HAJI MABRUR

HAJI MABRUR

Oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat*

Dan ibadah haji ke Rumah itu wajib bagi manusia karena Allah (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana  (QS 3:97).

Apakah ukuran mampu itu? Para sahabat Nabi Saw. menyebutkan dua hal, yaitu ada bekal dan kendaraan. Tetapi, Adh-Dhahak, ulama besar yang Pernah berguru kepada sahabat, hanya mensyaratkan tubuh yang sehat dan tenaga. Bila perlu, kata Adh-Dhahak selanjutnya, berangkatlah ke Baytultah walaupun berjalan kaki.

Sepanjang sejarah, bekal dan kendaraan tidak menjadi keharusan. Ribuan Muslim dari Afrika, Yaman, dan negara-negara Timur Tengah lainnya berangkat ke Makkah dengan berjalan kaki. Mereka tidur di sekitar Masjid Al-Haram, dengan hanya dinaungi langit Hijaz yang tak berawan. Burung-burung merpati melompat-lompat di samping kepala mereka. Rambut mereka berdebu dan pakaian mereka lusuh. Tetapi, barangkali merekalah yang menurut sebuah hadis diseru oleh Tuhan pada Hari Arafah, Hamba-hamba-Ku datang kepada-Ku dengan rambut kusut dan pakaian lusuh dari sudut-sudut negeri yang  jauh. Berangkatlah, wahai hamba-hamba-Ku, dengan ampunan-Ku atasmu. Mereka bersedia berangkat tanpa bekal yang cukup dan siap menderita untuk memperoleh ampunan Allah.

Di Indonesia, banyak orang beruntung naik haji juga tanpa mempersiapkan bekal. Mereka diberi bekal dan tidak menderita. Ada lima jenis haji dalam kelompok ini.

Jenis pertama adalah orang yang beruntung naik haji karena di tunjuk oleh pemerintah untuk menjadi anggota tim pembimbing haji atau petugas yang melayani kepentingan jamaah. Orang-orang yang tidak kebagian jatah biasanya menyebut mereka itu sebagai “haji nurdin kosasih” (haji yang nurut dinas dan ongkos dikasih).

Jenis kedua kita sebut saja “haji getter” . Mirip vote getter dalam pemilu. Mereka adalah tokoh umat Islam yang dipilih oleh perusahaan ONH-Plus untuk menarik konsumen”. (Resminya, untuk menyertai dan membimbing para jamaah haji).

Jenis ketiga adalah “haji bonus”. Mereka dapat naik haji karena memenangkan perlombaan (misalnya juara MTQ) atau memenangkan hadiah sebuah perusahaan atau bank.

Jenis keempat adaiah “haji rekanan”. Anda memegang jabatan yang basah. Rekan Anda telah mendapat fasilitas yang menguntungkan dari diri Anda. Dia lalu ingin menyampaikan rasa terima kasihnya dengan memberi Anda bekal naik haji-kalau perlu, berikut keluarga Anda.

Jenis kelima adalah yang paling beruntung, yaitu “haji bisnis”. Mereka adalah penyelenggara bisnis haji. Mereka berangkat ke Makkah, melakukan ibadah haji dan memperoleh keuntungan. Mereka sudah jelas mendapatkan fiddunya hasanah dan mudah-mudahan fil akhiriti hasanah Juga.

Apakah mereka termasuk kategori orang-orang yang mampu? Tentu saja. Istilah “kemampuan” untuk masa sekarang ini harus didefinisikan kembali. Anda sudah mampu bila Anda dapat sampai ke Tanah Suci dengan cara apa saja yang halal. Manakah yang mabrur. Yang mempersiapkan bekal atau yang diberi bekal? Yang berjalan kaki atau yang berkendaraan? Yang mendapat ratusan juta dari pembebasan tanah atau yang menabung puluhan tahun? Yang memanfaatkan peluang sebagai TKI/TKW di Arab Saudi atau yang datang ke sana dengan penerbangan reguler dari mancanegara? Yang tinggal di Hotel Aziz Khogeer yang megah atau yang berdesakan di kamar rumah-rumah kumuh di Syi’b Ali?

Mabrur-nya haji tidak diukur dari cara memperoleh bekal. Tidak juga dari tempat tinggal atau dari tingkat kepayahannya dalam melaksanakan haji. Haji adalah perjalanan ruhani dari rumah-rumah yang selama ini mengungkung mereka menuju Rumah Tuhan. Haji yang mabrur adalah haji yang berhasil mencampakkan sifat-sifat hewaniah dan menyerap sifat-sifat rabbaniyyah (ketuhanan).

Ketika Abu Bashir terpesona mendengarkan gemuruh zikir orang-orang yang melakukan thawaf, Ja’far Ash-Shadiq mengusap wajahnya. Abu Bashir terkejut karena ia kemudian menyaksikan banyak sekali binatang di sekitar Baytullah. Dia sadar bahwa zikir saja tidak cukup untuk mabrur. Diperlukan transformasi spiritual.

Kepada Asy-Syibli yang baru kembali dari menunaikan ibadah haji, Zainal Abidin sufi besar dari keluarga Nabi Saw. bertanya kepadanya, “Ketika engkau sampai di miqat dan menanggalkan pakaian berjahit, apakah engkau berniat menanggalkan juga pakaian kemaksiatan dan mulai mengenakan busana ketaatan? Apakah juga engkau tanggalkan riya’ (suka pamer), kemunafikan, dan syubhat?

Ketika engkau berihram, apakah engkau bertekad mengharamkan atas dirimu semua yang diharamkan oleh Allah? Ketika engkau menuju Makkah, apakah engkau berniat untuk berjalan menuju Allah? Ketika engkau memasuki Masjid Al-Haram, apakah engkau berniat untuk menghormati hak-hak orang lain dan tidak akan menggunjingkan sesama umat Islam? Ketika engkau sa’i, apakah engkau merasa sedang lari menuju Tuhan di antara cemas dan harap?

Ketika engkau wuquf di Arafah, adakah engkau merasakan bahwa Allah mengetahui segala kejahatan yang kau sembunyikan dalam hatimu? Ketika engkau berangkat ke Mina, apakah engkau bertekad untuk tidak mengganggu orang lain dengan lidahmu, tanganmu, dan hatimu? Dan ketika engkau melempar jumrah, apakah engkau berniat memerangi Iblis selama sisa hidupmu?”

Ketika untuk semua pertanyaan itu, Asy-Syibli menjawab “tidak”, Zainal Abidin mengeluh, “Ah…, engkau belum ke miqat, belum ihram, belum thawaf, belum sa’i, belum wuquf, dan belum sampai ke Mina.” Asy-Syibli menangis. Pada tahun berikutnya, dia berniat merevisi manasik hajinya.

Dalam manasik keluarga Nabi Saw’, yang menjadi persoalan bukan lagi kemampuan untuk mendapatkan bekal dan kendaraan, tetapi kesanggupan meninggalkan rumah-rumah kita yang kotor supaya bisa beristirahat di Rumah Allah yang suci. Bila berhasil, berarti Anda mabrur.

________________

*Di Sadur dari buku “Renungan-renungan Sufistik” Karya Dr. Jalaluddin Rakhmat, hal. 63-65

Satu Tanggapan

  1. predikat haji mabrur akan diperoleh oleh hamba allah yang dipilih olehnya untuk beridiam di surganya dan itu hanya segelintir orang yang meraihnya, lihat saja !!! apakah mereka dengan bekal yang halal,apakah mereka dengan niat yang ikhlas, apakah mereka peduli dengan kerabatnya yg kesusahan ataukah mereka sadar jika berada di baitulloh,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: