Irshad Manji, Sekali Lagi (Tanggapan Atas Buku “Allah, Liberty, and Love”)

Irshad Manji, Sekali Lagi (Tanggapan Atas Buku “Allah, Liberty, and Love”)

.

SUMBER: Kompasiana

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Penulis, alumnus Magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, pemilik blog Kajian Timur Tengah, http://dinasulaeman.wordpress.com

Secara tidak sengaja, saya membaca sebuah berita online yang isinya bantahan Irshad Manji. Menurutnya, bukunya ‘Allah, Liberty, and Love’ itu bukan tentang homoseksualitas. Saya jadi penasaran, dan akhirnya membaca sebagian isi buku itu. Sengaja saya cari bagian buku Manji yang membahas homoseksualitas. Saya menemukannya di bab 3 berjudul “Budaya Itu Tidak Sakral”. Berarti Manji berbohong ketika dia mengatakan bahwa bukunya bukan tentang homoseksualitas. Memang, tesis utama yang dia bangun adalah kebebasan, jangan takut untuk melakukan apapun karena yang paling benar hanya Tuhan; dan tidak ada manusia yang boleh mengklaim diri sebagai yang paling benar.

Nah, di bab 3 itu, salah satu bentuk kebebasan yang dibela Manji adalah kebebasan untuk menjadi homoseks. Menurutnya, penentangan terhadap homoseksualitas adalah penentangan budaya, bukan agama. Manji menyebutnya, budaya tribal (primitif), dan dia menggunakan istilah ‘Islamo-tribalis’. Selain homoseksualitas, jilbab pun disebut Manji sebagai budaya primitif, bukan ajaran Islam. Karena budaya itu tidak sakral, maka, lawanlah, kata Manji.

Sebenarnya banyak hal yang bisa diajukan untuk membantah argumen-argumen Manji yang menurut saya sangat emosional, sekedar cletak-cletuk, protes sana-sini, dan menggeneralisir banyak hal. Saya akan bahas salah satu saja, terkait homoseksualitas.

Pada Bab 3 itu, Manji mengutip surat curhat seorang lesbi bernama Bushra yang merasa bersalah (dan mengira dirinya akan masuk neraka Jahanam), tersiksa oleh lingkungan, dan dipaksa menikah dengan laki-laki.

Manji, yang mengaku bukunya bukan tentang homoseks itu, menulis begini,

“Umat Muslim, siapa di antara kalian yang mau bergabung denganku untuk meyakinkan Bushra bahwa Sang Mahakuasa menciptakannya sesuai pilihan-Nya? Siapa yang mau menjelaskan kepadanya bahwa dengan melawan budaya penyelamatan muka, kita berkontribusi pada budaya penyelamatan iman? Mari lakukan itu dengan menolak kecenderungan tribal dan bersuara sebagai individual. Bersuaralah yang kencang. Jangan khawatirkan kemarahan dari otoritas agama. Protes kita adalah dengan budaya mereka, bukan Pencipta mereka.”

Lihat, Manji menyatakan bahwa lesbianisme adalah ‘ciptaan Allah’, penolakan terhadap lesbianisme adalah penolakan terhadap budaya primitif (tribal), dan ia menyerukan agar kaum muslim melawan itu semua. “Jangan pedulikan kata ulama!” seru Manji. “Kita ini sedang melawan budaya, bukan melawan Tuhan!”

Manji menulis, “Tidak sedikit Islamo-tribalis, kuduga, yang akan mencoba mengalihkan perhatianmu dengan berteriak tentang “Agenda gay-nya Manji” dan berkoar-koar bahwa Al-Quran secara jelas menyatakan homoseksualitas itu dosa. Jika aku boleh menawarkan pemikiran lebih jauh, lanjutkan mengutip surah 3:7.”

Oke, saya pun membuka Quran, QS 3:7, ternyata tentang ayat mutasyabihat dan muhkamat. Jadi, dalam Quran ada ayat yang bisa langsung dipahami artinya (muhkamat), ada ayat yang perlu penafsiran (tapi Manji menyebutnya ‘ambigu’).

Terjemahan QS 3:7 : Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Perhatikan kalimat yang digarisbawahi. Manji menggunakan kalimat itu sebagai landasan argumennya. Menurut Manji, kisah kaum Luth yang dimurkai Allah itu termasuk ayat mutasyabihat, sehingga bisa ditafsirkan dengan berbagai cara, tapi hanya Allah yang tahu mana penafsiran yang paling benar. Karena itu, sesama manusia tidak boleh menghakimi penafsiran orang lain.

Manji menafsirkan ayat-ayat tentang kaum nabi Luth sebagai berikut:

Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar. Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kau pun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”

Perlu dicatat saya bukan ahli agama. Jadi, kalau Manji boleh pakai logikanya sendiri dalam memahami Quran, saya juga akan pakai logika. Begini, Manji menafsirkan kisah kaum Nabi Luth dengan sesuka hatinya, lalu berkata, “Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian menurut Al Quran, setiap manusia memang tidak bisa mencapai kebenaran karena –berdasarkan QS 3:7—hanya Allah yang tahu mana yang paling benar.”

Jawaban saya begini:

1. Kalau hanya Allah yang tahu mana yang paling benar, lalu apa gunanya Al Quran ya? Bukankah di ayat lain disebutkan bahwa Al Quran itu penjelas (bayyinah) dan petunjuk bagi manusia (hudal-linnas). Aneh sekali bila ada petunjuk, tapi nggak jelas, dan akhirnya kita disuruh mikir sendiri, dan sama sekali tidak ada kata akhir yang bisa diambil. Kita tidak bisa mencari jawaban dari pertanyaan, “Yang benar yang mana sih?”, karena yang tahu hanya Allah. Logis gak tuh?

2. Saya membandingkan penerjemahan ayat 3:7 itu dalam bahasa Indonesia, dengan bahasa Persia (catat: ayat Quran-nya sama persis, tapi redaksi terjemahannya agak beda dikit, lihat kalimat yang digarisbawahi). Begini:

Terjemahan Indonesia: Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”.

Terjemahan Persia (dan saya terjemahkan ke Indonesia): Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka (orang yang mendalam ilmunya) berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”

Voila! Kebingungan saya di point no 1 jadi menemukan jawaban: yang mengetahui makna ayat-ayat mustasyabihaat itu adalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya, yaitu ULAMA. Jadi, kalau ada ayat yang mustasyabihat, merujuklah pada kitab-kitab tafsir yang sudah ditulis para ulama yang mumpuni. Itulah gunanya ada orang yang menuntut ilmu agama, ya kan? Lha apa gunanya para ulama itu capek-capek kuliah sampai ke Kairo, Madinah, atau Qom, tapi pulang-pulang, saat mereka ngasih ilmu ke kita, karena kita tidak setuju, kita bantah, “Cuma Allah yang tahu mana yang benar!”

Dan inilah fenomena yang banyak terjadi di sekitar kita, untuk urusan agama, semua merasa bebas bicara, bahkan berhak menafsirkan ayat Quran semaunya, tapi kalau untuk urusan lain, dikatakan, “Kita harus dengarkan pendapat pakar!”

Terakhir, masalah kemanusiaan yang banyak disebut-sebut para pembela Manji. Argumen yang mereka sebutkan antara lain:

1. Setiap orang berhak untuk memiliki orientasi seksual masing-masing; karena itu tidak boleh ada penindasan terhadap orang dengan orientasi seksual yang berbeda!

2. Kalaulah seseorang itu homoseksual, kenapa yang lain harus marah? Kalau sebagian memang menganggap itu haram menurut agama, ya nyatakan saja haram, biarkan Tuhan yang menghukumnya!

Dua kalimat di atas saya copas dari email seseorang bergelar doktor (!) tapi argumen serupa banyak diungkapkan oleh orang-orang di internet.

Jawaban saya, lagi-lagi saya pakai logika saja: jika benar seorang berhak menjadi homoseks, oke, tapi dia tidak berhak menularkannya kepada orang lain! Homoseksualitas itu bukan genetic (atau ‘ciptaan’ Tuhan), melainkan ‘ditularkan’ oleh lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Paul Cameron Ph.D (Family Research Institute) menemukan bahwa di antara penyebab munculnya dorongan untuk berperilaku homo, adalah pernah disodomi waktu kecil (dan parahnya, perilaku mensodomi anak kecil menjadi salah satu ‘budaya’ kaum homo), dan pengaruh lingkungan, yaitu sbb:

1. Sub-kultur homoseksual yang tampak/terlihat dan diterima secara sosial, yang mengundang keingintahuan dan menumbuhkan rasa ingin mengeksplorasi (=ingin mencoba)

2. Pendidikan yang pro-homoseksual (bayangkan bila di sekolah-sekolah kita –seandainya para pendukung homoseks berhasil menggolkan agenda politik mereka—ada kurikulum tentang kesetaraan seksual, setiap orang berhak jadi apa saja, heteroseksual atau homoseksual; kurikulum seperti ini sudah diterapkan di AS karena menteri pendidikan era Obama ini adalah tokoh pro-homoseksual).

3. Toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual

4. Adanya figur yang secara terbuka berperilaku homoseksual

5. Penggambaran bahwa homoseksualitas dalah perilaku yang normal dan bisa diterima.

Penelitian Cameron juga menunjukkan bahwa kecenderungan homoseksualitas bisa disembuhkan, antara lain, melalui pendekatan diri kepada Tuhan. Selain itu, dari sisi kesehatan, perilaku homoseksual juga berdampak sangat buruk bagi pelakunya. Lengkapnya bisa dibaca di sini: http://www.biblebelievers.com/Cameron3.html

Jadi, bisa disimpulkan bahwa Manji punya dua kesalahan: kesalahan individual (dan itu, oke, biarlah Allah yang menghukumnya, seperti argumen sang doktor di atas), dan kesalahan sosial. Saya sedang bicara masalah kesalahan sosial ini. Para penggiat homoseksual itu sedang berusaha menyebarkan dogma bahwa perilaku mereka baik-baik saja, sudah dari ‘sono’-nya, dan –kalau versi Manji—tidak dilarang Allah kok!

Untuk itu, saya sepakat sekali dengan jawaban Sultan HB X menanggapi pelarangan diskusi di UGM, “Kebebasan akademis boleh saja tapi apa artinya bila membahas sesuatu yang meresahkan masyarakat.” Benar sekali. Saya, seorang ibu dengan dua anak, resah bila propaganda homoseksualitas semakin merajalela atas nama kebebasan akademis dan kebebasan bicara. Saya merasa perlu mencegah agar anak-anak saya tidak tumbuh dalam budaya yang pro-homo. Karena itu, saya mendukung pelarangan diskusi atas buku Manji, atau propaganda homoseksualitas dalam bentuk apapun, termasuk konser Lady Gaga!

*Dina Y. Sulaeman, alumnus magister Hubungan Internasional Unpad, penulis buku, ibu rumah tangga, pemilik blog www.dinasulaeman.wordpress.com,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: