Pembelaan Untuk Ibnu Ishaq: Pemurnian Sejarah atau Penyimpangan Sejarah

Pembelaan Untuk Ibnu Ishaq

SUMBER: Analisis Pembela Kebenaran

Oleh J Algar (SP)

PENOLAKAN TERHADAP MUHAMMAD BIN ISHAQ
Pemurnian Sejarah atau Penyimpangan Sejarah

Sejarah atau Sirah Nabi Muhammad SAW adalah wujud hidup dari ajaran Islam karena di dalamnya kita dapat mengetahui dengan jelas kehidupan Pribadi yang paling agung yaitu junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang tentu saja merupakan panduan bagi kita semua umat Islam dalam mengarungi kehidupan di dunia ini demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Beliau SAW dan KeluargaNya yang suci. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mendapatkan atau mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW yang benar atau shahih.

Memang dalam kenyataannya sebagian besar kitab-kitab Sirah memuat riwayat-riwayat yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudhu’ dengan kata lain memasukkan semua riwayat yang berkenaan tanpa memperhatikan kedudukannya. Hal inilah yang mendorong para ulama untuk terus melakukan kajian terhadap semua kitab sirah dan menyaring yang shahih agar nanti hasilnya dapat dipelajari oleh setiap umat Islam. Salah satu kajian ini adalah analisis terhadap sanad riwayat berdasarkan kaidah Jarh wat Ta’dil. Kajian ini diterapkan pada kitab-kitab Sirah yang masyhur seperti Sirah Ibnu Hisyam, Tarikh Ath Thabari, Tarikh Ibnu Asaqir, Tarikh Al Kamil, Ansab Al Asyraf Al Baladzuri, Muruj adz Dzahab Al Masudi dan kitab-kitab sirah yang lain. Kajian-kajian seperti ini mungkin bisa disebut usaha pemurnian sejarah karena melalui kajian ini akan didapatkan riwayat-riwayat Sirah yang shahih.

Usaha-usaha seperti ini jelas sangat diperlukan sekarang ini , apalagi sejarah atau sirah ini sekarang sering dijadikan argumentasi atau dalil dalam pertentangan mazhab atau keyakinan. Mungkin sebagai contoh hal ini akan sangat jelas terlihat dalam polemik yang berkepanjangan antara Islam Sunni dan Islam Syiah. Kedua belah pihak seringkali membawakan riwayat dalam kitab Sirah untuk menguatkan pendapat Mereka.

Walaupun begitu, usaha-usaha tersebut sebenarnya juga layak untuk dikritisi, apalagi jika hasil dari usaha pemurnian tersebut ternyata bertentangan dengan pendapat atau kajian banyak ulama lain baik dari generasi lalu maupun sekarang. Misalnya baru-baru ini kami mengetahui penolakan seorang penulis terhadap Muhammad bin Ishaq dan tuduhannya bahwa Muhammad bin Ishaq adalah seorang Syiah yang telah merusak dan menyimpangkan sejarah Islam. Beliau Muhammad bin Ishaq adalah salah satu pencatat Sirah awal dan terkenal dengan kitabnya Sirah Ibnu Ishaq yang telah disadur oleh murid beliau Ibnu Hisyam dalam Sirah Ibnu Hisyam. Oleh karena itu tulisan ini dibuat untuk perbandingan bagi pembaca bahwa terdapat banyak ulama yang telah menetapkan bahwa Muhammad bin Ishaq ini bisa dipercaya.

Jarh wat Ta’dil Terhadap Muhammad bin Ishaq

Kenyatannya memang terdapat perbedaan pandangan ulama-ulama terhadap Muhammad Ibnu Ishaq, ada yang menta’dilkannya, ada yang menjarhkannya dan ada yang dalam hal tertentu menerima riwayatnya tetapi dalam hal yang lain (halal dan haram misalnya) tidak memakai riwayatnya. Berikut ini beberapa pandangan yang menguatkan ta’dil Ibnu Ishaq

Muhammad bin Ishaq merupakan perawi dari kitab-kitab hadis Kutub As Sittah, Bukhari meriwayatkan dari beliau dalam Shahih Bukhari secara ta’liq, Muslim meriwayatkan dari Ibnu Ishaq dalam Shahih Muslim, Ibnu Ishaq juga merupakan perawi hadis dalam Sunan At Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasai dan Sunan Ibnu Majah. Hal ini telah dinyatakan oleh Prof.DR.Faruq Hamadah dalam bukunya Mashaadirus Siirah an Nabawiyah wa Taqwiimuhaa (terjemahannya Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah hal 72).

Dalam Kitab Tahzib Al Kamal karangan Ibnu Zakki Al Mizzi, terdapat ulama-ulama yang menta’dilkan Ibnu Ishaq

• Muhammad bin Muslim Al Zuhri menyatakan “Madinah berada dalam ilmu selama ada Ibnu Ishaq, orang yang paling tahu tentang sirah”.
• Ibnu Hibban menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah tsiqah (dapat dipercaya)
• Yahya bin Ma’in menyatakan Muhammad bin Ishaq itu tsiqah dan hasanul hadis tetapi di tempat lain Beliau menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah dhaif.
• Muhammad bin Idris As Syafii(Imam mazhab Syafii) memuji Ibnu Ishaq dan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah sumber utama sirah.
• Syu’bah bin Al Hajjaj berkata tentang Ibnu Ishaq “Dia adalah amirul mukminin dalam hadis”.
• Ali bin Al Madini menyatakan bahwa “Ibnu Ishaq adalah sumber hadis, hadisnya disisiku adalah shahih”.
• Asim bin Umar bin Qatadah menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah sumber utama ilmu.
• Salih bin Ahmad bin Abdullah bin Salih Al Ajiliy menyatakan bahwa Ibnu Ishaq seorang yang tsiqah.
• Abu Muawiyah menyatakan bahwa Ibnu Ishaq termasuk diantara orang yang paling kuat ingatannya.
• Muhammad bin Saad menyatakan Ibnu Ishaq tsiqah.
• Abdullah bin Mubarak menyatakan Ibnu Ishaq shaduq.
• Abu Zur’ah juga menyatakan Ibnu Ishaq shaduq.
• Abu Ya’la Al Khalili menyatakan Ibnu Ishaq tsiqah.
• Al Busyanji menyatakan Ibnu Ishaq tsiqah-tsiqah.
• Muhammad bin Abdullah bin Numai menyatakan “Ibnu Ishaq adalah hasanul hadis walaupun kadangkala meriwayatkan hadis-hadis batil yang diambil dari orang yang majhul. Beliau Ibnu Ishaq juga dituduh penganut Qadarriyah Sedangkan beliau amat jauh dari hal itu”.

Dalam kitab Taqribut Tahdzib, Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqallani menyatakan bahwa Muhammad bin Ishaq adalah Imam al Maghazi(sirah), Dalam kitab Zadul Ma’ad juz 1 hal 99 terdapat perkataan Al Baihaqi tentang Ibnu Ishaq”Muhammad bin Ishaq, jika dia menyebutkan sama’nya(bahwa dia mendengar langsung) dalam riwayat dan sanad, itu dapat dipercaya dan berarti sanadnya baik”. Selain itu Adz Dzahabi dalam Mizan Al Itidal mengatakan “hadis Ibnu Ishaq itu hasan di samping itu sikapnya baik dan jujur. Meskipun riwayat yang disampaikannya seorang diri dinilai mungkar karena hafalannya sedikit, banyak para imam hadis menjadikannya sebagai hujjah”.

Memang pada kenyataannya terdapat juga ulama-ulama yang menjarhkan Ibnu Ishaq, hal ini dapat dilihat dalam kitab Tahzib Al Kamal sebagai berikut

• Malik bin Anas menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah salah seorang dajjal.
• Hisyam bin Urwah menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah seorang penipu.
• Yahya bin Said Al Qattan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah seorang penipu.
• Wuhaib bin Khallid menyatakan Ibnu ishaq seorang penipu.
• Sulaiman Al Taimi menyatakan bahwa Ibnu Ishaq seorang pembohong.
• Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa Ibnu Ishaq bukanlah hujjah, tidak memilih dari siapa dia mengambil hadis, bukan hujjah pada sunan, dhaif ketika tafarrud. Tetapi Ahmad bin Hanbal juga menyatakan bahwa sebagian hadis Ibnu Ishaq hasan.
• An Nasai menyatakan bahwa Ibnu Ishaq tidak kuat.
• Al Daruquthni menyatakan Ibnu Ishaq bukan hujjah.
• Al Zanbari menyatakan Ibnu Ishaq dihukum karena menganut paham Qadariyah.
• Jauzajani menyatakan bahwa Ibnu Ishaq dituduh karena beberapa bid’ah.

Walaupun terdapat ulama-ulama yang menjarhkan Ibnu Ishaq diatas, hal itu ternyata tidak menghalangi jumhur ulama untuk mengambil riwayat dari beliau. Hal ini dikarenakan banyak para ulama yang telah menilai jarh dan ta’dil ibnu Ishaq secara mendalam dan telah membantah keberatan terhadap Ibnu Ishaq. Bid’ah Ibnu Ishaq yang dimaksud Jauzani kemungkinan adalah paham Qadariyah yang dinyatakan oleh Al Zanbari tetapi hal ini telah dibantah oleh Muhammad bin Abdullah An Numai yang menyatakan bahwa Ibnu Ishaq jauh sekali dari paham Qadariyah.(lihat Tahdzib Al Kamal) . Selain itu Jauzani juga dikenal sebagai pembid’ah yang pernyataannya kurang bernilai dalam hal ini. (lihat Sunni Yang Sunni hal 33 Mahmud Az Za’by).

Sebagian ulama yang didakwa menjarhkan Ibnu Ishaq ternyata juga memberikan sifat ta’dil kepada beliau dan menerima sebagian riwayat Ibnu Ishaq seperti Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Muin, Ali Al Madini, Al Dzahabi, An Nasai, Abu Dawud, Sufyan bin Uyainah, dan Ibnu Hajar.

Dalam kitab Ad Duafa Wa Al Matrukin hal 41 karangan Ibnul Jauzi menyatakan bahwa ulama yang menolak Ibnu Ishaq seperti Wuhaib bin Khallid hanyalah mengikut terhadap pandangan ulama besar Madinah yaitu Malik bin Anas dan Hisyam bin Urwah,yang ternyata kedua ulama ini mempunyai persengketaan dengan Ibnu Ishaq.

Malik bin Anas mengkritik Ibnu Ishaq ketika beliau mengetahui bahwa Ibnu Ishaq telah mengkritik beliau dan kitab Al Muwatta karangan beliau, seperti yang tertera pada kitab Mu’jam al ‘Udaba jilid 18 hal 7 oleh Yaqut Al Hamawi dan Wafayat Al a’yan hal 227 oleh Ibnu Khallikan.

Wan Kamal Mujani dalam artikelnya Pandangan Ulama Terhadap Karya dan Ketokohan Ibnu Ishaq telah menulis bahwa

persengketaan antara Malik bin Anas dan Ibnu Ishaq bermula apabila Ibn Ishaq menafikan Malik bin Anas berasal daripada keturunan salah seorang raja Yaman iaitu Dhu Asbah. Ibn Ishaq menyatakan bahwa hubungan keluarga Malik bin Anas dengan raja tersebut hanyalah melalui ikrar taat setia sahaja dan bukannya pertalian darah. Ini telah menimbulkan rasa tidak puas hati kepada Malik bin Anas. Perang mulut antara mereka berterusan sehinggalah sampai kemuncaknya setelah Malik menulis Kitab al-Muwatta’ dan mendapat kritikan daripada Ibn Ishaq. Bagaimanapun, hubungan mereka berdua terjalin semula setelah Malik bin Anas mendengar berita bahwa Ibn Ishaq berhasrat untuk meninggalkan Madinah dan berhijrah ke Iraq. Malik bin Anas telah memberi sebanyak 50 Dinar kepada Ibn Ishaq
untuk menampung perbelanjaannya di sana (Ibn Ishaq 1981, 23). Malik bin Anas juga tidaklah menolak keseluruhan hadis Ibn Ishaq. Beliau hanya sekadar tidak menerima riwayat-riwayat Ibn Ishaq mengenai beberapa peperangan Rasulullah s.a.w. yang bersumberkan masyarakat Yahudi (Ibn Ishaq 1981, 23). Ibn Ishaq pula mempunyai hujah tersendiri ketika mencatatkan riwayat-riwayat tersebut kerana beliau mengambilnya daripada periwayat periwayat Yahudi yang telah memeluk agama Islam. Beliau berpandangan bahwa mereka adalah diantara sumber yang paling hampir dengan peristiwa peristiwa tersebut dan mempunyai kaitan yang rapat dengannya.

Adapun tentang persengketaan dengan Hisyam bin Urwah telah dijelaskan oleh Al Dazahabi dalam Mizan Al Itidal jilid 4 hal 469, bahwa

penolakan sebenarnya Hisham bin Urwah terhadap Ibn Ishaq karena beliau tidak menyetujui perbuatan Ibn Ishaq menemui isterinya Fatimah binti al Mundhir dan meriwayatkan hadis-hadis daripadanya.

Dalam hal ini beberapa ulama telah mempertahankan kedudukan Ibnu Ishaq seperti Yahya bin Ma’in dan Ali bin Al Madini. Wan Kamal Mujani dalam artikelnya Pandangan Ulama Terhadap Karya dan Ketokohan Ibnu Ishaq telah menulis

“Jelas bahwa peristiwa ini berlaku disebabkan perasaan terlalu cemburu Hisham bin Urwah,sedangkan isterinya lebih tua (37 tahun) daripada Ibn Ishaq. Pertemuan Ibnu Ishaq dengan Fatimah binti al-Mundhir hanyalah sekadar untuk mengambil hadis-hadis sahaja, kerana Fatimah berkesempatan meriwayatkan daripada beberapa sahabat nabi. Di samping itu, beliau menganggap Fatimah sebagai salah seorang gurunya”.

Oleh karena itulah banyak ulama yang lebih menguatkan ta’dil terhadap Ibnu Ishaq dan tidak menerima Jarh terhadap Ibnu Ishaq. Hal ini seperti dikemukakan oleh Al Hafizh Abul Fath Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya ‘Uyunul Atsar fi Fununil Maghazi was Siyar yang telah menyebutkan seluruh kritikan terhadap Ibnu Ishaq kemudian membatalkannya satu-persatu. Beliau condong untuk menguatkan Ibnu Ishaq dan keautentikannya dan berkata

”Ibnu Ishaq adalah pegangan dalam Maghazi(sirah) bagi kami dan bagi orang lain”.

Selain itu Al Hafizh Abu Ahmad bin Adiy dalam kitabnya Al Kamil telah meneliti tentang Ibnu Ishaq dan berkata

”Aku telah memeriksa hadis Ibnu Ishaq yang begitu banyak .Tidak kudapati sesuatu yang kelihatannya dapat dipastikan dhaif terkadang ia salah atau keliru dalam sesuatu sebagaimana orang lain juga dapat keliru” .

Jadi kami simpulkan bahwa Ibnu Ishaq dapat dipercaya dan dijadikan pegangan dalam masalah sirah. Adapun tentang tuduhan sebagian penulis bahwa Ibnu Ishaq seorang Syiah adalah tidak beralasan apalagi tuduhan beliau telah merusak sejarah islam(tuduhan ini sungguh sangat mengherankan karena banyak sekali sejarawan dan ulama yang telah mengutip dari Ibnu Ishaq) karena banyak ulama yang telah memberikan predikat dipercaya kepada beliau, seandainya beliau banyak meriwayatkan banyak keutamaan Imam Ali itu tidak membuktikan bahwa Ibnu Ishaq adalah syiah lagipula jika ternyata beliau sangat condong ke Imam Ali itu hanya menunjukkan bahwa beliau tasyayyu dan tentu saja riwayat seorang tasyayyu tetap dapat diterima karena cukup banyak perawi hadis yang tasyayyu dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Ashabus Sunan

Wallahu A’lam.

__________________________________________

Untuk Berdialog dan berinteraksi dengan penulis silahkan berkunjung KESINI

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: