Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Ketiga

Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Ketiga

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

Benarkah Shalat Tarawih Itu Bid’ah?

.

Daftar Isi

Muqaddimah

Ulasan Singkat Tentang Bid’ah

Hadis Shalat Tarawih Bid’ah

  • Penjelasan Hadis
  • Bid’ah Tarawih Masa Kini

Hadis Sunnah Khulafaur Rasyidin

Kemusykilan Hadis

Hadis Ikuti Abu Bakar RA dan Umar RA

  • Hadis Hudzaifah RA
  • Hadis Ibnu Mas’ud RA
  • Hadis Anas RA
  • Hadis Abu Darda RA

Kesimpulan

.

Muqaddimah
Bid’ah secara sederhana berarti setiap perkara yang baru atau diada-adakan. Konsep bid’ah ini juga menjadi masalah yang cukup diperselisihkan oleh sebagian golongan. Di antara mereka ada yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat dan sebagian lain justru mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik(bid’ah hasanah) dan ada yang sesat (bid’ah dhalalah). Masing-masing pihak mengklaim bahwa merekalah yang benar. Dalam hal ini akar masalah sebenarnya terletak pada konsep bid’ah yang dipahami oleh masing-masing pihak.

.

.

Ulasan Singkat Tentang Bid’ah
Bid’ah memiliki beragam pengertian sehingga pemahaman akan luasnya terminologi bid’ah sangat penting. Salafy bisa dikatakan adalah golongan yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Mereka berpegang pada pernyataan Imam Syatibi bahwa tidak ada pembagian berupa bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Hal ini ditolak oleh sebagian kalangan dari Ahlus Sunnah yang justru berpegang pada pernyataan Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi menjadi bid’ah hasanah dan dhalalah.

Mari kita lihat sejauh apa keragaman konsep bid’ah

  • Bid’ah bisa berarti suatu syariat yang diada-adakan dan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dengan kata lain syariat yang tidak ada tuntunannya baik dari Al Qur’an maupun Hadis. Inilah bid’ah yang dimaksud dalam kata-kata Setiap bid’ah itu sesat.
  • Bid’ah bisa berarti amalan baru yang dilakukan dalam kerangka Sunnah.
  • Bid’ah bisa berarti melaksanakan Sunnah dengan cara yang baru atau modifikasi dari Sunnah.
  • Bid’ah bisa berarti segala hal baru yang sifatnya umum dan memang tidak ada di zaman Rasulullah SAW.

Shalat dengan menggunakan bahasa Indonesia adalah temasuk bid’ah jenis pertama yang sudah jelas kekeliruannya. Perayaan Maulid Nabi SAW adalah bid’ah jenis kedua yang dilakukan dalam kerangka Sunnah. Sedangkan Pembukuan Al Quran dan Hadis adalah bid’ah jenis ketiga karena sudah dimaklumi bahwa penulisan Al Quran dan Hadis adalah Sunnah hanya saja menuliskannya dengan cara tertentu adalah modifikasi dari Sunnah yang ada. Untuk bid’ah jenis terakhir maka itu semua terkait dengan banyaknya hal baru yang memang tidak ada di zaman Rasulullah SAW. Seperti Shalat di atas sajadah, Azan dengan pengeras suara, berzikir dengan tasbih, dan lain-lain. Jadi pengertian terhadap bid’ah jenis apa yang dibicarakan sangat penting untuk mencegah salah pengertian.

.

Perlu diingatkan pembagian di atas bukanlah harga mati yang berarti sudah pasti benar atau tidak akan ada yang lainnya. Sebuah kata terkadang bersifat dinamis dan menyejarah sehingga bersikap kaku dan bersikeras pada sudut pandang sendiri hanyalah mengundang kesalahpahaman yang akhirnya menjurus pada pertentangan.

.

.

Hadis Shalat Tarawih Bid’ah
Baik kita cukupkan disini saja ulasan singkat tentang bid’ah dan mari kita kembali pada pokok bahasan Shalat Tarawih. Ada hadis yang cukup terkenal dalam masalah Shalat Tarawih yang disebut bid’ah. Hadis tersebut kami ambil dari Al Muwatta Imam Malik Kitab Shalat Di Malam Bulan Ramadhan Bab Shalat Di Malam Hari hadis no 250 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi

حدثني مالك عن بن شهاب عن عروة بن الزبير عن عبد الرحمن بن عبد القارىء أنه قال خرجت مع عمر بن الخطاب في رمضان إلى المسجد فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلى الرجل لنفسه ويصلى الرجل فيصلي بصلاته الرهط فقال عمر والله إني لأراني لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل فجمعهم على أبي بن كعب قال ثم خرجت معه ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم فقال عمر نعمت البدعة هذه والتي تنامون عنها أفضل من التي تقومون يعني آخر الليل وكان الناس يقومون أوله

Malik menyampaikan kepadaku dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair dari Abdurrahman bin Abdul Qari yang berkata “Aku keluar ke masjid bersama Umar bin Khattab pada suatu malam di bulan Ramadlan, maka kami dapati orang-orang terpencar dalam beberapa kelompok. Beberapa orang shalat sendirian sedangkan yang lainnya shalat dalam kelompok-kelompok kecil. Umar berkata “Demi Allah, Sesungguhnya aku berpendapat akan lebih baik kalau aku mengumpulkan mereka pada satu imam”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka di belakang Ubay bin Ka’ab. Keesokan malamnya aku (Abdurrahman) keluar bersama beliau, dan orang-orang shalat bersama satu imam. Maka Umar berkata “Ini adalah sebaik-baik bid’ah akan tetapi yang engkau tidak peroleh ketika engkau tidur adalah lebih baik daripada yang engkau peroleh dari shalat. Maksudnya adalah bagian terakhir dari malam hari karena orang-orang itu shalat di awal malam”.

.

.

Penjelasan Hadis
Hadis di atas menjelaskan keadaan shalat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab RA. Pada mulanya Umar melihat orang-orang terpisah dalam kelompok-kelompok. Kelompok tersebut terdiri dari

  • Orang-orang yang shalat sendirian
  • Orang-orang yang shalat bersama dalam kelompok kecil

Cara shalat orang-orang yang berbeda-beda ini adalah sesuai dengan apa yang telah Rasulullah SAW tinggalkan bahwa “Dianjurkan shalat sendirian dan dibolehkan untuk berjamaah”. Hal ini telah kita bahas dalam pembahasan bagian kedua.

.
Kemudian Umar mempunyai pendapat tersendiri yang menurutnya lebih baik. Umar berkata “Demi Allah, Sesungguhnya aku berpendapat akan lebih baik kalau aku mengumpulkan mereka pada satu imam”. Kemudian Beliau memerintahkan orang-orang untuk berkumpul di belakang Ubay bin Ka’ab RA. Hal ini adalah pendapat Umar dan memiliki dua sisi yang luput dari pengamatan sebagian orang.

  • Sisi Nonbid’ah yaitu Shalat berjamaah dengan satu Imam memang pernah terjadi di masa Rasulullah SAW dalam arti hal tersebut dibolehkan.
  • Sisi Bid’ah yaitu Penetapan atau perintah mengumpulkan orang-orang dalam satu imam adalah hal yang tidak pernah dilakukan di masa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah memberi keluasan dalam pelaksanaan shalat malam dengan memberikan anjuran yang memudahkan yaitu shalat sendirian tetapi membolehkan shalat berjamaah.

Oleh karena itu bisa dimengerti mengapa Umar RA mengeluarkan kata-kata Ini adalah sebaik-baik bid’ah. Dalam pandangan Beliau sendiri apa yang dilakukannya memang memiliki unsur bid’ah atau baru. Selain itu beliau juga berpendapat bahwa orang-orang yang tidur atau tidak ikut shalat berjamaah dengan niat shalat di akhir malam adalah lebih baik daripada mereka yang ikut shalat berjamaah. Hal ini tampak jelas dari kata-kata Beliau akan tetapi yang engkau tidak peroleh ketika engkau tidur adalah lebih baik daripada yang engkau peroleh dari shalat. Maksudnya adalah bagian terakhir dari malam hari karena orang-orang itu shalat di awal malam”.

.

.
Dari Hadis ini kami menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Umar RA adalah pendapatnya sendiri dan memang bid’ah. Lagipula sepertinya Umar RA sendiri tidak ikut ambil bagian dari shalat berjamaah yang ia perintahkan

Tentu saja kita harus berhati-hati di bagian ini karena ada sebagian orang yang mudah sekali salah paham dan melihat sahabat Nabi SAW sebagai pribadi yang tidak boleh dikomentari atau dikritik. Bid’ah yang dilakukan Umar adalah Ia menetapkan sesuatu yang justru dibolehkan. Shalat tarawih berjamaah itu dibolehkan tetapi bukan berarti sangat dianjurkan. Penetapan dan perintah melaksanakan shalat tarawih berjamaah adalah sesuatu yang baru atau bid’ah tetapi bid’ah ini tidak di tentang oleh para sahabat karena sesuatu yang ditetapkan atau diperintahkan itu sendiri memang dibolehkan di masa Rasulullah SAW. Walaupun begitu kita sudah melihat bahwa Umar sendiri tidak memandang hal tersebut sebagai yang terbaik karena menurutnya mereka yang tidur dan tidak ikut shalat berjamaah dengan tujuan shalat di akhir malam adalah lebih baik dibanding mereka yang shalat berjamaah. Jadi bid’ah yang dimaksud bukanlah jenis bid’ah yang pertama bin dhalalah tetapi bid’ah dalam arti Modifikasi dari Sunnah. Modifikasi itu maksudnya Umar RA menetapkan atau memerintahkan sesuatu dimana Rasulullah SAW hanya membolehkannya.

.

.

Bid’ah Tarawih Masa Kini
Hal ini sangat penting untuk dipahami dengan baik. Shalat Tarawih berjamaah sekarang sudah menjadi tradisi yang berubah nilainya. Dari sesuatu yang dibolehkan menjadi sesuatu yang sangat dianjurkan. Tidak jarang kami dapati kebanyakan orang tidak tahu kalau shalat tarawih malah dianjurkan untuk dikerjakan sendiri di rumah walaupun tetap dibolehkan berjamaah di masjid.

Sebagian orang juga berpikir bahwa shalat tarawih berjamaah adalah shalat tarawih yang paling baik dan lebih baik dibanding dilakukan di rumah. Sehingga tidak jarang kami melihat ketimpangan yang aneh yaitu dimana orang-orang berbondong-bondong bersegera kemasjid untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah dibandingkan dengan ketika waktu-waktu shalat wajib (selain Isya’ tentunya) . Padahal justru Shalat wajib benar-benar ditekankan oleh Rasulullah SAW untuk berjamaah.

Apalagi kalau ada yang berpandangan bahwa shalat tarawih berjamaah itu merupakan kontinuitas yang harus dilakukan selama bulan Ramadhan maka kami jelas-jelas tidak setuju. Hal ini dikarenakan Rasulullah SAW sendiri tidak pernah secara kontinu melaksanakan atau memerintahkan shalat Tarawih berjamaah.

Oleh karena itu sekali lagi kami tekankan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan menghidupkan malam bulan Ramadhan yaitu dengan shalat malam yang terserah mau dilakukan bagaimana baik sendiri ataupun berjamaah. Shalat tarawih sebaiknya dilakukan sendiri di rumah tetapi Rasulullah SAW tidak melarang pelaksanaannya secara berjamaah. Shalat Tarawih berjamaah adalah Sunnah yang dibolehkan

.

.

Hadis Sunah Khulafaur Rasyidin
Sebagian orang mengklaim bahwa apa yang dilakukan Umar RA juga adalah Sunnah dengan menyatakan bahwa hal tersebut termasuk Sunnah Khulafaur Rasyidin. Mereka berdalil dengan hadis berikut

عن أبي نجيح العرياض ين سارية رضي الله عته ، قال : وعظنا رسول الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب ، وذرفت منها العيون ، فقلنا : يا رسول الله ! كأنها موعظة مودع فأوصنا قال : أوصيكم بتقوي الله ، والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد ، فإنه من يعش منكم فسيري اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ ، وإباكم ومحدثات الأمور ، فإن كل بدعة ضلالة.

Dari Abi Najih Irbadh bin Sariyah RA yang berkata : Rasulullah SAW memberikan kita sebuah nasehat mendalam yang menyebabkan hati bergetar dan air mata bercucuran, lantas kami berkata ”Wahai Rasulullah, Seakan-akan nasehat anda ini seperti nasehat perpisahan, berikanlah wasiat kepada kami.” Rasulullah SAW bersabda : ”Aku berwasiat kepada kalian agar kalian selalu bertakwa kepada Allah SWT, mendengar dan taat kepada penguasa kalian walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak, karena sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpeganglah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi geraham kalian dan tinggalkan oleh kalian perkara-perkara baru di dalam agama karena setiap bid’ah itu adalah kesesatan.”

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi juz 5 hal 44 hadis no 2676 dan beliau berkata “hadis tersebut hasan shahih”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah juz 1 hal 15 hadis no 42&43 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi dan dinyatakan shahih oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan Abu Daud juz 2 hal 610 hadis no 4607 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak Ash Shahihain juz 1 hal 95-96 hadis no 329 dan beliau nyatakan shahih serta disepakati oleh Adz Dzahabi. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 126 hadis no 17182, no 17184 dan no 17185 dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Hadis tersebut juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Kitabnya Silsilah Al Hadis Ash Shahihah no 937.
.

.

Kemusykilan Hadis

Seperti yang disebutkan di atas hadis tersebut adalah hadis yang shahih dan telah dinyatakan shahih oleh banyak ulama hadis. Mari kita bahas hadis tersebut, Hadis tersebut menjelaskan akan adanya perselisihan yang banyak dan untuk itu umat islam diharuskan berpegang pada Sunnah Rasulullah SAW dan Sunnah Khulafaur Rasyidin. Jadi ada dua hal yang harus dilakukan

  • Berpegang Pada Sunnah Rasulullah SAW
  • Berpegang Pada Sunnah Khulafaur Rasyidin

Zahir teks hadis menyatakan harus taat atau berpegang pada keduanya. Mengenai sunnah Rasulullah SAW tentu saya rasa kita sudah sama-sama tahu tetapi bagaimana dengan Sunnah Khulafaur Rasyidin. Sayangnya Rasulullah SAW tidak menjelaskan siapa Khulafaur Rasyidin yang dimaksud.

  • Islam Sunni mengklaim bahwa Khulafaur Rasyidin yang dimaksud adalah Abu Bakar RA, Umar RA, Usman RA dan Ali RA.
  • Islam Syiah kebanyakan menolak hadis ini, walaupun ada juga yang menerima dan menyatakan kalau Khulafaur Rasyidin yang dimaksud adalah Ahlul Bait AS.

Sebenarnya kami punya pandangan khusus soal hadis ini. Tapi itu cerita lain untuk saat ini

.

.
Maksudnya Hal itu mungkin akan membutuhkan pembahasan tersendiri tetapi poin yang akan kami tekankan disini adalah Tidak ada dalil yang jelas dari Rasulullah SAW bahwa Umar RA adalah Khulafaur Rasyidin yang dimaksud. Jadi siapakah Khulafaur Rasyidin tersebut?

  • Jika pengertian Khulafaur Rasyidin adalah terbatas pada Khalifah-khalifah sepeninggal Rasulullah SAW maka mengapa Muawiyah, Yazid dan seterusnya tidak termasuk di dalamnya. Apakah dengan begitu maka yang namanya Sunnah akan terus bertambah selama Khalifah terus berganti? Bukankah setelah Rasulullah SAW wafat maka yang namanya Syariat sudah tidak akan bertambah lagi.
  • Jika memang Umar RA adalah Khulafaur Rasyidin yang dimaksud lalu mengapa didapati beliau melarang sesuatu yang sudah ditetapkan sebagai Sunnah Rasul seperti halnya Haji Tamattu’. Mengapa Sunnah Rasul dan Sunnah Khulafaur Rasyidin menjadi kontradiktif? Akankah Rasulullah SAW menyuruh berpegang pada dua hal yang kontradiktif.
  • Jika keempat Khalifah tersebut adalah Khulafaur Rasyidin yang dimaksud maka mengapa didapati bahwa mereka berempat juga berselisih mengenai suatu hal. Sehingga permasalahannya adalah apakah kita harus berpegang pada hal-hal yang berselisih.

Di antara para Ulama yang beranggapan bahwa keempat Khalifah tersebut Khulafaur Rasyidin, mereka melakukan penakwilan terhadap hadis ini diantaranya

  • Ibnu Hazm Al Andalusi dalam kitabnya Al Ihkam Fi Ushul Al Ahkam juz 6 hal 72 sampai dengan hal 78 telah membahas panjang lebar soal hadis ini dan akhirnya beliau menyimpulkan yaitu Mengikuti mereka dalam mencontoh sunnah Rasulullah SAW. Demikianlah yang benar dan hadits ini tidak sama sekali menunjukkan kecuali kemungkinan ini.
  • Syaikh Al Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi ketika menjelaskan hadis ini, beliau berkata bahwa Yang dimaksud dengan sunnah para Khulafaur Rasyidin adalah jalan hidup mereka yang sesuai dengan jalan hidup Rasulullah SAW.

Jika memang hal ini adalah seperti yang dikatakan oleh para Ulama tersebut maka kami katakan lalu untuk apa Rasulullah SAW berkata SunnahKu dan Sunnah Khulafaur Rasyidin. Bukankah cukup dengan menyatakan SunnahKu saja.

.

.
Dan yang lebih musykil lagi adalah penakwilan sebagian orang bahwa Sunnah Khulafaur Rasyidin itu adalah Pemahaman para sahabat terhadap agama islam, karena mereka berada diatas apa yang di bawa Nabi mereka SAW. Hal ini kami nyatakan aneh karena

  • Berdasarkan hadis diatas Justru sahabat Nabi SAW itu sendiri adalah pihak yang diberi nasehat oleh Rasulullah SAW untuk berpegang pada Sunnah Rasul dan Sunnah Khulafaur Rasyidin.
  • Pernyataan itu adalah generalisasi yang tidak berdasar dan justru bertentangan dengan pengkhususan sebagian ulama bahwa Khulafaur Rasyidin adalah keempat khalifah seperti yang telah disebutkan.

Baiklah kita cukupkan sampai disini pembahasan hadis ini karena jika diteruskan maka lembaran ini akan terlalu panjang dan terlalu meluas ke mana-mana. Singkatnya jika seseorang ingin menyatakan bahwa Umar RA adalah Khulafaur Rasyidin yang dimaksud maka ia harus membawakan dalil bahwa Rasulullah SAW memang menegaskan hal itu dan sayangnya sejauh ini kami tidak mendapati dalil tersebut.

.

.

.

Hadis Ikuti Abu Bakar dan Umar
Ada hadis lain yang sering dijadikan dasar bahwa perbuatan Umar RA tersebut adalah Sunnah yang harus diikuti yaitu Hadis yang menyatakan untuk mengikuti Abu Bakar dan Umar. Hadis ini diriwayatkan oleh

  • Hudzaifah RA
  • Ibnu Mas’ud RA
  • Anas RA dan
  • Abu Darda RA.

Semua jalannya tidak satupun terlepas dari cacat. Berikut pembahasan satu-persatu hadis tersebut.

Hadis Hudzaifah RA
Hadis Hudzaifah RA ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad juz 5 hal 385 hadis no 23324 dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadis tersebut hasan dengan syawahid tetapi sanad hadisnya dhaif. Diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi juz 5 hal 609-610 hadis no 3662, 3663, dan 3799 berkata Imam Tirmidzi pada hadis no 3662 “hadis hasan” dan Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadis ini pada hadis no 3663 dan 3799. Diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah juz 1 hal 37 hadis no 97 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi dan beliau nyatakan shahih. Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 hal 75 hadis no 4451, 4452, 4453, 4454, dan 4455. Hadis ini juga dinyatakan shahih oleh Al Hakim.

عن حذيفة بن اليمان قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني لا أدري ما قدر بقائي فيكم . فاقتدوا باللذين من بعدي وأشار إلى أبي بكر وعمر

Dari Hudzaifah RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan bersama kalian maka ikutilah jejak dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar”

Hadis di atas diriwayatkan dengan sanad yang bermuara

  • Dari Abdul Malik bin Umair dari Rib’i bin Hirasy dari Hudzaifah atau
  • Dari Abdul Malik bin Umair dari mawla Rib’i dari Rib’i dari Hudzaifah RA.

Perawi hadis ini adalah perawi yang dikenal tsiqat kecuali Abdul Malik bin Umair, beliau diperselisihkan, sebagian mentsiqahkannya dan sebagian melemahkannya yaitu Imam Ahmad, Ibnu Main dan Abu Hatim. Dalam hal ini kami cenderung pada mereka yang mentsiqahkan Abdul Malik.

Oleh karena itu hadis Hudzaifah seharusnya bersanad shahih. Tetapi hadis tersebut memiliki Illat(cacat) yaitu sanadnya munqathi atau terputus. Rib’i bin Hirasy tidak mendengar dari Hudzaifah RA. Hal ini dinyatakan oleh Al Manawi dalam Faidh Al Qadhir Syarh Jami’ As Saghir juz 2 hal 72 no 1318 beliau berkata

قال ابن حجر : اختلف فيه على عبد الملك وأعله أبو حاتم وقال البزار كابن حزم لا يصح لأن عبد الله لم يسمعه من ربعي وربعي لم يسمعه من حذيفة ، لكن له شاهد.

Ibnu Hajar berkata “Abdul Malik diperselisihkan keadaannya dan dicacatkan oleh Abu Hatim. Al Bazzar dan Ibnu Hazm berkata hadis ini tidak shahih karena Abdul Malik tidak mendengar dari Rib’i dan Rib’i tidak mendengar dari Hudzaifah, tetapi hadis ini memiliki pendukung.

.

Hal senada juga dinyatakan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i dalam Tatabbu’ Al Auham Allati Sakata ’Alaiha Adz Dzahabi Kama Fil Mustadrak hadis no 4513 yang menyatakan ”Rib’i bin Hirasy tidak mendengar dari Hudzaifah”

Oleh karena itu mereka yang menshahihkan hadis ini adalah keliru karena hadis tersebut sanadnya terputus dan sudah jelas dhaif.

Syaikh Al Albani telah memasukkan hadis Hudzaifah dalam Kitabnya Silsilah Al Hadis Ash Shahihah no 1233 dan menjadikan hadis Ibnu Mas’ud dan Hadis Anas sebagai syahid atau pendukung hadis tersebut. Dalam hal ini kami nyatakan Syaikh Al Albani telah keliru karena semua hadis itu benar-benar cacat hadisnya.

.

.
Hadis Ibnu Mas’ud RA

Hadis Ibnu Mas’ud ini diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi juz 5 hal 672 hadis no 3805 dan dalam Al Mustadrak Al Hakim hadis no juz 3 hal 75 hadis no 4456.

عن ابن مسعود قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم افتدوا باللذين من بعدي من أصحابي أبي بكر و عمر واهتدوا بهدي عمار وتمسكوا بعهد ابن مسعود

Dari Ibnu Mas’ud RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda ”Ikutilah jejak dua orang setelahku Abu Bakar dan Umar. Jadikan pegangan oleh kalian petunjuk Ammar dan peganglah wasiat Ibnu Mas’ud.

.

.

Hadis ini juga memiliki cacat dalam sanadnya yaitu

  • Dalam sanad hadis ini terdapat Ibrahim bin Ismail bin Yahya bin Salamah bin Kuhail, beliau dhaif hadisnya seperti yang dinyatakan Ibnu Hajar dalam Taqrib At Tahdzib juz 1 hal 53 no 149.
  • Dalam hadis ini Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya Ismail yang merupakan perawi matruk atau ditinggalkan hadisnya seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib juz 1 hal 100 no 494 dan hal ini juga dinyatakan Adz Dzahabi dalam Al Mughni Ad Dhuafa no 734.
  • Dalam hadis ini Ismail meriwayatkan dari ayahnya Yahya bin Salamah bin Kuhail. Adz Dzahabi dalam Al Mughni Adh Dhu’afa no 6977 mengutip Abu Hatim mengatakan Yahya adalah munkar al hadis, ditinggalkan hadisnya oleh An Nasa’i dan dinyatakan dhaif hadisnya oleh Al Uqaili.

Oleh karena itu hadis ini benar-benar dhaif dan tidak tepat dijadikan syahid atau pendukung hadis Hudzaifah. Syaikh Al Albani dalam Misykat Al Mashabih juz 3 hal 358 no 6221 menyatakan hadis Ibnu Mas’ud ini dhaif tetapi anehnya di tempat yang lain beliau malah memasukkan hadis ini dalam Shahih Jami’As Saghir no 1144. Hadis Ibnu Mas’ud ini dinyatakan oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak ”sanadnya wahin” (lemah hadisnya) dan begitu pula yang dikatakan oleh Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Tatabbu’ Al Auham Allati Sakata ’Alaiha Adz Dzahabi Kama Fil Mustadrak hadis no 4518.

.

.

Hadis Anas RA
Mengenai hadis Anas matannya sama dengan matan hadis Ibnu Mas’ud. hadis ini juga dhaif sanadnya dan diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dalam Al Kamil juz 2 hal 666 dengan sanad dari Amr bin Harim dari Anas. Amr bin Harim tidaklah bertemu dengan satu sahabatpun jadi sanadnya terputus.
Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Ahadits Mu’allah Zhahiruha Ash Shihhah hal 118 telah mendhaifkan hadis Hudzaifah Ikuti Abu Bakar dan Umar. Beliau berkata

”Apa yang disebutkan bahwa hadis Ibnu Mas’ud dan hadis Anas saling mendukung tidaklah benar karena sanad hadis itu terputus sehingga keduanya sama-sama parah dalam kedhaifannya”

.

.

Hadis Abu Darda RA
Kami juga menemukan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Abu Darda RA dalam Majma Az Zawaid juz 9 hal 40 no 14356

عن أبي الدرداء قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم
اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر فإنهما حبل الله الممدود ومن تمسك بهما فقد تمسك بالعروة الوثقى التي لا انفصام لها

Dari Abu Darda RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda ”Ikutilah dua orang setelahku Abu Bakar dan Umar sebab keduanya adalah tali Allah yang memanjang. Siapa yang berpegang pada keduanya maka dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat dan tidak akan lepas”.

Hadis ini dhaif sanadnya karena terdapat perawi yang tidak dikenal. Al Haitsami berkata tentang hadis ini

رواه الطبراني وفيه من لم أعرفهم

Hadis riwayat Thabrani dan di dalamnya terdapat perawi yang tidak aku kenal
Hadis Abu Darda RA ini juga dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Hadis Adh Dhaifah no 2330.

.

.

.

Kesimpulan
Pada bagian ketiga ini kami akan menyimpulkan beberapa hal yaitu

  • Perbuatan Umar RA yang memerintahkan atau mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah di masjid adalah bid’ah tetapi bukan berarti itu adalah sesat.
  • Dalam hal ini perintah Umar RA itu bukan berarti menghidupkan sunnah dan tidak pula merupakan hal yang sangat dianjurkan karena seperti yang kami katakan sebelumnya Shalat Tarawih berjamaah adalah sesuatu yang dibolehkan oleh Nabi SAW.
  • Menurut Umar RA, mereka yang tidur dan tidak ikut shalat tarawih berjamaah dengan tujuan shalat di akhir malam adalah lebih baik daripada mereka yang shalat tarawih berjamaah.

.

.

Salam Damai

.

Catatan :

  • Hmm kok saya sudah mulai berasa bosan ya
  • Tapi sekarang sudah hari minggu
  • Waktu yang tepat buat menghilang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: