Hukum Waris dan Variasinya (Mengapa Tidak Ikuti Al Qur’an “Saja”)

Hukum Waris dan Variasinya (Mengapa Tidak Ikuti Al Qur’an “Saja”)

SUMBER: http://agorsiloku.wordpress.com

Pusing… tapi menarik.  Hukum pewarisan, ketika yang empunya harta titipan Allah diambil ruhnya, maka ummat tentunya akan berpegang pada ayat yang “sudah jelas”, yaitu QS An Nissa  11, 12, 176 yang menjelaskan secara cukup detail komposisi atau pembagian dari waris ini.  Namun, begitu search di Um Gugel, variannya ternyata banyak.

Sejumlah artikel, tulisan yang ‘melecehkan’ ayat ini pun tersedia.  Mulai dari ayat yang salah hitung berikut contoh-contohnya dan sejumlah bantahan yang beralasan dan mengindikasikan kebenaran yang layak diperhitungkan.

Terdapat beberapa kondisi dari ayat dan variannya yang buat saya tidak begitu jelas ketika diimplementasikan ke dalam praktek nyata.

Sebagai contoh 1 :

Seorang meninggal dan hanya punya anak perempuan sebagai ahli waris.  Asumsikan tidak ada lagi saudara manapun yang ditinggalkan almarhum.

Jawab :

Ketetapan Allah QS An Nissa ayat 11 : …jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. …

Maka jika nilai yang diwariskan Rp 1 Juta, maka si anak perempuan itu mendapatkan setengah kali 1 Juta rp = Rp 0,5 Juta.

Lalu, yang setengahnya lagi diberikan ke baitul mal atau kemana?.  Lalu saya pikir, yang setengah juta lagi, ya karena statusnya masih harta waris dan yang berhak menerima warisan itu hanya si anak perempuan itu saja, maka yang setengahnya diberikan lagi ke anak perempuan itu, sisanya dari yang setengah itu lalu kemana?.  Ya diberikan lagi setengahnya.  Pokoknya sampai habis nilai warisnya.  Jadi yang menjadi hak bagi si anak semata wayang dan satu-satunya itu adalah 0,5 juta + 0,250 Juta + 0,125 Juta  + 0,0625 Juta + 0,03123 Juta….. limit = 1 Juta.

Jadi kesimpulan dari ayat ini adalah si anak perempuan itu mendapatkan 100% dari harta yang diwariskan.  Lho kok jadi 100%.  Kan AQ menyatakan 50%.  Sisanya “terserah”?.  Iya, tetapi juga lho, yang setengah itu, kalau menurut ketentuan AQ, diberikan kepada ahli waris semata wayang itu, sehingga menjadi satu bagian itu adalah keniscayaan dari hukum Allah.  Ini adalah kesimpulan dari pemahaman terhadap ayat itu tanpa mencari jalan untuk menyerahkan hak anak perempuan itu kepada pihak lainnya.

Sebagai contoh 2:

Seorang meninggal dan hanya punya anak perempuan sebagai ahli waris.  Asumsikan hanya ada ibu kandungnya saja dan tidak ada lagi saudara manapun yang ditinggalkan almarhum.

Jawab :

Anak perempuan = 1/2 bagian

Ibu dari anak perempuan itu =1/8 bagian

Jadi Harta waris = 1/2 bagian : 1/8 bagian

= 8/16 bagian + 2/16 bagian = 8 banding 2 –>Total pembagian 8 + 2 =10.

Jadi bagian anak = 8/10 dan Bagian Ibunya 2/10.

Jadi si anak perempuan itu mendapatkan 8/10 kali Rp 1 Juta = Rp 800.000,-

dan si ibu dari anak perempuan itu medapatkan 2/10 kali Rp 1 Juta = Rp 200.000,-

Lha, kalau begitu ketentuan kan seharusnya 1/2 bagian itu Rp 500 ribu dan 1/8 bagian itu = Rp 125 ribu

Lha iyalah… sisanya itu sebesar Rp 375 ribu kan harta waris juga, ya bagikan lagi kepada yang berhak sesuai dengan ketetapan Allah itu.  Artinya bagikan 1/2 nya untuk si anak perempuan, dan 1/8 untuk ibu dari anak perempuan itu sampai habis.  Coba sendiri deh, hasilnya nanti sama lho, si anak perempuan Rp 800 ribu dan si ibu mendapatkan Rp 200 ribu.

Logika Pembobotan secara Statistik.

Orang yang berkecimpung di dunia statistik, tentulah mengenal bobot nilai. Ayat yang menegasi bahwa bagian anak laki-laki sama dengan 2 bagian anak perempuan adalah peryataan bobot nilai dari bilangan waris yang menjadi ketetapannya.  (jadi ingat lagi rumus menghitung rata-rata terbobot, secara statistik).

Yang penting dari model ini adalah : hitung dulu rata-rata tertimbang/terbobotnya, bukan menghitung berapa sisa warisan dari almarhum untuk dibagikan ke siapa-siapa yang tidak disebutkan di dalam Al Qur’an.  Seperti pada contoh komentar saya di sini dan penjelasan di Media Isnet.

Logika pembobotan ini sangat memudahkan kita dalam menyusun rumus pembagian hak waris yang sesuai dengan ketentuan Al Qur’an.

Rumus Umumnya :

Total Waris = Bagian anak laki + Bagian anak Perempuan + Bagian Ayah alm + Bagian Ibu Alm + Isteri Alm Tanpa Anak + Isteri Alm Dgn Anak + Bagian Paman + Bagian Bibi + Bagian Suami Alm.

Untuk disederhanakan, asumsikan alm adalah seorang ayah (laki-laki), maka rumus umumnya adalah :

Total Waris = Bagian anak laki + Bagian anak Perempuan + Bagian Ayah alm + Bagian Ibu Alm + Isteri Alm Tanpa Anak + Isteri Alm Dgn Anak + Bagian Paman + Bagian Bibi+Bagian Kas Negara (Baitul Mal).

Ketentuan Umum :

  • Pembagian umum : anak laki 1 bagian, anak perempuan 1/2 bagian, Bagian Ayah 1/6, Bagian Ibu 1/6, Bagian Isteri Tanpa Anak 1/4 Bagian, Bagian Isteri dengan Anak 1/8 Bagian, Bagian Paman 1/6 Bagian (Jika Tidak ada ayah dan anak dari alm), Bagian Bibi 1/6 Bagian (Jika tidak ada ayah dan anak dari alm), Bagian Kas Negara (jika tidak ada ahli waris).
  • Perubahan terjadi jika :
    • Anak perempuan seorang saja, maka 1 bagian menjadi 1/2 bagian.
    • Anak perempuan saja dua orang atau lebih maka menjadi 2/3 bagian.
    • Jika alm tidak punya anak dan diwarisi oleh ibu bapaknya saja, maka kedua ibu Bapaknya masing-masing mendapatkan 1/6 bagian.  Jika alm tidak mempunyai anak  maka ibu mendapat 1/3 bagian, jika alm mempunyai saudara, maka ibunya mendapatkan 1/6 bagian.  Sampai posisi ini, Paman dan Bibi tidak mendapatkan harta waris, kecuali jika ayah dari alm sudah tidak ada dan alm tidak punya anak, maka QS An Nissa 176 berlaku (Kalakah), yaitu jika alm tidak punya anak dan ayah, maka Paman dan Bibi (atau saudara dari alm) baru mendapatkan bagian.
    • Nilai Warisan setelah seluruh wasiat dan utang piutang dikeluarkan.

Dengan demikian aturan umumnya menjadi :

Total Waris = Satu Bagian anak laki +Setengah  Bagian anak Perempuan +Seperenam  Bagian Ayah alm (jika alm mempunyai anak) + Seperenam Bagian Ibu Alm (jika alm mempunyai anak, jika tidak maka mendapat 1/3 Bagian) + Seperempat  Bagian Isteri Alm Tanpa Anak +Seperempat Bagian  Isteri Alm Dgn Anak + Seperenam Bagian Paman (jika ayah alm dan tidak punya anak) + Seperenam Bagian Bibi (jika ayah alm dan tidak punya anak)+Sisa Pembagian untuk Bagian Kas Negara (Jika ada sisa pembagian).

Catatan :

  • Penulisan rumus Satu Bagian anak laki dan setengah bagian anak perempuan (atau laki-laki = dua bagian perempuan), bukan dua bagian anak laki-laki dan satu bagian anak perempuan.  Kalau penulisan mengikuti pengertian dua bagian anak laki-laki dan satu bagian anak perempuan, maka perumusannya menjadi berbeda hasil hitungannya terhadap komponen anggota keluarga lain dari almarhum.  Jadi, kita ikuti saja kaidah penulisan yang ada di ayat QS 4:11.
  • Terdapat kondisi, misal alm hanya meninggalkan isteri saja, dan tidak ada pewaris yang lain, maka akan bersisa, karena itu sisanya masuk ke baitul mal.  Kalau tidak ada baitul mal, maka logis juga sih diberikan kepada ahli waris yang lain, seperti di ijma’ oleh para ulama.    Kondisi ini hanya terjadi jika total pembagian dari nilai yang diwariskan hanya mencapai angka 1/3 atau 1/4 saja.  Jika 1/3 itu diberikan seperti logika limit integral yang diuraikan diatas.   Sebesar-besarnya hanya akan mencapai dua kali dari bilangan yang 1/3 (atau 2/3).  Yang satu pertiganya tetap saja tidak akan bisa dibagikan.
  • Pada Model ini, tidak menggunakan cara bersisa.  Misalnya yang mendapat waris anak laki (Ashobah binafsih), anak perempuan (Ashobah bil ghoiri), ibu, isteri, dst.  Maka yang anak laki dan anak perempuan mendapatkan bagian dari sisa setelah diberikan ke ibu, anak, isteri.  Mengapa?.  Jawabnya ada pada link rujukan yang model pemahamannya, buat agor lebih terasa komprensif dan tepat.  Sama seperti model, kalau anak perempuan semata wayang dan tidak ada ahli waris lain, maka yang berlaku 1/2 itu makna dan hitungan matematisnya, bisa diikuti sama dengan 1 bagian.  Kurang logis jika anak perempuan semata wayang, lalu hanya mendapatkan 1/2 lalu sisanya ke kerabat yang tidak tercantum dalam daftar waris menurut AQ.  Jadi fokus model ini, ini hanya semata berdasarkan rujukan AQ saja.

Untuk memudahkan kalkulasi, saya coba cek dengan format Excell. Belum bagus sih tampilannya dan mungkin hitungannya masih perlu diuji lebih seksama. Namun ini hanya “sekedar” untuk memudahkan kombinasi perhitungan berdasarkan ayat saja (mohon koreksi jika salah, attachment terlampir) tabel-waris Upate4,  biar lebih mudah diotak atik. Tentu saja, cek melalui excell ini bukan sebagai program bantu hitung.  Tapi, sebagai upaya belajar, mempelajari varian kondisi yang terjadi.  Apakah sudah benar atau belum.  Kalau ada pembaca yang mencoba, dan salah, mohon dikoreksi. Hanya pada excell ini tidak menggunakan prinsip perluasan yang di ijma’kan ulama.

Kalau dengan ilmu statistik sederhana ini, tidak ada masalah dengan logika jumlah pembagian kurang dari satu atau lebih dari satu, seperti yang diuraikan oleh ‘mereka-mereka itu’  (siapa mereka silahkan lihat saja di gugel, saya tidak link kan)

Beberapa Hal Yang Membuat Bingung.

  • Ada beberapa penjelasan, yang varian.  Misal, ada anak perempuan mendapatkan setengah bagian, lalu sisanya dibagikan ke kerabat.  Mengapa ke kerabat, bukankah sisa itu harus diberikan ke anak perempuan itu lagi (jika memang hanya anak perempuan itu satu-satunya ahli waris).
  • Cucu perempuan dari jalur laki-laki.  Lho kok, kalau cucu laki-laki dari jalur laki-laki ke piye?.  Apakah AQ memang memberikan pesan ini (Waris untuk cucu atau bahkan ada yang sampai cicit).  Kalau yang meninggal adalah suami, bagaimana dengan isteri, atau seorang wanita.  Tidak mendapat?.  Kan ini juga (pada level cucu, jika memang AQ mengatur begitu, mestinya pembagian 1 bagian laki-laki dan dua bagian perempuan berlaku pula dunk?.  Rasanya ada yang tanda tanya di sini.
  • Sudah jelas Alm meninggalkan anak, maka saudara perempuan dan atau saudara laki-lakinya (paman dan bibi) baru mendapat waris.  Tapi di beberapa rujukan, sy lihat malah kalau anaknya perempuan, maka ketentuan yang ada di AQ malah diabaikan.

Tentu kita merujuk pula pada berbagai istilah pembagian waris seperti Dzawil l Arham, Aul, Ashobah, dan banyak lagi.  Namun, apapun perubahannya, dalam akal berpikir saya, tidak boleh menyelesihi Al Qur’an, khususnya karena Al Qur’an telah memberikan pesan-pesan angka yang cukup jelas.

Al Qur’an dan Ijma’  Ulama.

Ada perbedaan (baca : pengembangan) antara yang disampaikan dalam wahyu Allah perihal waris dengan ijma’  para ulama yang memperluas pengertian sampai ke nenek (nenek dari almarhum) dan cucu dari anak laki-laki.  Jadi memang pembagiannya menjadi lebih rumit dan panjang.  Ini saya lihat ada di software Faraidh Web yang dirujuk oleh link portal Islam.

Kalau saya mengikuti tabel waris Update4  itu, sisa pembagian yang mungkin terjadi hanya pada sedikit kemungkinan, yaitu jika  jumlah komposisinya tidak mencapai setengah dari yang ditetapkan.  Ini antara lain terjadi, jika almarhum hanya meninggalkan ahli waris ibunya saja (sebesar-besarnya 1/3), atau isterinya tanpa anak saja(sebesar-besarnya 1/4).  Jika sisa waris terus diberikan lagi kepadanya, maksimum ada : Untuk Ibu saja 2/3 dan kalau untuk isteri saja 0.5 bagian.  Pada kondisi ini, maka kerabat lain yang tidak terdaftar dalam ayat masih dapat menerima,  jika ada, misalnya nenek atau cucu, masih mungkin mendapatkan warisan.  Satu saja dari unsur penerima waris masih ada,  maka tidak ada sisa waris yang dapat diberikan.

Ini adalah pemahaman yang saya peroleh dari ayat-ayat tentang pewarisan.  Jadi, hadis :

Hadis Sahih Bukhari 8.80.724

Dikisahkan oleh Ibn ‘Abbas: Sang Nabi berkata, “Berikan Fara’id (bagian warisan yang ditetapkan di Qur’an) kepada mereka yang berhak menerimanya. Lalu sisanya harus diberikan kepada anggota keluarga pria terdekat dari orang yang mati.”

Berlaku untuk kondisi di atas.

Kalau begitu pilih yang mana dunk?

Khus…hati-hati… ini pertanyaan atau apa neeh?.  Kalau kita berIslam, tentu saja patokan kita adalah Al Qur’an.  Jangan kita ubah-ubah hanya demi uang sedikit… Rijeki, mati -urip itu, sudah ada yang mengurusnya……

Tapi kan ada hadis yang bla…bla perihal ini.

Oke deh, tulisan ini tidak bermaksud untuk mempertentangkan perbedaannya.  Hanya, kita ingat saja, Allah mengingatkan kita, pembagian waris itu, adalah ketetapanNya.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Adilkah Isteri Hanya Mendapatkan 1/4 atau 1/8 saja?.

Misalnya saja ya, Isteri 1, anak 2 laki-laki, tidak ada ahli waris yang lain.  Yang bisa diwariskan 100 juta.  Maka Isteri hanya akan mendapatkan 12,5 juta.

Buatlah skenario sedih dan memilukan. : Yang disebut harta itu, hanyalah sebuah rumah saja yang saat ini ditinggali berdua dengan suaminya sebelum meninggal.  Anak-anaknya bandel-bandel dan si Ibu hanya dipastikan mendapatkan waris sebesar Rp 12,5 juta saja.  Si Ibu merasa bahwa, dia “pasti” akan terusir dan karena kebandelan anak-anaknya dipastikanlah si Ibu tidak akan mungkin ikut anak-anaknya yang buandeelll itu.  Terbayanglah dalam pikiran si Ibu, hidupnya akan terlunta-lunta….. Kalau kedua-duanya anak baik sih… nggak masalah…. Apalagi jika kedua anaknya sudah baik, kaya raya lagi.

So, Adilkah?.

Saya diam sejenak terhadap materi diskusi internal yang tajam ini.  Namun, logis sekali kondisi ini.

Oke deh… misalkan kondisinya memang demikian.  Pertanyaan berikutnya : Apakah Ibu dan Bapak itu sudah tahu kebandelan kedua anaknya itu atau nggak?.  Kalau tidak tahu?.  Wah repot ya, masa sih jadi Ibu atau jadi Bapak (ketika masih on), tidak tahu perilaku anaknya.  Bukankah Bapak yang baik juga harus mempertimbangkan semua kondisi yang dihadapi, termasuk jika ia dipanggil Yang Maha Kuasa?.

Jika Ya, sudah mengetahui kemungkinan dari kondisi ini.  Maka, buatlah surat wasiat untuk isterinya, melalui Notaris atau simpan di Pak RT berikut salinannya, sehingga waktu si Suami meninggal, harta waris yang tersisa tinggal Rp 1,- (tapi umunya ditetapkan tidak boleh lebih dari Rp 1/3).

“Oh begitu…,” , Sergah isteriku :”Alhamdulillah kita ya, anak-anak kita pinter dan baik-baik…” (muji sendiri) :D

Teriring salam dan terimakasih,  tulisan ini diperuntukkan untuk Kang Haniifa yang memberikan inspirasi cerdas tentang bagaimana memahami hukum waris yang sebelumnya tidak diminati untuk dipahami.

 

 

 

3 Tanggapan

  1. Hukum waris memang penting untuk kesejahteraan dan kestabilan umat. Banyak keluarga yg terpecah belah manakala merasa diperlakukan secara tidak adil dalam urusan waris. Terima kasih banyak atas tulisan dan pencerahannya.

  2. (tapi umunya ditetapkan tidak boleh
    lebih dari Rp 1/3)

    Maaf nanya?
    Bukankah wasiat di buat tidak boleh 2/3
    bukannya 1/3, maaf jika salah

  3. Salam. Mohon izin ikut menjawab.
    1) Wasiat yg dibuat maksimal bernilai 1/3 dari harta pemiliknya.
    2) Perihal kemungkinan kasus harta waris hanya berupa rumah, ahli waris adalah istri & anak2 dari yg meninggal dunia, & dikhawatirkan anak2 tsb mengabaikan kebutuhan tempat tinggal ibunya, maka ada jalan bagi suami tsb sebelum wafatnya menghibahkan rumah tsb kpd istrinya, sehingga ketika si suami wafat, rumah tsb sudah berstatus milik istrinya & berarti bukan harta waris dari si suami. Tapi, ini jadi kasus lain jika yg wafat lebih dulu adalah si istri🙂
    Atau suami-istri tsb membuat akte notaris bhw rumah tsb adalah rumah milik berdua dgn saham 1:1. Nah, bila salah satu dari suami/istri wafat, maka si istri/suami akan punya hak 50% nilai rumah ditambah saham waris (1/8 atau 1/4) dari nilai rumah 50% lainnya.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: