PASIVA DALAM NERACA GERAKAN MODERNIS ISLAM

PASIVA DALAM NERACA GERAKAN MODERNIS ISLAM

(Di bawah ini adalah artikel lama KH. Jalaluddin Rakhmat, tapi isinya masih sangat relevan sekali dengan masa kini, dan menarik untuk dibaca)

Ketika bulan November 1989 NU menyelenggarakan muktamar, semua pengamat Islam di Indonesia tercenung. Sebagai sebuah gerakan tradisional, NU masih menunjukkan dinamika yang menakjubkan. Akarnya pada massa rakyat masih kukuh, seperti ditampakkan dengan kontribusi mereka yang tulus dan spontan. Keutuhannya sebagai persyarikatan masih bertahan, seperti ditunjukkan dengan mulusnya penerimaan Abdurrahman Wahid. Bidang garapannya bahkan terbentang lebih luas, seperti dinyatakan oleh Presider Soeharto saat berpidato pada pembukaan Muktamar tersebut.

Pernah terjadi ketika gerakan-gerakan modernis muncul, NU berada pada posisi defensif. Gerakan modernis menyerang NU sebagai “old crack” yang membela kebekuan, khurafat, takhayul, bid’ah, atau … sinkretisme. NU dijadikan kaum reaksioner yang menghambat kemajuan umat Islam. Sementara itu, Muhammadiyah (bersama Persis dan Al-Irsyad) dianggap sebagai agen-agen pembaruan— gerakan tajdid dan dakwah Islamiah. Benturan NU dan Muhammadiyah tidak jarang terjadi pada tingkat mikro— pada masjid atau kampung yang kecil.

Waktu kemudian mengubah konflik ini menjadi pembagian tugas (atau lebih tepat pembagian wilayah). Muhammadiyah dan kawan-kawan berhasil menguasai golongan menengah ke atas, kelompok berpendidikan, dan daerah perkotaan. Paham Muhammadiyah dan kawan-kawan menjadi Islam urban. Sementara itu, NU tetap kukuh di daerah pedesaan. Pengaruh pesantren sebagai benteng NU tidak terkalahkan untuk golongan menengah ke bawah dan “grass root levels”. Hasil akhirnya menarik. Apa yang selama puluhan tahun diserang oleh kaum modernis —sebagai bid`ah, syirk, dan sebagainya— masih tegak berdiri. Yang menakjubkan ialah kenyataan bahwa sebagian kaum modernis menemukan: Di balik tradisionalisme NU, justru tersembunyi kekuatan Islam. Dengan perkataan lain, sebagian serangan kaum modernis sebenarnya merugikan Islam, seandainya berhasil.

 

Aktiva Neraca Gerakan Modernis

Tentu saja, sebagian serangan lainnya menguntungkan Islam. Dengan mengambil rasionalisasi dan modemisasi, misalnya, Muhammadiyah telah menjadi satu-satunya persyarikatan yang menyaingi misionaris Nasrani dalam setiap langkah. Institusi amal modern —seperti sekolah gaya Barat (sebagai lawan pesantren tradisional), panti asuhan, rumah sakit— diambil Muhammadiyah untuk menahan Kristenisasi dan sekularisasi. Rasionalisme dan puritanisme Muhammadiyah menarik kaum terpelajar ke dalam Islam, memberikan identitas keislaman yang relevan, dan —pendeknya— menampilkan Islam yang “tidak ketinggalan zaman”. Islam bukan hanya menjadi agama kaum sarungan, tetapi juga agama kaum berdasi. Patut juga dicatat upaya kaum modernis untuk menggunakan media modern —buku, majalah, Surat kabar— dalam penyebaran Islam.

Ketika James Peacock meneliti karakteristik psikologis orang Muhammadiyah dengan orang bukan Muhammadiyah, dia menemukan hal yang menyenangkannya. Orang Muhammadiyah lebih terbuka, kurang terikat pads otoritas, dan lain-lain —yang boleh kita sebut sebagai mentalitas manusia modern. Walhasil, di samping menimbulkan perubahan institusional, gerakan modernis juga berhasil mengubah mentalitas. Harus buru-buru kita tambahkan bahwa perubahan mentalitas juga terjadi di kalangan NU yang tradisional (sebagian karena imbas upaya kaum modernis).

Itu semua berada pada sisi yang positif. Ibarat neraca, serangan kaum modernis yang menguntungkan Islam itu terletak pada aktiva (assets). Tentu saja banyak “item.” lain yang tidak kita cantumkan di sini. Itu sudah sering kita bicarakan. Marilah kita lihat sebagian serangan kaum modernis yang merugikan Islam; jadi “item” yang terletak pada pasiva kita

Pasiva Neraca Gerakan Modernis

Setiap gerakan pembaruan biasanya melalui tiga tahap: analisis masalah, jawaban hipotetis, dan tindakan. Kaum modernis melihat umat Islam mundur, miskin, dan terbelakang. Di manamana posisi umat Islam terdesak. Islam yang seharusnya “ya`lu” (mengatasi) menjadi “yu’la” (diatasi). Apa sebab-sebab kemunduran ini? Secara singkat, umat Islam telah kehilangan ajaran Islam yang murni. Islam telah dicemari oleh tradisi-tradisi lokal. Islam yang rasional telah digantikan oleh Islam yang penuh takhayul, khurafat, dan unsur-unsur non-Islam. Perkembangan pemikiran dibelenggu taqlid. Sufisme juga dituding sebagai “kambing hitam”. Para ulama hanya mengkaji kitab-kitab lama tanpa sikap kritis. Tindakan yang harus dilakukan —tentu saja— memurnikan ajaran Islam (slogan kembali kepada Al-Quran dan Hadis); membasmi bid’ah, khurafat, dan takhayul; membuka pintu ijtihad dan melarang taqlid; dan menggantikan Islam yang mistikal dengan Islam yang rasional.

Dengan segala jasa yang telah kita sebut dalam aktiva, gerakan modernis telah menimbulkan beberapa “efek sampingan”: depribumisasi, demistikisasi, degaibisasi, deinstitusionalisasi, dan disintegrasi.

Depribumisasi

Proses akulturasi ajaran Islam di Indonesia telah melewati jalan yang panjang. Unsur-unsur Islam diintegrasikan pada budaya lokal dan sebaliknya. Islam kemudian menjadi bagian yang tidak terasa asing; Islam telah mempribumi. Bagi orang Melayu, budaya Melayu adalah Islam. Buya Hamka pernah mengatakan bahwa kata “Minang” dalam “Minangkabau” artinya Islam, sehingga. kalau Islam dilepaskan dari Minangkabau, yang tinggal adalah “kabau” (kerbau). Bagi orang-orang Sunda, masuk Nasrani akan menyebabkan orang tidak disebut orang Sunda lagi. Hal yang sama berlaku bagi orang Bugis, Banjar, dan suku-suku lainnya di Indonesia. Pada suku jawa, pribumisasi Islam terjadi dalam perpaduan iunsur-unsur budaya jawa dan Islam. Begitu padunya percampuran ini sehingga kelak kaum modernis menyebutnya sebagai sinkretisme. Upacara-upacara lokal diberi warna Islam dan diberi nama “selametan”. Lebaran adalah perpaduan Idul Fitri dengan Grebegan. Bulan-bulan Islam dijadikan bulan-bulan dalam tahun Saka (Muharram menjadi Suro, Dzulqa’idah menjadi Hapit, Dzulhijjah menjadi Besar). Bagi orang Jawa kebanyakan, kejawaan adalah keislaman. Sufisme Islam tidak jarang melebur dalam kejawen.

Kaum modernis datang dengan puritanisme mereka. Terjadilah proses depribumisasi. Unsur-unsur lokal “di-bid’ah-kan” (tidak jarang dimusyrikkan). Karena tidak ada dalam Al-Quran dan Hadis, kontribusi lokal pada ajaran Islam harus dihilangkan. Islam kaum modernis melepaskan diri dari akar-akar pribumi. Islam menjadi asing. Islam kaum modernis menjadi Islam yang teralienasi. Itulah sebabnya, barangkali, mengapa kaum modernis lebih banyak menarik orang-orang urban dan metropolitan. Barangkali itu juga sebabnya mengapa secara politik, ideologi Islam tidak diterima secara meluas (paling tidak Pemilu yang paling bebas pun hanya menunjukkan 40% pendukung ideologi Islam).

Keterasingan Islam dari budaya lokal telah mendorong kaum nasionalis untuk merebut “lahan” orang Islam yang satu. Dan karena Islam kaum modernis meninggalkan massa rakyat kecil, komunis pun (dahulu) mengambil “lahan” orang Islam yang lain. Sementara itu, di Indonesia, boleh jadi mengambil pelajaran dari proses Islamisasi, kaum Nasrani berupaya untuk terus-menerus mengintegrasikan ajaran Nasrani dalam budaya lokal. Mereka mengembangkan gereja-gereja lokal (perhatikan kasus Kiai Sadrah, HKBP, Gereja Pasundan, dan sebagainya).

Dalam evangelisme Kristiani dikenal istilah indigenisasi dan kontekstualisasi. Pada tahun 1938, konferensi Madras merumuskan indigenisasi sebagai berikut: “Gereja indigenes (pribumi), baru atau lama, di Timur atau Barat, adalah gereja yang berakar dalam kepatuhan kepada Kristus, dan secara spontan menggunakan bentuk-bentuk pemikiran dan modus tindakan yang satu tabiat dan akrab dengan lingkungan”. Pada tahun 1972, The Theological Educational Fund (TEF), yang disponsori oleh World Council of Churches (WCC) menerbitkan laporan “Ministry in Context” atau kontekstualisasi. James O. Buswell, dalam Missiology, vol. VI, mendefinisikan kontekstualisasi sebagai sejenis inkulturasi, yakni, “to make the Gospel intelligible in the idiom of the language and culture of the receiver” (membuat Injil dapat dipahami dalam idiom bahasa dan budaya penerima),

Konteksualisasi misionaris ini mungkin dapat saya tuturkan lebih lengkap dalam kesempatan lain. Cukuplah di sini dikatakan bahwa depribumisasi yang dilakukan kaum modernis akan berakibat fatal, khususnya dalam berhadapan dengan indigenisasi dan kontekstualisasi kaum Nasrani. Dengan kata lain, dinamika NU dalam Muktamar menunjukkan kerinduan orang kepada Islam yang lebih pribumi, Islam yang indigen, bukan Islam yang alien. Yang dibutuhkan adalah Islamnya para Nabi yang —menurut-istilah Al-Quran —berbicara dengan bahasa kaumnya: Tidaklah Kami utus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya, supaya ia menjelaskan kepada mereka. (QS 14:4)

Demistikisasi

Banyak ahli sejarah menunjukkan proses penyebaran Islam lewat Islam yang mistikal. Istilah “wali” bagi penyebar Islam awal jelas mencerminkan dimensi ini. Lagi pula, mistikisme Islam mempunyai “common ground” dengan agama-agama Hindu dan Budha. Arberry mendefinisikan tashawwuf sebagai mistikisme yang monoteistis, mistikisme yang berlandaskan tawhid. Penyebaran Islam yang cepat di Indonesia dapat diduga karena unsur mistikisme itu. Tidak terbayangkan apa yang terjadi bila Islam yang pertama kali masuk ke sini adalah Islam legalistic (yang fighiyyah) seperti yang dibawa oleh kaum modernis (yang terpengaruh Wahabisme).

Tasawuf menarik kaum priyayi yang mencari sangkan paraning dumadi dan jatining urip, juga menarik kaum abangan yang mencari penenang batin dari kemelut kehidupan yang gagal; dan lebih-lebih menarik kaum santri yang ingin memperoleh kekuatan batin dalam menghadapi sistem dominan yang zalim. Berbagai macam tharigah tumbuh subur di Indonesia. Menurut Sartono, dalam The Protest Movement in Rural Java, banyak gerakan perlawanan rakyat desa di Indonesia diilhami dan dipimpin oleh gerakan-gerakan tasawuf. Kita dapat menambahkan gerakan Mahdi di Sudan, Sanusiyah di Tunisia dan Safawiyah di Iran.

Kaum modernis datang menuding tasawuf sebagai penyebab kelemahan umat Islam. Segala hal yang berkaitan dengan tasawuf dihantam. Bergulirlah bola demistikisasi, yang akibatnya terasa sampai sekarang. Sebagai antitesis sufi yang mencari makna dan “rahasia” syariat, kaum modernis menghidupkan formalisme. Bila kaum sufi disebut ahli sarair kaum modernis menjadi ahli zhawahir. Ajaran Islam menjadi fiqh-sentris. Nash hanya dipahami secara lahiriah.

Dalam upaya untuk memurnikan ajaran Islam, mereka melepaskan teks-teks agama dari konteksnya. Sekarang, pusat perhatian adalah fiqh — aspek legal ajaran Islam. Yang penting adalah dikotomi sunnah-bid’ah, halal-haram, tawhid-syirk, Islam-jahiliah. Proses penyucian batin, peningkatan akhlak dan latihan-latihan kejiwaan tidak lagi mendapat perhatian. Kaum modernis lebih memperhatikan cara meluruskan tangan ketika takbiratul ihram ketimbang meluruskan hati ketika beribadat. Mereka menilai orang dari ritus-ritus formal — misalnya cara-cara shalat — dan bukan dari amalnya di masyarakat. Anda boleh jadi dermawan, penyantun, dan bergaul dengan baik; tetapi bila Anda ahli bid’ah, Anda masuk neraka. Terkenal di kalangan kaum modernis hadis, “Barangsiapa beramal tidak sesuai dengan perintahku, ia tertolak”.

Ketika kaum modernis menyingkirkan tasawuf, mereka menyingkirkan pengalaman beragama yang emosional —agama yang dinikmati. Dzikr, shalawat, wirid dan hal-hal lain yang memberikan kehangatan beragama dikurangi. Orang kehilangan agama yang memuaskan dahaga batin. Pengalaman beragama menjadi gersang. Orang mencari ketenteraman. Sementara itu agama kaum modernis yang rasional menafikan dimensi keberagamaan yang mistikal. Banyak di antara mereka akhirnya lari kemistikisme lokal. Aliran kepercayaan bertambah subur, mengisi kevakuman yang ditinggalkan oleh kaum modernis.

Degaibisasi

Bersamaan dengan menipisnya aspek batiniah dari kehidupan beragama, hal-hal yang gaib dikecilkan peranannya. Walaupun dengan tegas Al-Quran menyatakan ciri orang takwa iiu “yu`minuna bil ghayb,” kaum modernis —dengan rasionalismenya— meremehkan kegaiban. Tidak jarang nash-nash yang menceritakan peristiwa gaib ditakwil, sehingga menjadi “masuk akal” (dan tidak gaib lagi).

Al-Manar, tafsir rujukan kaum modernis, seringkali berusaha merasionalisasikan kejadian-kejadian gaib dalam Al-Quran. Kej’adian penyembelihan sapi dalam surah Al-Bagarah ditakwil bukan sebagai penyembelihan; tetapi sebagai tradisi Bani Israil untuk mencari pembunuh misterius. Yang mati tidak hidup kembali karena dipukul sebagian tubuh sapi. Itu hanya tamsil saia. Begitupula, matinya suatu kaum dan dihidupkannya kembali (Surah Al Baqarah ayat 243) hanyalah perlambang. Mereka mati karena mereka tidak dihitung lagi sebagai umat, bercerai-berai, kehilangan semangat juang, tunduk kepada kezaliman. Mereka hidup kembali setelah mereka bersatu, meraih, kembali semangat juang mereka.

Begitu semangatnya Al-Manar menafikan yang gaib sampai malaikat pun hanya dianggap sebagai, “quwwah thabi`iyyah” (kekuatan alam) saja. Iblis pun hanya kekuatan alam. Tidak ada yang di luar daya alamiah. semangat Al-Manar diikuti oleh AlMaraghi, juga rujukan kaum modernis. Proses degaibisasi —upaya menjelaskan yang gaib sehingga tidak gaib— melahirkan konseptualisasi tawhid yang materialistis. Yang diakui hanya sebab-sebab material dalam dunia fisik —yang dapat diamati dan diukur. Sebab-sebab gaib ditiadakan. Bila Anda mengobati sakit perut dengan Enterostop, Anda mengikuti sebab-sebab lahir. Anda berobat dengan cara-cara yang dibenarkan Islam. Bila Anda mengobatinya dengan membawa Al-Fatihah, Anda musyrik; begitu menurut tawhid kaum, modernis. Mengapa? Karena Anda sudah menggunakan sebab-sebab gaib.

Dalam hubungan inilah, kaum modernis memusyrikkan orang yang melakukan tawassul dan tabarruk. Tawassul artinya meminta bantuan atau doa. Mereka membenarkan tawassul kepada orang yang masih hidup, seperti Umar yang tawassul kepada Abbas. Mereka memusyrikkan orang yang tawassul kepada Nabi Muhammad saw., karena Nabi sudah wafat. Meminta doa kepada yang sudah mati adalah hal yang gaib, karena itu syirk. Meminta bantuan kepada yang hidup tidak menyangkut yang gaib, jadi boleh.

Tabarruk, dari arti katanya saja, sudah melibatkan yang gaib. Tabarruk artinya mengambil berkah: Para santri yang meneguk sisa air minum Kiai, peziarah yang mengusap tanah kuburan wali, jamaah haji yang mencium mimbar Nabi di Madinah, orang Indonesia yang minum air Zamzam untuk menyembuhkan penyakit. Kaum modernis menuduh semua perbuatan itu syirk. Walhasil, segala hal yang melibatkan perkara yang gaib dianggap syirk, termasuk mempelajari tenaga-tenaga gaib lewat hizib dan riyadhah. Kita belum melakukan penelitian dampak degaibisasi ini dalam kehidupan beragama. Untuk sementara, cukuplah kita katakan bahwa salah satu tonggak penghayatan agama adalah keimanan kepada yang gaib. Memperlemah keimanan tentu saja memiskinkan pengalaman beragama.

Deinstitusionalisasi

Kepercayaan kepada yang gaib sering memperkukuh institusi-institusi keislaman. Salah satu di antara institusi itu adalah ulama. Tabarruk kepada ulama yang masih hidup memperkuat peranan ulama dalam memimpin umat. Tabarruk kepada ulama yang sudah mati menyambungkan garis sejarah yang melintas ruang dan waktu. Ulama bukan sekadar panutan temporal; ulama -juga petunjuk jalan untuk hal-hal yang sakral. Pembicaraannya mempunyai wibawa. Melanggarnya dapat mendatangkan bencana. Dengan kredibilitas seperti itu, komunikasi ulama menjadi sangat efektif.

Dengan menggunakan kerangka ilmu komunikasi, kita dapat menyatakan ulama adalah pemuka pendapat yang perkasa. Ucapannya menjadi kata pemutus. la bukan hanya dirujuk dalam masalah agama, tapi juga dalam masalah sosial. Ulama menjadi pemimpin yang polimorfik —memimpin berbagai bidang kehidupan. Kaum modernis datang menghapus taglid. Semua orang — termasuk yang tidak berkualifikasi — boleh berijtihad. Yang dirujuk bukan ulama, tetapi Al-Quran dan Hadis. Kenyataannya, kalimat ini diperbaiki: Yang dirujuk adalah pemahaman setiap orang tentang Al-Quran dan Hadis. Tidak jarang pemahaman itu dilakukan tanpa bekal ilmu yang memadai. Institusi ulama dirubuhkan. Muncullah mufassir atau mujtahid amatir.

Perlahan-lahan kaum ulama tersingkir. Mula-mula dari mimbar-mimbar pengajian. Lama kelamaan, juga dari mimbar-mimbar jumat. Para cendekiawan —atau yang mengaku cendekiawan— tampil menggantikan ulama. Di desa, kepemimpinan ulama memudar dengan menguatnya kepemimpinan formal. Berbarengan dengan deinstitusionalisasi ulama, sosialisasi nilai-nilai keislaman berjalan tanpa arah (atau menuju ke berbagai arah). Ramainya pendapat —yang kebanyakan dikeluarkan orang awam- membingungkan umat. Dari sinilah sebetulnya penyebab lahirnya kelompok-kelompok sempalan.

Disintegrasi

Kelompok sempalan umumnya lahir dari organisasi, di mana peranan ulama tidak begitu kuat. Tokoh-tokoh lahir, mencoba memberi jawaban kepada masalah-masalah aktual. Dengan pengetahuan yang kurang, mereka melahirkan jawaban-jawaban simplistis. Di sekitar mereka berkumpul jama’ah yang juga berpikir sederhana. Terjadilah fragmentasi umat, menjadi serpihan-serpihan kecil.

Di kalangan ulama juga terjadi perbedaan pendapat. Tetapi dampak perbedaan ini dapat diminimalkan, karena ulama mempunyai konvensi-konvensi baku untuk mengatasinya. Konvensi-konvensi itu diwujudkan dalam ilmu-ilmu Islam tradisional. Perbedaan pendapat di kalangan awam sukar diatasi. Mereka tidak mengenal konvensi-konvensi itu. Akhirnya perbedaan pendapat melahirkan perpecahan. Paling repot, bila orang awam itu, sudah dianggap ulama karena Bering ber-tabligh atau menjadi anggota Majelis Ulama.

Kaum modernis harus mengakui bahwa larangan taqlid ternyata disfungsional. Pada institusi taqlid ternyata ada kekuatan yang mengintegrasikan umat. Kemenangan para ulama di Iran menunjukkan bagaimana institusi taqlid memperkuat peran ulama. “Kekuasaan” ulama —secara sosial dan financial— sukar dipenetrasi oleh kekuasaan temporal. Dalam jangka lama, setelah mengatasi perpecahan di antara mereka, para ulama berhasil memimpin pemerintahan.

Khulasah

Tulisan ini tidaklah dimaksudkan untuk menafikan peran kaum modernis. Seperti telah disebutkan di muka, mereka telah berjaya menjawab tantangan umat Islam di zamannya. Tulisan ini dibuat untuk melakukan introspeksi. Kalau segi-segi negatifnya ditonjolkan, maksudnya hanyalah untuk mendorong upaya perbaikan di masa yang akan datang. Di sinilah kita berdiri sekarang. Mau ke mana kita tentu memerlukan pemikiran kita semua.

_______________________

Artikel diatas diambil dari buku KH. Jalaluddin Rakhmat “Islam Aktual” hal: 118-126

Satu Tanggapan

  1. Bagus juga dan masih relevan sekali dengan keadaan sekarang terutama indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: