Dialog Dengan Ustad Abul Jauzaa: Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim “Keutamaan Abu Sufyan?” (1)

Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan?

SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran

Artikel dibawah ini adalah artikel blogger J Algar, Artikel ini dibantah oleh ustad Abul Jauzah silahkan baca bantahannya DISINI , kemudian dibantah balik oleh sdr. J. Algar DISINI

Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan?

Benarkah ada hadis palsu dalam kitab monumental Shahih Muslim?. Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi?. Jangan terlalu risau, silakan cek di kitab Shahih Muslim terbitan manapun hadis keutamaan berikut

حدثني عباس بن عبدالعظيم العنبري وأحمد بن جعفر المعقري قالا حدثنا النضر ( وهو ابن محمد اليمامي ) حدثنا عكرمة حدثنا أبو زميل حدثني ابن عباس قال كان المسلمون لا ينظرون إلى أبي سفيان ولا يقاعدونه فقال للنبي صلى الله عليه و سلم يا نبي الله ثلاث أعطنيهن قال نعم قال عندي أحسن العرب وأجمله أم حبيبة بنت أبي سفيان أزوجكها قال نعم قال ومعاوية تجعله كاتبا بين يديك قال نعم قال وتؤمرني حتى أقاتل الكفار كما كنت أقاتل المسلمين قال نعم قال أبو زميل ولولا أنه طلب ذلك من النبي صلى الله عليه و سلم ما أعطاه ذلك لأنه لم يكن يسئل شيئا إلا قال نعم

Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Abdul ‘Azim Al ‘Anbari dan Ahmad bin Ja’far Al Ma’qiri yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami An Nadhr (dia Ibnu Muhammad Al Yamami) yang berkata telah menceritakan kepada kami Ikrimah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zumail yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas yang berkata “kaum muslimin tidak memandang Abu Sufyan dan tidak pula mereka duduk menyertainya. Kemudian Abu Sufyan berkata kepada Nabi SAW “Wahai Nabi Allah penuhilah tiga permintaanku”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Saya mempunyai seorang putri yang paling baik dan paling cantik di kalangan orang Arab yaitu Ummu Habibah putri Abu Sufyan, aku ingin menikahkannya dengan anda”. Beliau menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan agar anda mengangkat Muawiyah sebagai juru tulis anda”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan anda mengangkat saya sebagai pemimpin untuk memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu saya memerangi orang-orang islam”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Zumail berkata “Seandainya Abu Sufyan tidak menuntut hal tersebut kepada Nabi SAW tentu beliau tidak akan memberinya karena jika Beliau SAW dimintai sesuatu, Beliau SAW tidak akan menjawab selain “ya”. [Shahih Muslim 4/1945 no 2501 Bab Keutamaan Abu Sufyan bin Harb tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

Hadis ini dimasukkan Imam Muslim ke dalam kitab Shahih-nya berarti beliau mengakui bahwa hadis ini shahih. Tetapi tidak diragukan lagi kalau hadis ini tidak shahih. Sebaik-baik bukti bahwa hadis ini tidak shahih adalah isi hadis tersebut. Hadis tersebut menyebutkan permintaan Abu Sufyan yang ingin menikahkan putrinya Ummu Habibah kepada Nabi SAW. Padahal disepakati dalam kitab tarikh bahwa Nabi SAW telah menikah dengan Ummu Habibah jauh sebelum Abu Sufyan masuk islam ketika Fathul Makkah. Oleh karena itu terang sekali kemusykilan hadis ini yang menunjukkan kepalsuannya. Pertanyaannya adalah jika hadis tersebut palsu, siapakah yang memalsukannya?.

An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengutip perkataan Ibnu Hazm yang menyatakan bahwa hadis ini palsu dan yang bertanggung jawab untuk itu adalah Ikrimah bin Ammar. Kami katakan : kepalsuannya benar tetapi pernyataan bahwa yang bertanggung-jawab adalah Ikrimah bin Ammar layak diberikan catatan. Ikrimah bin Ammar disebutkan dalam kitab biografi perawi hadis adalah perawi yang tsiqat, mereka yang mempermasalahkan Ikrimah hanya mempersoalkan hadis Ikrimah dari Yahya bin Abi Katsir.

Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 7 no 475 menyebutkan bahwa Ikrimah bin Ammar dinyatakan tsiqat oleh sekumpulan ulama diantaranya Ibnu Ma’in, Syu’bah, Ali bin Madini, Al Ajli, Abu Dawud, As Saji, Ali bin Muhammad Al Thanafisi, Ishaq bin Ahmad Al Bukhari, Daruquthni, Ibnu Hibban, Yaqub bin Syaibah, Ibnu Syahin dan Ahmad bin Shalih. Hanya ada sebagian orang yang memperbincangkannya yaitu Ahmad dan Yahya Al Qattan itu pun hanya sebatas hadis Ikrimah dari Yahya bin Abi Katsir yang mudhtharib. Sedangkan hadis di atas bukan riwayat Ikrimah dari Yahya bin Abi Katsir.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir At Taqrib no 4672 mengatakan

Ikrimah bin Ammar tsiqat kecuali riwayatnya dari Yahya bin Abi Katsir yang dhaif karena idhthirab, ia dinyatakan tsiqah oleh Ayub As Sakhtiati, Al Ajli, Ali bin Madini, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Ahmad bin Shalih Al Mishri, Abu Dawud, Abu Zar’ah Ad Dimasyq, Ibnu Ammar, Ali bin Muhammad Ath Thanafisi, Ishaq bin Ahmad bin Khalaf Al Bukhari Al Hafiz, Daruquthni dan yang lainnya. Disepakati bahwa riwayatnya dari Yahya bin Abi Katsir mudhtharib dan oleh karena itulah Yahya bin Sa’id Al Qaththan membicarakannya.

An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga mengutip Syaikh Abu Amru bin Shalah yang membantah Ibnu Hazm. Ia menolak bahwa Ikrimah bin Ammar memalsu hadis ini, hadis tersebut hanyalah kesalahan atau kekeliruan saja. Kami katakan : tentu saja ini pembelaan yang menarik, tapi siapa yang keliru dan salah itu, apakah Ikrimah bin Ammar? Bukankah ia tsiqah tsabit riwayatnya kecuali riwayatnya dari Yahya bin Abi Katsir. Atau ada yang mau mengatakan namanya juga manusia, perawi bisa saja melakukan kesalahan. Kalau begitu semua perawi hadis tersebut termasuk Imam Muslim bisa saja menjadi yang tertuduh melakukan kekeliruan. Tidak ada alasan untuk mempermasalahkan Ikrimah bin Ammar saja.

Bicara soal pembelaan hadis di atas, ada hal lucu yang harus diperhatikan. Silakan lihat hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait, jika hadis tersebut dipermasalahkan oleh ulama. Mereka tidak ragu untuk mengatakan bahwa perawinya harus dicacat karena meriwayatkan hadis tersebut. Mereka tidak begitu berbaik hati untuk mengatakan perawi tersebut hanya keliru saja. Terkadang hanya karena seorang perawi meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait yang mereka pandang aneh maka dengan seenaknya mereka menjarh perawi tersebut dengan keras dan tidak ragu menyatakan hadis tersebut palsu. Ataukah kalau hadis tersebut soal keutamaan Ahlul bait maka tidak perlu berbaik hati tetapi kalau hadis tersebut berbicara tentang keutamaan Abu Sufyan dan Muawiyah maka harus berbaik-hati. Itu namanya Inkonsistensi yang menyebalkan (baca : menjijikkan). Nah seharusnya mereka konsisten, hadis Shahih Muslim di atas tentang keutamaan Abu Sufyan isinya sudah jelas palsu.

Maka pertanyaannya, siapa yang memalsukan hadis ini?. Siapa perawi yang harus dicacatkan karena meriwayatkan hadis ini?. Atau hadis ini sebenarnya tidak palsu. Tidak jarang hadis ini dijadikan hujjah oleh para muqallid untuk membuktikan keutamaan Abu Sufyan dan Muawiyah. Imam Muslim bahkan membuat judul bab “Keutamaan Abu Sufyan bin Harb Radiallahu’anhu” dan hanya mengandalkan satu hadis ini saja. Itu artinya Imam Muslim berhujjah dengan hadis ini untuk menyatakan keutamaan Abu Sufyan. Bagaimana mungkin seorang ulama sekaliber Imam Muslim tidak mengetahui fakta sejarah kalau Nabi SAW menikahi Ummu Habibah sebelum Fathul Makkah dimana Abu Sufyan masih kafir?. Sungguh hadis yang membingungkan atau sikap ulamanya yang membingungkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: