Meneladani Sikap Toleransi Nabi

Meneladani Sikap Toleransi Nabi

SUMBER: Islam Indonesia

Laku baik selalu menggema lebih jauh ketimbang kata-kata. Setidaknya itulah yang semestinya kita petik dari Sang Teladan Tertinggi, Rasulullah Muhammad Saw., khususnya kalau kita bicara tentang toleransi.

Al-Quran jelas mengajar Muslim untuk toleran, demikian juga hadis & atsar (jejak riwayat orang-orang terdahulu). Yang menarik, ajaran toleransi dalam Islam terekam pula dalam catatan sejumlah tokoh Barat.

Pada 1936, dalam tulisan yang dimuat di The Genuine Islam Vol. 1, No. 8, sastrawan kelahiran Irlandia, Sir George Bernard Shaw mengatakan, “… (Islam) tampak di mata saya sebagai agama yang memiliki kapasitas asimilasi (melebur) … membuatnya menarik bagi segala usia. Saya juga mengamati Muhammad—lelaki hebat ini menurut pendapat saya, jauh dari seorang yang anti-Kristus, harus disebut sebagai Penyelamat Kemanusiaan….” Baca lebih lanjut

Antek Amerika, Gus Mus Buat Mereka Tercengang

Antek Amerika, Gus Mus Buat Mereka Tercengang

SUMBER: http://www.muslimedianews.com/2013/10/antek-amerika-gus-mus-buat-mereka.html

Mengapa Gus Mus pergi ke Eropa dan Amerika? Apakah ia datang ke tempat-tempat jauh itu untuk mengemis-ngemis kemuliaan dari orang-orang Eropa dan Amerika? Apakah Gus Mus merasa kurang mulia berada diantara santri-santrinya di kampung Leteh, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang? Apakah orang-orang Eropa dan Amerika itu begitu mulia di mata Gus Mus sehingga perlu disowani dan dialap berkahnya? Apakah Gus Mus itu gila hormat atau gila popularitas atau gila uang atau gila beneran?

Gus Mus datang ke Brussel, Kerajaan Belgia, atas undangan dari H. E. Werner Langen (asal Jerman), Ketua Delegasi Parlemen Eropa untuk Hubungan-hubungan dengan Negara-negara Asia Tenggara dan ASEAN, dan H. E. Arif Havas Oegroseno, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belgia dan Uni Eropa. Undangan ke Amerika datang dari Walter Lohman, Direktur Pusat Studi Asia di The Heritage Foundation, sebuah think-tank untuk kebijakan-kebijakan dalam dan luar negeri Amerika Serikat. Apakah Gus Mus memohon-mohon untuk bertemu mereka? Silahkan menduga-duga sendiri, apabila tidak ada jaminan bahwa omongan Gus Mus bisa dipercaya. Baca lebih lanjut

Kontroversi Hukum Ucapan Selamat Natal

Hukum Ucapan Selamat Natal

SUMBER: http://www.alkhoirot.net/

Mayoritas ulama kontemporer yang ahli di bidang fiqih, tafsir dan hadits membolehkan ucapan selamat Natal. Sementara hanya minoritas ulama yang melarang (mengharamkan) yaitu kelompok Wahabi. Namun, suara yang mengharamkan terkesan lebih nyaring.

Ada dua hal yang menjadi kontroversi seputar Natal bagi muslim yaitu hukum (a) mengucapkan selamat Natal; dan (b) mengikuti ritual sakramen Natal.

Mayoritas ulama kontemporer sepakat bahwa mengucapkan Selamat Natal itu boleh. Yang tidak sepakat dengan pandangan ini adalah para ulama Wahabi dan pendukungnya. Apabla anda melihat komentar yang tidak setuju dengan ucapan selamat Natal di artikel ini, maka hampir dapat dipastikan mereka para aktifis Wahabi di Indonesia.

Masalah kedua adalah mengikuti perayaan atau sakramen ritual Natal. Untuk hal ini, hampir semua ulama kontemporer sepakat bahwa itu haram hukumnya. Baca lebih lanjut

Mengucapkan Selamat Natal, Menurut Prof. Quraish Shihab

Mengucapkan Selamat Natal, Menurut Prof. Quraish Shihab

SUMBER: http://kaderulamakemenag.blogspot.com.

Dikutip dari buku 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, Quraish Shihab

Ust. Dr. Quraish Shihab

Ust. Dr. Quraish Shihab

Soal:

Bolehkan kita mengucapkan salam dan atau “Selamat Natal” kepada pemeluk Nasrani?
Jawab:
Ada hadits—antara lain diriwayatkan oleh Imam Mulis—yang melarang seorang Muslim memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Hadits tersebut menyatakan, “Janganlah memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Jika kamu bertemu mereka di jalan, jadikanlah mereka terpaksa ke pinggir.”
Ulama berbeda paham tentang makna larangan tersebut. Dalam buku Subul as-Salam karya Muhammad bin Ismail al-Kahlani (jil. IV, hlm. 155) antara lain dikemukakan bahwa sebagian ulama bermadzhab Syafi’i tidak memahami larangan tersebut dalam arti haram, sehingga mereka memperbolehkan menyapa non-Muslim dengan ucapan salam. Pendapat ini merupakan juga pendapat sahabat Nabi, Ibnu Abbas. Al-Qadhi Iyadh dan sekelompok ulama lain membolehkan mengucapkan salam kepada mereka kalau ada kebutuhan. Pendapat ini dianut juga oleh Alqamah dan al-Auza’i.  Baca lebih lanjut

WAWANCARA Said Aqil Siradj: Warga NU Tidak Luntur Imannya Walau Ucapkan Selamat Natal

WAWANCARA Said Aqil Siradj: Warga NU Tidak Luntur Imannya Walau Ucapkan Selamat Natal

SUMBER: http://www.rmol.co/

RMOL. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan, ucapan natal boleh saja disampaikan kepada umat Kristiani demi  kerukunan umat beragama.

“Asal niatnya selamat atas kela­hiran Isa Almasih sebagai Rasul Allah. Toh umat Kristiani juga se­lalu ucapkan selamat Idul Fitri dan selamat atas kelahiran Nabi Besar Muhammad. Lalu salahnya di ma­na,” kata Said Aqil Siradj, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, Ketua Maje­lis Ulama Indonesia (MUI) Ma’aruf Amin melarang umat Islam mengu­cap­kan Natal kepada umat Kristiani. Baca lebih lanjut

Macam-macam Fatwa Ulama Tentang Ucapan Natal

Fatwa Ulama Seputar Hukum Ucapan Selamat Natal (Semisalnya) Dan Mengikuti Hari Raya Non-Muslim

SUMBER: http://www.elhooda.net/

Setiap tahun menjelang natal selalu saja terjadi polemik seputur hukum masalah natal bagi umat Islam. Pada dasarnya ada dua hal yang menjadi kontroversi, yakni hukum mengucapkan selamat natal dan mengikuti perayaan natal.

Bagaimanakah para ulama memandang masalah hukum seputar natal ini? Mari kita simak pendapat para ulama mengenai hal tersebut.

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)

Dalam Fatwa MUI Tentang Perayaan Natal Bersama Tertanggal 1 Jumadil Awal 1401 H/ 7 Maret 1981 yang ditandatangani oleh KH. Syukri Ghozali selaku Ketua Komisi Fatwa dan Drs. Mas’udi selaku Sekretaris Komisi Fatwa, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa: Baca lebih lanjut

Dialog Dengan Ustad Abul Jauzaa: Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim “Keutamaan Abu Sufyan?” (2)

Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan [Bantahan Untuk Nashibi]

SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran

Tulisan dibawah ini adalah bantahan blogger J. Algar atas tulisan Ustad Abul Jauza INI, tulisan Ustad Abul Jauza tersebut adalah bantahan terhadap tulisan J. Algar Sebelumnya, dan dibawah ini adalah bantahan balik sdr. J Algar

.

حدثني عباس بن عبدالعظيم العنبري وأحمد بن جعفر المعقري قالا حدثنا النضر ( وهو ابن محمد اليمامي ) حدثنا عكرمة حدثنا أبو زميل حدثني ابن عباس قال كان المسلمون لا ينظرون إلى أبي سفيان ولا يقاعدونه فقال للنبي صلى الله عليه و سلم يا نبي الله ثلاث أعطنيهن قال نعم قال عندي أحسن العرب وأجمله أم حبيبة بنت أبي سفيان أزوجكها قال نعم قال ومعاوية تجعله كاتبا بين يديك قال نعم قال وتؤمرني حتى أقاتل الكفار كما كنت أقاتل المسلمين قال نعم قال أبو زميل ولولا أنه طلب ذلك من النبي صلى الله عليه و سلم ما أعطاه ذلك لأنه لم يكن يسئل شيئا إلا قال نعم

Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Abdul ‘Azim Al ‘Anbari dan Ahmad bin Ja’far Al Ma’qiri yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami An Nadhr [dia Ibnu Muhammad Al Yamami] yang berkata telah menceritakan kepada kami Ikrimah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zumail yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas yang berkata “kaum muslimin tidak memandang Abu Sufyan dan tidak pula mereka duduk menyertainya. Kemudian Abu Sufyan berkata kepada Nabi SAW “Wahai Nabi Allah penuhilah tiga permintaanku”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Saya mempunyai seorang putri yang paling baik dan paling cantik di kalangan orang Arab yaitu Ummu Habibah putri Abu Sufyan, aku ingin menikahkannya dengan anda”. Beliau menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan agar anda mengangkat Muawiyah sebagai juru tulis anda”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan anda mengangkat saya sebagai pemimpin untuk memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu saya memerangi orang-orang islam”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Zumail berkata “Seandainya Abu Sufyan tidak menuntut hal tersebut kepada Nabi SAW tentu beliau tidak akan memberinya karena jika Beliau SAW dimintai sesuatu, Beliau SAW tidak akan menjawab selain “ya”. [Shahih Muslim 4/1945 no 2501 ]

Hadis shahih Muslim tersebut pernah dinyatakan oleh palsu oleh Ibnu Hazm yaitu dengan perkataan berikut [sebagaimana dikutip Abdul Ghaniy Al Maqdisiy]

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.