Islam Tidak Anarkis dan Tidak Pluralis

Islam Tidak Anarkis dan Tidak Pluralis

SUMBER: Abatasya Islamic Website

 

Oleh: Muh. Anis

Saya sungguh sangat prihatin melihat ulah sekelompok muslimin yang telah melakukan tindakan tak-terpuji terhadap penganut agama lain dan mengorbankan rakyat sipil tak-berdosa dengan dalih jihad. Mereka telah menampilkan Islam sebagai agama teror. Jelas, ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam, yang merupakan rahmat bagi alam semesta. Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi alam semesta.” (QS. al-Anbiya: 107).

Namun di sisi lain, Islam juga tidak mengajarkan pluralisme dalam pengertian bahwa semua faham atau keyakinan adalah benar. Dengan kata lain, Islam melakukan truth claim (klaim kebenaran) terhadap dirinya. Dan hal ini tidak semestinya dipertentangkan dengan isu toleransi. Karena keduanya memiliki terminologi yang berbeda.

Dalam Islam dikenal istilah Akidah, yaitu keyakinan yang diyakini sebagai kebenaran setelah melalui proses berpikir, mengkaji, dan menguji. Dalam terminologi ini, seorang yang mengaku sebagai muslim semestinyalah meyakini secara tegas bahwa keyakinannya adalah yang benar. Al-Qur’an sendiri menegaskan hal ini: “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85).

Tak hanya Islam, dalam agama Nasrani juga dikenal truth claim. Sebagaimana yang tertuang dalam Dominus Jesus‌, yang diterbitkan oleh Vatikan pada tahun 2001, yang berisi penolakan terhadap pluralisme agama dan menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantaran keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus.

Truth claim merupakan keniscayaan akal. Tanpa truth claim, manusia akan terjerumus dalam kemunafikan, karena ia akan membenarkan semua keyakinan meskipun saling bertentangan. Bahkan ketika seorang pluralis menolak truth claim, maka faham pluralis yang dianutnya menjadi tak berarti lagi dan pada hakikatnya ia anti-pluralisme.

Selain itu, dalam Islam dikenal pula istilah Akhlak, yang selain berbicara tentang potensi jiwa manusia, juga berbicara tentang adab (perilaku mulia). Dalam terminologi ini, seorang muslim mesti bersikap toleran terhadap penganut keyakinan yang berbeda dengan dirinya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa kaum muslimin mesti mensikapi perbedaan dengan cara-cara mulia, yang berbunyi: “Janganlah kalian berdebat dengan kaum Ahlul Kitab, kecuali dengan cara yang terbaik.”‌ (QS. al-Ankabut: 46) dan “Tidak ada paksaan dalam beragama.” (QS. al-Baqarah: 256).

Peristiwa Mubahalah Kaum Nasrani Najran (tahun ke-9H) merupakan contoh terbaik yang menegaskan asumsi-asumsi di atas, bila kita melihatnya secara utuh dan tidak sepotong-sepotong. Peristiwa ini diawali dengan surat Nabi Muhammad saww kepada otoritas Nasrani di Najran (sebuah daerah di perbatasan Hijaz dan Yaman). Kemudian kaum Najran mengirimkan utusan untuk menemui Beliau saww, yang saat itu sedang berada di Masjid Nabawi. Para utusan tersebut pergi dengan mengenakan pakaian sutera, cincin emas, dan kalung salib. Ketika mereka memasuki masjid, Nabi saww menghendaki agar mereka memakai pakaian sederhana dan melepaskan perhiasan mereka. Nabi saww pun menyambut mereka dengan hormat dan hangat. Namun sebelum dialog dimulai, para utusan tersebut mengatakan bahwa waktu berdoa mereka telah tiba. Nabi saww pun mengijinkan mereka beribadah di dalam masjid, namun dengan menghadap ke timur. Setelah mereka selesai beribadah, barulah Nabi saww berdialog dengan mereka dengan cara-cara yang mulia, santun, dan ilmiah.

Dari kisah sejarah ini terlihat bahwa Nabi Muhammad saww telah melakukan truth claim dengan menyeru kaum Nasrani Najran agar menyembah Allah. Namun beliau saww bersikap toleran kepada mereka, dengan mewujudkan seruan tersebut dalam bentuk dialog ilmiah, yang disertai pula dengan sikap mulia dan santun. Beliau saww juga bersikap toleran, dengan mengijinkan mereka beribadah di masjid dan menunggu hingga mereka selesai melakukan ibadah. Namun beliau saww juga bersikap tegas, ketika menghendaki mereka agar menanggalkan atribut kemewahan saat memasuki masjid dan meminta mereka untuk menghadap ke timur –mungkin maksudnya agar tidak menghadap ke arah Ka’bah– saat mereka hendak beribadah.

Dengan demikian, Islam pada hakikatnya merupakan agama yang tegas namun tidak despotik dan anarkis, toleran namun tidak pluralis. Wallahu A’lam.

Wassalaam,
Muh. Anis
(Penulis)

_______________

ARTIKEL TERKAIT

  1. Haidar Bagir: Islib Butuh Metodologi
  2. Untuk Haidar Bagir: Metodologi Islam Liberal
  3. Hermeneutika dan Ta’wil (Tanggapan Haidar Bagir Untuk Sukidi)
  4. Andai aku seorang Muslim liberal
  5. Islam Tidak Anarkis dan Tidak Pluralis


 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: