LOGIKA DAN LITERATUR: MODAL BERPIKIR KRITIS

LOGIKA DAN LITERATUR: MODAL BERPIKIR KRITIS

Oleh: KH. Jalaluddin Rakhmat [1]

Seorang muballigh Muhammadiyah pernah dikritik dalam satu pengajian. “Setiap kali ustad datang,” ujar salah seorang yang hadir, “ada saja hadis yang di-dhaif-kan. Minggu lalu ustad men-dhaif-kan hadis qunut shubuh; sebelumnya ustad menganggap bahwa hadis maulid Nabi itu mawdhu’ (hadis buatan). Sekarang ustad menyebutkan bahwa hadis tentang bilangan takbir shalat Id itu semuanya lemah. Saya khawatir bila saya terus-menerus -mengikuti ceramah ustad habislah seluruh hadis. Lalu apa yang dapat kita jadikan pedoman?”

Muballigh itu menjawab dengan sabar, “Jangan khawatir Insya Allah, kita masih memiliki ribuan hadis sahib. Yang hadis habis hanyalah hadis yang lemah.” Saya tidak tabu apakah ia berhasil meyakinkan pendengarnya. Yang saya ketahui ialah kenyataan bahwa walaupun Majelis Tarjih Muhammadiyah banyak menemukan hadis dhaif, ia masih lebih banyak lagi menemukan hadis shahih. Yang dihadapi muballigh kita ini adalah orang awam yang saleh, yang sangat mencintai agamanya; begitu besar kecintaannya sehingga ia tidak dapat lagi berpikir kritis.

Dalam logika dikenal istilah strategems atau fallacies; yakni kesalahan argumentasi karena kerancuan menggunakan bahasa atau kekeliruan berpikir. Bila logika mengajarkan kepada kita tehknik berpikir kritis, strategems adalah teknik berpikir tidak kritis. Salah satu contoh strategems adalah extension (perluasan). Di sini orang memperluas cakupan argumen lebih dari bukti yang ada. Peserta pengajian itu, misalnya, memperluas kritik pada satu dua hadis ke seluruh hadis. la beranggapan kalau beberapa hadis sudah dilemahkan, maka nantinya seluruh hadis juga akan lemah. Extension juga terjadi ketika orang mencurigai kritik hadis dengan mengatakan, “Sekarang keabsahan hadis sudah dikritik, nanti AlQuran pun dikritik juga.”

Mengapa orang cenderung melakukan strategems? Menurut Al-Quran, manusia sering menolak kebenaran karena “mereka hanya mengikuti prasangka dan hawa nafsu” (QS 53:23) atau “mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya” (QS 10:39). Jadi prasangka dan hawa nafsu, ditambah ketidaktahuan sering menimbulkan kesalahan-kesalahan pemikiran. Janganlah mengira kalau orang sudah meneliti hadis akan mampu melemahkan seluruh hadis, apalagi akan meragukan AlQuran. Memperluas argumen seperti itu jelas didasarkan pada prasangka dan ketidaktahuan. “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang di situ kamu tidak memiliki pengetahuan,” begitu perintah Al-Quran. Adakah alat untuk menghindari extension? Ada, yaitu logika.

Logika: Modal Pertama

Sudah disepakati bahwa manusia adalah makhluk yang berakal. Sudah banyak filosof membahas hakikat akal. Orang boleh berdebat dan berbeda pendapat tentang apa yang disebut akal, tetapi semua setuju akal adalah alat berpikir. Dalam perkembangan peradaban, manusia menemukan cara-cara berpikir yang benar yang mereka sebut sebagai logika. Tidak setiap berpikir itu logis. Tidak jarang apa yang disebut rasional sebenarnya hanyalah rasionalisasi.

Bukan tempatnya di sini kita menjelaskan logika. Untuk menyederhanakan saja, dengan logika kita menguji inkonsistensi dalam pemikiran, memeriksa apakah pemikiran kita tidak dimasuki prasangka, hawa nafsu, atau premis yang salah (karena ketidaktahuan). Logika seperti itu tentu saja tidak bertentangan dengan Al-Quran, bahkan menggunakannya secara baik adalah pengamalan dari ajaran Al-Quran.

Marilah kita lihat kritik Muhsin [2] pada kritik historis yang saya lakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip logika.

Pertama-tama harus saya sampaikan penghargaan dan apresiasi saya yang setinggi-fingginya kepadanya. Muhsin Al-jufri sudah menegakkan tradisi diskursif, kebiasaan munazharah, untuk memperluas pengetahuan keislaman kita. Membantah tulisan dengan tulisan adalah tradisi ilmiah yang harus kita hidupkan di tengah-tengah kaum Muslim. Menolak suatu pemikiran dengan desas-desus atau tuduhan yang tidak beralasan (apalagi dilakukan di belakang pembawa pemikiran itu) bukanlah akhlak yang terpuji. Kita berdoa mudah-mudahan Allah memanjangkan umur Muhsin Al-jufri dan memperbanyak orang seperti dia.

Kedua, apresiasi yang adil tentu saja menuntut jawaban saya yang serius. Dengan itikad inilah saya ingin mulai menunjukkan kekeliruan logis yang dilakukannya. Muhsin memulai artikelnya dengan membuat ilustrasi tentang kawannya yang nyeleneh, yang melakukan “kritik yang keterusan.” Kawannya itu, menurut Muhsin, telah mencurigai keabsahan Al-Quran. Walaupun ia mengatakan “Saya tidak menyamakan Jalaluddin Rakhmat dengan kawan saya itu”, kita yakin Muhsin tidak akan mengutip ilustrasi itu tanpa ada hubungannya dengan kritik historis saya terhadap hadis. (tulisan KH. Jalaluddin Rakhmat “Tarikh Nabi Muhammad:Kritik Historis” telah dimuat di blog ini silahkan merujuk/membacanya: klik “di sini” )

Dalam logika, apa yang dilakukan Muhsin adalah salah satu contoh extension. Bila ia menganalogikan saya dengan kawannya itu, ia melakukan “argumentum ad absurdum” (reducing the claim to absurdity). Apalagi kemudian Muhsin mengutip tulisan yang menyatakan bahwa golongan Syi`ah adalah yang pertama kali berdusta dan membuat hadis palsu. Saya berpikir keras untuk mencari apa hubungan pernyataan ini dengan pembicaraan saya. Apakah Muhsin ingin menghubungkan pemikiran saya dengan orang Syi`ah? Apakah secara halus ia bermaksud mengasosiasikan saya dengan upaya pemalsuan hadis? Dalam logika, membuat pernyataan yang tidak relevan dengan pokok bahasan lazim disebut diversion (pengalihan). Karena itu, kita tidak akan melanjutkan pembahasan tentang pernyataan tersebut. Biarlah Muhsin sendiri yang menjawabnya. Sekadar untuk informasi Muhsin saja, Ibnu Abil Hadid bukan Syi’ah Zaidiyah. Ia penganut mazhab Mu’tazllah.

Apakah pokok bahasan Muhsin? Ia berpendapat bahwa ‘Ulum al-hadits sudah cukup, tidak perlu melakukan kritik historis lainnya. “Walhasil apabila kita mengadakan, kritik historis melalui `ulum al-hadits secara lengkap, sebenarnya cukup untuk menguji keabsahan hadis,” begitu tulis Muhsin. Di tempat lain sebelumnya as menegaskan, “Saya yakin apabila kita mengadakan penelitian dengan `ulum al-hadits (‘ulum al-hadits saja) semua pertanyaan yang meragukan keabsahan termasuk inkonsistensi di dalamnya akan terjawab atau minimal berkurang.”

Sayang sekali, beliau tidak menunjukkan bukti-buktinya. Mungkin yang beliau maksud dengan `ulum al-hadits adalah analisis matan dan sanad (seperti definisi `ulum al-hadits dari ‘Izzuddin bin jama’ah). Pada analisis matan, yang dibahas hanyalah masalah tash-hif, tahrif, atau pengecekan (cross-check) beberapa naskah untuk sebuah kitab hadis, seperti diusulkan oleh Ibnu Shalah (wafat tahun 643 H, bukan 634 H). Dalam. ‘ulum al-hadits klasik dikenal ma’rifah mukhtalaf al-hadits; yakni, upaya para ulama untuk menyelesaikan inkonsistensi periwayatan berbagai hadis. Bunyi hadis yang bertentangan diupayakan pemecahannya —dengan tarjih (mencari riwayat yang paling kuat), atau jam’ (menggabungkan) atau ditetapkan saja sebagai hadis yang mudhtharib (meragukan) dan ditolak. (Lihat Al-Syahzawri, Ulum Al-Hadits Li Ibn Al-Shalah, h. 284).

Muhsin tidak menyelesaikan inkonsistensi dalam kisah hijrah Rasulullah saw. termaksud dengan metode `ulum al-hadits seperti disebutkan di atas. Beliau justru menggunakan metode yang saya usulkan. Kalau kesimpulannya berbeda dari kesimpulan saya, sebabnya terletak pada penggunaan literatur saja.

Literatur: Modal Kedua

Beliau hanya menggunakan Shahih Bukhari saja, padahal pada tulisan saya ditunjukkan sumber-sumber yang lain. Karena dalam Shahih Bukhari hanya disebut “fa yalqa ar-rajulu”, beliau mengambil kesimpulan bahwa hanya seorang saja yang tidak mengenal Rasulullah saw. Dalam. Musnad Ahmad (3:287) beliau akan menemukan kalimat, “Kanu yaquluna ya Aba Bakr, ma hadza al-ghulam, bayna yadayk, fayaqulu hadza yahdini aththariq” (Mereka berkata: “Ya Abu Bakar, siapa pemuda di hadapanmu itu.” Abu Bakar menjawab: “Ialah yang menunjuki aku jalan”). Dalam Al-Tamhid dari ‘Abd Al-Barr ditulis “Fa kana idza qila lahu: man hadza warak” (Setiap kali ditanyakan kepadanya: “Siapakah yang berada di belakang kamu?”). Dalam kitab karya Al-Thabraniy disebutkan “Kana Abu Bakr rajulan ma`rufan fi an-nas” (Abu Bakar dikenal oleh orang banyak). Dalam Al-Sirah Halabiyyah (2:41) disebutkan “idza sa’alahu sailun” (bila seseorang bertanya kepadanya). Saya tidak perlu menjelaskan-makna struktur ini kepada Muhsin, karena saya yakin beliau memahami bahasa Arab. Dari sumber-sumber itu segera diketahui bahwa bukan satu orang yang tidak mengenal Nabi saw., tetapi banyak orang. Perhatikan juga riwayat-riwayat dalam Sirah Ibn Hisyam (2:109), Thabaqat Ibn Saad (1:222), Maarif Ibn Qutaybah (1: 15), dan Al-Mawahib Al-Laduniyyah (1:86). Saya kira Muhsin juga mengerti bahwa kalimat “Abu Bakar orang tua yang dikenal dan Nabi pemuda yang tidak dikenal” dalam Shahih Bukhari menunjukkan lafal yang umum.

Muhsin menyatakan bahwa yang dimaksud “Abu Bakar orang tua” itu “hanya tampak lebih tua bukan umurnya yang lebih tua.” Ini yang namanya berandai-andai, atau berkira-kira. Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bariy (7:251) mengomentari hadis ini, “Menurut bunyi teks hadis ini artinya Abu Bakar itu lebih tua daripada Nabi, padahal tidak demikian.” jadi Ibnu Hajar sendiri tidak mengandaikan “tampak lebih tua” seperti pengandaian Muhsin. Tidak seorang pun meragukan kemampuan Bahasa Arab Ibn Hajar.

Walhasil, Muhsin sudah melakukan metode kritik historis seperti yang saya usulkan; yakni, lebih dari sekadar menggunakan `ulum al-hadits saja. Beliau sudah mencoba menggunakan logika, walaupun kekurangan sumber. Memang, untuk melakukan analisis kritis terhadap tarikh, di samping logika kita memerlukan literatur. Terima kasih, saudaraku Muhsin Al-jufri, saya menantikan kritik Anda pada contoh-contoh lain yang saya kemukakan.

_____________________

[1] Diambil dari bukunya “Islam Aktual” hal: 135-139

[2] Dalam harian Gala, Jumat 5 November 1990, Muhsin Al-Jufri menulis artikel “Kritis terhadap Kritik Historis Tarikh Nabi saw.”, untuk menanggapi artikel Jalaluddin Rakhmat, “Tarikh Nabi saw.: Kritik Historis”, yang dimuat dalam buku ini hal. 162: Penerbit.

4 Tanggapan

  1. bagus aku suka dengan artikel yang ada di kajian.islam.wordpress. kalo boleh tahu siapa penjaga gawangnya? syukron

  2. maturnuwun om

  3. menarik

  4. bagus om,saya jd tau arti logika bagi manusia !
    thx before…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: