Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (2)

Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (2)

SUMBER: Media-Isnet

Oleh Dr. Quraish Shihab

Artikel Sebelumnya

Ust. Dr. Quraish Shihab

Al-Qur’an juga menyatakan bahwa,

“Apabila  mereka  condong  kepada  salam  (perdamaian), maka condong pulalah  kepadanya,  dan  berserah  dirilah  kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Anfal [8]: 61).

Perlu digarisbawahi bahwa berlaku adil terhadap Ahl Al-Kitab siapa  pun mereka,  walau  Yahudi  –  tetap  dituntut  oleh Al-Qur’an. Ulama-ulama Al-Qur’an menguraikan bahwa Nabi saw pernah  cenderung mempersalahkan  seorang Yahudi yang tidak bersalah karena  bersangka  baik  terhadap  keluarga  kaum Muslim  yang  menuduhnya.  Sikap  Nabi tersebut ditegur oleh Allah dengan menurunkan surat An-Nisa, [4]: 105.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan  Kitab  kepadamu  dengan membawa  kebenaran,  supaya  engkau  mengadili antar manusia dengan apa  yang  Allah  wahyukan  kepadamu.  Dan  janganlah engkau  menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat.”

APAKAH AHL AL-KITAB SEMUA SAMA?

Di  atas  telah  dipaparkan  sebagian  dari  ayat-ayat  yang berbicara tentang Ahl Al-Kitab serta kecaman dan sifat-sifat negatif mereka. Pertanyaan yang dapat muncul adalah: “Apakah ayat-ayat   di  atas  berlaku  umum,  menyangkut semua  Ahl Al-Kitab kapan dan di mana pun mereka berada?”

Penggalan  terakhir  surat  Al-Ma-idah  [5]:  59   di   atas menyatakan  bahwa  banyak di antara kamu (hai Ahl Al-Kitab), perlu digarisbawahi untuk  menjawab  pertanyaan  ini.  Hemat penulis,  penggalan  tersebut paling tidak menunjukkan bahwa tidak semua mereka bersikap demikian.

Kesimpulan ini didukung dengan  sangat  jelas  paling  tidak dalam dua ayat berikut:

“Banyak  dari  Ahl  Al Kitab  yang  menginginkan agar mereka dapat mengembalikan  kamu  kepada  kekafiran  setelah  kamu beriman,  karena  dengki  yang timbul dari dalam hati mereka setelah nyata bagi mereka kebenaran.  Maka  maafkanlah  dan biarkanlah  mereka  sampai  Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya  Allah  Mahakuasa  atas  segala  sesuatu” (QS Al-Baqarah [2]: 109).

Perlu  diketahui  bahwa ayat di atas menggunakan kata katsir yang  seharusnya  diterjemahkan  banyak,  bukan   kebanyakan sebagaimana   dalam   Al-Qur’an   dan   Terjemahannya   oleh Departemen Agama. Ini dikuatkan juga dengan firman-Nya:

“Segolongan dari Ahl Al-Kitab ingin menyesatkan kamu padahal mereka  (sebenarnya)  tidak  menyesatkan kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya” (QS Ali ‘Imran  [3]: 69)

Kalau  melihat  redaksi  ayat  di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam  konteks  upaya  pemurtadan,  maka  tidak  semua mereka  bersikap  sama.  Sejalan  dengan ini, ada peringatan yang ditujukan kepada kaum Mukmin yang menyatakan:

“Wahai  orang-orang  yang  beriman,  jika   kamu   mengikuti sekelompok   dari   Ahl   Al-Kitab,   niscaya   mereka  akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang  kafir  sesudah  kamu beriman” (QS Ali ‘Imran [3]: 100).

Nah,  jika demikian dapat dipahami keterangan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa,

“Mereka itu tidak sama. Di antara Ahl Al-Kitab ada  golongan yang  berlaku  lurus.  Mereka  membaca  ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka  juga  bersujud” (QS Ali ‘Imran [3]: 113) .

Sebelumnya  dalam  surat yang sama Al-Qur’an juga memberikan informasi,

“Di antara Ahl Al-Kitab ada  yang  jika  kamu  mempercayakan kepadanya  harta  yang banyak, dikembalikannya kepadamu, dan di  antara  mereka  ada  juga  yang  jika  kamu   percayakan kepadanya  satu dinar (saja) tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali  selama  kamu  berdiri  (selalu menagihnya).  Yang demikian  itu  karena  mereka  berkata  (berkeyakinan) bahwa tidak ada dosa bagi kami (memperlakukan tidak adil) terhadap orang-orang ummi (Arab). Mereka berkata dusta terhadap Allah padahal mereka mengetahui” (QS Ali ‘Imran [3]: 75).

Demikian juga ketika Al-Qur’an mengungkap isi hati  sebagian Ahl Al-Kitab dinyatakannya bahwa:

“Permusuhan   antar  sesama  mereka  sangatlah  hebat.  Kamu menduga mereka bersatu, padahal hati mereka berpecah  belah” (QS Al-Hasyr [59]: 14

BAGAIMANA SEHARUSNYA SIKAP TERHADAP AHL AL-KITAB

Di atas terlihat bahwa Ahl Al-Kitab tidak semua sama. Karena itu sikap  yang  diajarkan  Al-Qur’an  terhadap  mereka  pun berbeda, sesuai dengan sikap mereka.

Dalam  sekian  banyak  ayat  yang  menggunakan  istilah  Ahl Al-Kitab, terasa adanya uluran tangan dan sikap  bersahabat, walaupun  di  sana-sini  Al Qur’an mengakui adanya perbedaan dalam keyakinan.

Perhatikan firman Allah berikut ini:

“Janganlah kamu  berdebat  dengan  Ahl  Al-Kitab,  melainkan dengan cara yang   sebaik-baiknya,   kecuali   terhadap orang-orang yang zalim di  antara  mereka” (QS  Al-‘Ankabut [29]: 46).

Dalam beberapa kitab tafsir – seperti juga pada catatan kaki Al-Qur’an dan  Terjemahnya  Departemen  Agama  –  dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang zalim” dalam ayat diatas adalah mereka yang  setelah  diberi penjelasan  dengan baik,  masih  tetap  membantah,  membangkang, dan menyatakan permusuhan.

Sebenarnya yang diharapkan oleh kaum Muslim dari semua pihak termasuk  Ahl  Al-Kitab adalah kalimat sawa’ (kata sepakat), dan kalau ini tidak ditemukan, maka cukuplah  mengakui  kaum Muslim  sebagai  umat  beragama  Islam jangan diganggu dan dihalangi dalam melaksanakan ibadahnya. Dalam  konteks  ini Al-Qur’an memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw.,

“Hai  Ahl  Al-Kitab, marilah kepada satu kata sepakat antara kita yang tidak ada perselisihan di antara  kami  dan  kamu, yakni  bahwa  kita  tidak  menyembah kecuali Allah, dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak pula sebagian  kita  menjadikan  sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah. Jika mereka  berpaling,  maka  katakanlah (kepada  mereka ‘Saksikanlah  (akuilah) bahwa kami adalah orang-orang Muslim (yang menyerahkan diri kepada Allah)” (QS Ali ‘Imran [3]: 64).

Sekali   lagi  penulis  katakan  “sebagian  mereka,”  karena Al-Qur’an juga menggarisbawahi bahwa:

“Dan sesungguhnya di antara  Ahl  Al-Kitab  ada  orang  yang beriman  kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan apa yang diturunkan kepada  mereka  sedang  mereka berendah  hati  kepada  Allah,  dan  mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala  di  sisi Tuhan mereka. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya” (QS Ali ‘Imran [3]: 199).

Memang, tidak sedikit dari Ahl Al-Kitab yang kemudian dengan tulus memeluk agama Islam. Salah seorang yang paling populer di antara mereka  adalah  Abdullah  bin  Salam.  Al-Qurthubi dalam  tafsirnya  meriwayatkan  bahwa ketika  turun  firman Allah:

“Orang-orang yang  telah  Kami  beri  Al-Kitab  (Taurat  dan Injil) mengenalnya   (Muhammad  saw.)  sebagaimana  mereka mengenal anak-anak mereka” (QS Al-Baqarah [2]: 146).

Umar r.a. bertanya kepada Abdullah bin Salam, “Apakah engkau mengenal   Muhammad  sebagaimana  engkau  mengenal anakmu?” Abdullah  menjawab,  “Ya,  bahkan  lebih.  (Malaikat)   yan terpercaya  turun dari langit kepada manusia yang terpercaya di bumi, menjelaskan  sifat  (cirinya),  maka  kukenal  dia; (sedang  anakku)  aku  tidak  tahu  apa yang telah dilakukan ibunya.”

AHL AL-KITAB PADA MASA TURUNNYA AL-QUR’AN

Sebelum membuka lembaran ayat-ayat Al-Qur’an  perlu  kiranya kita  menoleh  ke  sejarah dakwah Islamiah yang dilaksanakan oleh  Nabi  Muhammad  saw.  Sepuluh  tahun  lamanya   beliau melaksanakan  misi kerasulan di Makkah, dan yang dihadapi di sana adalah kaum musyrik penyembah berhala. Di  kota Makkah sendiri  penganut agama Yahudi sangat sedikit, bahkan hampir tidak  ada.  Musuh  pertama  dan  utama  ketika  itu  adalah orang-orang  Makkah,  dan  mereka itu disebut oleh Al-Qur’an sebagai al-musyrikun.

Penindasan kaum musyrik  di  Makkah  terhadap  kaum  Muslim memaksa  sebagian  kaum  Muslim  melakukan hijrah pertama ke Ethiopia. Di sana mereka disambut dengan  baik  oleh  Negus, penguasa yang beragama Nasrani.

Masyarakat  Madinah  terdiri  dari dua kelompok besar, yaitu Aus dan Khazraj,  serta  orang-orang  Yahudi  yang  memiliki kekuatan  ekonomi yang cukup memadai. Aus dan Khazraj saling bermusuhan  dan  berperang. Tidak jarang   pula   terjadi perselisihan  dan  permusuhan  antara  mereka  dengan  orang Yahudi. Pertempuran dan perselisihan  itu  melelahkan  semua pihak; sayang  tidak  ada  di  antara  mereka yang memiliki wibawa  yang  dapat mempersatukan  kelompok-kelompok   yang bertikai ini.

Orang-orang   Yahudi  sering  mengemukakan  kepada  Aus  dan Khazraj, bahwa  akan  datang  seorang  Nabi  (dari  kelompok mereka), dan  bila  ia  datang  pastilah  kaum  Yahudi akan mengalahkan  musuh-musuhnya.  Dalam  konteks  ini  Al-Qur’an menyatakan -menyangkut orang Yahudi- bahwa “Setelah  datang  kepada  mereka  Al-Qur’an  dan  Allah yang membenarkan apa yang ada  pada  mereka,  padahal  sebelumnya mereka  biasa memohon (demi kedatangan Nabi yang dijanjikan) untuk  mendapat  kemenangan  atas  orang-orang  kafir,  maka setelah  datang kepada mereka apa yang mereka ketahui mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat  Allah  atas  orang-orang yang ingkar itu” (QS Al-Baqarah [2]: 89).

Yang  dimaksud dengan “membenarkan apa yang ada pada mereka” adalah kehadiran seorang  Nabi,  yang  dalam  hal  ini  Nabi Muhammad  saw.  Sahabat Nabi Ibnu Abbas menjelaskan apa yang dimaksud dengan “padahal sebelumnya  mereka  biasa  memohon” adalah  bahwa  orang  Yahudi  Khaibar berperang melawan Arab Gathfan,  tetapi  mereka   dikalahkan,   maka   ketika   itu orang-orang  Yahudi  berdoa,  “Kami  bermohon kepada-Mu demi Nabi Ummi yang engkau janjikan untuk mengutusnya kepada kami di  akhir  zaman menangkanlah  kami  atas mereka” sehingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka.

Al-Qur’an  juga  menginformasikan  bahwa  keengganan  mereka beriman  disebabkan  oleh  karena  “kedengkian  dan iri hati mereka” (QS Al-Baqarah [2]:  109).  Tadinya  mereka  menduga bahwa  Nabi  tersebut dari Bani Israil, tetapi ternyata dari golongan Arab yang merupakan seteru mereka.

Terbaca dari uraian sejarah di atas bahwa orang-orang Yahudi dan  Nasrani  hampir  tidak  ada  di  kota  Makkah. Itu pula sebabnya sehingga kaum musyrik di sana  mengirim  utusan  ke Madinah  untuk  memperoleh  “pertanyaan  berat”  yang  dapat diajukan  kepada  Nabi  Muhammad  dalam  rangka   pembuktian kenabiannya.   Ketika   itu   orang-orang   Yahudi   Madinah menyarankan agar menanyakan soal ruh, dan  peristiwa  itulah yang melatar belakangi turunnya firman Allah:

“Mereka  bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan  Tuhanku.’  Kamu  tidak  diberi  pengetahuan kecuali sedikit” (QS Al-Isra’ [17]: 85).

Kehadiran  Nabi Muhammad saw. ke Madinah, disambut baik oleh Aus dan Khazraj bukan saja  sebagai  pemersatu  mereka  yang selama ini telah lelah bertempur dan mendambakan perdamaian tetapi juga karena mereka yakin bahwa beliau  adalah  utusan Allah,  yang  sebelumnya  telah  mereka ketahui kehadirannya melalui orang-orang Yahudi.

Adapun orang-orang Nasrani lebih banyak bertempat tinggal di Yaman,  bukan  di Madinah. Kalaupun ada yang di sana, mereka tidak mempunyai pengaruh politik atau ekonomi, namun  mereka juga disebut oleh Al-Qur’an sebagai Ahl Al-Kitab.

****************************

ARTIKEL SEBELUMNYA

  1. Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (1)
  2. Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (2)
  3. Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (3)
  4. Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: