Ibnu Taymiah Meragukan Iman dan Islamnya Imam Ali ra.

Imam Ali as. dalam Penilaian Ibnu Taimiyah

SUMBER: http://ibnutaymiah.wordpress.com/

Imam Ali as. Adalah pribadi agung yang tidak perlu diperkenalkan di sini. Beliau adalah menantu Nabi saw… Sahabat yang besar jasanya dalam perjuangan Islam… Guru besar kemanusian dan keadilan setelah Rasulullah saw. Guru besar kezuhudan dan kerandahan hati… Contoh ketaatan dan pekasrahan kepada ketentuan Allah SWT. Sahabat yang datang ratusan bahkan ribuan hadis sahih sabda Nabi tentang keutamaannya.

Bagaiaman sejatinya Imam Ali dalam penilaian Ibnu Taimiyah?

Ikuti ulasan di bawah ini…

Tentang Islam Ali as.

Sesungguhnya Imam Ali as. Adalah sahabat pertama yang memeluk Islam berdasarkan bukti-bukti kuat dari sabda Nabi suci saw., pernyataan Ali as. Sendiri, dan pengakuan para sahabat dan tabi’in. hal itu merupakan keistimewaan khusus yang beliau miliki, tiada orang lain yang menyamainya.Tentunya kenyataan ini pahit buat Ibnu Taimiyah, ia berusaha membatalkannya dengan segala cara, agar tetap Abu Bakar orang yang pertama memeluk Islam, bukan Ali! Akan sayang, usahanya kacau, ia tidak tau apa yang harus ia utarakan untuk membatalkan keistimewaan ini.Perhatikan komentar-komentarnya tentang asalah ini, lalu bandingkan!Ibnu Taimiyah berkata, “Ucapan Ali bahwa ‘Aku salat enam bulan sebelum orang-orang’ adalah hal yang telah diketahui kebatilannya dengan pasti, sebab antara masa islamnya Ali dan islamnya Zaid, Abu Bakar dan Khadijah hanya selisih satu hari, atau kurang lebih seperti itu. Lalu bagaimana dikatakan Ali salat enam beulan sebelum orang-orang?!”[1]

Di sini ia mengakui bahwa Ali lebih dahlu memeluk Islam di banding Abu Bakar, dan ia tidak mengutarakan adanya perselisihan dalam masalah ini.Dalam kesempatan lain ia meragukan hal itu, ia mengatakan, “Mereka (para ulama) berselisih tentang orang yang pertama menyatakan Islam setelah Khadijah, jika ia adalah Abu Bakar lebih dahulu memeluk SIlam di banding Ali, maka telah tetaplah bahwa ia lebih awal bersahabat dengan Nabi, sebagaimana ia lebih dahulu dalam memeluk Islam. Jika Ali memeluk Islam sebelum Abu Bakar makatidak diragukan bahwa pershabata dengan Nabi Abu Baker lebih sempurna dan lebih berguna dari persahabat Ali dan orang semisalnya.”[2]

Di sini ia tidak menegaskan siapa yang lebih dahulu antara keduanya, walaupun ia menegaskan klaim bahwa Khadijah lebih dahulu. Kemudian ia lebih mengunggulkan islamnya Abu Bakar atas islamnya Ali as.Dalam tempat lain lagi ia menegaskan bahwa Abu Bakar lebih dahulu memeluk Islam dan ia menisbatkannya kepada kebanyakan orang/ulama. Ia berkata, “Ucapan orang bahwa Ali orang pertama yang salat bersama Nabi adalah tertolak, akan tetapi kebanyakan orang menyalahi pendapat itu, dan Abu Bakar-lah yang pertama salat.”[3]

Coba perhatikan kekacauan ini!

§         Ibnu Taimiyah Meragukan Keabsahan Islam Imam Ali as.

Dan yang membuktikan kebencian dan permusuhannya kepada Imam Ali as. Adalah keraguan yang ia sebarkan seputar keabsahan islam Ali as.Ibnu Taimiyah berkata, “Ucapannya (Allamah al Hilli ra.-pen)bahwa keistimewaan ini (bahwa Ali awal yang memeluk Islam-pen) tidak dimiliki oleh sahabat selain Ali tertolak. Sebab manusia masih berselisih tentang siapa yang pertama memeluk Islam, ada yang mengatakan, ‘Abu Bakar adalah yang pertama memeluk Islam dan ia lebih dahulu dari Ali’ ada pula yang mengatakan Ali adalah memeluk Islam lebih dahulu dari Abu Bakar. Tetapi Ali adalah masih bocah, dan islamnya seorang bocah masih diperselisihkan di antara para ulama. Sementara itu tidak ada perselisihan bahwa  islamnya Abu Bakar lebih sempurna dan lebih bermanfaat. Jadi beliau secara aklamasi lebih sempurna dalam kewaalanya, dan lebih awal secara mutlak berdasarkan pendapat lain. Lalu bagaimana dikatakan bahwa Ali lebih dahulu darinya tanpa hujjah yang menunjukkan hal itu?.” [4]

Tidak cukup di sini, Ibnu Taimiyah terus berusaha membuktikan kekafiran Imam Ali as. sebelum beliau menyatakan keislamannya, dan berusaha meragukan keislamannya sebab beliau belum baligh.

Perhatikan apa kata Ibnu Taimiyah!Sebelum Allah mengutus Muhammad tidak seorangpun dari suku Quraisy yang beriman, tidak orang dewasa, tidak anak kecik, tidak pula wanita, tidak ketiga-tiganya tidak pula Ali!Jika ada yang berkata tentang orang-orang dewasa bahwa mereka menyembah berhala-berhala… Maka anak-anak juga menyembah berhala; Ali dan yang lainnya!

Jika ada yang berkata bahwa kekafiran anak kecil tidak seperti kafirnya orang yang sudah baligh… maka dikatakan (sebagai jawabnya) demikian juga keimanan anak kecil tidak seperti iamnnya orang dewasa.Mereka tetap baginya hokum keimanan dan kakafiran dalam keadaan baligh, begitu pula Ali tetap bagnya status kekafiran dan keimanan sementara ia belum baligh.Seorang bocah yang lahir dari kedua orang tua kafir diberlakukan atasnya kuhum kekafiran di dunia seperti disepakati kaum Muslim. Jika ia memeluk Islam sebelum baligh apakah dihukumi dengan hokum Islam sebelum bvaligh itu? Ada dua pendapat di antara ulama. Berbeda denga orang yang sudah baligh, ia diberlakukan hokum atasnya dengan sepakat di antara kaum Muslim.Jadi Islamnya tiga orang itu (Khadijah, Abu Bakar dan Zaid) telah mengeluarkannya dari kekafiran berdasarkan kesepakatan kaum Muslim. Adapaun Islamnya Ali, apakah dapat mengeluarkannya dari kekafiran? Masih ada dua pendapat. Bersadarkan mazhab Syafi’i islamnya bocah tidak mengeluarkannya dari kekafiran.!”[5]

§         Keimanan dan Keadilan Ali as. Tidak Dapat Dibuktikan!

Ibnu  Taimiyah mengatakan: “Orang Rafidhi tidak mungkin dapat membuktikan keumanan dan keadilan Ali, dan ia adalah ahli surga, apalagi membutkikan imamahnya jika ia tidak menetapkan hal itu semua untuk Abu Bakar, Umar dan Utsman. Jika tidak, kapanpun ia hendak menetapkan semua itu untuk Ali seorang pastilah dalil-dalil tidak membantunya. Sebagaimana seorang Kristen tidak mampu membuktikan kenabian Isa al Masih tanpa (mengakui kenabian) Muhammad, pastilah dalil-dalil tidak membantunya.”[6] “Kaum Rafidhah tidak mampu membuktikan keimanan dan keadilan Ali. Jika mereka berhujjah dengan kemutawatiran berita tentang islam dan hijrahnya, maka sesungguhnya telah mutwatir pula islamnya Mu’awiyah, Yazid dan para penguasa bani Umayyah dan bani Abbas, demikian pula telah mutawatir salat, puasa dan jihad mereka melawan kaum kafir!.”[7]Di sini Anda mungkin terheran membaca komentar di atas. Ali tidak dapat dibuktikan keislaman, keadilan, hijrah dan jihadnya. Apakah keimanan dan keadilan Ali perlu dibuktikan? Bagaimana keimanan Ali dibanding-bandingkan dengan keimanan Mu’awiyah, apalagi dengan Yazid dan para penguasa bani Umayyah dan bani Abbas?Adapun Mu’awiyah adalah orang yang memberontak dan memerangi Khalifah yang sah. Ia memerangi Imam Ali as. Yang telah disabdakan:

حَرْبُ علِيٍّ حَربِيْ ، سِلْمُهُ سِلْمِيْ ، و طاعَتُهُ طاعتِيْ ، وَ مَنْ فَارَقَ علِيًّا فقد فارقَنِيْ

“Perang melawan Ali adalah perang melawanku, damai dengan Ali adalah damai denganku, mentaati Ali adalah mentaatiku, dan sesiapa yang memisahkan diri dari Ali berarti ia memisahkan diri dariku.”

Yang pasti, dan tiada keraguan tentangnya adalah bahwa Mu’awiyah adalah sangat membenci Imam Ali as. Dan Rasulullah saw. telah bersabda dalam hadis sahih sebagaimana diriwayatkan dan disahihkan puluhan ulama Ahlusunah, diantaranya Muslim, Ahmad dalam Musnad-nya, at Turmudzi dalam Sunan-nya dan an Nasa’i dalam Khashaish-nya, serta Abu Nu’aim dalam Hilyah-nya.

لاَ يُحِبُّكَ إلاَّ مُؤْمِنٌ ولاَ يُبْغِضُكَ إلا مُنافِقُ

.“Tiada mencintaimu kecuali mukmin dan tiada membencimu kecuali munafik.”

Jika demikian keadaan Mu’awiyah, apa bayangan Anda tentang Yazid dan lainnya?!Maka tidaklah salah apabila sebagian ulama menuduh Ibnu taimiyah sebagai seorang munafik tulen!!Lagi pula hadis-hadis riwayat kaum Syi’ah dalam masalah itu semua telah metawatir, ialah yang tegak sebagai bukti dan memaksa mereka tunduk pasrah menerimanya, tanpa butuh sedikitpun kepada riwayat-riwayat musuh-musuh Ahlulbait as.Memang dalam berargumentasi atas lawan-lawan diskusi, kaum Syi’ah selalu berhujjah dengan riwayat-riwayat Ahlusunnah, sebab hujjah akan tegak dengan riwayat-riwayat yang mereka akui kesahihannya atau disahihkan para tokoh rujukan mereka.

Dan demikanlah etika sehat berdialoq, tidak seperti sebagian kaum Sunni yang selalu mengajukan hadis-hadis riwayat mereka sendiri dalam berargumentasi atas kaum Syi’ah.Selain itu, saya tidak menegrti apa korelasi antara keimanan dan keadilan Imam Ali as. dengan keimanan dan keadilan tiga penadulunya yang ia sebutkan.

Apakah Ali dan mereka dianggap satu jiwa, yang tak terbayangkan adanya pembagian di dalamnya? Atau menganggapnya ada satu ruh yang mengalir dapa jiwa-jiwa mereka? Lalu berpengaruh terhadapnya baik dalam keimanan maupun kakafiran, sehingga menetapkan keimanan dapa sebagian keniscayakan tetapnya iman pada yang lainnya?

Tapi, memang demikianlah Ibnu Taimiyah… Ia menikmati menyamakan keimanan Ali dan dengan Mu’awiyah dan Yazid.


[1] Minhaj as Sunnah,5/19.[2] Ibid.8/389.

[3] Ibid.7/273.

[4] Ibid.7/155.

[5]Ibid.8/285.

[6] Ibid.1/162.

[7] Ibid.1/163..

6 Tanggapan

  1. jangan memfitnah ulama waro Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah adalah seoran ulama yang sangat hati-hati sekali dalam ucapan dan perbuatan. Apalagi masalah sahabat nabi, beliau sangat menjunjung sahabat Abu bakar r.a, Umar r.a, Utsman r.a, Ali karomallohu wajhah r.a. beliau lama di penjara dalam mempertahankan aqidah islamiyah, beliau sabar dalam menghadapi fitnah-fitnah yang menyerang dirinya.

    • @budi
      mas budi tulisan diatas itu tulisan ilmiah dengan referensi yang dikutip langsung dari buku ibnutaymiah hanya saja anda tidak banyak membaca tentang ibnu taimiah….
      terutama sikap ibnu taimiah terhadap ali bin talib sangat menunjukka bahwa dia itu nasibi..

      coba anda buka situs dimana artikel diatas itu diambil

      http://ibnutaymiah.wordpress.com/

      disitu bahkan disertakan bukti scan ucapan ibnu taimiah dari buku aslinya..

      jadi jangan melihat ibnu taimiah dari satu sisi silahkan anda merujuk ke buku ibnu taimiah sendiri…

      jadi tulisan diatas bukan fitnah…. tugas anda membantah secara ilmiah tulisan diatas

  2. Sudah seyogyanya antara ahlu sunnah dan syi’ah tidak saling menyerang karena hal ini akan menguntungkan pihak2 yang berkepentingan untuk memperkeruh ssuasana ukhuwah dan kedamaian sesama muslim. baik syiah maupun sunni.

  3. kalau anda memfitnah jangan terlallu bobrok……………….

  4. hahahahaha…. yang nulis ngawur….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: