Islamisasi itu Jerih Payah Wali Songo

Islamisasi itu Jerih Payah Wali Songo

SUMBER: Islam-indonesia.com

.

Usai menamatkan buku Ensiklopedia Islam, hati Agus Sunyoto tiba-tiba tersentak. Dalam buku yang diterbitkan oleh Ikhtiar Baru Van Houve tersebut, ia sama sekali tak menemukan satu pun kata yang menyebut Wali Songo. Ingatannya kemudian melayang kepada sebuah buku lain berjudul Walisanga Tak Pernah Ada? karya Sjamsudduha, yang pernah dibacanya beberapa waktu sebelumnya.

“Saya pikir adalah ahistoris, kalau ndak mau saya bilang naïf, saat kita membahas perkembangan Islam di Indonesia, sama sekali tidak menyebut nama Wali Songo”, ujar sejarawan kelahiran Surabaya, 53 tahun yang lalu itu.

Istilah Wali Songo memang kadung dimengerti oleh sebgaian besar masyarakat Islam Indonesia hanya sebagai mitologi. Itu setidaknya tercermin dari cerita-cerita yang berserakan di kalangan masyarakat yang hanya mengidentikan Wali Songo dengan soal-soal karomah, keajaiban dan realita supranatural yang kadang tidak terjangkau otak manusia modern. Yang terjadi adalah sejarah Wali Songo jika tidak dipuja-puja berlebihan malah dijadikan bahan ejekan oleh sebagian orang untuk merujuk sebuah kepercayaan agama yang berbau tahayul dan tidak rasional.

Agus tentu saja prihatin dengan kondisi seperti itu. Dengan mengandalkan dana yang tidak besar dan didapat dari sumbangan sanasini,  ia lantas memutuskan untuk membuat sebuah penelitian sejarah ilmiah terkait dengan Wali Songo. Beberap tahun kemudian jadilah  penelitiannya tersebut menghasilkan sebuah buku yang diberi judul Atlas Wali Songo terbitan Pustaka Iman (Mizan Group).

Benarkah Wali Songo hanya mitos belaka? Bagaimana sesungguhnya kisah sejarah 9 lelaki yang selama ini disebut-sebut sebagai para pionir Islamisasi di tanah Jawa dan Nusantara itu? Kamis sore (5/7), seusai  meluncurkan buku Atlas Wali Songo di Aula Lantai 8 Gedung PBNU Kramat, Jakarta, Agus Sunyoto menyampaikan beberapa data sejarah yang menarik seputar Wali Songo, kepada Islam-Indonesia. Berikut petikannya:

T: Mas Agus, saya mendengar penulisan buku ini, berawal dari “kekesalan” anda saat mengetahui sebagian masyarakat Islam tidak mengakui eksistensi Wali Songo dalam sejarah Islam di Indonesia, benarkah itu?

J: Kesal sih ndak. Saya cuma ingin meluruskan bahwa kenyataan sejarah justru membuktikan bahwa setelah 800 tahun penyebaran Islam di Nusantara mengalami kemandekan dan tidak bisa diterima secara luas. Justru di era Wali Songo-lah Islamisasi bisa berjalan secara massif. Ini kan realitas sejarah yang membuktikan bahwa Islamisasi itu adalah hasil jerih payah Wali Songo.

T: Memang menurut kepercayaan anda, Islam kapan sih datang ke Indonesia?

J: Sudah sejak tahun  674 Masehi, Islam sudah menginjakkan kaki di Jawa. Itu didasarkan pada berita yang disampaikan orang-orang Cina di era Dinasti Tang yang menyebut  tentang kehadiran orang-orang Tazhi (Arab) di Kerajaan Kalinga yang dipimpin oleh Ratu Shima. Orang-orang Tazhi yang mayoritas adalah para pebisnis itu sangat kagum dengan kondisi Kalinga yang walaupun belum mengenal Islam, tapi situasinya aman sejahtera.

T: Mereka lantas menyebarkan Islam?

J: Ya, tapi bisa disebut kurang berhasil. Mengapa? Bisa jadi itu terkait dengan cara penyampaian mereka yang kurang memperhitungkan kondisi sosial budaya setempat, sehingga orang-orang Jawa kurang tertarik kepada Islam. Situasi tersebut berlangsung sampai 800 tahun lamanya.

T: Kemunculan Wali Songo memecah kebuntuan tersebut?

J: Ya betul sekali. Karena Wali Songo sangat paham dengan kultur sosial yang berlaku di kalangan masyarakat Jawa menjadikan dakwah Islam yang mereka sampaikan diterima secara baik. Mereka masuk bisa lewat wayang, kidung-kidung lokal yang dimodifikasi dengan subtansi Islam, ya banyaklah hal yang membuktikan bahwa dakwah yang mereka lakukan sangat fleksibel sehingga tanpa harus kehilangan subtansinya, orang merasa tertarik dengan Islam.

T: Jika betul Wali Songo adalah fakta sejarah, lalu mengapa muncul pendapat yang menyebut keberadaan mereka hanya mitos belaka?

J: Awalnya itu karena politik Belanda. Pasca Perang Diponegoro (1825-1830), Belanda sangat phobi kepada hal-hal yang berbau Islam dan tarekat. Karena itu, dimunculkanlah bahwa seolah-olah Islam adalah kekuatan yang tak jelas asal usulnya dengan menciptakan berbagai cerita-cerita mitos. Termasuk dengan memitoskan Wali Songo.

T: Apa usaha nyata dari Belanda untuk membuat Islam terahistorisasi di Nusantara?

J: Ada sebuah kitab yang bernama Babad Kediri. Ini kitab dibuat tahun 1832, dua tahun setelah Perang Diponegoro berakhir. Ceritanya, seorang jaksa pribumi bernama Porbowijoyo mendapat proyek dari Residen Kediri yang Belanda totok untuk membuat sebuah cerita yang mengecilkan peran Wali Songo. Lantas sang jaksa membayar seorang dalang yang entah bagaimana ia lalu kesurupan. Dalam situasi “kesurupan” itulah, si dalang meracau. Isinya bercerita tentang sejarah Kediri dan pendeskreditan Sunan Bonang, Sunan Giri dan sunan-sunan lainnya. Isi racauan inilah yang kemudian dicatat oleh sang jaksa dan dijadikan kitab berjudul Babad Kediri.

T: Saya heran, mengapa justru cerita versi orang kesurupan ini, bisa lolos dalam sejarah kita?

J: Ya para sejarawan kita kan umumnya didikan Belanda. Yang kata Belanda benar, ya benar juga kata mereka. Termasuk racauan orang kesurupan kalau datangnya dari Leidenya itu jadi sejarah.

T: Beralih kepada konflik Syeikh Siti Jenar vs Wali Songo, itu benar-benar terjadi?

J: Sebetulnya sih yang berkonflik itu bukan Syeikh Siti Jenar lawan Wali Songo, tapi Siti Jenar vs Sultan Trenggono, anaknya Raden Patah yang pendiri Kesultanan Demak itu. Ceritanya, Siti Jenar yang didikanBaghdad(di Baghdad hubungan penguasa dan rakyat sangat egaliter) itu merasa jengah melihat orang-orang Jawa begitu feodalnya hingga memperlakukan para penguasanya layaknya Tuhan. Sebagai contoh, kalau menghadap raja, rakyat harus sujud. Lalu kata “ing sun” yang artinya aku hanya berhak diucapkan oleh raja, rakyat hanya boleh memakai kata “kawulo” yang artinya budak. Nah Syeikh Siti Jenar merasa prilaku itu “mengotori” ketauhidan seorang muslim. Ia lantas mbalelo (berontak). Caranya, dengan secara sengaja mempraktekan kata “ing sun” untuk dirinya dan para pengikutnya serta menolak mentah-mentah untuk bersujud kepada raja. Dalam perspektif politik Sultan Trenggono ini jelas subversiv dong. Maka dikejar-kejarlah dia sebagai musuh negara dan agama.

T: Katanya Syeikh Siti Jenar tertangkap lantas dipancung?

J: Ah enggak benar itu. Pemancungan itu cuma mitos saja. Yang benar adalah Syeikh Siti Jenar lantas disembunyikan oleh Sunan Gunung Jati, hingga ia wafat biasa di Cirebon. Lha dia kan orang Cirebon.

T: Terakhir nih Mas, orang kita biasanya kalau menganalisa sejarah menggunakan konsep mitos-logos yang dipakai oleh para bule untuk menganalisa sejarah mereka, dalam kasus Wali Songo ini menurut saya tentunya tidak tepat menggunakan konsep itu sebagai pisau analisa. Bagaimana menurut Mas Agus?

J: Mitos logos itu kan produk modernisme. Sangat tidak relefan jika itu dipakai sebagai pisau untuk menganalisa sejarah kita yang pemahamannya sering berbeda dengan Barat. Jika dipaksakan kita akan menjadi orang-orang yang disebut Derrida (maksudnya Jacques Derrida, filsuf post modernisme asal Prancis) sebagai korban logosentrisme.[Islam-Indonesia/hendijo]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: