Haidar Bagir: Islib Butuh Metodologi

Islib Butuh Metodologi

SUMBER: http://groups.yahoo.com

.

Rabu, 20 Maret 2002
Oleh : Haidar Bagir
Direktur Utama Penerbit Mizan,
Kandidat Doktor di Bidang Filsafat Islam

Disclaimer: Saya tulis artikel ini dengan beberapa tujuan yang akan saya nyatakan di sepanjang isinya. Tapi, yang pasti, tak satu pun di antaranya dimaksudkan membela atau mengecam kelompok yang disebut Islam Liberal (Islib). Tujuan pertama, sekaligus yang utama, adalah mengajukan tawaran bagi Islam Liberal untuk menjadikan lontaran-lontaran pemikirannya lebih produktif dan membuka jalan bagi suatu dialog antara Islam Liberal dengan Islam ”garis keras”, atau dengan siapa pun. Dengan demikian, bukan saja diharapkan wacana yang berkembang menjadi lebih kaya, konflik-konflik yang tidak perlu dan boleh jadi destruktif pun bisa dihindarkan.

Meski tidak mengikuti milis Islib, atau terlibat langsung dalam diskusi-diskusi off-line-nya, rasanya saya cukup mengikuti perkembangan diskusi di kelompok Islib sejak awal, baik lewat lontaran-lontaran sebagian penggagas dan simpatisannya dan pemberitaan di media massa (termasuk, tentu saja, di web site Islib sendiri), maupun lewat berbagai surat elektronik yang merupakan bagian dikusi di milis Islib yang di-forward kepada saya melalui berbagai jalur. Yang terakhir adalah mengenai apa yang dilontarkan sebagai ”Islam Minimal”, yang menurut anggota lain di milis yang sama merupakan suatu manifesto yang bisa mendorong tumbuhnya pluralisme yang sesungguhnya di negeri ini.

(Seorang ibu anggota sebuah milis pendidikan Islam yang cukup progresif saya kira ia hanya mewakili banyak orang Muslim ”biasa”, yang tidak liberal dan tak juga ”keras” mengeluh mengalami ‘kelelahan batin’ ketika membacanya). Dari pembacaan saya terhadap lontaran-lontaran pemikiran Islib saya mendapat kesan kurangnya basis metodologis, apalagi epistemologis, bagi lontaran pemikiran-pemikiran radikal dan kontroversial para pendukung Islib.

Jangankan sebuah metodologi — yakni, semacam teori mengenai metode yang dipakai dalam mengembangkan suatu pemikiran — sebuah pendefinisian-diri saya khawatir tak pernah dengan sungguh-sungguh dilakukan. Kalau pun ada, ia lebih terfokus pada pemaknaan istilah ”liberal” yang dipakai. Padahal, betapa pun saya setuju bahwa ”Islam” tak mungkin bisa dilepaskan dari sebuah ajektif apakah itu tradisional, modern, konservatif, fundamentalis, ataupun liberal — setidaknya harus ada suatu kesepakatan tentang definisi ”minimal” dari Islam itu sendiri. Ini karena, kalau tidak, yang akan terjadi kemudian adalah bahwa Islam –yang merupakan inti persoalan — justru akan menjadi suatu pelengkap penderita yang tidak memiliki hak untuk diperhitungkan dan, sebaliknya, menjadi bulan-bulanan bagi penggagahan oleh konsep-konsep yang selainnya, apakah itu tradisi, modernitas, konservatisme, fundamentalisme, atau pun liberalisme.

Sehubungan dengan istilah yang disebut terakhir -liberalisme – potensi penggagahan ”Islam” ini menjadi lebih besar, mengingat istilah ini cenderung menjadi keranjang yang ke dalamnya apa saja bisa dimaksudkan. Akibatnya, minus sebuah metodologi yang bisa dipertanggung-jawabkan, Islam pun akan menjadi bak karet kendor yang dengan bebas ditarik ke sana ke mari semau-maunya kalau pun tak malah sebuah nonfaktor.

Saya pun ingat kontroversi antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah di abad 9-10 M. Betapa pun dahsyatnya perdebatan itu, hingga berujung pada suatu inkuisisi (mihnah) berdarah-darah, seorang pelajar sejarah pemikiran Islam tak akan gagal melihat adanya upaya serius untuk merumuskan basis metodologis bagi pemikiran kedua kelompok yang bertikai. Bukan saja metodologi, para pemikir kedua kelompok tak kurang dari berdebat hingga menyangkut masalah-masalah epistemologis yang amat mendasar mengenai otoritas akal (rasio atau nalar-analitis) dalam menangkap kebenaran keagamaan.

Kita semua masih ingat bagaimana kaum Mu’tazilah memperkenalkan kredonya yang berbunyi al-husn wa al-qubh al-’aqliyan al-dzatiyan (kebaikan dan keburukan yang keduanya bersifat rasional dan inheren), sebagai antitesis terhadap kepercayaan Asy’ariyah yang secara metodologis menekankan kehendak dan kekuasaan mutlak Allah.

Sebelum itu, kedua kelompok itu tentu saja sepakat mengakui peran-sentral al-Qur’an dan hadits sebagai pewenang-akhir, betapa pun penafsiran masing-masing kelompok bisa berbeda. Hal yang sama kita dapati pada Al-Kindi (9M), yang umum diakui sebagai filosof pertama dalam sejarah Islam, ketika menulis risalahnya tentang hubungan antara filsafat (rasionalisme) dengan agama yang berjudul al-Falsafah al-Ula (Filsafat Pertama). Risalah ini sekaligus meletakkan landasan metodologis bagi pemikiran para filosof Muslim yang mengikutinya.

Ketika belakangan terjadi polemik dahsyat antara Filsafat melawan Ortodoksi, Ibn Rusyd (12 M) melakukan hal yang sama lewat Fashl al-Maqal bayn al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal (Pembahasan yang Menentukan mengenai Keterkaitan antara Hikmah dan Syari’ah) dan al-Kasyf ‘an al-Manahij al-Adillah (Pengungkapan mengenai Metoda-metoda -yang dipakai dalam- Dalil-dalil –berbagai aliran pemikiran dalam Islam). Demikian pula halnya dengan al-Ghazali sebagai lawan debat sang filosof -antara lain lewat risalah otobiografisnya berjudul al-Munqidz min al-Dhalal (Pembebas dari Kesesatan) dan juga Tahafut al-Falasifah (Inkoherensi Kaum Filosof)-nya yang terkenal itu — yang dilanjutkan oleh Al-Razi dan al-Tusi.

Belum lagi dengan para Imam Mazhab, mulai Abu Hanifah dengan qiyas-nya hingga Ahmad bin Hambal dengan penekanannya pada tradisi. Di masa modern, Fazlur Rahman dikenal luas lewat kengototannya untuk mempertanggungjawabkan modernisme Islam melalui tawaran metodologisnya tentang penekanan kepada pandangan dunia dan pesan moral al-Qur’an serta Sunnah yang hidup sebagai pengganti hadits ketimbang pada pemahaman tekstualis. Bahkan Iqbal, filosof besar dan orisinal anak benua India itu, tak lolos dari kritiknya sehubungan dengan apa yang oleh Rahman dianggap sebagai ketiadaan metodologi yang jelas dalam pemikirannya.

Akhirnya, para pemikir seperti Arkoun, Hasan Hanafi, Nasr Abu Zayd, Muhammad Abid al-Jabiri dan sebagainya yang note bene merupakan contoh-contoh par excellence pemikiran liberal dalam Islam sebaliknya dari mengabaikan metodologi justru amat ngotot dalam mutlaknya alat-ilmiah ini dirumuskan dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah (hadits) sebagai sumber-sumber utama ajaran Islam. Al-Jabiri malah menunjukkan betapa bukan hanya Ibn Rusyd, tapi juga Ibn Hazm yang dianggap sebagai Bapak Faham Zhahiri (esoterisme literal) pun tak kurang-kurang memiliki metodologi yang jelas.

Hal inilah yang terkesan tidak tampak dalam lontaran-lontaran pemikiran para pendukung Islib. Kecuali Taufik Adnan Amal yang setia dengan penelitiannya yang cukup canggih mengenai al-Qur’an ”edisi kritis”, juga muncul kesan yang tak terhindarkan bahwa al-Qur’an dan Hadis (Sunnah) sebagai sumber ajaran Islam yang disepakati terasa absen dari segenap kegairahan ber-Islib-ria itu. (Sementara kaum ”fundamentalis”, yang konon diproklamasikan sebagai lawan Islib, justru sedikit-banyak memiliki metodologi, setidaknya dalam bentuk tekstualisme yang merupakan warisan para tokoh salafiyah awal seperti Ibn Taymiyyah dan para pelanjutnya).

Akhirnya, kalaupun para pendukung Islib merasa bahwa mereka telah cukup merumuskan metodologi ini, sudah waktunya mereka mengungkapkannya secara jelas kepada masyarakat, mengingat lontaran-lontaran pemikiran mereka selama ini dikehendaki atau tidak telah menimbulkan dampak yang amat luas dan, sampai batas tertentu, mengkhawatirkan akibat bocoran tulisan-tulisan elektronik mereka. Hal ini sekaligus bisa menghindarkan kesan yang kadung tumbuh di sementara kalangan Islam bahwa Islib sebenarnya adalah suatu konspirasi manipulatif untuk menggerus Islam justru dengan meng-abuse sebutan Islam itu sendiri.

___________________

ARTIKEL TERKAIT

  1. Haidar Bagir: Islib Butuh Metodologi
  2. Untuk Haidar Bagir: Metodologi Islam Liberal
  3. Hermeneutika dan Ta’wil (Tanggapan Haidar Bagir Untuk Sukidi)
  4. Andai aku seorang Muslim liberal
  5. Islam Tidak Anarkis dan Tidak Pluralis

Satu Tanggapan

  1. Jarang ada komentar berbobot terhadap JIL seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: