blog ini.

    1. Imam Bukhari dan Perawi Pencaci-Maki Sahabat Nabi saw.!! (1)

    http://jakfari.wordpress.com/2009/11/30/imam-bukhari-mengandalkan-para-pembenci-imam-ali-as-dalam-menimba-informasi-agama-1/

    2. Imam Bukhari dan Perawi Pencaci-Maki Sahabat Nabi saw.!! (2)

    http://jakfari.wordpress.com/2009/12/15/imam-bukhari-mengandalkan-para-pembenci-sahabat-nabi-saw-2/

    3. Imam Bukhari dan Perawi Pencaci-Maki Sahabat Nabi saw.!! (3)

    http://jakfari.wordpress.com/2009/12/15/imam-bukhari-mengandalkan-para-pembenci-sahabat-nabi-saw-3/

    silahkan menyimak dan berdiskusi disana…

    salam ukhuwah!

  8. terlepas pro dan kontra pendapat bpk ttg Bukhari terutama hadits ttg lalat, sy hanya kurang sepakat jk alasan yg digunakan teman dr timur kurang paham bhs Arab, dlm byk hal ketika mrk menerima punya pendapat yg beda selalu meyalahkan org lain dgn kurang pahami bhs Ara. padahal bhs Arb bukanlah satu-satunya alat analisis, seharusnya setiap mslh dilihat secara konferhensip. Selamat mempertahankan argumen pak.

  9. Sekilas kritik hadis Bukhar

    Potret Sang Nabi Mulia Dalam Hadis Bukhari (3): Astaghfirullah Tuduhan Nabi Saw Berusaha Bunuh Diri?!

    http://jakfari.wordpress.com/2010/04/12/nabi-muhammad-saw-dan-awal-prosesi-pelantikan-kenabian-dalam-gambaran-bukhari-1/

  10. makanya mari belajar bersama biar sama-sama cerdas, namanya saja belajar,ok.

  11. salam…
    ana pernah menemukan beberapa kelemahan dalam beberapa hadist ahlus sunnah…. yaitu bahwa nabi pernah terkena (maaf-maaf) sihir….. dan banyak dalam kitab-kitab ahlus sunnah membenarkan hadist ini padahal kita ketahui bahwa nabi kita ini adalah uswah hasanah… dan juga sebagai orang yang paling sempurna yang pernah ada didunia…. bagaimana antum menyikapi hal ini….????
    salam…

  12. Mau tanya, Prof Dr Muhibbin ini hapal quran ndak ya? hapal hadist juga gak ya? Brp? Kok bisa2nya cuman kutip sana kutip sini…membuat disertasi doktoral? Cuma copy paste? Anak SMA juga bisa la.

    Biasanya sih orang2 yang paling sering bertengkar pendapat macam kalian ni, termasuk orang2 yg banyak tau ilmu tapi sikit mengamalkan.

    Misal, “…. biarkan (peliharalah) jenggot” … hmm tengok picture Prof diatas, tak ada jenggotnya. Apa itu termasuk hadits palsu juga ke? hahahahah

    Ingat saudaraku…mereka2 nih punya 1 tujuan…ingkar sunnah!!

  13. sebenernya kalau ada hadist2 yang nyleneh atau meragukan, ya tinggal di check dan recheck lagi aja, toh kalau hadist2 kan tidak ada jaminan pasti benar, termasuk hadist yang berstatus sahih pun boleh2 saja diperiksa lagi, toh yang bilang sohih manusia juga yang bisa salah, apalagi sekarang jamannya informasi mudah didapat, ini perlu untuk lebih meyakinkan iman, yang dijamin pasti asli kan cuma Alquran, kayanya di Islam malah dianjurkan deh untuk terus belajar dan meneliti

    • Mas Suradi @ dalam ilmu Agama itu tidak mengenal ilmu hasil penelitian, dalam ilmu agama itu tidak sama dengan ilmu bilogi fisika dll. yang membutuhkan penelitian untuk menemukan hal yang baru, kalau dalam ilmu agama itu ilmu yang baku yang harus di wariskan pada generasi berikutnya, dengan meninggalnya seorang ulama saja berarti hilangnya sebagian ilmu agama itu sendiri, jadi yang di kenal dalam agama hanyalah berlangsungnya mata rantai pewarisan ilmu yang bersambung pada Rosulullah bukan hasil penelitian untuk menciptakan hal2 yang baru yang menyalahi kebanyakan prilaku ahli agama itu sendiri.

  14. hadistnya imam bukhori sudah di takhrij..
    memang benar dalam jami’ atau syarahny semisal fathul bari,diroyahny terutama sanad,memang ada yang munqothi’….
    Tapi ke munqoti’an di kitab beliau tidak mempengaruhi kesohihan…
    rowi2 yang beliau isnadkan bukan dari yang sekelas dhoif…
    jadi mutlaq hadist dari beliau tidak di pertanyakan lagi kedhoifanya..
    semisal ada yang hasan,hasanya pun sudah menjadi sohih lighoirihi..

  15. cari sensasi az itu mah

  16. Sohih tidak sohih yang namanya hadits, selama bukan hadits palsu, maka bisa di buat hujjah sekalipun hadits Dho’if, sebenar hadits dho’if bukanlah hadits palsu cuma lemah dalam periwayatannya, jadi yang sebenarnya tidak bisa di pakai hujjah dan harus di buang dan tidak dimasukkan ke dalam kitab2 hadits adalah hadits yang palsu doang. contohnya hadits2 yang bikinan Musailamah Al kadzdzab.

  17. prof. coba mana hadisnya cantumin hadis isra mi’raj dalam shahih bukhori, yang menyebutkan sebelum jadi nabi

  18. kelak islam akan lenyap tidak ada sama seperti saat kemunculannya. awalnya dimulai dari keterasingan lalu menjadi aneh dan akhirnya dilupakan. barat benar-benar telah berhasil mencekoki pikiran para doktor dan professor kita yang membedah al-quran dan hadis menggunakan pendekatan orientalis. ketika orientalis belajar islam tujuannya adalah untuk meruntuhkan islam. seharusnya ketika sarjana-sarjana muslim mempelajari orientalis untuk menjawab orientalis. faktanya bukan jawaban yang disampaikan, tetapi menjadi orientalis-orientalis lokal. wa tilkal-ayyaamu nudaawiluhaa bainan-naas. kita ga perlu risau.epat atau lambat, pasti masa yang dikatakan Nabi saw itu pasti terjadi.. yang terpenting jadilah manusia yang bermanfaat, bukan manusia pembuat kebingungan!!

  19. Mengambil dasar hadist tanpa ilmu (dengan tidak ilmiah) sama dengan beragama tanpa ilmu. Itulah yang menyebabkan seorang ahli ibadah masuk neraka karena kebodohannya. Na udzubillahi min dzaalik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: