Meneladani Sikap Toleransi Nabi

Meneladani Sikap Toleransi Nabi

SUMBER: Islam Indonesia

Laku baik selalu menggema lebih jauh ketimbang kata-kata. Setidaknya itulah yang semestinya kita petik dari Sang Teladan Tertinggi, Rasulullah Muhammad Saw., khususnya kalau kita bicara tentang toleransi.

Al-Quran jelas mengajar Muslim untuk toleran, demikian juga hadis & atsar (jejak riwayat orang-orang terdahulu). Yang menarik, ajaran toleransi dalam Islam terekam pula dalam catatan sejumlah tokoh Barat.

Pada 1936, dalam tulisan yang dimuat di The Genuine Islam Vol. 1, No. 8, sastrawan kelahiran Irlandia, Sir George Bernard Shaw mengatakan, “… (Islam) tampak di mata saya sebagai agama yang memiliki kapasitas asimilasi (melebur) … membuatnya menarik bagi segala usia. Saya juga mengamati Muhammad—lelaki hebat ini menurut pendapat saya, jauh dari seorang yang anti-Kristus, harus disebut sebagai Penyelamat Kemanusiaan….”

Sementara itu filsuf Inggris Bertrand Russel juga menulis, “Saat Islam keluar dari Spanyol, setelah berkuasa tujuh abad, gereja-gereja tertua masih tegak dan menjadi tempat beribadat kaum Nasrani.”

Seorang ahli sejarah Ottoman, Roderic H. Davidson mendukung catatan Russel dengan pernyataannya bahwa “Orang-orang Turki (Muslim) lebih tak opresif terhadap warganya dibanding orang-orang Prussia atas orang Polandia, Inggris atas orang-orang Irlandia, atau orang-orang Amerika atas orang-orang kulit hitam. Ada bukti bahwa dalam perioda kekuasaan Muslim ini (abad 19), terjadi emigrasi dari Yunani Merdeka ke Kekaisaran Ottoman, karena pandangan bahwa penguasa Ottoman lebih toleran ketimbang penguasa Yunani mereka.”

Catatan-catatan masyarakat Barat yang dikutip di atas tak mungkin muncul tanpa sebab. Pada awalnya tentu adalah sikap Rasulullah sendiri yang mencerminkan toleransi itu, misalnya seperti dalam surat dakwahnya kepada Kaisar Abysinia, di mana beliau menulis, “Aku telah menyampaikan risalah ini, terserah kepadamu untuk menerimanya (atau tidak).”

Memang, sikap Rasulullah itu bukannya tanpa landasan. Beberapa ayat Al-Quran jelas mengajarkan hal serupa:

“Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (QS 5:99)

” … maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.(QS 16:35)

“Tak ada paksaan dlm agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS 2:256)

Dan kepada kaum kafir pun, Nabi diperintah untuk mengatakan, “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. (QS 109:6)

Berkisah tentang toleransi penguasa Muslim terhadap orang-orang India dalam History of Sikhs jilid 1, Khuswant Singh menulis: “Jika kita bandingkan sikap penguasa-penguasa Muslim terhadap minoritas di bawah kekuasaan mereka dengan orang-orang Amerika dan Eropa terhadap minoritas-minoritas mereka, catatan Muslim jauh lebih baik.”

Anjuran tentang sikap berterima pada kebebasan orang lain untuk menentukan sendiri pilihan yang mereka yakini juga tersirat dalam firman Allah:

” … kalau Allah kehendaki, mereka tak berbuat syirik. Dan Kami tak jadikanmu pemelihara mereka dan kamu sekali-kali bukan pemelihara mereka.” (QS 6:107)

Sikap berterima yang juga harus disertai kesabaran, serta menghindari perkataan yang buruk, sebagaimana diperintahkan Allah:

“Dan jangan kamu maki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas dan tanpa pengetahuan.” (QS 6:108)

Bahkan terhadap ahlul kitab yang menginginkan Muslim kembali kepada kekafiran, firmanNya: “Maafkan dan biarkan mereka, sampai Allah datangkan perintahNya.” (QS 2:109)

Dengan banyak catatan ketertindasan umat serta laku intoleransi yang masih mengganjal perjalanan berbangsa kita menjelang akhir 2013 ini, sudah sepantasnya Muslim menengok, berbangga dan mencontoh laku Muslim terdahulu, kemudian terus istiqamah tegakkan ajaran toleransi dalam Al-Qur’an.

Wallahu a’lam bishawwab.

.

.
(Ditulis ulang dari kultwit @Haidar_Bagir pada 25 Desember 2013)

Satu Tanggapan

  1. syukran informasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: