Agama di Mulai Dengan “Tidak”

A RELIGION WHICH BEGAN WITH “NO”

(Agama di Mulai Dengan “Tidak”)

Oleh: KH. Jalaluddin Rakhmat [1]

Abul Aswad Al-Duali, peletak dasar ilmu nahw, pernah bekerja sebagai penulis untuk Mu`awiyah bin Abu Sufyan. Walaupun dia terkenal sebagai pengikut setia Ali bin Abi Thalib, dia lolos dari makar keluarga Umayyah karena kepiawaiannya dalam menggunakan Bahasa Arab. Pada suatu hari, ketika berada di kantornya bersama Mu`awiyah, tanpa sengaja dia mengeluarkan angin dengan suara yang agak keras. Karena malu dia meminta Mu`awiyah untuk merahasiakan peristiwa itu. Mu`awiyah bersumpah untuk tidak membocorkannya kepada siapa pun. Keesokan harinya, Abul Aswad berjumpa dengan Amr bin Ash, tangan kanan Mu`awiyah. Sambil tertawa terbahak-bahak, Amr menyapa, “Ya Abul Aswad, ke mana angin itu perginya?” Tentu saja yang ditanya terkejut bukan main. Dia segera, mendatangi Mu`awiyah. Dengan muka masam, Abul Aswad berkata, “Kalau dalam urusan (maaf!) kentut saja Anda tidak dapat dipercaya, apalagi dalam urusan kaum Muslim.”

Kita tahu Mu`awiyah berhasil mendirikan dinasti Umayyah, dan -menurut Al-Mawdudi- mengubah sistem khilafah menjadi sistem kerajaan. Dia menjadi prototip politikus Muslim yang meletakkan kekuasaan di atas segalanya. la lebih banyak mengatas-namakan Islam, ketimbang mengamalkannya.

Ratusan tahun kemudian, di berbagai bagian dunia Islam muncul makhluk-makhluk yang menyatakan diri sebagai wakil umat Islam. Mereka mendirikan atau memasuki partai politik (Islam atau bukan Islam). Mereka berbicara di panggung-panggung kampanye, di parlemen, di media massa, dalam kongres organisasi, tentang strategi perjuangan Islam. Terkadang mereka berbisik-bisik di kamar kecil, di sudut rumah, atau dalam rapat-rapat gelap untuk menyingkirkan lawan-lawan politik (Islam atau bukan Islam). Pada waktu yang lain, mereka bergerombolan melakukan walk-out, menyampaikan petisi, atau menyatakan kebulatan tekad (rekayasa atau bukan rekayasa). Secara resmi, mereka kita sebut para pemimpin Islam. Secara tepat, sebetulnya mereka termasuk kaum profesional yang mengambil politik sebagai profesinya. Gelarnya sederhana: politikus.

 

Menurut hukum Islam, profesi itu sah saja, bahkan amat dimuliakan, selama tetap ber-istiqamah kepada nilai-nilai Islam. Salah satu di antara nilai-nilai itu ialah kejujuran. la teguh memegang janji, benar dalam berbicara, menghindari fitnah, umpatan, atau dusta, dan tidak menggunting dalam lipatan. Logikanya adalah logika Abul Aswad: Bagaimana ia dapat dipercaya mengatur urusan kaum Muslim, kalau dalam hal-hal kecil saja ia sudah berdusta? Bagaimana ia dihormati sebagai pemimpin Islam, kalau untuk menjadi pemimpin organisasi saja ia menjual kebohongan? Bagaimana umat dapat menaruh kepercayaan kepada “kutu loncat” yang sewaktu-waktu terbang, mengejar hujan emas di negeri orang?

Ali bin Abi Thalib politikus, begitu juga Mu`awiyah. Tetapi bila yang pertama menggunakan kekuasaan untuk menegakkan ajaran Islam, maka yang kedua memanipulasikan ajaran Islam untuk menegakkan kekuasaan.

Ketika Abdurrahman bin Auf mengajukan tradisi Abu Bakar dan Umar sebagai pedoman yang harus diikuti oleh khalifah baru, Utsman menerima dan Ali menolak. Kata Ali, “Tidak, aku akan beramal dengan Kitab Allah, Sunnah Nabi-Nya, dan pendapatku sendiri bila tidak ada nash dalam Al-Kitab dan AI-Sunnah.” Karena ketegasannya, Ali tidak berhasil memperoleh kekuasaan. Kaum Muslim kemudian terjerumus dalam perpecahan. Banyak politikus modern menyesalkan jawaban Ali. Mengapa ia tidak mengalah saja, dan menerima syarat yang diajukan oleh Abdurrahman bin Auf. Menurut Ali Syari’ati, Ali telah menegaskan mazhab politik Islam yang dimulai dari kata “tidak”. A religion which began with “no ” ‘ Dengan menggunakan istilah Dr. Fensterheim, Ali telah mengikuti adagium kejujuran: Don’t say “yes” when you want to say “no”.

Mu`awiyah mempunyai mazhab yang lain. Ketika Hasan bin Ali bersedia menyerahkan kekuasaan, asalkan Mu’awiyah berjanji melakukan hal-hal yang disyaratkan oleh Hasan, Mu`awiyah segera mengatakan “ya”. Tetapi begitu kekuasaan dipegangnya, dia melanggar seluruh janjinya. Ketika Mu`awiyah sampai di Kufah, dia naik mimbar dan berkata:

“Hai penduduk Kufah, apakah kalian mengira aku memerangi kalian supaya shalat, zakat, dan haji; padahal aku tahu kalian shalat, zakat, dan haji? Aku memerangi kalian untuk menguasai kalian. Semua syarat yang diajukan oleh Hasan telah kuletakkan di bawah telapak kakiku.”

Untuk memperkuat posisinya, dia menggunakan madu dan racun. Madu untuk orang-orang yang keyakinannya mudah dibeli. Racun untuk orang yang teguh pendiriannya. Dia menggunakan mimbar-mimbar masjid -sejenis media massa di zaman itu- untuk memaki Ali bin Abi Thalib. Dia menyewa para ‘alim untuk membuat hadis-hadis palsu yang mendiskreditkan kelompok Ali.

Ibnu Qutaybah, dalam Kitab Al-Ikhtilaf menuliskan suasana waktu itu:

Mereka tidak mau menyebut nama Ali atau tidak mau meriwayatkan hadis yang menerangkan keutamaannya. Begitu buruknya suasana waktu itu, sehingga untuk menolak (kampanye anti-Ali) dan membela Ali, para ahli hadis harus ekstra hati-hati. Sementara itu, sebagian mereka mengumpulkan hadis-hadis yang menjelaskan keutamaan Mu`awiyah dan Amr bin Ash, bila seseorang berkata, “Kemenakan Rasulullah, ayah Hasan dan Husain, dan Ashabul Kisa… ,” wajah-wajah orang menjadi cemberut lantaran marah … Mereka berusaha membuktikan bahwa hadis-hadis tentang keutamaan Ali itu lemah atau palsu.

Laporan ini menunjukkan bahwa Mu`awiyah telah berhasil mempengaruhi opini publik. Sejarah bercerita bahwa dia dan keturunannya berkuasa berpuluh-puluh tahun. Dia berhasil menegakkan mazhab politik yang dimulai dengan “ya” tetapi berakhir dengan “tidak”. A religion which began with “yes” and ended up in “no”. Pada puncak kekuasaannya, Mu`awiyah berpikir bahwa Ali sudah menjadi teolog yang -dengan menggunakan istilah orang yang tidak paham bahasa Inggris- fossilized.

Mazhab politik Ali ternyata tidak fossilized. Buktinya, para pelanjut Mu’awiyah masih menyerang orang-orang yang berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam. Dengan cara yang sama: dusta, cerita rekaan, dan makian. Dengan prosedur yang sama: bermain kutu loncat sambil membawa madu dan racun. Mazhab politik Ali sudah jelas Islam. Tetapi apa aliran Mu’awiyah? Oportunisme, yakni aliran yang dianut para oportunis. Oportunis adalah “a person who takes advantage of any opportunity to achieve an end, usually with little or no regard for moral principles” (American Heritage Dictionary). Walhasil, politikus per se tidak

baik dan tidak jelek. Yang menentukan adalah kesetiaan kepada prinsip-prinsip moral.

_____________

[1] KH. Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya “Islam Aktual” hal: 114-117

4 Tanggapan

  1. Alhamdulillah saya menemukan artikel ini. Saya menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan2 yg selama ini memenuhi benak saya. Thanks atas sharing ilmu pengetahuan gratis ini.

    ____________
    -Kajian Islam-

    Assalamu alaikum wr. wb.

    Terima kasih kembali, anda telah menyempatkan mampir ke “gubuk reot” (blog) ini !!

  2. saya adalah salah seorang pengagum kang jalal dan saya salah seorang yang selalu mengkonsumsi buku-bukunya.
    tapi jujur saya adalah alumni PONPES Assalam maja-majalengka thn 1998 dan muridnya pak jamal tapi untuk diketahui saya pernah diajar langsung oleh kang jalal selama setengah bulan di muthahari bandung dan pengalaman itulah
    yang membuat saya sampai sekarang selalu mengagumi pemikiran kang jalal yang nota bene adalah mantan murid, walaupun itu hanya sebentar.

    salam dan hormat saya……………………………(Firdaus_ Bima)

  3. ilmu manthiq kang jalal sangat bagus. bagaimana kalau kita diajari cara berpikir yang logis kayak beliau

  4. bila punya tulisan kang jalal “buktikan cintamu pada rosulullah”, sudilah kiranya dapat dikirim ke email di atas.
    syukron.

    __________________
    -kajian Islam-

    Salam, Sdr Husein tulisan Pak Jalal tersebut telah kami posting di blok ini

    BUKTIKAN CINTAMU KEPADA RASULULLAH SAW. -Silahkan klik disini-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: