Studi Kritis Anak Kecil Yang Ribut Di Masjid

Studi Kritis Anak Kecil Yang Ribut Di Masjid

SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran

Muqaddimah

Saya teringat Insiden menyebalkan ini waktu saya shalat tarawih di masjid. Sebenarnya saya kurang tahu pasti, sisi mana yang menimbulkan rasa menyebalkan ini. Lagipula biasa saja kan yang namanya Anak kecil ribut atau berlari-larian atau tertawa-tawa atau bermain-main dengan sesamanya. Yah begitulah anak kecil dan cobalah mengerti itu. Mengapa harus harus dipaksakan seorang anak kecil itu mesti duduk diam tanpa bicara, tanpa ikut tertawa padahal ia berada di antara sesamanya yang sedang ribut. Saya rasa anak seperti itu patut dicurigai (jadi teringat masa kecil) :mrgreen:

Insiden Tarawih

Ok maafkan kalau saya langsung mulai begitu, ceritanya begini… hmmm saya deskripsikan dalam bentuk perincian saja biar nggak repot

  • Orang-orang Shalat tarawih di Masjid
  • Anak-anak kecil sibuk bermain, ribut dan sesekali berlarian di Masjid
  • Tiba-tiba Seorang dari generasi tua angkat bicara dengan suara tinggi(yang membuat saya dan yang lainnya terkejut) dan langsung memarahi para anak kecil yang lucu-lucu itu

Peristiwa ini buat saya sebal dan seperti biasa kesebalan sering mengundang otak saya bekerja dengan cara yang aneh. Saya heran apa yang saya sebalkan? apa peduli saya? saya mah harus cepet2 pulang dan tidur(capek berat dan besok harus mulai lagi…)

.

.

Studi Kritis Di Saat Kritis

Betapapun saya bersikap tidak peduli dan tambah lagi saya memang tidak pedulian tetap saja saya jadi kepikiran. Mengapa saya sebal?, ok mari kita runut dan analisis :mrgreen:

Karena Sahalat Tarawih di Masjid, hmmm kayaknya nggak deh. Ngapain saya sebal sama tarawih, wong saya nggak dipaksa kok. Murni niat sendiri mau shalat, terlepas dari kontroversi seputar tarawih. Walaupun bisa dibilang saya nggak pernah semangat shalat tarawih di masjid. Kultum yang cuma itu-itu aja, lagu lama yang terus diulang berserta hadis-hadisnya(yang menurut sebagian golongan dhaif dan maudhu’) dan doa bersama dengan suara keras(yang menurut sebagian golongan itu bid’ah) . he he he nggaklah saya mah orang awam, gak ngerti yang begituan apalagi mau sebal dengan hal-hal begitu

.

Karena Anak-anak kecil, hmm gimana ya. Saya pribadi sih nggak ada urusan sama mereka. Walaupun terkadang saya tidak suka keributan.

  • Anak kecil mah memang biasa bermain karena itu dunia mereka.
  • Mereka suka tertawa karena mereka sepertinya tidak memikirkan berbagai hal ribet di dunia.
  • Mereka suka main kejar-kejaran karena dengan itu mereka lebih merasa akrab dan senang.

So, ada yang salah dengan itu. Ya iyalah, ngapain coba di Masjid. Apa nggak ada tempat lain, di luar kek atau di jalan sono yang nggak ada orang shalatnya. Benarkah begitu? saya rasa ada yang kurang. Anak kecil itu ke Masjid bisa jadi ikut orang tuanya atau disuruh orang tuanya dan seperti biasa Orang tua suka marah kalau anak tercintanya yang seharusnya ke masjid malah keluyuran kemana-mana. Jadi kayaknya anak kecil itu punya rasa amanah yang cukup tinggi untuk tetap pergi ke masjid sesuai anjuran orang tuanya(membayangkan kalau saya jadi Orang tua). Mengapa mereka harus dipermasalahkan dengan sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar saja ada pada mereka?

.

Seperti yang saya katakan pada awalnya, Jika ada anak yang kerjanya cuma duduk diam, kalem, gak senyum gak ketawa di tengah-tengah anak-anak yang lagi pada ribut, tertawa dan bermain maka anda punya alasan kuat untuk berpikir Itu anak pasti ada apa-apanya. Saran saya kalau anda bertemu anak seperti itu, cepat-cepat berikan pertolongan. Bila perlu anda paksa untuk ikutan senyum dan ketawa :mrgreen:

Dan malah lebih aneh kalau Anak-anak kecil itu duduk diam tanpa suara secara bersama-sama. Bayangkan apa yang terjadi, kalau saya sudah pasti bingung dan lebih merasa Ada apa-apanya.

  • Pasti ada konspirasi yang mau mencuci otak generasi muda kita
  • Atau ada sejenis penyakit misterius yang membuat anak-anak itu tidak bisa bersuara
  • Ho ho Mereka semua adalah Indigo

Sepertinya saya malah lebih suka kalau mereka anak-anak itu tetap ribut, tertawa dan bermain apa adanya. Lebih manusiawi menurut saya dan saya punya alasan kuat untuk itu karena pengalaman telah mengajarkan pada saya betapa seorang anak benar-benar butuh sifat ke-Anak-an dalam proses tumbuh kembangnya. So, saya pasti tidak sebal sama mereka. :)

.

Kemungkinan terakhir, saya sebal sama Satu Orang tua yang tiba-tiba memarahi anak-anak itu. Umurnya nggak tua-tua amat tetapi saya yakin umur begitu paling tidak sudah bisa punya anak lima. Begini Pak, untuk apa sih marah-marah. Apalagi dengan suara yang bikin saya dan orang lain terkejut. Namanya juga anak-anak, jika saya berada dalam sudut pandang mereka maka saya dapat memakluminya. Mereka, maaf belum mengerti banyak hal yang sudah dimengerti oleh anda wahai para Kaum tua. Mereka lebih butuh banyak pelajaran dan senyuman bukan kemarahan yang saya rasa malah menyebarkan ketakutan.

Beberapa orang tua sepertinya terbiasa dengan Metode instan dalam mendidik, tinggal marah dan bila perlu diancam maka semua beres. Pendidikan gaya horor begitu nggak menarik dan hasilnya tidak memuaskan. Anak-anak yang saya ceritakan ini cuma terdiam sebentar mungkin karena ketakutan dan setelah berlalu beberapa menit semuanya kembali ribut seperti semula (tuh lihat itu adalah proses alami yang manusiawi)

.

Anda wahai para Kaum tua mungkin punya sejuta alasan untuk tidak suka dengan anak-anak kecil yang ribut di masjid. Mungkin anda merasa ritual anda terganggu alias anda jadi nggak khusyu’. Ok itu masalah anda, tapi lihat baik-baik apa yang anda tunjukkan. Saya rasa malah jauh lebih buruk. Seharusnya di bulan penuh rahmat ini anda sebagai kaum tua harus menjadi contoh untuk dapat menahan diri dari kemarahan yang seperti itu. Saya melihat itu sangat tidak pada tempatnya. Saya berpikir Tuhan mungkin lebih memaklumi anak kecil itu dibanding sikap yang anda tunjukkan.

  • Anda marah-marah dengan suara keras pada anak kecil di rumah Tuhan.
  • Anda sudah tidak bisa menahan emosi karena suatu kewajaran.
  • Anda sama saja juga mengganggu ritual ibadah orang lain tapi bedanya mereka Anak kecil belum mendapat porsi besar pengetahuan soal apa yang seharusnya mereka lakukan.

Bukankah kita puasa untuk melatih kesabaran. Maafkan saya bukan bermaksud menggurui anda tetapi saya akui saya memang tidak punya keberanian seperti anda untuk marah-marah seperti itu. Ngapain pula saya harus marah, sangat tidak ada gunanya :(

.

Bukankah kita punya banyak cara yang lebih baik untuk memberi pengajaran dan saya yakin anda para Kaum tua punya banyak pengalaman dan kompetensi soal ini. Satu-satunya kendala hanyalah emosi dan tidak sabaran. Cuma itu saya rasa :(

Sebelum mengakhiri saya mau memaparkan bagian yang hilang disini, yaitu Para Orang Tua Mereka. Boleh saja anda atau siapa saja berharap agar mereka anak-anak kecil itu jangan ribut ketika orang sedang shalat. Tetapi tentu kita harus berusaha keras untuk itu. Beritahu pada mereka para Orang Tua anak-anak itu agar mereka berusaha keras untuk mengajarkan tatacara atau adab atau apapun yang diperlukan. Saya curiga sepertinya setelah pulang maka masalah ini malah terlupakan dan lenyap dalam ketidakpedulian. Di rumah para orang tua akan kembali sibuk dengan masalah rumah dan anak-anak kecil seperti biasa menonton atau langsung tidur(setelah makan tentunya). Susah memang dan kalau nggak mau maka jangan banyak menuntut :mrgreen:

Ah akhirnya saya tahu mengapa saya kesal (karena saya belum makan besar sehabis buka tadi) :mrgreen:

.

.

Akhir Cerita

intinya mengingatkan siapa saja termasuk saya sendiri kalau kita-kita ini sering melupakan Keragaman Sudut Pandang dalam bersikap dan memahami. Kita terlalu asyik dengan sudut pandang kita sendiri dan tidak peduli dengan bagaimana sudut pandang pihak lain. Bukan berarti kita harus nurut-nurut saja alias disini senang disana senang. Silakan berprinsip tetapi pahami terlebih dulu sudut pandang lain sebelum anda bersikap karena itu akan membuat anda lebih bijak. Mari sama-sama berbenah diri ;)

.

.

Salam damai

.

Update :

Catatan : Ini ada tulisan yang bagi saya, cukup menggambarkan bahwa sudut pandang lain itu benar-benar penting apalagi jika berkaitan dengan anak kecil. Tulisan sedih sih :(

____________________________________________________

ARTIKEL TERKAIT

.

Anak-anak yang Berisik di Masjid, Jangan Dipinggirkan !

SUMBER: Sains-Inreligion

.

Pengurus masjid meminta permakluman dibuat kebijakan baru, agar anak-anak tidak berada di dalam masjid saat tarawih tiba.
“Yah.. maklum saja, anak-anak memang persoalan tersendiri”
“Namanya juga anak-anak”.
“Jadi, untuk dan demi kekhusyuan sholat, hendaknya anak-anak sholat di luar ruangan dalam mesjid saja”

“… agar sedemikian dan sehingga tidak menganggu orang dewasa !”. “Tahun sebelumnya, di antara orang dewasa, namun masih juga susah mengaturnya… jadilah diatur begitu !.”
—-

Ceramah tarawih malam pertama itu, tak kalah pula menariknya.  Penceramah “langsung” melakukan koreksi yang gagasannya layak untuk dipertimbangkan :

  • Hendaknya anak-anak dimanusiakan di antara orang dewasa yang beribadah di masjid.  Mereka adalah cikal bakal kita, penerus.  Jangan disisihkan, tapi dirangkul.  Ditanya, dipuji, diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari aktivitas mesjid.  Entah itu mengumumkan siapa penceramah hari ini dan berbagai kegiatan lain.
  • Anak-anak senang diapresiasi, jika sholatnya rajin dan tidak menganggu temannya, berikan apresiasi dengan pujian dan berikan hadiah.  Penceramah kemudian memanggil salah seorang anak yang menurut Beliau sholatnya tekun.  Kemudian dicontohkan disapa, kelas berapa?, siapa namanya?, kemudian  setelah itu diucapkan apresiasi kepadanya sekaligus hadiah.  Entah berapa yang dikeluarkan dari sakunya.  Namun, memang si anak tadi menunjukkan kebahagiaannya.  Beliau sarankan, dari “kocek” masjid, tidak ada salahnya dilakukan pembinaan seperti ini.
  • Penceramah hendaknya ingat, bahwa ceramah bukan hanya untuk orang dewasa yang datang ke mesjid, tapi juga untuk mereka, anak-anak yang diajak orang tua mereka untuk mengenal dunia agama.  Cukup ceramah 5 menit untuk orang dewasa, 10 menit untuk anak-anak.   Mereka juga punya hak untuk mendengarkan dan menyimak.  Apalagi jika tausyiah dijalankan dengan penuh keakraban, maka anak-anak akan berkesan. Kesan itu akan dibawa sampai masa dewasanya.  Kesan itu membawa nikmatnya datang dan beribadah, bersama orang-orang dewasa yang mengerti dunia mereka, dunia bermain.

Singkatnya, jangan karena tuntutan untuk khusus dan tidak mau terganggu, maka orang dewasa meminggirkan anak-anak.  Itu tidak bijak.  Begitu kata sang Ustad, begitu juga deh saya berpikir…..

Satu Tanggapan

  1. Salam kenal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: