Meng-KITA-kan AKU

Meng-KITA-kan AKU

Sumber: http://www.bangbangwetan.com/artikel/artikel-bebas/70-artikel-emha-ainun-nadjib.html

Oleh Emha Ainun Najib

Menjawab jamaah yang mempertanyakan informasi Cak Nun bahwa dari dua arus besar yang saling berebut untuk kepentingan tahun 2004 itu hanya sedikit orang yang mau berdiri di tengah, yaitu orang-orang yang berkumpul ini saja. Yang tidak datang (berkumpul) itulah yang bagian gelut (bermusuhan, red.). Masak dari duaratus juta lebih penduduk Indonesia hanya kita yang disini ini saja yang bisa berdiri di tengah Cak? tanya jamaah tersebut. Apa jawab Cak Nun?

Saya bicara begitu tadi itu bermakna jasmaniah-rohaniah. Jadi yang namanya berkumpul itu tidak hanya berarti fisik, tetapi siapa saja yang memakai prinsip maiyah, kebersamaan, nasionalisme sejati, maiyatulloh, maiyaturrosul, ma’annas dan seterusnya, meskipun tidak kenal maiyah dan tidak pernah datang di Padhang mBulan. Yaitu orang-orang yang mempunyai prinsip meng-kita-kan aku.

Meng-kita-kan aku itu artinya manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Manusia itu makhluk jasmani sekaligus makhluk rohani. “Aku ini tidak ada kalau anda tidak ada. Aku menjadi Ainun Nadjib karena anda mau mengakui bahwa aku Ainun Nadjib. Kalau anda tidak mau mengakui maka aku bukan Ainun Nadjib”, kata Cak Nun memberi contoh.

Manusia itu menjadi ada dirinya karena orang lain, ini filsafat, maka kadar kita sebagai makhluk sosial itu lebih besar daripada sebagai makhluk individu. Jadi “aku” ini menjadi tidak ada kalau tidak ada “aku” yang lain. Ini dasarnya.

Prinsip maiyah adalah meng-kita-kan aku. Mengkitakan aku disini tidak sama dengan Budha. Budha Gautama bosan dan marah dengan kebrengsekan di keraton dan kehidupan di negaranya dia kemudian pergi meninggalkan istana, status, pangkat dan kemewahan yang selama ini meliputinya. Kemudian bersemadi merenung di bawah sebuah pohon terus menghilangkan dirinya, mokswa, mencari ketentraman dalam fana.

Dakam Islam, diri-mu, aku-mu, individu-mu tidak boleh hilang. “Aku” itu tetap harus ada. Meng-kita-kan aku bukan berarti “aku”nya hilang menjadi kita. Tidak. Itu namanya sosialisme, komunisme.

Kalau dalam negara kapitalis aku-nya menonjol, siapa yang kuat dia yang menang. Dalam negara sosialis sebaliknya, aku tidak ada, kepemilikan pribadi tidak ada. Semua barang, semua tanah milik pemerintah, milik umum. Islam ditengah-tengah, “aku” harus tetap ada, pemilikan pribadi tetap ada tapi dengan catatan ini bukan milik pribadi tetapi pinjaman dari Allah. Islam ummatan wasathon.

Sekali lagi, mengkitakan aku itu bukan berarti “aku” ini hilang. “Meskipun yang namanya aku ini sebenarnya bukan yang anda lihat ini, ini sudah sering saya katakan, ini peciku bukan aku, ini hidungku bukan aku dan jangan menganggap hidungku ini aku. Ini kepalaku bukan aku, ini badanku bukan aku. Kalau begitu yang namanya Ainun itu yang mana?” Tanya Cak Nun yang kemudian dijawab sendiri “Lho yang namanya Ainun itu ya seluruh tubuh ini, sebab setiap saya lewat anda semua bilang Oo..Cak Nun. Berarti Ainun itu seluruh tubuh ini, tapi aku bukan Ainun lho. Ainun itu hanya namaku bukan aku. Jadi siapa aku?”, urai Cak Nun membuka cakrawala berfikir jamaah yang hadir pada Padhang mBulan tanggal 18 Desember 2002 di halaman rumah ibu Hj. Halimah, ibunda beliau.

Demikian pula dirimu, aku-mu itu engkau cari jangan engkau tiadakan. Engkau bangkitkan setiap perilaku dari si aku ini menjadi bersifat kita. Aku menjadi anggota Dewan, aku menjadi Presiden bermakna untuk seluruh rakyat Indonesia tidak untuk si aku. Yang terjadi sekarang Indonesia untuk aku, itu namanya meng-aku-kan kita. Milik orang banyak ingin dimiliki sendiri, “…wekmu yo wekku, wekku yoo wekku (…milikmu ya milikku, milikku ya milikku sendiri)”, jelas Cak Nun.

Nah, mengkitakan aku dalam Islam adalah, sekali lagi, setiap perilakumu, setiap kata-katamu, setiap ceramahmu, setiap pengajianmu, setiap keputusan yang engkau tanda tangani berlaku untuk kesejahteraan kita semua.

Mudah-mudahan orang-orang yang seperti ini (baca: yang mengkitakan aku) makin banyak ada dimana-mana, karena hanya dengan inilah Indonesia bisa diselamatkan. “Meskipun yang munafik banyak, meskipun yang rusak banyak tapi kalau masih ada orang-orang yang seperti anda (meski hanya sedikit), tidak mungkin Allah akan menghancurkan Indonesia,” ujar Cak Nun. “…penumpang satu bus rusak semua akhlaknya namun ada seorang yang kecopetan tetapi tidak berani bilang kemudian dia wiridan di pojok, bus itu yang seharusnya masuk jurang oleh malaikat diselamatkan karena ada seorang penumpang yang teraniaya dan wiridan tadi …”, kata Cak Nun.

Innamaa tunshoruuna wa turhamuuna wa turzaquuna bi du’afaaikum, sesungguhnya engkau semua akan diselamatkan oleh Allah, ditolong oleh Allah, diberi rahmat oleh Allah dan diberi rizki terus oleh Allah karena apa? Karena ada orang yang lemah diantara kalian. Dan yang lemah itu siapa? Ya kita ini, orang-orang yang mau mengkitakan aku orang-orang yang mau bediri di tengah ini. (Rudd – Blora)

(Note: diterbitkan pertamakali oleh Maiyah.com tgl 14 Februari 2003 (21.37 wib)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: