Hadis Dua Pusaka Nabi saw

Hadis Dua Pusaka Nabi saw.

Hadis Dua Pusaka Nabi saw. Menurut Riwayat Ahmad bin Hanbal
Kajian Tematik Dengan Pendekatan Kritik Sanad dan Matan


I. PENDAHULUAN

Sudah merupakan kebenaran yang niscaya, bahwa hadis adalah sebuah perantara untuk mencapai petunjuk Allah bagi umat manusia. Tujuan Allah mengutus Nabi-Nya tidak hanya sekedar untuk menyampaikan wahyu  kepada manusia sebagai mahkluk yang tidak mungkin dari dirinya sendiri menemukan jati diri dan jalan yang benar tanpa bantuan Yang Maha Tahu, tetapi juga Nabi bertugas menjelaskan apa yang dikandung dalam wahyu dengan penjelasan yang lebih mudah dimengerti oleh manusia serta pada tahap selanjutnya menentukan dan melaksanakan secara praktis objek yang ditunjuk oleh wahyu secara teoritis saja. Peranan Nabi dalam memahamkan wahyu kepada manusia sangatlah penting karena wahyu akan menjadi hujjah Allah bagi manusia hanya ketika dia mampu memahami wahyu tersebut. Maka apabila diandaikan bahwa seribu nabi diutus kepada seorang manusia, sementara dia tidak mampu memahaminya, wahyu tidak akan menjadi hujjah bagi dirinya karena hujjah adalah sesuatu  yang telah dipahami oleh manusia kemudian dapat diyakini. Wahyu tidak akan menjadi hujjah hanya dengan sampainya wahyu kepada manusia melalui gelombang suara yang dapat didengar oleh telinga  dan selesai, meskipun tidak dapat dipahami. Kehujjahan wahyu lebih dari sekedar gelombang suara. Wahyu adalah hujjah jika sudah dipahami oleh manusia. Tapi tidak ada alasan lagi manusia dihadapan Allah untuk tidak mampu memahami al-Qur’an karena Allah telah mengutus seoarang nabi untuk menjabarkan wahyu-Nya sehingga dapat dipahami oleh manusia. Allah hanya menunggu saja apa tindakan menusia selanjutnya terhadap wahyu yang telah dipahaminya. jika menjalankannya maka pahala, jika tidak maka sebaliknya, azab. Dengan demikian kajian dan telaah hadis, baik dari sanad maupun matan, menjadi sangat urgen dalam upaya memahami wahyu Allah.


Ilmu hadis merupakan disiplin ilmu yang disusun untuk menjawab semua tantangan diatas. Ilmu hadis berupaya mencarikan solusi-solusi rasional terhadap perkembangan-perkembangan pemikiran dan pandangan yang bersifat reformis terhadap peninjauan ulang hadis dari para ahli hadis modern. Validitas suatu hadis menjadi sangat penting untuk dibuktikan dihadapan serangan para sebagian reformis maupun para orientalis yang mulai meragukannya. Ilmu hadis menemukan tantangannya, tidak lagi merupakan pahlawan tanpa musuh. Penelitian kembali kuliatas hadis, baik dari segi sanad maupun matan-nya, memerlukan kecermatan dalam mempelajari berbagai tinjauan dari berbagai apek yang mempengaruhi muncul suatu hadis, seperti aspek sosiologis, historis, politis, dan lain sebagainya. Dengan demikian pembuktian validitas suatu hadis bukanlah hal yang sangat sederhana, melainkan sangat konplek dan rumit.Dalam makalah ini akan diulas dan ditelaah  sebuah hadis yang berkaitan dengan dua pusaka Nabi saw atau yang dikenal dengan hadis Tsaqalain dengan menggunakan penelitian terhadap sanad dan matan-nya dalam upaya mencoba membuktikan sejauh mana validitasnya dan memahami secara objektif pesan yang terkandung di dalamnya.

II. KRITIK SANAD

A. Takhrij al-Hadis

Sebagaimana yang ditemukan dalam al-Mu’jam,[1] hadis yang akan ditelaah telah di-tahrij oleh Ahmad bin Hanbal,[2] at-Tirmidzi,[3] ad-Darimiy,[4]  dan Muslim.[5]

HADIS YANG DITELITI

Qola Rasulullah: Inni qod taraktu fikum ma in tamassaktum bihi lan tadhillu ba’di ats-tsaqolain ahaduhuma akbar minal akhor kitabulloh hablun mamdud minas sama’ ilal ardhi wa itrati ahlabaiti ala wa annahuma lan yaftariqo hatta yarida alayyal haudh. (Maaf web islamku.com tiba-tiba tidak support font Arab. Jadi, tidak tidak bisa dituliskan teks Arabnya.)

Terjemah

Ibnu Namir meriwatkan dari Abdullah bin Abi Sulaiman dari Athiyyah Al-Aufi dari Abi Said Al-Khudri berkata: Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan pada dua pusaka, yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat sepeninggalku. Yang satu lebih agung dari yang lain, yaitu kitab Allah sebagai tali penghubung antara langit dan bumi, dan keluargaku, yaitu ahl baitku. Keduanya tidak akan berpisah selamanya sampai berjumpa denganku di telaga haudh.”

B. I’tibar

I’tibar adalah memunculkan seluruh sanad dalam sebuah hadis tertentu untuk diketahui apakah terdapat periwayat lain untuk hadis yang akan ditelaah.[6] Dalam Minhatul Mughits karya Hafidz Hasan al-Masu’di disebutkan bahwa i’tibar adalah meneliti jalur-jalur (periwatan) sebuah hadis yang diduga periwatnya hanya seorang untuk diketahui apakah didukung oleh mutabi’ (bukan sahabat Nabi) atau syahid (sahabat Nabi) atau hanya mutabi’ tanpa syahid.[7]

Proses i’tibar akan mudah dikerjakan jika dibuat skema seluruh sanad hadis, baik hadis yang diteliti atau hadis pendukung, sehingga akan  terlihat dengan jelas apakah hadis yang ditelaah itu memiliki syahid dan mutabi’ atau tidak.

Dari skema jalur-jalur periwatan dan sanad hadis yang diteliti maupun pendukung dapat terlihat bahwa terdapat periwayat yang berstatus syahid karena Zaid ibn Arqom, Zaid ibn Tsabit, dan Jabir yang masing-masing merupakan sanad terakhir dari hadis yang di-tahrij oleh Muslim dan ad-Darimi, Ahmad ibn Hanbal, dan at-Tirmidzi adalah para syahid bagi Sa’ad ibn Malik selaku sanad terakhir Ahmad ibn Hanbal. Dengan lebih rinci, Sa’ad ibn Malik yang merupakan sanad keempat dan terakhir dari hadis yang diteliti didukung oleh tiga syahid. Pertama,  Zaid ibn Arqom selaku sanad kelima Muslim dalam keempat hadis yang ditahrijnya, sanad keempat ad-Darimi, sanad kelima at-Tirmidzi, dan sanad kelima dalam hadis lain yang ditahrij oleh Ahmad ibn Hanbal. Kedua, Zaid ibn Tsabit selaku sanad kelima untuk dua hadis lainnya yang ditahrij oleh Ahmad ibn Hanbal. Ketiga, Jabir selaku sanad kelima at-Tirmidzi.

Sedangkan untuk mutabi’nya, Abdullah sebagai sanad pertama Ahmad ibn Hanbal tidak mendapatkan mutabi’. Namun Abdul Malik selaku sanad kedua Ahmad ibn Hanbal didukung oleh dua mutabi’, yaitu Sulaiman sebagai sanad ketiga at-Tirmidzi dan Ahmad ibn Hanbal pada jalur hadis yang lainnya dan Ismail yang menjadi sanad kedua Ahmad ibn Hanbal untuk hadis yang berikutnya. Sementara itu Atiyyah selaku sanad ketiga dari hadis Ahmad ibn Hanbal yang diteliti tidak memiliki mutabi’ karena hanya meriwayatkan sendirian dari Sa’ad ibn Malik.

C. Penelitian, Analisa dan Kritik Sanad

Urutan periwayat hadis Ahmad ibn Hanbal yang diteliti adalah sebagai berikut:          Periwayat I; Sa’ad ibn Malik. Periwayat II; Atiyyah ibn Sa’ad. Periwayat III; Abdul Malik. Periwayat IV; Abdullah ibn Namir. Periwayat V (mukharrij); Ahmad ibn Hanbal.

1.     Penelitian Kualitas Periwayat dan Persambungan Sanad

a.     Ahmad ibn Hanbal

Nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad ibn Idris ibn Abdullah ibn Hayyan ibn Abdullah ibn Anas ibn Auf ibn Qosith ibn Mazin ibn Syiban ibn Dzuhl ibn Tsa’labah ibn Ukabah ibn Sho’b ibn Ali ibn Bakar ibn Wa’il adz-Dzuhli asy-Syibani al-Marwazi al-Bagdadi. Demikian silsilah keturunan Ahmad ibn Hanbal sebagaimana dibawakan oleh anaknya Abdullah dan dijadikan sandaran oleh Abu Bakar al-Khotib dalam kitab sejarahnya.[8]Amr an-Naqid berkata:” Jika Ahmad ibn Hanbal sepakat denganku dalam sebuah hadis maka saya tidak akan menghiraukan yang tidak tidak sepakat denganku”.[9]Abu Hatim bertanya kepada ayahnya tentang Ali al-Madini dan Ahmad ibn Hanbal; manakah diantara keduanya yang lebih kuat daya ingatnya? Ayahnya menjawab: “Kedua hampir sama dalam daya ingatnya, tetapi Ahmad lebih faqih. Jika kamu melihat seseorang yang mencintai Ahmad maka ketahuilah bahwa dia adalah shohib sunnah“.[10]Ibn Ruwat juga pernah berkata bahwa Ahmad adalah ahli fiqh, kuat daya ingat dan ma’rifat-nya.[11] Al-Husain ibn al-Hasan Abu Mu’in ar-Rozi mendengar dari Ibn al-Madini menyatakan bahwa tidak ada yang lebih kuat daya ingatnya dikalangan para ahli hadis dari Ahmad dan telah sampai kepadanya sebuah berita bahwa Ahmad tidak meriwayatkan hadis kecuali dari kitab.[12]Itu semua dikuatkan lagi oleh pernyataan Ibn Adi bahwa Abdul Mu’min ibn Ahmad aj-Jarjani bercerita kepadanya bahwa dirinya pernah mendengar dari Ammar ibn Raja’ yang mendengar dari Ahmad ibn Hanbal lansung bahwa dia selalu mencari sanad yang tinggi (isnadul uluw)[13]dalam sebuah hadis.[14]

Umar ibn Muhammad Arif an-Nahrawani dalam kitabnya Manaqib Ahmad ibn Hanbal mengutip pernyataan Ibn aj-Jauzi sebagai berikut: “Hadis sahih yang telah diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal berjumlah tujuh ratus lima puluh ribu, namun yang dimaksud dengan jumlah ini adalah jalur-jalurnya bukan matan-matan-nya. Dia menyusun musnadnya dari hadis-hadis tersebut yang kemudian diterima oleh ummat dengan sepenuh penerimaan dan penghormatan dan menjadikannnya tempat penyelesaian segala perselisihan“. Hanbal ibn Ishaq berkata: “Pamanku (Imam Ahmad bin Hanbal) mengumpulkan (hadis-hadis) untukku, Sholeh, dan Abdullah kemudian membacakannya untuk kami. Dan tidak pernah ada yang mendengarkan semua itu darinya secara sempurna selain kami. Kemudian dia berkata kepada kami: “Telah saya susun kitab ini (musnad) dan memilihkannya dari lebih tujuh ratus lima puluh ribu. Maka apapun yang diperselisihkan tentang hadis Rasullah maka kembalikanlah kepadanya, jika kalian mendapatkannya berada di dalamnya maka benar dan jika tidak, maka tidak dapat dijadikan hujjah”. [15]Dari pernyataan Ibn aj-Jauzi dapat ditarik bebarapa kesimpulan:1.   Ibn aj-Jauzi dengan tegas dan jelas mengatakan bahwa Musnad Ahmad merupakan kumpulan hadis-hadis sahih yang terpilih olehnya.  2.   Musnad Ahmad adalah musnad yang sangat populer.3.   Kaum Muslim menerimanya dengan penuh penerimaan dan penghormatan.4.   Kaum Muslim menjadikannya sebagai hujjah.5.   Kaum Muslim menjadikannya sebagai tempat penyelesaian perselisihan diantara meraka.6.   Ahmad ibn Hanbal memilih hadis-hadis yang dimuat di dalam musnad dari lebih tujuh ratus lima puluh ribu hadis.7.   Ahmad ibn Hanbal menyatakan bahwa hadis-hadis yang dimuat dalam musnad adalah hujjah sementara yang lainnya masih disangsikan. Ahmad ibn Hanbal tidak meriwatkan kecuali dari periwayat yang dapat dipercaya. At-Taqi as-Sabuki pernah menyebutkan bahwa Ahmad ibn Hanbal tidak pernah meriwayatkan sebuah hadis kecuali dari yang terpercaya.[16]Berdasarkan penilaian-penilaian positif para ulama terhadap Ahmad ibn Hanbal sebagai mukharrij yang dapat dipercaya dan kompeten (dhobith) maka hal itu menumbuhkan keyakinan bahwa ia benar-benar telah menerima hadis itu secara langsung dan akurat dari Abdullah ibn Namir.

b.     Adullah ibn Namir

Nama lengkapnya adalah Abdullah ibn Namir al-Hafidz al-Imam Abu Hisyam al-Hamadani al-Khorifi al-Kufi. Berkunyah Abu Hisyam dan wafat pada tahun 199 H..Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa Abdullah ibn Namir adalah ayahnya al-Hafidz al-Kabir Muhammad. Dia banyak meriwatkan dengan metode al-sama’ dengan lambang haddatsana dari Hisyam ibn Urwah, al-A’masy, Asy’ats ibn Suwar, Ismail ibn Abi Khalid, Yazid ibn Abi Ziyad, Ubaidillah ibn Umar dan beberapa lagi. Kemudian telah meriwayatkan darinya Ahmad ibn Hanbal, Ibn Mu’in, Ibn al-Madini, Ishaq al-Kusj, Ahmad ibn Furot, al-Hasan ibn Ali ibn Affan, Kholaq, Tsiqoh Yahya ibn Mu’in, dan lainnya. Abdullah ibn Namir termasuk para pembesar Ashabul Hadis. Dia meninggal di tahun 199 pada umur 84 tahun.[17]Ibn Hajar memberikan penilaian positif terhadap Abdullah ibn Namir. Menurut Ibn Hajar, Abdullah ibn Namir adalah seorang terpercaya shohib hadis dari kalangan ahlu as-sunnah dan termasuk sembilan tokoh besar.[18]Selanjutnya Ibn Hajar menukil pernyataan Abu Na’im bahwa Sufyan pernah ditanya tentang Abu Khalid al-Ahmar, dia menjawab sebaik-baiknya laki-laki adalah Abdullah ibn Namir. Usman ad-Darimi berkata bahwa ia pernah bertanya kepada Yahya ibn Mu’in apakah Ibnu Idris lebih kamu sukai dari Ibn Namir dalam meriwayatkan dari al-A’masy? Yahya menjawab bahwa keduanya sama-sama terpercaya. Kemudian Ibn Hajar melanjutkan bahwa, menurut Abu Hatim’, Abdullah ibn Namir mustaqimul amr dan Ibn Hibban menggolongkannya pada orang-orang terpercaya. Al-Ajili juga pernah mengatakan bahwa Abdullah ibn Namir adalah terpercaya, sholihul hadis, dan shohib sanah. Menurut penilaian Ibn Sa’ad Abdullah adalah terpercaya, banyak meriwayatkan hadis, dan jujur.[19]Berdasarkan penilaian-penilaian positif yang dikemukakan oleh para ulama’ hadis dan diperkuat dengan metode periwayatan yang digunakan oleh Abdullah ibn Namir adalah al-sama’ yang menurut para ahli hadis tingkat keakuratan sangat tinggi.[20]membuktikan bahwa ia benar-benar dapat dipercaya telah meriwayatkan dengan jujur dari Abdul Malik secara langsung.

c.      Abdul Malik

Nama lengkapnya adalah Abdul Malik ibn Abi Sulaiman al-Arzumi. Kunyahnya adalah Abu Muhammad dan wafat pada tahun 145 H.. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ayah Abdul Malik adalah Abi Sulaiman yang nama sebenarnya adalah Muyassaroh Abu Muhammad dan disebut juga Abu Abdillah al-Arzumi. Dia telah meriwatkan dari Anas ibn Malik, Atho’ ibn Abi Robah, Sai’d ibn Jubaer. Ibn Mahdi berkata: Abdul Malik adalah syu’bah yang menakjubkan dalam hafalannnya. Ibn al-Mubarok menukil dari Sufyan bahwa huffadz an-naas adalah Ismail ibn Abi Kholid, Adul Malik ibn Abi Sulaiman. Para ulama Ahlu Sunnah seperti Ibn A’eniyyah, Abu Dawud, al-Hasan ibn Hibban, Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal, Sholeh ibn Ahmad, al-Maemuni, Abu Zar’ah ad-Dimasyqi, Utsman ad-Darimi, Ibn Mu’in, Ibn Ammar al-Mushili, al-Ajli, Ya’qub ibn Sufyan, an_nasa’i, Hatsam ibn Adi, as-Saji bersepakat bahwa Abdul Malik adalah periwayat yang terpercaya. At-Tirmidzi menilainya sebagai periwayat yang terpercaya dan beramanat yang tidak ada meragukannya kecuali Syu’bah. [21]Ringkasnya kejujuran Abdul Malik ibn Abi Sulaiman telah disepakati oleh banyak  para ulama Ahlu Sunnah, kecuali Syu’bah yang meragukan kejujurannya itupun ditolak oleh para ulama’.Berdasarkan penilaian positif diatas yang diberikan banyak para ulama’ untuk Abdul Malik, maka hal itu dapat dijadikan sebagai bukti bahwa Abdul Malik benar-benar secara jujur dasn dapat dipercaya telah meriwayatkan dari Atiyyah ibn Sa’ad.

d.     Atiyyah ibn Sa’ad

Nama lengkapnya adalah Atiyyah ibn Sa’ad ibn Janadah al-Aufi al-Jadali. Kunyahnya adalah Abu al-Hasan dan wafat pada tahun 110 H..Ibn aj-Jauzi melemahkan kualitas hadis yang  diriwayatkan oleh Atiyyah, tetapi penilaian negatif aj-Jauzi terhadapnya tertolak dan terbantah oleh penilaian positif yang dikemukakan oleh Ibn Sa’ad tentangnya. Ibn Hajar menyatakan bahwa Ibn Sa’ad pernah bercerita bahwa Atiyyah Atiyyah keluar bersama Asy’ats, kemudian al-Hajjaj memerintahkan Muhammad ibn al-Qosim untuk memaksanya mencela Ali dan jika menolaknya diperintahkan untuk dihukum cambuk sebanyak empat ratus kali dan dicukur jenggotnya, maka dia memintanya tetapi ditolak. Maka berjalanlah hukuman al-Hajjaj atasnya. Kemudian Atiyyah menuju Khurasan dan menetap disana hingga Umar ibn Hubaeroh memimpin Iraq dan ia berpindah kesana sampai akhirnya meninggal pada tahun 110 H.. Dia, Insya Allah, terpercaya dan memiliki hadis-hadis yang sholih meskipun ada yang tidak menjadikannya sebagai hujjah.[22]Penilaian positif yang diberikan oleh Ibn Sa’ad merupakan bukti yang sangat kuat tentang kesahihan riwayat Atiyyah. Adapun pernyataan ad-Dauri, seorang ulama besar yang terpercaya, bahwa Atiyyah menurut Ibn Mu’in adalah periwayat yang lemah terbantah oleh apa yang dinukil oleh Ibn Hajar bahwa Ibn Mu’in justru menilai Atiyyah sebagai periwayat yang sholih.[23]Atiyyah merupakan periwatnya hadisnya Ahmad ibn Hanbal dan Ahmad tidak meriwatkan kecuali dari periwayat yang dapat dipercaya. At-Taqi as-Sabuki pernah menyebutkan bahwa Ahmad ibn Hanbal tidak pernah meriwayatkan sebuah hadis kecuali dari yang terpercaya.[24]Oleh karenanya tidak dapat disangsikan lagi bahwa periwayatan Atiyyah dari Sa’ad ibn Malik secara lansung dapat diterima.

e.     Sa’ad ibn Malik

Nama lengkapnya adalah  Sa’ad ibn Malik ibn Syaeban ibn Ubaid ibn Tsa’labah ibn al-Abjar ibn Auf ibn al-Harits ibn al-Khozroj. Berkunyah Abu Said  al-Anshori al-Khudzri. Dia termasuk yang terkenal dan terhormat dari para sahabat dan banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw.. Berperang bersama Rasulullah saw. selama dua belas tahun.Dari kalangan para sahabat yang meriwayatkan darinya adalah Jabir, Zaid ibn Tasbit, Ibn Abbas, Anas , Ibn Umar, Ibn az-Zubair. Dan dari kalangan tabi’in adalah Said ibn al-Musayyab, Abu Salamah, Ubaidillah ibn Abdullah ibn Atabah,   Atho’ ibn Yasar, Abu Umamah ibn Sahl ibn Hunaif, dan banyak lagi.Sa’ad ibn Malik meninggal pada tahun 74 H. hari jum’at dan dikuburkan di Baqi.[25]Karena dalam kaidah ilmu hadis seorang sahabat  sebagai periwayat pertama tidak perlu diteliti kembali, maka tidak perlukan lagi untuk meneliti keadilan dan ketsiqahan Sa’ad  ibn Malik, disamping kepribadiannya yang terkenal.Oleh karenanya periwayatan Sa’ad ibn Malik dalam hadis ini dari Nabi saw. dapat diterima sepenuhnya.

2.     Penelitian Adanya Syuzuz dan Illah

Syuzuz adalah periwayatan seorang tsiqah yang berlawanan dengan periwayatan yang lebih kuat dan diunggulkan dari segi kualitas hafalan para periwayat, kuantitasnya dan lainnya.[26]Menurut as-Subhani, syuzuz tidak bertentangan dengan kesahihan hadis. Mungkin saja sebuah hadis yang terdapat syuzuz termasuk dalam kategori hadis sahih meskipun tidak menjadi hujjah (wajib dilaksanakan isinya).[27]Jadi, hadis syad dihukumi sahih meskipun tidak hujjah.[28]Sedangkan illah adalah periwayatan yang nampak lahiriahnya sahih dan terhindar dari kelemahan tetapi menyimpan dan menyembunyikan hal-hal samar yang dapat melemahkan kualitas sanad maupun matan. Kecuali oleh para ahli hadis, baik dalam riwayat maupun riwayat, sulit ditemukan hal-hal tersebut. Keberadaan  illah  dalam hadis menunjukan kelemahannya dan tidak bisa menjadikannya sahih, karena keyakinan, kemungkinan besar, atau sebanding bahwa dalam suatu hadis terdapat illah tidak memungkinkan hadis itu untuk diyakini sahih. Maka hadis sahih adalah yang terhindar dari syuzuz dan illah.[29]   Berdasarkan penelitian diatas maka pertama, seluruh periwayat masing-masing berkreteria dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Kedua, sanad hadis yang menjadi objek penelitian bertalian dan bersambung mulai dari Ahmad ibn Hanbal selaku mukharrij sampai kepada Sa’ad ibn Malik sebagai periwayat pertama yang berhubungan langsung dengan Rasulullah saw..Jadi, sanad Ahmad ibn Hanbal dalam periwayatan hadis ini sangat tinggi kemungkinannya terhindar dari syuzuz dan illah , karena disamping kualitas sanad yang tinggi juga didukung oleh sanad-sanad lain yang statusnya lebih kuat seperti Muslim. Sesuai dengan tolak ukur kesahihan hadis dan penelitian di atas, maka hadis ini berkualitas sahih.

3.     Hasil Penelitian Sanad

Dari skema nampak jelas, bahwa hadis yang diteliti memiliki banyak sanad. Bahkan dikarenakan banyaknya sanad, baik dari kalangan sahabat maapun tabi’in,[30] maka bisa diyakini bahwa hadis ini adalah hadis mutawatir. Tetapi dalam makalah ini sengaja hanya disebutkan empat periwayat pada tingkat pertama, meskipun masih sangat banyak lagi, karena penelitian dalam makalah ini dibatasi pada apa yang dimuat dalam al-Kutub at-Tis’ah saja, itupun masih terfokus pada hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad melalui periwayat pertama, Sa’ad ibn Malik dan periwayat terakhir, Abdullah ibn Namir.Kemuwatiran hadis ini ditegaskan oleh pernyataan Ibn Hajar,”Ketahuilah bahwa perintah berpegang kepada dua pusaka ini memiliki jalur lebih dari dua puluh sahabat”.[31]Kemudian juga berkata,”Tidak diragukan lagi bahwa hadis ini (ats-Tsaqolain) sahih dan telah diriwayatkan oleh sekelompok ulama, separti at-Turmudzi, an-Nasa’i dan Ahmad. Jalur-jalurnya banyak sekali. Hadis ini diriwayatkan oleh enam belas sahabat, dan menurut pernyataan Ahmad, hadis ini didengar langsung dari Nabi saw. oleh tiga puluh sahabat. Dan banyak dari jalur itu yang sahih dan hasan, tidak perlu dihiraukan yang meragukan kesahihannya”.[32]

D. Analisa  dan Kritik Matan

1.     Penelitian Kemungkinan Adanya Syuzuz dan Illah dalam Matan

Tolak ukur yang dijadikan acuan dalam menentukan kesahihan matan hadis adalah jika tidak bertentangan dengan a. akal sehat, b.ketentuan al-Qur’an yang muhkam, c. hadis mutawatir, d. amalan ulama salaf, e. dalil-dalil yang pasti, f. hadis-hadis ahad yang kesahihannya lebih kuat.[33]Dalam hadis tidak tampak dan ditemukan aspek-aspek yang menyebabkan kelemahan dalam matan sehingga membuatnya menjadi dhaif.

2.     Penelitian Susunan Matan yang Semakna

Untuk memahami perbedaan redaksi pada matan hadis-hadis ats-Tsaqolain, penjelasan perbedaan sejarah penyampaian hadis-hadis tersebut sangat penting. Karena hadis-hadis itu disampaikan pada waktu dan kesempatan yang berlainan disesuaikan dengan kondisi yang berlaku, redaksi matan hadis-hadis itu menjadi beragam, meskipun, seperti dikemukakan oleh Ibn Hajar, hal itu tidak menunjukan pertentangan sebab tidak alasan untuk tidak menyakini bahwa Rasulullah mengulang-ulang pesan penting itu kepada para sahabat di tempat yang berlainan dengan tujuan menumbuhkan perhatian yang serius terhadap kitab Allah dan keluarga Nabi saw..[34]Periwayatan makna saja juga tidak kecil pengaruhnya pada keberagaman matan hadis. Tidak tertutup kemungkinan perbedaan matan hadis-hadis diatas dikarenakan metode periwayatan makna saja yang digunakan oleh para perantara kesinambungan hadis meski masih dalam bayang-bayang semangat Nabi saw., tanpa bahasa yang sama persis seperti yang dikatakan oleh Nabi saw.. Meskipun terdapat perbedaan dalam ungkapan hadis-hadis ats-Tsaqolain tetapi semuanya menunjuk pada suatu realita bahwa Nabi mewasiatkan dua pusaka penting yang harus dilestarikan dan diamalkan adalah kitab Allah dan keluaraga Nabi saw..

III. SYARAH HADIS

A.     Arti Hadis

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan pada dua pusaka, yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat sepeninggalku. Yang satu lebih agung dari yang lain, yaitu kitab Allah sebagai tali penghubung antara langit dan bumi, dan keluargaku, yaitu ahl baitku. Keduanya tidak akan berpisah selamanya sampai berjumpa denganku di telaga haudh.”

B.      Analisis Sosio-historis

Hadis-hadis yang menerangkan keutamaan al-Qur’an dan Ahlulbait disampaikan oleh Rasullah saw. berkali-kali dalam tempat dan kesempatan yang berbeda-beda. Hal itu karena pentingnya permasalahan yang disampaikan sehingga para sahabat dapat memahami dan menyadari pentingnya peran al-Qur’an dan Ahlubait sepeniggal beliau. Rasullah benar-benar menekankan keharusan berpegang kepada keduanya agar umat islam terhindar dari kesesatan. Ats-Tsaqalain (Al-Qur’an dan Ahlulbait) adalah wasiat penting Rasulullah sebagai sumber petunjuk menuju jalan yang benar. Ini merupakan bukti kepedulian Rasulullah saw. terhadap masa depan kaum muslimin setelah wafatnya, sehingga tidak masuk akal apabila Rasulullah tidak memikirkan pelanjut misi kenabian pasca kenabiannya, karena hal itu adalah penting bagi kelangsungan masyarakat dan agama islam. Masalah siapa pelanjut Rasullah setelah wafat dapat diyakini telah dipikirkan oleh beliau, bahkan diberitahukan kepada para sahabat. Apakah mungkin ada orang lain lebih tahu dan peduli terhadap misi kenabian pasca Rasulullah daripada Rasullulah sendiri, sehingga mereka begitu sibuk memikirkan dan memusyawarahkan siapa pelanjut misi kenabian?

C.     Kandungan Matan Hadis

Kandungan matan seluruh hadis, baik yang diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal atau lainnya, secara sama menunjuk pada kenyataan bahwa Nabi saw. telah meninggalkan dua pusaka, kitab Allah dan keluarganya, untuk  dijadikan pedoman dalam menempuh jalan yang benar, tidak sesat dan menyesatkan.Dalam hadis ini ada dua kata penting yaitu kitabullah (kitab Allah) dan ithrah. Adalah jelas sekali bahwa kitab Allah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.. Sedangkan ithrah secara harfiah, menurut Jauhari dalam kamus as-Sihhah adalah keturunan dan keluarga dekat, demikian juga menurut Ibn Sayyidih dalam al-Mukhashshas dan Ibn al-Atsir dalam Nihayah. Namun siapakah ithrah yang harus dijadikan panutan? Rasulullah saw. dalam hadis tesebut menjelaskan bahwa ithrah-nya adalah ahl bait-nya. Siapakah yang dimaksud dengan ahl bait-nya adalah pertanyaan selanjutnya. Menurut Ibn Hajar, sesuai kesimpulan yang ia tarik dari hadis ats-Tsaqalain, ahl bait adalah para ulama’ keturunan Rasulullah SAW.. Mereka, tegas Ibn Hajar, adalah orang-orang arif yang memahami kitab Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak akan pernah berpisah dari al-Qur’an sampai di telaga haudh. Dilarang menggurui mereka mereka lebih pandai. Dan mereka disucikan olaeh Allah dari dosa-dosa; sebuah keistimewaan yang tidak pernah diberikan kepada pada manusia biasa dan para ulama’ lain.Ahl bait akan selalu ada sepanjang zaman karena mereka tidak akan pernah berpisah dari al-Qur’an selamanya.[35] Selama ada al-Qur’an disana juga ada ahl bait yang selalu mendampinginya dalam segala keistimewaannya. Dari sabda Nabi saw.: “wa annahuma lan yaftariqo hatta yarida alayyal haudh” (Keduanya tidak akan berpisah selamanya sampai berjumpa denganku di telaga haudh) dapat ditarik beberapa kesimpulan penting, yaitu:Pertama, ahlul bait harus terjaga dari perkataan maupun perbuatan dosa karena apabila mereka berkata tidak benar atau berbuat dosa maka mereka telah berpisah dari al-Qur’an sebagai kitab Allah yang tidak disusupi kebatilan, baik kabatilan yang berbentuk kesalahan maupun dosa. . Karena keterjagaan dari dosa, yang merupakan sifat al-Qur’an, selalu menyertainya, maka ahl bait pun niscaya demikian. Sementara mereka selalu bersamaan dengan al-Qur’an dan tidak mungkin dapat berpisah darinya, maka mereka juga tidak akan pernah berkata dan berbuat salah dan dosa. Mereka selalu terjaga dari kesalahan dan dosa. Kedua, semua keistimewaan al-Qur’an, seperti petunjuk, pemisah antara kebenaran dan kebatilan, bijaksana, tidak ada keraguan di dalamnya, dan seterusnya, juga merupakan keistimewaan ahl bait sebab jika tidak demikian maka mereka telah berpisah dai al-Qur’an. Keistimewaan mereka tidak akan berpisah dari al-Qur’an dan sebaliknya.

D.     Ayat dan Hadis terkait

Dalam al-Qur’an ada beberapa ayat yang menerangkan keutamaan ahl bait, seperti ayat al-Ahzab 33: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghindarkan dosa dari kamu, hai ahlu bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”Adapun hadis-hadis yang terkait dengan hadis ats-Tsaqolain secara langsung sangat banyak sekali yang telah ditakhrij oleh mukharrij-mukharrij lain dalam kitab-kitab mereka selain al-Kutub at-Tis’ah.

IV. PENUTUP

Berdasarkan penelitian diatas, maka dapat dikatakan bahwa hadis ats-Tsaqolain yang diriwayatkan oleh Ibn Hanbal berkualitas hadis sahih, bahkan mutawatir Hadis tersebut selain mendapat dukungan dari hadis-hadis lain, juga seiring  dengan al-Qur’an.

____________________
[1] A.J. Wensuck, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadis al-Nabawiy, (Leiden: E.J. Brill, 1936), juz I, hal. 236, juz III, hal.516 dan 518, juz V, hal 134, dan juz VII, hal.120.
[2] Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, (beirut: Dar al-Fikr), Jilid III, h. 27.
[3]Al-Imam al-Hafidz Abi Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), V. 5 , hal. 327-328.
[4]Al-Imam Abdullah ibn Abdurrahman ibn al-Fadhl ibn Bahrom ibn Abdusshomad at-Tamimiy as-Samarqandi ad-Darimiy, Sunan ad-Darimy, (Dar Ihya’i at-Turots), V. II, hal. 431.
[5]Al-Imam Abu al-Husain Muslim ibn Hajjaj ibn Muslim, Sahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, (Beirut: Dar al-Fikr), jilid IX, V. 15, hal. 179-181.
[6] M. Syuhudi Isma’il, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 52.
[7] Hafidz Hasan al-Mas’udi, Minhatul Mughits (Surabaya: Maktabah al-Hikmah) h.29.
[8] Al-Imam Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman adz-Dzahabi, Siyarun Nubala’, (Beirut: Muassatur Risalah, 1986) V. XI, h. 177-178.
[9] Ibid, h. 198.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Ibid, h. 200.
[13]Mencari sanad yang tinggi kualitasnya adalah kebiasaan para imam salaf. Maka banyak para imam dan penghafal bepergian ke penjuru dunia untuk mencari sanad yang tinggi kualitasnya. Jika sanad itu tinggi maka sangat jauh kemungkinan untuk salah dan cacat. Paling baiknya sanad yang tinggi adalah sanad yang mendekati Rasullah saww dan sahih, yaitu terhindar dari kelemahan.
[14] Al-Imam Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman adz-Dzahabi, Siyarun Nubala’, (Beirut: Muassatur Risalah, 1986) V. XI, h. 311.
[15] Ibid, h. 329.
[16]Dinukil dari Nafahatul Azhar fi Khulasotul Abaqotul Anwar, karya Sayyid Hamid Husain al-Locknowi,V.II, h. 41.
[17] Adz-Dzahabi, Tadzkirotul Huffadz,(Beirut).
[18] Ibn Hajar, Taqribut at-Tahdzib, (Beirut)
[19] Ibid.
[20] M. Syuhudi Isma’il, MetodologiPenelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992) h.82.
[21]Ibn Hajar al-Asqolany, Tahdzibu at-Tahdzib, (Beirut, V. VI, hal.396.)
[22]Ibid, V. VII, hal.226
[23] Ibid, hal.225
[24]Dinukil dari Nafahatul Azhar fi Khulasotul Abaqotul Anwar, karya Sayyid Hamid Husain al-Locknowi,V.II, h. 41.[25]Izzuddin ibn al-Atsir Abi al-Hasan Ali ibn Muhammad al-Jazri, Usudul Ghobah, (Beirut: Darul Fikr) V. II, h. 213. Ibn Hajar, Al-Ishobah fi Tamyizis Shohabah, (Beirut: Darul Fikri, 1978) V. II, h. 35.
[26]Hafidz Hasan al-Mas’udi, Minhatul Mughits (Surabaya: Maktabah al-Hikmah) h.25.
[27]Ja’far as-Subhani, Ushulul Hadis wa Ahkamuhu fi Ilmid Diroyah, (Muassasah Imam Shodiq, 1414 H.) hal.56.
[28]Ibid, hal. 83.
[29]Ibid, hal.57.
[30]Untuk mengetahui lebih lanjut nama-nama mereka, lihat Sayyid Hamid Husain al-Locknowi, Nafahatul Azhar fi Khulasotul Abaqotul Anwar, V.I dan II.
[31]Ibn Hajar, As-Showaiq al-Muhriqoh, (Mesir: Al-Maktabah al-Maemuniyyah) h. 150.
[32]Ibid, hal. 42.
[33]Drs. H.M Djamaluddin Miri, Lc, Balasan Istimewa Bagi Hamba Allah yang Saleh dalam Hadis, hal.22.
[34]Ibn Hajar, Ash-Showa’iq al-Muhriqoh, (Mesir: Al-Maktabah al-Maemuniyyah),hal.150.
[35] Ibid,hal.150-151.

Sumber: Islamku.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: