<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kajian Islam</title>
	<atom:link href="http://kajianislam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kajianislam.wordpress.com</link>
	<description>Pustaka Tulisan Islam</description>
	<lastBuildDate>Sun, 11 Oct 2009 03:30:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='kajianislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/adcacee71848fefe8568b58d1a5a6529?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kajian Islam</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Apakah/Mengapa Kejadian Gempa Sumtera, Jawa dihubungkan dengan Ayat Al Qur’an?</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/10/11/apakahmengapa-kejadian-gempa-sumtera-jawa-dihubungkan-dengan-ayat-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/10/11/apakahmengapa-kejadian-gempa-sumtera-jawa-dihubungkan-dengan-ayat-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 03:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Apakah/Mengapa Kejadian Gempa Sumtera, Jawa dihubungkan dengan Ayat Al Qur’an?
SUMBER: Blog Sains-Inrelegion


Pertanyaan yang aneh tapi nyata.  Facebook dan blog-blog dan berita lainnya tergerak untuk membuat hubungan kejadian luar biasa dengan sejumlah ayat-ayat suci.  Bahkan beberapa tokoh agama juga tergerak minatnya untuk juga ikut menghubung-hubungkan.  Semua jawaban akhirnya akan berpulang pada wallahu a’lam, atau Allah Swt [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=224&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><span style="color:#003366;">Apakah/Mengapa Kejadian Gempa Sumtera, Jawa dihubungkan dengan Ayat Al Qur’an?</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">SUMBER:</span> <a href="http://agorsiloku.wordpress.com/2009/10/08/apakahmengapa-kejadian-gempa-sumtera-jawa-dihubungkan-dengan-ayat-al-quran/" target="_blank">Blog Sains-Inrelegion</a></strong></p>
<div>
<div>
<p>Pertanyaan yang aneh tapi nyata.  Facebook dan blog-blog dan berita lainnya tergerak untuk membuat hubungan kejadian luar biasa dengan sejumlah ayat-ayat suci.  Bahkan beberapa tokoh agama juga tergerak minatnya untuk juga ikut menghubung-hubungkan.  Semua jawaban akhirnya akan berpulang pada wallahu a’lam, atau Allah Swt yang lebih mengetahui.  Kita boleh jadi sedikit tahu, sedikit memahami, sedikit menghubung-hubungkan, dan sejumlah kebetulan lainnya yang betul-betul.</p>
<p>Sebelum dibahas lanjut, mari kita berpatokan pada penjelasan AQ 6:59 <em>D<span style="color:#000080;">an pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya</span></em><span style="color:#000080;"> </span>(pula), <span style="color:#000080;"><em>dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata</em></span> (Lauh Mahfudz). (terj. Depag)</p>
<p><span id="more-224"></span></p>
<p>Ini merupakan komitmen dari wallahu a’lam.</p>
<p>Saya sendiri tidak berani menyalahkan dan apalagi membenarkan semua keterhubungan yang dibuat oleh kita dalam segala keterbatasan logika dan pengetahuan.  Namun, saya percaya bahwa segala apa yang terjadi di permukaan bumi ini, di luar, atau di dalamnya semuanya adalah by design.  Tidak ada kebetulan dan semua adalah keniscayaan.  Tidak ada yang tidak memiliki ukuran dan potensi untuk terjadinya sebuah kejadian sederhana sampai menjadi sebuah resultante bencana yang luar biasa.  Dan semuanya sudah “tertulis” dalam kitab yang nyata. Tertulis seperti apa, wallahu a’lam.  Ilmu pengetahuan, teknologi, dan segala sumber turutannya memahamkan kita bagaimana konsepsi-konsepsi sebagian kecil dari ilmu Allah dipahamkan kepada manusia.</p>
<p><span style="color:#000080;"><strong>Waktu gempa dan ayat?</strong></span></p>
<p>Pertanyaan yang bergulir pada kejadian gempa (yang menelan korban jiwa besar) adalah waktu yang dipakai oleh stasiun pengamat gempa, kecepatan gelombang gempa saat tiba gempa (ke permukaan bumi) dan waktu terjadinya gempa dari pusat gempa di kedalaman bumi.   Jadi, setidaknya ada 3 komponen yang perlu dilihat (dalam pengetahuan kita) : pusat gempa, perjalanan gelombang gempa ke tempat kejadian, dan kedalaman kejadian gempa.</p>
<p><strong>Tempat  Gempa</strong>, diperkirakan berdasarkan laporan stasiun pengamat gempa di kedalaman sekian sampai sekian.  Kalau disebut kedalaman 70 km ya artinya antara 67-100 atau kalau disebut 30 km antara 0-34 km.  Artinya ada unsur ketidak pastian, karena alat yang dimiliki memiliki faktor koreksi dan perkiraan.</p>
<p><strong>Waktu kejadian</strong>, waktu kejadian dalam beberapa kasus ini dihubungkan dengan perhitungan kalendar matahari (teristial day).  Matahari dan Bulan dalam Al Qur’an memang disebutkan sebagai alat bantu bagi manusia untuk melakukan perhitungan.  Al Kahfi juga menjelaskan antara perbedaan waktu hitung pemuda yang tidur dalam gua, 300 tahun dan 9 tahun lagi.  Meskipun keduanya (matahari dan bulan) digunakan sebagai alat hitung manusia, namun Al Qur’an dalam pembahasan aturan dan kelengkapannya menggunakan perhitungan kalender bulan (Hijriah), bukan matahari (Syamsiah).  Jadi, mengapa hitungan pada hubungan ini menggunakan ayat dalam hitungan waktu masehi?, bahkan lebih spesifik lagi menggunakan WIB (Waktu Indonesia Bagian Barat).  Bagaimana dengan kejadian gempa di Nabire?, apakah menggunakan WIT?, atau Bali dimana antara Kota Banyuwangi dan Kota Negara (Bali) yang jaraknya terpisah beberapa kilometer, tapi waktunya berselisih satu jam?.</p>
<p><strong>Informasi dan Keterhubungan?</strong></p>
<p>Pertanyaan berikutnya yang menggeluti pikiran adalah, gempa ini dicatat dengan ketepatan waktu berapa oleh BMG, menit atau sampai detik, kalau misal jam 12.58.29 dan 29.59.01  dicatatnya bagaimana?.</p>
<p>Bahwa pada suatu peristiwa dilakukan perhitungan seperti yang dilakukan oleh rekan <a href="http://stefano-albiruni.blogspot.com/2009/10/gempa-sumatera-barat-dan-angka-19.html" target="_blank">menggunakan kelipatan 19 bisa direnungi lebih ke dalam</a>.  Sejumlah kejadian alam semesta (seperti komet Halley, tiba 76 tahun sekali, alias habis dibagi 19).   Kita dapat memahami bahwa semua unsur kejadian adalah kombinasi matematis yang tidak sederhana (dan bisa disederhanakan dengan sejumlah pengabaian perhitungan).  Dengan kata lain, kejadian besar kecil, baik buruk, tentu ada mekanisme yang mengendalikannya.</p>
<p>Namun :</p>
<p>Kalau ayat AQ 17:16 digunakan untuk menjelaskan  : <span style="color:#ff0000;"><strong><em>Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada  orang-orang yang hidup mewah di negeri itu</em><span style="color:#000000;"> (supaya mentaati Allah)</span> <em>tetapi mereka  melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku  terhadapnya perkataan </em><span style="color:#000000;">(ketentuan Kami)</span>, <em>kemudian Kami hancurkan negeri itu  sehancur-hancurnya</em></strong></span>.</p>
<p>Untuk menjelaskan kejadian di Padang dan sekitarnya.  Maka pertanyaan berikutnya (kalau kita membenarkannya) maka “Nagari Padang” masuk kriteria ini, … Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya?. (ayat yang menjelaskan tentang negeri yang dihancurkan juga menerangkan kaum mana yang dihancurkan oleh Allah).  Dengan kata ayat menjelaskan tentang kebijakan Allah untuk mengambil keputusan atas perilaku sebuah negeri !.</p>
<p>Bukankah kita tidak tahu, bukankah <a title="gempa-padang-berkaitan-dengan-ayat-al-quran" href="http://go2.wordpress.com/?id=725X1342&amp;site=agorsiloku.wordpress.com&amp;url=http%3A%2F%2Fpublic.kompasiana.com%2F2009%2F10%2F05%2Fgempa-padang-berkaitan-dengan-ayat-al-quran%2F" target="_blank">kita tidak dibenarkan berprasangka</a>, terlebih lagi jika prasangka itu menggunakan “pembenaran” ayat suci !.  Subhanallah, bagaimana pula perasaan saudara-saudara kita yang terkena musibah terhadap pernyataan ini?.</p>
<p>Perlukah/Pantaskah?.</p>
<p>Wah, susah juga ya menjawabnya.  Namun, tentu saja kita sebagai ummat Islam yang dari padanya kita diajarkan melihat ilmu dan pengetahuan perlu bertanya : apakah dampak sosial/budaya terhadap kitab Al Qur’an dan pandangan manusia jika kejadian-kejadian musibah besar (atau kecil) dikaitkan dengan cara ini.  Bagaimana kalau kita mempercayai dan meyakininya.  Bagaimana kalau hitungan serupa atau sejenisnya disampaikan oleh yang berkompeten (tokoh) untuk kejadian yang belum terjadi?</p>
<p>Begitu juga hitungan-hitungan waktunya.</p>
<p>Tentu, tulisan ini sama sekali tidak meremehkan musibah atau bencana dari sudut pandang rahmat Allah atau azab, namun setidaknya menghubungkan informasi dengan kejadian dengan dasar argumentasi yang kebenarnnya kita juga kita juga masih terperangah sebaiknya kita simpan saja.  Ada kekhawatiran, bahwa syiar dengan model ini bisa menimbulkan sisi yang berbeda dengan apa yang sebenarnya sehngga kita terperangkap dalam keterperdayaan……</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=224&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/10/11/apakahmengapa-kejadian-gempa-sumtera-jawa-dihubungkan-dengan-ayat-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prof. Quraish Shihab: “Musibah; Rahmat atau Murka Tuhan?”</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/10/07/prof-quraish-shihab-%e2%80%9cmusibah-rahmat-atau-murka-tuhan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/10/07/prof-quraish-shihab-%e2%80%9cmusibah-rahmat-atau-murka-tuhan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 12:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Prof. Quraish Shihab: “Musibah; Rahmat atau Murka Tuhan?”
SUMBER: ejajufri.wordpress.com
[ Diambil dari Metro TV 2 Januari 2005, dengan perubahan teks seperlunya.]
Musibah dalam bahasa Indonesia diartikan “bencana”, “kemalangan”, “cobaan”. Dalam Al-Quran ada 67 kali kata yang seakar dengan kata musibah dan 10 kali kata musibah. Musibah pada mulanya berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai”. Sebenarnya sesuatu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=219&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><span style="color:#003366;">Prof. Quraish Shihab: “Musibah; Rahmat atau Murka Tuhan?”</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://ejajufri.wordpress.com/2009/10/04/musibah-rahmat-atau-murka-tuhan/" target="_blank">ejajufri.wordpress.com</a></strong></p>
<p><span style="color:#003366;">[<em> </em>Diambil dari <em>Metro TV</em> 2 Januari 2005, dengan perubahan teks seperlunya.]</span></p>
<p><a href="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/10/qureish.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-221" title="qureish" src="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/10/qureish.jpg?w=177&#038;h=201" alt="qureish" width="177" height="201" /></a>Musibah dalam bahasa Indonesia diartikan “bencana”, “kemalangan”, “cobaan”. Dalam Al-Quran ada 67 kali kata yang seakar dengan kata musibah dan 10 kali kata musibah. Musibah pada mulanya berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai”. Sebenarnya sesuatu yang menimpa itu tidak selalu buruk. Hujan bisa menimpa kita dan itu dapat merupakan sesuatu yang baik. Memang, kata musibah konotasinya selalu buruk, tetapi karena boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu, sebenarnya baik, maka <span style="text-decoration:underline;">Al-Quran menggunakan kata ini untuk sesuatu yang baik dan buruk</span> (QS. Al-Baqarah : 216)</p>
<p><span id="more-219"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Quran mengisyaratkan bahwa tidak disentuh seseorang oleh musibah kecuali karena ulahnya sendiri, tetapi disisi lain, ketika Al-Quran berbicara tentang <em>balâ`</em>, dikatakannya musibah itu datang dari Allah swt. Tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas izin Allah ketika kita berbicara tentang bala (yang diartikan juga bencana). Sebenarnya bala pada mulanya berarti “menguji” bisa juga berarti “menampakkan”. Seseorang yang diuji itu dinampakkan kemampuannya.</p>
<p><span id="more-1371"> </span></p>
<p style="text-align:justify;">Itu sebabnya Allah swt menyatakan: <em>“Allah yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.”</em> (QS. Al-Mulk : 2). Kita lihat ujian/bala datangnya dari Tuhan. <em>“Kami pasti akan menguji kamu sampai Kami tahu siapa orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan bersabar.”</em> (QS. Muhammad : 31) Allah menurunkan bala tanpa campur tangan manusia. <em>“Kami pasti menurunkan sedikit rasa takut, sedikit rasa lapar… Berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”</em> (QS. Al-Baqarah : 255)</p>
<p style="text-align:justify;">Hidup ini ujian. Ujian ini bisa berupa sesuatu yang disenangi, bisa juga berbentuk sesuatu yang tidak disenangi. <span style="text-decoration:underline;">Siapa yang mengira bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Tuhan maka dia telah keliru. Siapa yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Tuhan, itupun dia telah keliru</span>. Allah mengecam kepada orang-orang yang apabila diberi nikmat oleh Tuhan, lantas berkata, “Saya disenangi Tuhan,” dan kalau Tuhan menguji dia sehingga mempersempit hidupnya, dia lantas berkata, “Tuhan membenci saya, Tuhan menghina saya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan duga, saudara-saudara kita yang meninggal dan ditimpa musibah itu dibenci Tuhan. Jangan duga yang menderita itu dimurkai Tuhan. Jangan duga yang berfoya-berfoya disenangi Tuhan. <em>Kallâ!</em> Tidak! Di sini Allah menggunakan kata <em>balâ`</em> yang artinya menguji, karena itu <span style="text-decoration:underline;">jangan cepat-cepat berkata bahwa bencana itu murka Tuhan</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dulu zaman Nabi, banyak sahabat gugur di medan perang, terluka sekian banyak sahabat Nabi, bahkan Nabi pun terluka. Allah swt pasti tidak benci pada Nabi, sehingga beliau terluka. Allah pasti merestui sahabat yang gugur itu, walaupun mereka menderita. Ketika itu turun ayat: <em>“Jangan merasa rendah hati, jangan merasa terhina, jangan larut dalam kesedihan. Kamu adalah orang-orang yang mendapat kedudukan yang tinggi selama kamu beriman.”</em> Di surah Âli ‘Imrân, Allah berfirman, tujuan Allah turunkan cobaan ini adalah supaya Allah mengangkat dari kalangan kamu sebagai syuhada.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita bisa berkata bahwa yang gugur mendapatkan bencana ini, disiapkan oleh Tuhan tempat yang tinggi, karena mereka adalah orang-orang mukmin. Dan <span style="text-decoration:underline;">tujuan Allah turunkan bencana ini adalah supaya Allah mengetahui siapa orang yang benar-benar beriman dan yang tidak</span>. Karena itu jangan menggerutu, karena Allah memberikan tempat yang sebaik-baiknya. Allah swt berfirman bahwa Dia juga akan membersihkan hati kamu dan menghapus dosa-dosa kamu. Agama mengingatkan kita semua bahwa Tuhan punya tujuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hidup ini, Allah menciptakan manusia untuk tujuan tertentu. Dalam sebuah hadis, Allah menciptakan makhluk yang ditugaskannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya yang lain. <span style="text-decoration:underline;">Ada orang kaya yang diberi kekayaan, yang sebenarnya dipilih Allah agar orang itu memberi bantuan kepada orang yang butuh</span>. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dipilih Allah itu. Ada lagi orang yang diciptakan Allah untuk menjadi “alat” Tuhan untuk mengingatkan orang lain. Para syuhada ini adalah alat-alat yang dipilih Allah. Itu sebabnya kita baca di dalam Al Quran ada istilah<em> ‘ibâdullâh mukhlashîn</em> atau hamba-hamba Allah yang dipilih.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang ini banyak orang yang lengah dan lupa kepada Allah. Memang rutinitas sering menjadikan kita lupa kepada Allah. Karena itu kita perlu diingatkan. Ada orang-orang yang tidak menyadari adanya Allah karena melihat segala sesuatu berjalan harmonis. Tuhan ingin mengingatkan orang-orang tersebut, bahwa jangan duga Allah telah lepas tangan. <span style="text-decoration:underline;">Diingatkannya manusia melalui bencana</span>. Kalau dulu sekian banyak orang yang lupa Allah, sekarang Dia mengingatkan kita melalui rahmatNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Itu sebabnya di dalam Al-Quran, disebutkan: <em>“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak mengambil pengajaran?”</em> (QS. At-Taubah : 126). Jadi sekali lagi, saya tidak melihat ini sebagai murka Allah. <span style="text-decoration:underline;">Ini rahmatNya kepada kita yang hidup, supaya kita ingat kepada Allah, supaya lebih dalam lagi solidaritas kita, supaya kita lebih dekat lagi kita kepada Allah, supaya lebih terasa lagi kehadiran Allah</span>. Dan yang gugur, yang luka, yang menderita itu dijadikan oleh Allah sebagai alat-alatNya untuk mengingatkan kita, itulah mereka yang dinamai dengan ‘ibâdullâh mukhlashîn atau hamba-hamba Allah yang terpilih.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia pilih orang-orang yang gugur, Dia pilih anak-anak, Dia pilih orang-orang tua, untuk Dia jadikan syuhada; Dia jadikan saksi-saksi, Dia jadikan alat-alatNya. Untuk siapa? Untuk kita yang hidup. Allah tidak menyia-nyiakan mereka. Di dalam hadis, Allah katakan, “Seandainya bukan karena anak-anak yang masih menyusu, seandainya bukan karena orang tua yang sedang bungkuk, seandainya bukan karena binatang-binatang, niscaya Allah akan menjatuhkan siksa kepada kamu, siksaan yang luar biasa.” Tapi mengapa yang diambil olehNya disana anak-anak, orang tua, binatang? Itu yang menjadikan kita bersangka baik kepada Allah dan menyatakan bahwa ini bukan murka, ini hanya peringatan. Kita terima itu. Peringatan untuk kita yang hidup. Kita tidak perlu larut dalam kesedihan, tetapi kita perlu mengambil pelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu pelajaran adalah kita lihat di televisi, kita lihat badan-badan mereka, rupanya begitulah juga badan kita. <span style="text-decoration:underline;">Jangan terlalu memberi perhatian kepada badan dengan melupakan ruh</span>. Itu pelajaran yang dapat kita angkat. Jangan menilai orang dari penampilannya. Lihatlah itu semua, dan ingat dalam Al Quran; Allah berulang-ulang, <em>“Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan peringatan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?”</em> (QS. Al-A’râf : 98). Ini yang kita lihat. Sebenarnya tujuannya adalah untuk kita. Allah merahmati kita dengan memberi peringatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib ditikam, beliau berteriak: “Demi Tuhan Ka’bah, saya telah memperoleh keberuntungan.” Beruntung karena mati. Allah mengangkat derajat beliau. Allah mendudukkan pada kedudukan yang demikian tinggi karena mati syahid. Nah, kalau kita membaca ayat di surah Âli ‘Imrân: … supaya Dia mengangkat diantara kamu <em>syuhadâ`</em> (orang-orang yang menjadi saksi) dan untuk membersihkan hati kamu dari segala macam dosa. Untuk orang-orang yang meninggal, kita antar dengan rasa sedih tetapi dalam saat yang sama beruntunglah mereka. Dan yang tinggal, kita harapkan mendapatkan pelajaran dari ujian ini, dari bencana ini. Mudah-mudahan kita dapat menyusul mereka dalam kematian yang diridhai Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Itu sebabnya ada doa yang diajarkan Nabi :</p>
<blockquote><p>“Ya Allah, kami bermohon kepadamu, hidup yang sebaik-baiknya, dan kematian yang sebaik-baiknya, serta segala yang baik yang berada diantara hidup dan mati. Ya Allah, hidupkanlah kami dalam kehidupan orang-orang yang Engkau senangi agar dia tetap hidup, dan wafatkanlah dalam wafat orang-orang yang Engkau sukai untuk bertemu dengannya.”</p></blockquote>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Sumber:</strong></span><br />
<span style="color:#800080;"><em>MetroTV</em>, 2 Januari 2005, dengan perubahan teks seperlunya.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=219&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/10/07/prof-quraish-shihab-%e2%80%9cmusibah-rahmat-atau-murka-tuhan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/10/qureish.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">qureish</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Kelima</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-%e2%80%93-bagian-kelima/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-%e2%80%93-bagian-kelima/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 13:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Kelima

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran
Alternatif Pendapat Yang Benar Perihal Shalat Tarawih
Alhamdulillah tiba saatnya saya mengakhiri tulisan yang panjang seperti rel kereta api ini. Tulisan panjang yang membosankan, saya yang menulis saja bosan apalagi yang membaca  . Bisa dibilang bagian ini adalah bagian yang paling singkat dari keempat bagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=217&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3><span style="color:#003366;">Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Kelima<br />
</span></h3>
<h3><span style="color:#008000;">SUMBER: </span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/09/20/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-kelima/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></h3>
<p><strong>Alternatif Pendapat Yang Benar Perihal Shalat Tarawih</strong></p>
<p>Alhamdulillah tiba saatnya saya mengakhiri tulisan yang panjang seperti rel kereta api ini. Tulisan panjang yang membosankan, saya yang menulis saja bosan apalagi yang membaca <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /> . Bisa dibilang bagian ini adalah bagian yang paling singkat dari keempat bagian yang lain. Bagian ini cuma memperjelas yang sudah jelas dan mengaburkan sesuatu yang samar-samar.</p>
<p><span id="more-217"></span></p>
<p>Pandangan Penulis soal Shalat Tarawih bisa dibilang Original Made In SP, jadi gak ada kaitan dengan mahzab apapun apalagi kepentingan pihak politik manapun <em>(ngawur mode on)</em> <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif" alt=":lol:" /></p>
<p>.</p>
<p>Pandangan ini pun hanyalah suatu alternatif yang tidak akan menghakimi keyakinan siapapun. Kebenaran yag dimaksud adalah apa yang benar menurut Penulis. Tidak ada hak bagi siapapun untuk mengklaim bahwa kepunyaannya adalah satu-satunya yang benar. Jadi tolong pahami tulisan ini sebagai sesuatu yang layak untuk dipelajari dan dikritisi.</p>
<ol>
<li>Shalat Tarawih itu sunnah jika yang dimaksud dengan tarawih itu adalah shalat malam di bulan Ramadhan. Shalat ini dianjurkan untuk dilakukan sendiri di rumah tetapi tidak ada masalah kalau mau melakukannya secara berjamaah. Hanya saja saya pribadi tidak mau melakukannya terus-terusan berjamaah karena rutinitas atau kontinuitas shalat tarawih berjamaah tidak pernah dianjurkan atau diperintahkan oleh Rasulullah SAW. <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /></li>
<li>Shalat Tarawih itu bid’ah karena yang namanya terminologi Tarawih itu memang tidak ada di zaman Rasulullah SAW. Hmmm ah itu kan cuma istilah jadi kayaknya nggak penting kalau mau diributkan <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /></li>
<li>Hal yang patut disayangkan adalah shalat tarawih ini yang asal mulanya berupa shalat malam sekarang berubah bentuk menjadi Shalat berjamaah di masjid. Seolah-olah yang namanya tarawih itu harus di masjid dan harus berjamaah. Transformasi ini yang memang layak disebut bid’ah. Saya suka miris kalau melihat begitu banyak orang yang bersemangat shalat tarawih berjamaah di masjid tetapi kalau waktu shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Shubuh tidak seramai shalat tarawih. Fenomena yang Terbalik <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif" alt=":(" /></li>
<li>Kontinuitas Shalat Tarawih Berjamaah di Masjid bagi saya pribadi bukanlah Sunnah dan saya pribadi cenderung menyebutnya bid’ah walaupun saya tidak akan begitu berlebihan untuk menyebut bid’ah itu sesat atau menyesatkan. Hal itu lebih ke arah <em>“tidak mengapa” </em>dan itu jelas berarti bukan merupakan amalan yang terbaik. Shalat tarawih di rumah itu lebih baik <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></li>
<li>Shalat Tarawih itu tidak ada batasan khusus rakaatnya, silakan bagi yang mau untuk shalat berapa rakaat yang ia inginkan. Pembatasan jumlah rakaat tidak pernah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" /></li>
<li>Saya sendiri tidak akan memungkiri jika disebutkan bahwa Shalat Tarawih berjamaah itu adalah Ijma’ Ulama. Tetapi saya memahami Ijma’ itu tetap dalam arti Shalat tarawih berjamaah dibolehkan dan bukanlah dianjurkan seperti yang dipahami oleh kabanyakan orang. <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif" alt=":P" /></li>
<li>Saya pribadi tidak menafikan para Ulama ataupun Sahabat Nabi SAW tetapi hasil kajian saya mengarahkan saya pada pandangan bahwa <em>Rasulullah SAW telah memberikan keluasan dalam masalah ini </em>dan tetap bagi saya <em>tidak ada siapapun yang berhak membatasi keluasan yang telah diberikan Rasulullah SAW. </em> <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" /> <em><br />
</em></li>
<li>Bagi saya yang menjadi hujjah dalam masalah Agama adalah Allah dan RasulNya dan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Selebihnya hanyalah Para Muqallid <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /></li>
</ol>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>Setidaknya saya harap bagian ini memberikan kejelasan pada beberapa orang yang terheran-heran dengan bagaimana saya shalat tarawih. Seolah-olah saya cuma bermain-main. Nah buat mereka ini pertanggungjawaban saya</p>
<ul>
<li><em>Terkadang saya tidak shalat tarawih di masjid</em>, karena shalat di rumah itu lebih baik</li>
<li><em>Terkadang saya shalat bersama di masjid</em>, karena saya bukan orangnya yang selalu ingin lebih baik <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /></li>
<li><em>Terkadang saya shalat berjamaah 11 rakaat</em>, karena memang begitu di masjid tempat saya shalat</li>
<li><em>Terkadang saya shalat berjamaah di masjid cuma beberapa rakaat bahkan pernah cuma 2 rakaat,</em> karena bagi saya itu juga boleh dan seperti yang saya katakan tidak ada batasan khusus jumlah rakaat shalat tarawih.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>So bisa dibilang berkesan agak liar bagi Mereka kaum konservatif yang memang terikat dengan Status Quo. Tetapi yah dunia memang tidak seindah yang kita bayangkan <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif" alt=":lol:" /> <em>(apa maksudnya ya</em> <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif" alt=":roll:" /> <em>)</em></p>
<p>Saya akhiri tulisan ini dengan permohonan maaf jika yang saya utarakan ini bagi sebagian orang adalah suatu kelancangan. Seperti yang saya katakan pada awalnya ini hanya sebuah alternatif yang saya yakini. Terimakasih telah bersedia membaca</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Salam Damai</em></strong></p>
<p>.</p>
<p><em>Catatan :</em></p>
<ul>
<li><em> Jika ada yang bertanya-tanya mengapa tulisan soal tarawih ini bisa tersendat-sendat, maka jawabannya adalah banyak hal yang terjadi beberapa hari ini yang membuat saya jatuh bangun dan terjatuh lagi hingga akhirnya saya kuat untuk berdiri kembali. Ah bagi mereka yang muda, You Know lah</em> <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /></li>
<li><em>Alhamdulillah,  sekarang kreditan saya sudah benar-benar lunas</em> <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></li>
<li><em>Bagi Mereka <span style="text-decoration:line-through;">para pengikut SP</span> para pengamat blog ini,</em> <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif" alt=":lol:" /> <em>emangnya ada gitu. Mohon maaf jika saya lama nggak update</em> <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif" alt=":(" /></li>
<li><em>Buat Seseorang, Saya mohon maaf dan saya doakan semoga selalu mendapat kebahagiaan dari Allah SWT</em> <span style="text-decoration:line-through;"><em>yang sebagiannya dititipkan pada saya </em></span><em> </em> <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /></li>
</ul>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=217&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-%e2%80%93-bagian-kelima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:(</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" medium="image">
			<media:title type="html">;)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" medium="image">
			<media:title type="html">;)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:roll:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:(</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Keempat</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-%e2%80%93-bagian-keempat/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-%e2%80%93-bagian-keempat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 13:50:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Keempat

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran
Kontroversi Rakaat Shalat Tarawih
 
.
Daftar Isi 
Muqaddimah
Hadis Rakaat Shalat Tarawih Rasulullah SAW

Hadis 23 Rakaat Shalat Tarawih
Hadis 11 Rakaat Shalat Tarawih

Hadis 11 Rakaat Shalat Malam Rasulullah SAW
Hadis 13 Rakaat Shalat Malam Rasulullah SAW

Penakwilan Ulama Pro 11 
Catatan Atas Penakwilan Yang Keliru

Hadis Perintah Umar RA

Hadis Muhammad bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=215&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3><span style="color:#003366;">Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Keempat<br />
</span></h3>
<h3><span style="color:#008000;">SUMBER: </span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/09/20/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-keempat/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></h3>
<p><strong>Kontroversi Rakaat Shalat Tarawih</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>.</p>
<p><strong>Daftar Isi </strong></p>
<p><em><strong>Muqaddimah</strong></em></p>
<p><em><strong>Hadis Rakaat Shalat Tarawih Rasulullah SAW</strong></em></p>
<ul>
<li><em><strong>Hadis 23 Rakaat Shalat Tarawih</strong></em></li>
<li><em><strong>Hadis 11 Rakaat Shalat Tarawih</strong></em></li>
</ul>
<p><em><strong>Hadis 11 Rakaat Shalat Malam Rasulullah SAW</strong></em></p>
<p><em><strong>Hadis 13 Rakaat Shalat Malam Rasulullah SAW</strong></em></p>
<ul>
<li><em><strong>Penakwilan Ulama Pro 11 </strong></em></li>
<li><em><strong>Catatan Atas Penakwilan Yang Keliru</strong></em></li>
</ul>
<p><em><strong>Hadis Perintah Umar RA</strong></em></p>
<ul>
<li><em><strong>Hadis Muhammad bin Yusuf</strong></em></li>
<li><em><strong>Hadis Yazid bin Khasifah</strong></em></li>
</ul>
<p><em><strong>Kesimpulan</strong></em></p>
<p><span id="more-215"></span></p>
<p>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Muqaddimah</strong></p>
<p>Sepertinya hal yang seringkali diperdebatkan dalam masalah Shalat Tarawih adalah mengenai <em>Berapa rakaat sebenarnya shalat Tarawih</em>. Sudah cukup dikenal adanya dua kubu pendapat soal ini. Ada yang berpandangan bahwa Shalat Tarawih itu 8 rakaat ditambah witir jadi 11 rakaat dan ada juga yang berpandangan bahwa Shalat Tarawih itu 20 rakaat ditambah witir jadi 23 rakaat.</p>
<p>Hal ini adalah masalah klasik yang sering diungkit-ungkit. Sebenarnya tidak jadi masalah apapun pandangan jika memang ada dasarnya. Justru yang patut diberikan catatan adalah sikap Ifrath<em>(berlebihan)</em> yang tampak pada sebagian Ulama sehingga berkesan menyudutkan pihak lain. Seperti contohnya Syaikh Al Albani dalam Risalah <em>Shalatut Tarawih</em> menyatakan bahwa <em>Shalat Tarawih lebih dari 11 rakaat adalah sama saja dengan melebihkan rakaat shalat wajib</em>. Tentu saja pernyataan ini akan mengundang pertentangan dari pihak yang berpandangan shalat tarawih itu 20 rakaat, salah satunya yaitu Syaikh Ismail Al Anshari yang menulis Risalah khusus untuk menjawab pandangan Syaikh Al Albani tersebut.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Rakaat Shalat Tarawih Rasulullah SAW </strong></p>
<p>Kami pribadi termasuk mereka yang tidak setuju dengan pandangan Syaikh Al Albani. Ketidaksetujuan kami adalah pada pernyataan bahwa <em>Shalat Tarawih itu adalah shalat sunah mutlak yang jumlah rakaatnya benar-benar ditentukan. </em>Shalat Tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadhan yang tidak dibatasi secara khusus oleh Nabi SAW. Hal ini karena memang tidak ada hadis shahih dari Nabi SAW mengenai berapa jumlah rakaat shalat Tarawih yang harus dilakukan. Hadis-hadis Nabi SAW yang sering dijadikan hujjah oleh sebagian golongan mengenai rakaat shalat tarawih adalah hadis yang dhaif dan tidak layak dijadikan hujjah yaitu</p>
<ul>
<li>Hadis 23 Rakaat Shalat Tarawih</li>
<li>Hadis 11 Rakaat Shalat Tarawih</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis 23 Rakaat Shalat Tarawih</strong></p>
<p>Hadis ini dijadikan dalil oleh sebagian mereka yang mendukung bahwa shalat tarawih itu 23 rakaat. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Al Mushannaf</em>, At Thabrani dalam <em>Mu’jam Al Kabir</em> dan Baihaqi dalam <em>Sunan Al Kubra</em>. Berikut kami ambil dalam <em>Sunan Baihaqi </em>juz 2 hal 496 hadis no 4391</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن بن عباس قال كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي في شهر رمضان في غير جماعة بعشرين ركعة والوتر <em> </em></h2>
<p><em>Dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW melakukan shalat di bulan Ramadhan tidak berjamaah sebanyak dua puluh rakaat dan witir.</em></p></blockquote>
<p>Al Baihaqi berkomentar mengenai salah satu perawi hadis ini yaitu Ibrahim bin Usman</p>
<h2 style="text-align:right;">أبو شيبه إبراهيم بن عثمان الكوفي وهو ضعيف</h2>
<p>Abu Syibah Ibrahim bin Usman Al Kufi, dia dhaif.</p>
<p>Hadis ini memang dhaif karena adanya <em>Abu Syibah Ibrahim bin Usman</em> yang dikenal dhaif</p>
<ul>
<li>Imam Nasa’i dalam <em>Adh Dhu’afa</em> <em>Wal Matrukin</em> no 11 berkata bahwa Ibrahim bin Usman adalah <em>Matruk Al Hadis</em>.</li>
<li>Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> juz 1 hal 61 no 215 juga menyatakan bahwa Ibrahim bin Usman matruk<em>(ditinggalkan hadisnya).</em></li>
<li>Imam Bukhari dalam <em>Ad Dhu’afa As Shaghir</em> no 5 menyatakan Ibrahim bin Usman dengan <em>Sakatu ‘anhu</em> yang berarti Ulama mendiamkan hadisnya.</li>
<li>Al Uqaili juga memasukkan Ibrahim bin Usman sebagai perawi dhaif dalam kitabnya <em>Ad Dhu’afa</em> no 54.</li>
<li>Dalam <em>Mizan Al ‘Itidal</em> biografi no 145 dan <em>Tahdzib At Tahdzib</em> juz 1 biografi no 257 terdapat banyak keterangan ulama yang mencacat Abu Syibah Ibrahim bin Usman. Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Daud, Ibnu Sa’ad, dan Daruquthni mendhaifkan Ibrahim bin Usman. Syu’bah menyatakannya sebagai pendusta. Abu Hatim mengatakan bahwa hadisnya dhaif dan ditinggalkan oleh Ulama. Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad menyatakan Ibrahim bin Usman sebagai <em>Munkar Al Hadis</em>.</li>
</ul>
<p>Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilsah Al Hadis Ad Dhaifah Wal Maudhu’ah</em> hadis no 560 menyatakan hadis tersebut maudhu’ seraya mengutip Al Haitsami, Ibnu Hajar dan Al Hafiz Zaila’i yang mendhaifkan hadis ini. Tetapi ada pernyataan Beliau yang perlu diberi catatan. <em>Beliau mencela matan hadis ini karena bertentangan dengan hadis Aisyah RA dan hadis Jabir RA. </em>Hadis Aisyah RA memang shahih tetapi hadis Jabir RA adalah dhaif. Hadis Jabir RA inilah yang juga dijadikan hujjah oleh Beliau bahwa Shalat Tarawih itu 11 rakaat.</p>
<p>.</p>
<p>Kembali pada hadis Ibnu Abbas RA di atas, hadis tersebut sudah jelas dhaif sehingga tidak layak dijadikan hujjah bahwa rakaat Shalat Tarawih Nabi SAW adalah 23 rakaat. Walaupun begitu kami tetap melihat ada sebagian orang yang tetap membela hadis ini dan menolak pendhaifannya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh perawi yang sangat jelas dhaifnya dan matruk. Selain itu yang mencacatnya tidak hanya segelintir orang apalagi jika dikatakan hanya Syu’bah yang mengkritik perawi tersebut. Hal ini tidak benar dan dapat dilihat banyak ulama yang mencacat perawinya bahkan Ibnu Hajar benar-benar menyebut perawi tersebut matruk dalam kitabnya <em>At Taqrib</em>. Lagipula beliau Ibnu Hajar telah mendhaifkan hadis ini dalam <em>Fath Al Bari</em>.</p>
<p>Hal lain yang juga patut diberikan catatan adalah Mereka yang berhujjah dengan hadis ini tampaknya hanya terfokus pada jumlah rakaat semata tanpa memperhatikan dengan jelas bahwa kata-kata sebelumnya adalah <em>shalat sendirian</em> atau <em>tidak berjamaah</em>. Jadi jika memang mau berhujjah dengan hadis ini maka seharusnya mereka mengatakan bahwa shalat tarawih Nabi SAW itu adalah sendirian sebanyak 23 rakaat bukan berjamaah dengan 23 rakaat. Jadi cara berdalil seperti itu tampak berkesan Mutilasi Hadis.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis 11 Rakaat Shalat Tarawih </strong></p>
<p>Hadis ini justru dijadikan hujjah oleh golongan yang menyatakan bahwa shalat tarawih Nabi SAW jumlah rakaatnya adalah 11 rakaat. Yang cukup mengherankan, mereka yang berhujjah dengan hadis ini adalah Ulama hadis yang memiliki kemampuan dalam membedakan hadis shahih dan hadis dhaif. Hadis ini diriwayatkan dalam <em>Mu’jam As Shaghir, Shahih Ibnu Hibban</em> dan <em>Shahih Ibnu Khuzaimah</em>. Berikut matan hadis tersebut dalam <em>Mu’jam As Saghir</em> juz 1 hal 317 no 525</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج فلم نزل فيه حتى أصبحنا ثم دخلنا فقلنا يا رسول الله اجتمعنا البارحة في المسجد ورجونا أن تصلي بنا فقال إني خشيت أن يكتب عليكم</h2>
<p><em>Dari Jabir RA yang berkata Rasulullah SAW pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan delapan rakaat dan witir. Pada malam berikutnya kami berkumpul di masjid dan berharap Beliau keluar. Ternyata Beliau tidak keluar sampai waktu fajar. Kemudian kami menemui Beliau SAW dan berkata “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami berkumpul tadi malam dan berharap Engkau dapat shalat bersama kami. Maka Beliau SAW berkata “Sesungguhnya Aku khawatir shalat ini akan diwajibkan bagi kalian”.</em></p></blockquote>
<p>Syaikh Al Albani dalam Risalahnya <em>Shalatut Tarawih</em> telah menghasankan hadis ini seraya berkata</p>
<p align="right">رواه ابن نصر والطبراني وسنده حسن بما قبله واشار الحافظ في الفتح وفي التلخيص إلى تقويته وعزاه لابن خزيمة وابن حبان في صحيحهما</p>
<p><em>Diriwayatkan oleh Ibnu Nashr dan At Thabrani dengan sanad yang hasan bersama hadis sebelumnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam </em><em>Fath Al Bari</em><em> dan </em><em>At Talkhis</em><em> mengisyaratkan bahwa hadits itu shahih, Namun beliau menyandarkan hadits itu kepada Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih mereka.</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p>Dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang dhaif yaitu Isa bin Jariyah</p>
<ul>
<li>Dalam <em>Ad Dhu’afa</em> no 423 An Nasa’i menyatakan hadisnya munkar.</li>
<li>Al Uqaili juga memasukkan Isa bin Jariyah dalam kitabnya <em>Ad Dhu’afa</em> no 1421.</li>
<li>Dalam <em>Mizan Al ‘Itidal</em> juz 3 no 6555, Ibnu Ma’in berkata <em>“memiliki hadis-hadis mungkar”</em>.An Nasa’i juga menilai hadisnya munkar dan matruk. Abu Zar’ah berkata “<em>La ba’sa bihi”(tidak mengapa).</em></li>
<li>Dalam <em>Al Kasyf</em> no 4368, Adz Dzahabi menyatakan dia diperselisihkan dan Ibnu Ma’in menyatakan hadisnya munkar.</li>
<li>Adz Dzahabi memasukkan Isa bin Jariyah dalam <em>Mughni Ad Dhu’afa</em> no 4788, seraya mengutip bahwa Imam Nasa’i menilainya matruk.</li>
<li>Dalam <em>Tahdzib At Tahdzib</em> juz 8 no 384, Abu Daud mengatakan hadisnya munkar. Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat</em> .As Saji dan Uqaili mendhaifkannya.</li>
</ul>
<p>Berdasarkan keterangan di atas diketahui bahwa Isa bin Jariyah adalah <em>Perawi yang Dhaif, Munkar Al Hadis dan Matruk</em>. Beliau telah dicacatkan oleh Ibnu Ma’in, An Nasa’i, Abu Daud, As Saji dan Uqaili. Selain itu Adz Dzahabi juga memasukkannya dalam daftar perawi dhaif. Tetapi Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat</em> dan Abu Zar’ah hanya menta’dilkan dengan <em>La ba’sa bihi</em>. Pernyataan Ibnu Hibban dan Abu Zar’ah tidak cukup kuat untuk menta’dilkan Isa bin Jariyah karena celaan yang jelas oleh mereka yang mendhaifkannya. Oleh karena itu kami cenderung pada mereka yang mendhaifkan Isa bin Jariyah.</p>
<p>Sepertinya Syaikh Al Albani menghasankan hadis ini karena menurut Beliau hadis ini dikuatkan oleh Hadis Aisyah RA. Kami mempersepsi begitu karena hadis ini sebenarnya hadis dhaif dikarenakan cacat pada Isa bin Jariyah. Hadis Aisyah RA tidak tepat dijadikan syahid atau penguat hadis Jabir RA, kami akan membahas hadis Aisyah RA tersebut pada bagian tersendiri.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan adalah hanya kedua hadis di atas yang menjelaskan bagaimana rakaat Shalat Tarawih Nabi SAW dan sebagaimana kita lihat kedua hadis tersebut kedudukannya dhaif. Oleh karena itu tidak berlebihan sekiranya kami simpulkan <strong>bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memberikan batasan khusus berapa rakaat shalat tarawih yang harus dilakukan.</strong></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis 11 Rakaat Shalat Malam Rasulullah SAW</strong></p>
<p>Hadis ini seringkali dijadikan hujjah bahwa Shalat Tarawih itu 11 rakaat. Hadis ini adalah hadis yang shahih dan kami dalam hal ini tidak akan menolak hadis tersebut. Hadis tersebut salah satunya diriwayatkan dalam Kitab <em>Al Muwatta Imam Malik Kitab Shalat Malam Bab Bagaimana Nabi SAW Shalat Witir</em> hadis no 263 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني عن مالك عن سعيد بن أبي سعيد المقبري عن أبي سلمة بن عبد الرحمن بن عوف أنه سأل عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم كيف كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم في رمضان فقالت ما كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلى ثلاثا فقالت عائشة فقلت يا رسول الله أتنام قبل أن توتر فقال يا عائشة إن عيني تنامان ولا ينام قلبي <em> </em></h2>
<p><em>Yahya menyampaikan kepadaku dari Malik dari Sa’id bin Abi Sa’id Al Maqburi dari Abu Salama bin Abdurrahman bin Auf bahwa ia bertanya kepada Aisyah RA istri Nabi SAW tentang seperti apa shalat Rasulullah SAW selama bulan Ramadhan. Ia berkata ”Rasulullah SAW tidak shalat lebih dari 11 rakaat di bulan Ramadhan ataupun di bulan lainnya. Beliau shalat 4 rakaat, jangan bertanya kepadaku tentang bagus dan panjangnya. Kemudian Beliau shalat 4 rakaat lainnya, jangan tanya kepadaku tentang bagus dan panjangnya. Kemudian Beliau shalat 3 rakaat. Aisyah RA melanjutkan ”Aku berkata ”Wahai Rasulullah SAW apakah Engkau tidur sebelum Engkau melaksanakan shalat witir?” Beliau berkata ”Aisyah, mataku tidur tapi hatiKu tetap terjaga”.</em></p></blockquote>
<p>.</p>
<p>Hadis ini dipakai oleh Syaikh Al Albani dalam Risalah <em>Shalatut Tarawih</em> seolah-olah sebagai hujjah mati bahwa shalat rakaat Nabi SAW adalah 11 rakat dan tidak boleh lebih. Hal ini ditolak oleh mereka dari golongan 23 karena menurut mereka hadis tersebut tidak bicara soal shalat tarawih tapi mengenai shalat malam atau tahajud. Jelas sekali bahwa pendapat mereka ini berdasarkan pada asumsi bahwa shalat tarawih dan shalat tahajud adalah dua shalat yang berbeda, sehingga berbeda pula pensyariatannya. Selain itu dari sini juga kami menyimpulkan bahwa Syaikh Al Albani justru menganggap tidak ada perbedaan antara shalat tarawih dan shalat tahajud sehingga jumlah rakaatnya tidak boleh lebih dari 11.</p>
<p>.</p>
<p>Bisa dikatakan kami tidak menyetujui kedua kubu itu baik 11 atau 23. Kami tidak menyetujui Golongan 11 yang dalam hal ini diwakili Syaikh Al Albani ketika beliau mengatakan bahwa <em>Shalat Tarawih itu 11 rakaat dan tidak boleh lebih</em> dan kami juga tidak menyetujui golongan 23 yang berasumsi <em>bahwa shalat tarawih dan shalat tahajud itu berbeda sehingga masing-masing memiliki syariat khusus</em>. Dalam tulisan bagian pertama kami telah membahas bahwa Shalat Tarawih dan shalat Tahajud pada dasarnya adalah shalat malam yang sama hanya saja waktu pelaksanaannya yang berbeda. Shalat Tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadhan dan shalat tahajud adalah shalat malam di bulan lain.</p>
<p>.</p>
<p>Kalau memang shalat tarawih dan tahajud itu sama maka hadis Aisyah RA telah membatasi jumlah rakaat shalatnya yaitu 11 rakaat. Begitukah pikiran anda?. Jawabannya Tidak. Karena berbagai alasan berikut.</p>
<ul>
<li>Hadis tersebut menjelaskan tentang sebuah kesaksian yaitu kesaksian Aisyah RA mengenai shalat malam Rasulullah SAW di bulan Ramadhan dan bulan lainnya. Tentu saja kesaksian bukanlah harga mutlak bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melakukan hal lain yang justru tidak disaksikan Aisyah RA. Rasulullah SAW dalam hidupnya tidak selalu bersama Aisyah RA, beliau terkadang juga bersama Istri Beliau yang lain atau sahabat-sahabat Beliau. Dan tentu saja kesaksian mereka memiliki kedudukan yang sama dengan kesaksian Aisyah RA sebagai hujjah.</li>
<li>Terdapat hadis lain yang ternyata memberikan kesaksian bahwa Rasulullah SAW pernah shalat malam melebihi 11 rakaat.</li>
<li>Hadis Aisyah RA dapat dipahami sebagai sesuatu yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW sepengetahuan Beliau selaku Istri Nabi SAW dan hal ini tidak membatasi bahwa Rasulullah SAW tidak berbuat selain itu jika memang terdapat dalil shahih yang menerangkannya.</li>
</ul>
<p>Selain itu Hadis Aisyah RA bisa juga dipahami bahwa jumlah rakaat 11 adalah yang paling sering dilakukan oleh Nabi SAW dan tidak menafikan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan shalat dengan rakaat yang lebih dari 11. Jadi hadis Aisyah RA itu tidak memiliki arti <em>selalu</em> karena jika memang diartikan <em>selalu</em> maka itu berarti Rasulullah SAW selalu shalat malam dengan cara 4 rakaat, 4 rakaat dan 3 rakaat padahal banyak hadis shahih lain yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW shalat malam dengan dua rakaat dua rakaat.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis 13 Rakaat Shalat Malam Rasulullah SAW</strong></p>
<p>Salah satu bukti bahwa Rasulullah SAW tidak membatasi shalat malam yang Beliau lakukan adalah adanya hadis shahih yang menerangkan bahwa Beliau SAW shalat malam 13 rakaat selain 11 rakaat. Berikut hadis dalam Kitab <em>Al Muwatta Imam Malik Kitab Shalat Malam Bab Bagaimana Nabi SAW Shalat Witir</em> hadis no 263 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني عن مالك عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة أم المؤمنين قالت  كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بالليل ثلاث عشرة ركعة ثم يصلي إذا سمع النداء بالصبح ركعتين خفيفتين <em> </em></h2>
<p><em>Yahya menyampaikan kepadaku hadis dari Malik dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya bahwa Aisyah RA Ummul Mukminin berkata ”Rasulullah SAW biasa shalat 13 rakaat di malam hari dan Beliau kemudian shalat dua rakaat ketika ia mendengar adzan subuh”</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Hadis ini sepertinya tampak bertentangan dengan hadis sebelumnya yang juga riwayat Aisyah RA bahwa Nabi SAW tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat. Tetapi ada juga sebagian Ulama yang mengartikan Hadis Aisyah 11 rakaat itu berkaitan dengan shalat witir Hal ini dikarenakan</p>
<ul>
<li>Sebagaimana yang tampak pada kata-kata <em>Aisyah ”Aku berkata ”Wahai Rasulullah SAW apakah Engkau tidur sebelum Engkau melaksanakan shalat witir?”</em>. Pertanyaan ini seolah-olah menyiratkan bahwa shalat yang sedang dibicarakan adalah shalat witir</li>
<li>Imam Malik dalam <em>Al Muwatta</em> telah memasukkan hadis ini dalam Bab yang berkenaan dengan Shalat Witir.</li>
</ul>
<p>Kami bisa dikatakan tidak ada masalah dengan interpretasi ini, bisa saja shalat itu adalah shalat witir atau juga shalat malam(tahajud). Jika memang shalat malam maka kedua hadis tersebut juga tidak harus diartikan ada pertentangan antara yang satu dan yang lain. Kami mengartikannya begini</p>
<ul>
<li>Hadis Aisyah RA yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW shalat malam tidak lebih dari 11 rakaat adalah membicarakan shalat malam yang dilaksanakan dengan cara 4 rakaat, 4 rakaat dan 3 rakaat.</li>
<li>Hadis Aisyah RA yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW biasa shalat malam 13 rakaat dilaksakanan dengan cara yang berbeda dengan cara 4 rakaat, 4 rakaat dan 3 rakaat yaitu kemungkinan dengan dua dua rakaat dan diakhiri satu rakaat.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Penakwilan Ulama Pro 11</strong></p>
<p>Syaikh Al Albani dalam <em>Shalatut Tarawih</em> mengutip Ibnu Hajar yang berkata mengenai kedua Hadis Aisyah RA</p>
<blockquote><p><em> Pada zahirnya, hadis tersebut tampak bertentangan dengan hadits terdahulu. Bisa jadi, Aisyah  menggabungkan dengan dua rakaat shalat sesudah Isya, karena Beliau memang melakukannya di rumah. Atau mungkin juga dengan dua rakaat yang dilakukan Nabi sebagai pembuka shalat malam. Karena dalam hadits shahih riwayat Muslim disebutkan bahwa Beliau memang mengawali shalat malam dengan dua rakaat ringan. Dan yang kedua ini lebih kuat menurut saya.</em></p></blockquote>
<p>Kemudian Syaikh Al Albani mengatakan</p>
<blockquote><p><em>Menurut saya, ada kemungkinan dua rakaat itu adalah shalat sunnah sesudah Isya. Bahkan itulah yang tampak secara zhahir. Karena saya belum mendapatkan satupun hadis yang menyebutkan dua rakaat itu bersamaan dengan disebutkannya tiga belas rakaat. </em></p></blockquote>
<p>Kedua Ulama di atas, Ibnu Hajar dan Syaikh Al Albani tampaknya mempersepsi bahwa kedua riwayat Aisyah RA itu bertentangan sehingga harus dicari penyelesaiannya. Anehnya mereka telah berpegang pada hadis 11 terlebih dahulu kemudian berusaha menakwilkan hadis 13 agar tetap pas bahwa yang dimaksud adalah 11 rakaat juga. Mereka berkeras bahwa shalat malam Rasulullah SAW itu tetap 11 rakaat sedangkan yang dua rakaat tambahan itu bisa saja</p>
<ul>
<li>Shalat Dua Rakaat Pembuka Shalat Malam</li>
<li>Shalat Sunnah Ba’da Isya</li>
</ul>
<p>Sayang sekali kedua penakwilan ini keliru dan berkesan dibuat-buat agar tetap pas dengan hadis 11 rakaat.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Catatan Atas Penakwilan Yang Keliru</strong></p>
<p>Mengenai shalat dua rakaat ringan pembuka shalat malam maka kami katakan <em>Apakah shalat pembuka tersebut adalah shalat khusus tersendiri ataukah justru bagian dari shalat malam?.</em> Mengapa pula harus dipisahkan dan disebut sebagai <em>shalat pembuka shalat malam</em>?. Aneh sekali, pemisahan tersebut berkesan dicari-cari agar tetap pas dengan hadis 11 rakaat. Mari lihat hadis berikut yang diriwayatkan dalam Kitab <em>Al Muwatta Imam Malik Kitab Shalat Malam Bab Bagaimana Nabi SAW Shalat Witir</em> hadis no 266 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi.</p>
<p align="right">
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني عن مالك عن عبد الله بن أبي بكر عن أبيه أن عبد الله بن قيس بن مخرمة أخبره عن زيد بن خالد الجهني أنه قال لأرمقن الليلة صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم قال فتوسدت عتبته أو  فسطاطه فقام رسول الله صلى الله عليه و سلم فصلى ركعتين طويلتين طويلتين طويلتين ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم أوتر فتلك ثلاث عشرة ركعة <em> </em></h2>
<p><em>Yahya menyampaikan kepadaku dari Malik dari Abdullah bin Abi Bakr dari bapaknya bahwa Abdullah bin Qais bin Makhrama mengatakan kepadanya dari Zaid bin Khalid Al Juhani yang berkata pada suatu malam ia telah pergi melihat Shalat Rasulullah SAW. Ia berkata “Aku istirahatkan kepalaku diambang pintunya. Rasulullah SAW bangun dan shalat <strong>dua rakaat yang sangat panjang</strong>. Kemudian, Beliau shalat <strong>dua rakaat</strong> yang sedikit lebih singkat dari dua rakaat sebelumnya. Kemudian, Beliau shalat <strong>dua rakaat</strong> yang sedikit lebih singkat dari dua rakaat sebelumnya. Kemudian, Beliau shalat <strong>dua rakaat</strong> yang sedikit lebih singkat dari dua rakaat sebelumnya. Kemudian, Beliau shalat <strong>dua rakaat</strong> yang sedikit lebih singkat dari dua rakaat sebelumnya. Kemudian, Beliau shalat <strong>dua rakaat</strong> yang sedikit lebih singkat dari dua rakaat sebelumnya. Lantas, Beliau shalat <strong>satu rakaat</strong> untuk menjadikan jumlah <strong>semuanya 13 rakaat.</strong></em></p></blockquote>
<p><em> .</em></p>
<p>.</p>
<p>Hadis di atas menjelaskan bahwa Rasulullah SAW shalat sebanyak 13 rakaat dan tidak ada <em>dua rakaat ringan pembuka yang dimaksud.</em> Kami tidak menolak adanya <em>hadis mengenai dua rakaat ringan pertama dalam shalat malam</em> tetapi kami tidak setuju jika dinyatakan <em>dua rakaat ringan tersebut adalah shalat khusus yang berbeda dengan shalat malam</em>. Sehingga mereka yang berkeras bahwa shalat Nabi SAW itu 11 rakaat akan menakwilkan hadis 13 rakaat dengan menyatakan <em>bahwa dua rakaat pertama adalah shalat pembuka sedangkan shalat malamnya sendiri tetap 11 rakaat.</em> Pernyataan ini keliru karena hadis di atas justru menggambarkan dengan jelas <em>bahwa dalam shalat 13 rakaat Nabi SAW tidak ada dua rakaat ringan yang dimaksud. Jadi ketiga belas rakaat itu memang shalat malam.</em></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>Kemudian kami juga tidak setuju dengan Syaikh Al Albani yang menyatakan bahwa dalam shalat 13 rakaat tersebut dua diantaranya adalah shalat sunah ba’da isya sedangkan 11 sisanya adalah shalat malam. Mari lihat hadis berikut yang diriwayatkan dalam Kitab <em>Al Muwatta Imam Malik Kitab Shalat Malam Bab Bagaimana Nabi SAW Shalat Witir</em> hadis no 265 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني عن مالك عن مخرمة بن سليمان عن كريب مولى بن عباس أن عبد الله بن عباس أخبره أنه بات ليلة عند ميمونة زوج النبي صلى الله عليه و سلم وهي خالته قال فاضطجعت في عرض الوسادة وأضطجع رسول الله صلى الله عليه و سلم وأهله في طولها فنام رسول الله صلى الله عليه و سلم حتى إذا انتصف الليل أو قبله بقليل أو بعده بقليل استيقظ رسول الله صلى الله عليه و سلم فجلس يمسح النوم عن وجهه بيده ثم قرأ العشر الآيات الخواتم من سورة آل عمران ثم قام إلى شن معلق فتوضأ منه فأحسن وضوءه ثم قام يصلي قال بن عباس فقمت فصنعت مثل ما صنع ثم ذهبت فقمت إلى جنبه فوضع رسول الله صلى الله عليه و سلم يده اليمنى على رأسي وأخذ بأذني اليمنى يفتلها فصلى ركعتين ثم ركعتين ثم ركعتين ثم ركعتين ثم ركعتين ثم ركعتين ثم أوتر ثم اضطجع حتى أتاه المؤذن فصلى ركعتين خفيفتين ثم خرج فصلى الصبح <em> </em></h2>
<p><em>Yahya menyampaikan kepadaku dari Malik dari Makhrama bin Sulaiman dari Kurayb mawla Ibnu Abbas bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya bahwa ia pernah bermalam di rumah Maimunah istri Nabi SAW yang juga saudara perempuan dari Ibunya (Ibnu Abbas). Ibnu Abbas berkata ”Aku berbaring dengan kepalaku di atas bantal dan Rasulullah SAW berserta istrinya berbaring dengan kepala mereka di atas bantal itu. <strong>Rasulullah SAW tidur sampai tengah malam, sedikit sebelum ataupun setelah tengah malam Beliau bangun</strong> dan duduk serta menyapu wajahnya dengan tangan untuk mengusir kantuk. Kemudian Beliau membaca 10 ayat terakhir surat Ali Imran. Lantas beliau bangun dan berjalan ke arah kantong kulit berisi air yang digantung dan berwudhu’ dari tempat itu, berwudhu’ secara sempurna dan kemudian berdiri untuk shalat. Ibnu Abbas melanjutkan ”Aku berdiri dan mengerjakan hal yang sama, kemudian berdiri di sampingnya. Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku, memegang telinga kananku dan menariknya. Beliau shalat <strong>dua rakaat</strong>, kemudian <strong>dua rakaat</strong>, kemudian <strong>dua rakaat</strong>, kemudian <strong>dua rakaat</strong>, kemudian <strong>dua rakaat</strong>, kemudian <strong>dua rakaat</strong>, lantas <strong>satu rakaat</strong>. Kemudian ia berbaring sampai muadzin datang kepadanya, kemudian beliau shalat dua rakaat singkat lantas keluar dan shalat shubuh”.</em></p></blockquote>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>Siapapun yang membaca hadis di atas akan dengan jelas mengetahui bahwa Rasulullah SAW shalat 13 rakaat itu setelah Beliau SAW tidur dan bangun saat tengah malam. Oleh karena itu adalah aneh jika dikatakan bahwa pada saat itu Rasulullah SAW melakukan shalat dua rakaat ba’da isya kemudian 11 rakaat shalat malam. Justru yang lebih tepat adalah Rasulullah SAW melakukan shalat malam sebanyak 13 rakaat.</p>
<p>Sejauh ini kami telah membuktikan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah membatasi jumlah rakaat shalat malam yang beliau lakukan. Beliau pernah shalat 11 rakaat ataupun 13 rakaat. Hal ini cukup untuk membuktikan kekeliruan mereka yang tidak membolehkan shalat malam melebihi 11 rakaat. Perlu ditambahkan disini bahwa Hadis-hadis di atas menyatakan kesaksian sahabat yang melihat shalat malam Rasulullah SAW. Hadis-hadis di atas tidak menunjukkan perintah atau anjuran dari Rasul SAW mengenai berapa rakaat shalat malam yang harus dilakukan.. Oleh karena itu kami berpandangan <strong>Rasulullah SAW tidak memberi batasan khusus mengenai berapa jumlah rakaat yang harus dilakukan dalam shalat malam.</strong></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hadis Perintah Umar RA</strong></p>
<p>Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Umar RA memerintahkan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah. Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan mengenai berapa rakaat shalat tarawih yang diperintahkan oleh Umar RA. Ada hadis yang menyatakan 11 rakaat, 13 rakaat, 21 rakaat dan 20 rakaat. Semua hadis tersebut shahih sanadnya dan menurut kami ini merupakan petunjuk bahwa saat itu Umar RA dan para shahabat menyadari bahwa Rasulullah SAW tidak pernah membatasi secara khusus berapa jumlah rakaat yang harus dilakukan. Oleh karena itu terkadang mereka shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat, terkadang juga 20 rakaat.</p>
<ul>
<li>Mereka yang Pro 11 berusaha menafikan semua hadis lain selain 11 rakaat dengan alasan-alasan yang dipaksakan</li>
<li>Mereka yang Pro 20 juga menafikan hadis lain selain 20 dengan menuduh hadis lain tersebut Mudhtarib.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>Kami katakan keduanya keliru karena semua hadis tersebut bisa dipakai dan tidak perlu dicari-cari penolakannya. Hadis- hadis tersebut dibagi menjadi dua yaitu</p>
<ul>
<li>Hadis Muhammad bin Yusuf yaitu 11 rakaat, 13 rakaat dan 21 rakaat</li>
<li>Hadis Yazid bin Khasifah yaitu 20 rakaat</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Muhammad bin Yusuf</strong></p>
<p>Muhammad bin Yusuf meriwayatkan hadis perintah Umar ini dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda yaitu 11 rakaat, 13 rakaat dan 21 rakaat. Mereka yang pro 11 menyatakan bahwa hadis yang 11 adalah yang lebih kuat oleh karena itu mereka menakwilkan yang 13 agar klop dengan 11 dan melemahkan hadis 21 rakaat.</p>
<p>Hadis 11 rakaat tersebut di riwayatkan dalam <em>Al Muwatta Kitab Shalat Di Malam Bulan Ramadhan Bab Shalat Di Malam Hari hadis no 251 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi</em></p>
<p><em> </em></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني عن مالك عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد أنه قال أمر عمر بن الخطاب أبي بن كعب وتميما الداري أن يقوما للناس بإحدى عشرة ركعة قال وقد كان القارئ يقرأ بالمئين حتى كنا نعتمد على العصي من طول القيام وما كنا ننصرف إلا في فروع الفجر <em> </em></h2>
<p><em>Yahya menyampaikan kepadaku dari Malik dari Muhammad bin Yusuf dari Sa’ib bin Yazid yang berkata ”Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari untuk melaksanakan shalat malam dengan orang-orang sebanyak 11 rakaat. Pembaca Al Qur’an(imam) akan membaca Al Mi’in(surat yang sedang panjangnya, ada yang berkata 200 ayat)) sehingga kami akan bersandar pada tongkat-tongkat kami karena harus berdiri sedemikian lamanya dalam shalat. Kami tidak pergi sampai mendekati fajar.</em></p></blockquote>
<p><em>.</em></p>
<p>.</p>
<p>Hadis ini memang shahih tetapi Ibnu Ishaq juga meriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf dengan kata-kata sebanyak 13 rakaat. Syaikh Al Albani dalam <em>Shalatut Tarawih</em> tidak menolak riwayat Ibnu Ishaq hanya saja beliau menggunakan penakwilan agar klop dengan hadis yang 11. Penakwilan ini dan kekeliruannya sudah kita bahas sebelumnya.</p>
<p>Abdurrazaq dalam Kitabnya <em>Al Mushannaf</em> juz 4 hal 260 hadis no 7730 meriwayatkan</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن داود بن قيس وغيره عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد أن عمر جمع الناس في رمضان على أبي بن كعب وعلى تميم الداري على إحدى وعشرين ركعة يقرؤون بالمئين وينصرفون عند فروع الفجر <em> </em></h2>
<p><em>Dari Daud bin Qais dan lainnya dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid “Bahwa Pada bulan Ramadhan Umar mengumpulkan orang-orang dan shalat dengan dua puluh satu rakaat, membaca dua ratus ayat hingga awal fajar”</em></p>
<p>.</p>
<p>.</p></blockquote>
<p>Hadis ini juga shahih sanadnya dan tidak perlu dicari-cari penolakannya apalagi dengan menyebar syubhat bahwa Abdurrazaq adalah kacau hafalannya di masa tua<em>(mukhtalith).</em> Anehnya mereka yang menyebar syubhat ini tidak bisa membuktikan apa benar riwayat Abdurrazaq ini diriwayatkan olehnya ketika ia sudah tua. Singkat kata keraguan tidak memberikan hujjah sedikitpun oleh karena kami tetap berpegang bahwa riwayat Abdurrazaq itu shahih.</p>
<p>.</p>
<p>Mereka yang pro 23 justru menyatakan bahwa hadis Muhammad bin Yusuf adalah mudhtarib karena terkadang meriwayatkan 11, 13 dan 21. Pernyataan ini tidak benar karena ketiga riwayat tersebut tidak mesti dianggap bertentangan sehingga harus dipilih salah satunya. Justru ketiga riwayat itu mesti diterima dan dari sini diambil kesimpulan bahwa Umar RA terkadang memerintahkan orang-orang untuk shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat dan terkadang 21 rakaat.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Yazid bin Khasifah</strong></p>
<p>Hadis Yazid bin Khasifah ini diriwayatkan dalam <em>Sunan Baihaqi</em> juz 2 hal 496 no 4393</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن يزيد بن خصيفة عن السائب بن يزيد قال كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة<strong> </strong></h2>
<p><em>Dari Yazid bin Khasifah dari Sa’ib bin Yazid yang berkata ”orang-orang biasa mengerjakan shalat malam pada masa Umar bin Khattab di bulan ramadhan sebanyak 20 rakaat”.</em></p></blockquote>
<p>Hadis ini sepertinya mendukung hadis mursal yang diriwayatkan Yazid bin Ruman dalam <em>Al Muwatta Kitab Shalat Di Malam Bulan Ramadhan Bab Shalat Di Malam Hari hadis no 252 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi</em></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">وحدثني عن مالك عن يزيد بن رومان أنه قال كان الناس يقومون في زمان عمر بن الخطاب في رمضان بثلاث وعشرين ركعة <em> </em></h2>
<p><em>Yahya menyampaikan kepadaku dari Malik bahwa Yazid bin Ruman berkata ”Orang-orang dahulu shalat malam selama Ramadhan sebanyak 23 rakaat pada masa Umar bin Khattab”.</em></p></blockquote>
<p>.</p>
<p>Mereka yang pro 11 seperti Syaikh Al Albani menolak hadis Yazid bin Khasifah dengan mengatakan bahwa hadis tersebut syadz(ganjil) karena menyelisihi hadis yang lebih shahih yaitu hadis Muhammad bin Yusuf yang 11 rakaat. Pernyataan ini terlalu dipaksakan karena hadis-hadis tersebut tidak saling berselisih. Hadis Yazid itu shahih sebagaimana yang juga diisyaratkan oleh Syaikh Al Albani <em>(hadis syadz itu adalah hadis shahih yang bertentangan dengan hadis yang lebih shahih, jadi pernyataan syadz oleh Syaikh Al Albani berarti pengakuannya kalau sanad tersebut shahih). </em>Semua hadis di atas menjelaskan bahwa rakaat shalat di masa Umar RA itu ada bermacam-macam yaitu sebanyak 11, 13, 20,21, dan 23 rakaat. Bisa jadi Umar RA memang pernah memerintahkan pelaksanaan masing-masing rakaat tersebut walaupun kami duga pada akhirnya Beliau lebih menetapkan jumlah 20 rakaat. <strong>Jadi tidak ada hadis shahih yang mesti ditolak dan yang patut dipahami adalah semua rakaat yang ditetapkan oleh Umar RA dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah membuat batasan khusus mengenai berapa jumlah rakaat shalat tarawih. Hal ini termasuk keluasan yang Beliau berikan kepada umatnya.</strong></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Tulisan panjang bagian keempat ini berakhir pada tiga kesimpulan</p>
<ul>
<li>Rasulullah SAW tidak pernah membatasi secara khusus jumlah rakaat shalat tarawih yang harus dilakukan.</li>
<li>Rasulullah SAW juga tidak membatasi secara khusus jumlah rakaat shalat malam.</li>
<li>Perintah Umar RA yang diriwayatkan bermacam-macam dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa Rasulullah SAW tidak memberikan batasan khusus mengenai jumlah rakaat shalat malam di bulan Ramadhan.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Salam Damai</em></strong></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><em>Catatan :</em></p>
<ul>
<li><em>Maaf, maaf akhirnya saya kembali lagi </em> <em><br />
</em></li>
<li><em>Hmmm ternyata ramai juga ya sejak saya menghilang </em></li>
<li><em>Sebenarnya saya lagi bosan disini </em></li>
<li><em>Kreditan saya tinggal satu lagi</em></li>
<li><em>Yang sabar ya dan tolong tahan sedikit kebosanannya </em></li>
</ul>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=215&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-%e2%80%93-bagian-keempat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih Dalam Timbangan &#8211; Bagian Ketiga</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-ketiga/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-ketiga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 13:42:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Ketiga

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran
Benarkah Shalat Tarawih Itu Bid’ah?
.
Daftar Isi
Muqaddimah
Ulasan Singkat Tentang Bid’ah
Hadis Shalat Tarawih Bid’ah

Penjelasan Hadis
Bid’ah Tarawih Masa Kini

Hadis Sunnah Khulafaur Rasyidin
Kemusykilan Hadis
Hadis Ikuti Abu Bakar RA dan Umar RA

Hadis Hudzaifah RA
Hadis Ibnu Mas’ud RA
Hadis Anas RA
Hadis Abu Darda RA

Kesimpulan

.
Muqaddimah
Bid’ah secara sederhana berarti setiap perkara yang baru atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=212&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3><span style="color:#003366;">Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Ketiga<br />
</span></h3>
<h3><span style="color:#008000;">SUMBER: </span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-ketiga/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></h3>
<p><strong>Benarkah Shalat Tarawih Itu Bid’ah?</strong></p>
<p>.</p>
<p><strong>Daftar Isi</strong></p>
<p><strong>Muqaddimah</strong></p>
<p><strong>Ulasan Singkat Tentang Bid’ah</strong></p>
<p><strong>Hadis Shalat Tarawih Bid’ah</strong></p>
<ul>
<li><strong>Penjelasan Hadis</strong></li>
<li><strong>Bid’ah Tarawih Masa Kini</strong></li>
</ul>
<p><strong>Hadis Sunnah Khulafaur Rasyidin</strong></p>
<p><strong>Kemusykilan Hadis</strong></p>
<p><strong>Hadis Ikuti Abu Bakar RA dan Umar RA</strong></p>
<ul>
<li><strong>Hadis Hudzaifah RA</strong></li>
<li><strong>Hadis Ibnu Mas’ud RA</strong></li>
<li><strong>Hadis Anas RA</strong></li>
<li><strong>Hadis Abu Darda RA</strong></li>
</ul>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p><span id="more-212"></span></p>
<p><strong>.</strong></p>
<p><strong>Muqaddimah</strong><br />
Bid’ah secara sederhana berarti setiap perkara yang baru atau diada-adakan. Konsep bid’ah ini juga menjadi masalah yang cukup diperselisihkan oleh sebagian golongan. Di antara mereka ada yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat dan sebagian lain justru mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik<em>(bid’ah hasanah)</em> dan ada yang sesat <em>(bid’ah dhalalah)</em>. Masing-masing pihak mengklaim bahwa merekalah yang benar. Dalam hal ini akar masalah sebenarnya terletak pada konsep bid’ah yang dipahami oleh masing-masing pihak.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Ulasan Singkat Tentang Bid’ah</strong><br />
Bid’ah memiliki beragam pengertian sehingga pemahaman akan luasnya terminologi bid’ah sangat penting. Salafy bisa dikatakan adalah golongan yang menyatakan bahwa <em>setiap bid’ah itu sesat. </em>Mereka berpegang pada pernyataan Imam Syatibi bahwa tidak ada pembagian berupa bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Hal ini ditolak oleh sebagian kalangan dari Ahlus Sunnah yang justru berpegang pada pernyataan Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi menjadi bid’ah hasanah dan dhalalah.</p>
<p>Mari kita lihat sejauh apa keragaman konsep bid’ah</p>
<ul>
<li>Bid’ah bisa berarti suatu syariat yang diada-adakan dan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dengan kata lain syariat yang tidak ada tuntunannya baik dari Al Qur’an maupun Hadis. Inilah bid’ah yang dimaksud dalam kata-kata <em>Setiap bid’ah itu sesat.</em></li>
<li>Bid’ah bisa berarti amalan baru yang dilakukan dalam kerangka Sunnah.</li>
<li>Bid’ah bisa berarti melaksanakan Sunnah dengan cara yang baru atau modifikasi dari Sunnah.</li>
<li>Bid’ah bisa berarti segala hal baru yang sifatnya umum dan memang tidak ada di zaman Rasulullah SAW.</li>
</ul>
<p><em>Shalat dengan menggunakan bahasa Indonesia </em>adalah temasuk bid’ah jenis pertama yang sudah jelas kekeliruannya. <em>Perayaan Maulid Nabi SAW</em> adalah bid’ah jenis kedua yang dilakukan dalam kerangka Sunnah. Sedangkan <em>Pembukuan Al Quran</em> <em>dan Hadis</em> adalah bid’ah jenis ketiga karena sudah dimaklumi bahwa <em>penulisan Al Quran dan Hadis adalah Sunnah</em> hanya saja menuliskannya dengan cara tertentu adalah modifikasi dari Sunnah yang ada. Untuk bid’ah jenis terakhir maka itu semua terkait dengan banyaknya hal baru yang memang tidak ada di zaman Rasulullah SAW. Seperti <em>Shalat di atas sajadah</em>, <em>Azan dengan pengeras suara,</em> <em>berzikir dengan tasbi</em>h, dan lain-lain. Jadi pengertian terhadap bid’ah jenis apa yang dibicarakan  sangat penting untuk mencegah salah pengertian.</p>
<p>.</p>
<p>Perlu diingatkan pembagian di atas bukanlah harga mati yang berarti sudah pasti benar atau tidak akan ada yang lainnya. Sebuah kata terkadang bersifat dinamis dan menyejarah sehingga bersikap kaku dan bersikeras pada sudut pandang sendiri hanyalah mengundang kesalahpahaman yang akhirnya menjurus pada pertentangan.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Shalat Tarawih Bid’ah</strong><br />
Baik kita cukupkan disini saja ulasan singkat tentang bid’ah dan mari kita kembali pada pokok bahasan Shalat Tarawih. Ada hadis yang cukup terkenal dalam masalah <em>Shalat Tarawih yang disebut bid’ah. </em>Hadis tersebut kami ambil dari <em>Al Muwatta Imam Malik Kitab Shalat Di Malam Bulan Ramadhan Bab Shalat Di Malam Hari hadis no 250 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi</em></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">حدثني مالك عن بن شهاب عن عروة بن الزبير عن عبد الرحمن بن عبد القارىء أنه قال خرجت مع عمر بن الخطاب في رمضان إلى المسجد فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلى الرجل لنفسه ويصلى الرجل فيصلي بصلاته الرهط فقال عمر والله إني لأراني لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل فجمعهم على أبي بن كعب قال ثم خرجت معه ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم فقال عمر نعمت البدعة هذه والتي تنامون عنها أفضل من التي تقومون يعني آخر الليل وكان الناس يقومون أوله</h2>
<p><em>Malik menyampaikan kepadaku dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair dari Abdurrahman bin Abdul Qari yang berkata “Aku keluar ke masjid bersama Umar bin Khattab pada suatu malam di bulan Ramadlan, maka kami dapati orang-orang terpencar dalam beberapa kelompok. Beberapa orang shalat sendirian sedangkan yang lainnya shalat dalam kelompok-kelompok kecil. Umar berkata “Demi Allah, Sesungguhnya aku berpendapat akan lebih baik kalau aku mengumpulkan mereka pada satu imam”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka di belakang Ubay bin Ka’ab. Keesokan malamnya aku (Abdurrahman) keluar bersama beliau, dan orang-orang shalat bersama satu imam. Maka Umar berkata “Ini adalah sebaik-baik bid’ah akan tetapi yang engkau tidak peroleh ketika engkau tidur adalah lebih baik daripada yang engkau peroleh dari shalat. Maksudnya adalah bagian terakhir dari malam hari karena orang-orang itu shalat di awal malam”.</em></p></blockquote>
<p><em>.</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p><strong>Penjelasan Hadis</strong><br />
Hadis di atas menjelaskan keadaan shalat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab RA. Pada mulanya Umar melihat orang-orang terpisah dalam kelompok-kelompok. Kelompok tersebut terdiri dari</p>
<ul>
<li>Orang-orang yang shalat sendirian</li>
<li>Orang-orang yang shalat bersama dalam kelompok kecil</li>
</ul>
<p>Cara shalat orang-orang yang berbeda-beda ini adalah sesuai dengan apa yang telah Rasulullah SAW tinggalkan bahwa <em>“Dianjurkan shalat sendirian dan dibolehkan untuk berjamaah”</em>. Hal ini telah kita bahas dalam pembahasan bagian kedua.</p>
<p>.<br />
Kemudian Umar mempunyai pendapat tersendiri yang menurutnya lebih baik. Umar berkata <em>“Demi Allah, Sesungguhnya aku berpendapat akan lebih baik kalau aku mengumpulkan mereka pada satu imam”.</em> Kemudian Beliau memerintahkan orang-orang untuk berkumpul di belakang Ubay bin Ka’ab RA. Hal ini adalah pendapat Umar dan memiliki dua sisi yang luput dari pengamatan sebagian orang.</p>
<ul>
<li>Sisi Nonbid’ah yaitu Shalat berjamaah dengan satu Imam memang pernah terjadi di masa Rasulullah SAW dalam arti hal tersebut dibolehkan.</li>
<li>Sisi Bid’ah yaitu Penetapan atau perintah mengumpulkan orang-orang dalam satu imam adalah hal yang tidak pernah dilakukan di masa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah memberi keluasan dalam pelaksanaan shalat malam dengan memberikan anjuran yang memudahkan yaitu shalat sendirian tetapi membolehkan shalat berjamaah.</li>
</ul>
<p>Oleh karena itu bisa dimengerti mengapa Umar RA mengeluarkan kata-kata <em>Ini adalah sebaik-baik bid’ah.</em> Dalam pandangan Beliau sendiri apa yang dilakukannya memang memiliki unsur bid’ah atau baru. Selain itu beliau juga berpendapat bahwa <em>orang-orang yang tidur atau tidak ikut shalat berjamaah dengan niat shalat di akhir malam adalah lebih baik daripada mereka yang ikut shalat berjamaah.</em> Hal ini tampak jelas dari kata-kata Beliau <em>akan tetapi yang engkau tidak peroleh ketika engkau tidur adalah lebih baik daripada yang engkau peroleh dari shalat. Maksudnya adalah bagian terakhir dari malam hari karena orang-orang itu shalat di awal malam”.</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p><em>.</em><br />
Dari Hadis ini kami menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Umar RA adalah pendapatnya sendiri dan memang bid’ah. Lagipula sepertinya Umar RA sendiri tidak ikut ambil bagian dari shalat berjamaah yang ia perintahkan</p>
<p>Tentu saja kita harus berhati-hati di bagian ini karena ada sebagian orang yang mudah sekali salah paham dan melihat sahabat Nabi SAW sebagai pribadi yang tidak boleh dikomentari atau dikritik. <em>Bid’ah yang dilakukan Umar adalah Ia menetapkan sesuatu yang justru dibolehkan.</em> Shalat tarawih berjamaah itu dibolehkan tetapi bukan berarti sangat dianjurkan. Penetapan dan perintah melaksanakan shalat tarawih berjamaah adalah sesuatu yang baru atau bid’ah tetapi bid’ah ini tidak di tentang oleh para sahabat karena sesuatu yang ditetapkan atau diperintahkan itu sendiri memang dibolehkan di masa Rasulullah SAW. Walaupun begitu kita sudah melihat bahwa Umar sendiri tidak memandang hal tersebut sebagai yang terbaik karena menurutnya mereka yang tidur dan tidak ikut shalat berjamaah dengan tujuan shalat di akhir malam adalah lebih baik dibanding mereka yang shalat berjamaah. <em>Jadi bid’ah yang dimaksud bukanlah jenis bid’ah yang pertama bin dhalalah tetapi bid’ah dalam arti Modifikasi dari Sunnah. </em>Modifikasi itu maksudnya Umar RA menetapkan atau memerintahkan sesuatu dimana Rasulullah SAW hanya membolehkannya.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Bid’ah Tarawih Masa Kini</strong><br />
Hal ini sangat penting untuk dipahami dengan baik. Shalat Tarawih berjamaah sekarang sudah menjadi tradisi yang berubah nilainya. Dari <em>sesuatu yang dibolehkan </em>menjadi <em>sesuatu yang sangat dianjurkan</em>. Tidak jarang kami dapati kebanyakan orang tidak tahu kalau shalat tarawih malah dianjurkan untuk dikerjakan sendiri di rumah walaupun tetap dibolehkan berjamaah di masjid.</p>
<p>Sebagian orang juga berpikir bahwa shalat tarawih berjamaah adalah shalat tarawih yang paling baik dan lebih baik dibanding dilakukan di rumah. Sehingga tidak jarang kami melihat ketimpangan yang aneh yaitu dimana orang-orang berbondong-bondong bersegera kemasjid untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah dibandingkan dengan ketika waktu-waktu shalat wajib <em>(selain Isya’ tentunya)</em> . Padahal justru Shalat wajib benar-benar ditekankan oleh Rasulullah SAW untuk berjamaah.</p>
<p>Apalagi kalau ada yang berpandangan bahwa shalat tarawih berjamaah itu merupakan kontinuitas yang harus dilakukan selama bulan Ramadhan maka kami jelas-jelas tidak setuju. Hal ini dikarenakan Rasulullah SAW sendiri tidak pernah secara kontinu melaksanakan atau memerintahkan shalat Tarawih berjamaah.</p>
<p>Oleh karena itu sekali lagi kami tekankan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan menghidupkan malam bulan Ramadhan yaitu dengan shalat malam yang terserah mau dilakukan bagaimana baik sendiri ataupun berjamaah. Shalat tarawih sebaiknya dilakukan sendiri di rumah tetapi Rasulullah SAW tidak melarang pelaksanaannya secara berjamaah. Shalat Tarawih berjamaah adalah Sunnah yang dibolehkan</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Sunah Khulafaur Rasyidin</strong><br />
Sebagian orang mengklaim bahwa apa yang dilakukan Umar RA juga adalah Sunnah dengan menyatakan bahwa hal tersebut termasuk <em>Sunnah Khulafaur Rasyidin</em>. Mereka berdalil dengan hadis berikut</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن أبي نجيح العرياض ين سارية رضي الله عته ، قال : وعظنا رسول الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب ، وذرفت منها العيون ، فقلنا : يا رسول الله ! كأنها موعظة مودع فأوصنا قال : أوصيكم بتقوي الله ، والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد ، فإنه من يعش منكم فسيري اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ ، وإباكم ومحدثات الأمور ، فإن كل بدعة ضلالة.</h2>
<p><em>Dari Abi Najih Irbadh bin Sariyah RA yang berkata : Rasulullah SAW memberikan kita sebuah nasehat mendalam yang menyebabkan hati bergetar dan air mata bercucuran, lantas kami berkata ”Wahai Rasulullah, Seakan-akan nasehat anda ini seperti nasehat perpisahan, berikanlah wasiat kepada kami.” Rasulullah SAW bersabda : ”Aku berwasiat kepada kalian agar kalian selalu bertakwa kepada Allah SWT, mendengar dan taat kepada penguasa kalian walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak, karena sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti akan melihat perselisihan yang banyak, <strong>maka berpeganglah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.</strong> Gigitlah kuat-kuat dengan gigi geraham kalian dan tinggalkan oleh kalian perkara-perkara baru di dalam agama karena setiap bid’ah itu adalah kesesatan.”</em></p></blockquote>
<p>Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam <em>Sunan Tirmidzi</em> juz 5 hal 44 hadis no 2676 dan beliau berkata <em>“hadis tersebut hasan shahih”</em>. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam <em>Sunan Ibnu Majah</em> juz 1 hal 15 hadis no 42&amp;43 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi dan dinyatakan shahih oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam <em>Sunan Abu Daud</em> juz 2 hal 610 hadis no 4607 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam<em> Al Mustadrak Ash Shahihain</em> juz 1 hal 95-96 hadis no 329 dan beliau nyatakan shahih serta disepakati oleh Adz Dzahabi. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam <em>Musnad Ahmad</em> juz 4 hal 126 hadis no 17182, no 17184 dan no 17185 dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Hadis tersebut juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Kitabnya <em>Silsilah Al Hadis Ash Shahihah </em>no 937.<br />
.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kemusykilan Hadis</strong></p>
<p>Seperti yang disebutkan di atas hadis tersebut adalah hadis yang shahih dan telah dinyatakan shahih oleh banyak ulama hadis. Mari kita bahas hadis tersebut, Hadis tersebut menjelaskan akan adanya perselisihan yang banyak dan untuk itu umat islam diharuskan <em>berpegang pada Sunnah Rasulullah SAW dan Sunnah Khulafaur Rasyidin.</em> Jadi ada dua hal yang harus dilakukan</p>
<ul>
<li>Berpegang Pada Sunnah Rasulullah SAW</li>
<li>Berpegang Pada Sunnah Khulafaur Rasyidin</li>
</ul>
<p>Zahir teks hadis menyatakan <em>harus taat atau berpegang pada keduanya. </em>Mengenai sunnah Rasulullah SAW tentu saya rasa kita sudah sama-sama tahu tetapi bagaimana dengan Sunnah Khulafaur Rasyidin. Sayangnya Rasulullah SAW tidak menjelaskan siapa Khulafaur Rasyidin yang dimaksud.</p>
<ul>
<li>Islam Sunni mengklaim bahwa Khulafaur Rasyidin yang dimaksud adalah Abu Bakar RA, Umar RA, Usman RA dan Ali RA.</li>
<li>Islam Syiah kebanyakan menolak hadis ini, walaupun ada juga yang menerima dan menyatakan kalau Khulafaur Rasyidin yang dimaksud adalah Ahlul Bait AS.</li>
</ul>
<p>Sebenarnya kami punya pandangan khusus soal hadis ini. <a title="Ikut ketularan nih" href="http://sora9n.wordpress.com/?s=%22tapi+itu+cerita+lain+untuk+saat+ini%22" target="_blank">Tapi itu cerita lain untuk saat ini</a></p>
<p>.</p>
<p>.<br />
Maksudnya Hal itu mungkin akan membutuhkan pembahasan tersendiri tetapi poin yang akan kami tekankan disini adalah <strong><em>Tidak ada dalil yang jelas dari Rasulullah SAW bahwa Umar RA adalah Khulafaur Rasyidin yang dimaksud.</em></strong> Jadi siapakah Khulafaur Rasyidin tersebut?</p>
<ul>
<li>Jika pengertian Khulafaur Rasyidin adalah terbatas pada <em>Khalifah-khalifah sepeninggal Rasulullah SAW</em> maka mengapa Muawiyah, Yazid dan seterusnya tidak termasuk di dalamnya. Apakah dengan begitu maka yang namanya Sunnah akan terus bertambah selama Khalifah terus berganti? Bukankah setelah Rasulullah SAW wafat maka yang namanya Syariat sudah tidak akan bertambah lagi.</li>
<li>Jika memang Umar RA adalah Khulafaur Rasyidin yang dimaksud lalu mengapa didapati beliau melarang sesuatu yang sudah ditetapkan sebagai Sunnah Rasul seperti halnya <a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/08/01/bidah-abu-bakar-umar-dan-usman-yang-melarang-haji-tamattu%e2%80%99/" target="_blank"><em>Haji Tamattu’.</em></a> Mengapa Sunnah Rasul dan Sunnah Khulafaur Rasyidin menjadi kontradiktif? Akankah Rasulullah SAW menyuruh berpegang pada dua hal yang kontradiktif.</li>
<li>Jika keempat Khalifah tersebut adalah Khulafaur Rasyidin yang dimaksud maka mengapa didapati bahwa mereka berempat juga berselisih mengenai suatu hal. Sehingga permasalahannya adalah <em>apakah kita harus berpegang pada hal-hal yang berselisih.</em></li>
</ul>
<p>Di antara para Ulama yang beranggapan bahwa keempat Khalifah tersebut Khulafaur Rasyidin, mereka melakukan penakwilan terhadap hadis ini diantaranya</p>
<ul>
<li>Ibnu Hazm Al Andalusi dalam kitabnya <em>Al Ihkam Fi Ushul Al Ahkam</em> juz 6 hal 72 sampai dengan hal 78 telah membahas panjang lebar soal hadis ini dan akhirnya beliau menyimpulkan yaitu <em>Mengikuti mereka dalam mencontoh sunnah Rasulullah SAW. Demikianlah yang benar dan hadits ini tidak sama sekali menunjukkan kecuali kemungkinan ini.</em></li>
<li>Syaikh Al Mubarakfuri dalam <em>Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi</em> ketika menjelaskan hadis ini, beliau berkata <em>bahwa Yang dimaksud dengan sunnah para Khulafaur Rasyidin adalah jalan hidup mereka yang sesuai dengan jalan hidup Rasulullah SAW.</em></li>
</ul>
<p>Jika memang hal ini adalah seperti yang dikatakan oleh para Ulama tersebut maka kami katakan lalu untuk apa Rasulullah SAW berkata <em>SunnahKu dan Sunnah Khulafaur Rasyidin</em>. Bukankah cukup dengan menyatakan<em> SunnahKu</em> saja.</p>
<p>.</p>
<p>.<br />
Dan yang lebih musykil lagi adalah penakwilan sebagian orang bahwa <em>Sunnah Khulafaur Rasyidin itu adalah Pemahaman para sahabat terhadap agama islam, karena mereka berada diatas apa yang di bawa Nabi mereka SAW. </em>Hal ini kami nyatakan aneh karena</p>
<ul>
<li>Berdasarkan hadis diatas Justru sahabat Nabi SAW itu sendiri adalah pihak yang diberi nasehat oleh Rasulullah SAW untuk berpegang pada Sunnah Rasul dan Sunnah Khulafaur Rasyidin.</li>
<li>Pernyataan itu adalah generalisasi yang tidak berdasar dan justru bertentangan dengan pengkhususan sebagian ulama bahwa Khulafaur Rasyidin adalah keempat khalifah seperti yang telah disebutkan.</li>
</ul>
<p>Baiklah kita cukupkan sampai disini pembahasan hadis ini karena jika diteruskan maka lembaran ini akan terlalu panjang dan terlalu meluas ke mana-mana. Singkatnya jika seseorang ingin menyatakan bahwa Umar RA adalah Khulafaur Rasyidin yang dimaksud maka ia harus membawakan dalil bahwa Rasulullah SAW memang menegaskan hal itu dan sayangnya sejauh ini kami tidak mendapati dalil tersebut.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Ikuti Abu Bakar dan Umar</strong><br />
Ada hadis lain yang sering dijadikan dasar bahwa perbuatan Umar RA tersebut adalah Sunnah yang harus diikuti yaitu Hadis yang menyatakan untuk mengikuti Abu Bakar dan Umar. Hadis ini diriwayatkan oleh</p>
<ul>
<li> Hudzaifah RA</li>
<li>Ibnu Mas’ud RA</li>
<li>Anas RA dan</li>
<li>Abu Darda RA.</li>
</ul>
<p>Semua jalannya tidak satupun terlepas dari cacat. Berikut pembahasan satu-persatu hadis tersebut.</p>
<p><strong>Hadis Hudzaifah RA</strong><br />
Hadis Hudzaifah RA ini diriwayatkan dalam <em>Musnad Ahmad </em>juz 5 hal 385 hadis no 23324 dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadis tersebut hasan dengan syawahid tetapi sanad hadisnya dhaif. Diriwayatkan dalam <em>Sunan Tirmidzi </em>juz 5 hal 609-610 hadis no 3662, 3663, dan 3799 berkata Imam Tirmidzi pada hadis no 3662 <em>“hadis hasan”</em> dan Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadis ini pada hadis no 3663 dan 3799. Diriwayatkan dalam <em>Sunan Ibnu Majah</em> juz 1 hal 37 hadis no 97 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi dan beliau nyatakan shahih. Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam <em>Al Mustadrak</em> juz 3 hal 75 hadis no 4451, 4452, 4453, 4454, dan 4455. Hadis ini juga dinyatakan shahih oleh Al Hakim.</p>
<h2 style="text-align:right;">عن حذيفة بن اليمان قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني لا أدري ما قدر بقائي فيكم . فاقتدوا باللذين من بعدي وأشار إلى أبي بكر وعمر</h2>
<p><em>Dari Hudzaifah RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan bersama kalian maka ikutilah jejak dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar” </em></p>
<p>Hadis di atas diriwayatkan dengan sanad yang bermuara</p>
<ul>
<li>Dari Abdul Malik bin Umair dari Rib’i bin Hirasy dari Hudzaifah atau</li>
<li>Dari Abdul Malik bin Umair dari mawla Rib’i dari Rib’i dari Hudzaifah RA.</li>
</ul>
<p>Perawi hadis ini adalah perawi yang dikenal tsiqat kecuali <em>Abdul Malik bin Umair</em>, beliau diperselisihkan, sebagian mentsiqahkannya dan sebagian melemahkannya yaitu Imam Ahmad, Ibnu Main dan Abu Hatim. Dalam hal ini kami cenderung pada mereka yang mentsiqahkan Abdul Malik.</p>
<p>Oleh karena itu hadis Hudzaifah seharusnya bersanad shahih. Tetapi hadis tersebut memiliki Illat<em>(cacat)</em> yaitu sanadnya munqathi atau terputus. Rib’i bin Hirasy tidak mendengar dari Hudzaifah RA. Hal ini dinyatakan oleh Al Manawi dalam <em>Faidh Al Qadhir Syarh Jami’ As Saghir</em> juz 2 hal 72 no 1318 beliau berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قال ابن حجر : اختلف فيه على عبد الملك وأعله أبو حاتم وقال البزار كابن حزم لا يصح لأن عبد الله لم يسمعه من ربعي وربعي لم يسمعه من حذيفة ، لكن له شاهد.</h2>
<p style="text-align:right;">
<p><em>Ibnu Hajar berkata “Abdul Malik diperselisihkan keadaannya dan dicacatkan oleh Abu Hatim. Al Bazzar dan Ibnu Hazm berkata hadis ini tidak shahih karena Abdul Malik tidak mendengar dari Rib’i dan Rib’i tidak mendengar dari Hudzaifah, tetapi hadis ini memiliki pendukung.<br />
</em></p>
<p>.</p>
<p>Hal senada juga dinyatakan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i dalam <em>Tatabbu’ Al Auham Allati Sakata ’Alaiha Adz Dzahabi Kama Fil Mustadrak </em>hadis no 4513 yang menyatakan <em>”Rib’i bin Hirasy tidak mendengar dari Hudzaifah”</em></p>
<p>Oleh karena itu mereka yang menshahihkan hadis ini adalah keliru karena hadis tersebut sanadnya terputus dan sudah jelas dhaif.</p>
<p>Syaikh Al Albani telah memasukkan hadis Hudzaifah dalam Kitabnya <em>Silsilah Al Hadis Ash Shahihah </em>no 1233 dan menjadikan hadis Ibnu Mas’ud dan Hadis Anas sebagai syahid atau pendukung hadis tersebut. Dalam hal ini kami nyatakan Syaikh Al Albani telah keliru karena semua hadis itu benar-benar cacat hadisnya.</p>
<p>.</p>
<p>.<br />
<strong>Hadis Ibnu Mas’ud RA</strong></p>
<p>Hadis Ibnu Mas’ud ini diriwayatkan dalam <em>Sunan Tirmidzi</em> juz 5 hal 672 hadis no 3805 dan dalam <em>Al Mustadrak</em> Al Hakim hadis no juz 3 hal 75 hadis no 4456.</p>
<h2 style="text-align:right;">عن ابن مسعود قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم افتدوا باللذين من بعدي من أصحابي أبي بكر و عمر واهتدوا بهدي عمار وتمسكوا بعهد ابن مسعود</h2>
<p style="text-align:right;">
<p><em>Dari Ibnu Mas’ud RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda ”Ikutilah jejak dua orang setelahku Abu Bakar dan Umar. Jadikan pegangan oleh kalian petunjuk Ammar dan peganglah wasiat Ibnu Mas’ud.</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p>Hadis ini juga memiliki cacat dalam sanadnya yaitu</p>
<ul>
<li>Dalam sanad hadis ini terdapat Ibrahim bin Ismail bin Yahya bin Salamah bin Kuhail, beliau dhaif hadisnya seperti yang dinyatakan Ibnu Hajar dalam <em>Taqrib At Tahdzib</em> juz 1 hal 53 no 149.</li>
<li>Dalam hadis ini Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya Ismail yang merupakan perawi matruk atau ditinggalkan hadisnya seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> juz 1 hal 100 no 494 dan hal ini juga dinyatakan Adz Dzahabi dalam <em>Al Mughni Ad Dhuafa</em> no 734.</li>
<li>Dalam hadis ini Ismail meriwayatkan dari ayahnya Yahya bin Salamah bin Kuhail. Adz Dzahabi dalam <em>Al Mughni Adh Dhu’afa</em> no 6977 mengutip Abu Hatim mengatakan Yahya adalah munkar al hadis, ditinggalkan hadisnya oleh An Nasa’i dan dinyatakan dhaif hadisnya oleh Al Uqaili.</li>
</ul>
<p>Oleh karena itu hadis ini benar-benar dhaif dan tidak tepat dijadikan syahid atau pendukung hadis Hudzaifah. Syaikh Al Albani dalam<em> Misykat Al Mashabih</em> juz 3 hal 358 no 6221 menyatakan hadis Ibnu Mas’ud ini dhaif tetapi anehnya di tempat yang lain beliau malah memasukkan hadis ini dalam <em>Shahih Jami’As Saghir </em>no 1144. Hadis Ibnu Mas’ud ini dinyatakan oleh Adz Dzahabi dalam <em>Talkhis Al Mustadrak</em> <em>”sanadnya wahin</em>” (lemah hadisnya) dan begitu pula yang dikatakan oleh Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam  <em>Tatabbu’ Al Auham Allati Sakata ’Alaiha Adz Dzahabi Kama Fil Mustadrak</em> hadis no 4518.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Anas RA</strong><br />
Mengenai hadis Anas matannya sama dengan matan hadis Ibnu Mas’ud. hadis ini juga dhaif sanadnya dan diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dalam <em>Al Kamil</em> juz 2 hal 666 dengan sanad dari Amr bin Harim dari Anas. Amr bin Harim tidaklah bertemu dengan satu sahabatpun jadi sanadnya terputus.<br />
Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam <em>Ahadits Mu’allah Zhahiruha Ash Shihhah</em> hal 118 telah mendhaifkan hadis Hudzaifah Ikuti Abu Bakar dan Umar. Beliau  berkata</p>
<blockquote><p><em>”Apa yang disebutkan bahwa hadis Ibnu Mas’ud dan hadis Anas saling mendukung tidaklah benar karena sanad hadis itu terputus sehingga keduanya sama-sama parah dalam kedhaifannya”</em></p></blockquote>
<p><em>.</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p><strong>Hadis Abu Darda RA</strong><br />
Kami juga menemukan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Abu Darda RA dalam <em>Majma Az Zawaid </em>juz 9 hal 40 no 14356</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن أبي الدرداء قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم<br />
اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر فإنهما حبل الله الممدود ومن تمسك بهما فقد تمسك بالعروة الوثقى التي لا انفصام لها</h2>
<p><em>Dari Abu Darda RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda ”Ikutilah dua orang setelahku Abu Bakar dan Umar sebab keduanya adalah tali Allah yang memanjang. Siapa yang berpegang pada keduanya maka dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat dan tidak akan lepas”.</em></p></blockquote>
<p>Hadis ini dhaif sanadnya karena terdapat perawi yang tidak dikenal. Al Haitsami berkata tentang hadis ini</p>
<h2 style="text-align:right;">رواه الطبراني وفيه من لم أعرفهم</h2>
<p><em>Hadis riwayat Thabrani dan di dalamnya terdapat perawi yang tidak aku kenal</em><br />
Hadis Abu Darda RA ini juga dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Al Hadis Adh Dhaifah</em> no 2330.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Pada bagian ketiga ini kami akan menyimpulkan beberapa hal yaitu</p>
<ul>
<li>Perbuatan Umar RA yang memerintahkan atau mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah di masjid adalah bid’ah tetapi bukan berarti itu adalah sesat.</li>
<li>Dalam hal ini perintah Umar RA itu bukan berarti menghidupkan sunnah dan tidak pula merupakan hal yang sangat dianjurkan karena seperti yang kami katakan sebelumnya Shalat Tarawih berjamaah adalah sesuatu yang dibolehkan oleh Nabi SAW.</li>
<li>Menurut Umar RA, mereka yang tidur dan tidak ikut shalat tarawih berjamaah dengan tujuan shalat di akhir malam adalah lebih baik daripada mereka yang shalat tarawih berjamaah.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Salam Damai</strong></p>
<p>.</p>
<p><em>Catatan :</em></p>
<ul>
<li><em>Hmm kok saya sudah mulai berasa bosan ya</em></li>
<li><em>Tapi sekarang sudah hari minggu</em></li>
<li><em>Waktu yang tepat buat menghilang</em></li>
</ul>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=212&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih Dalam Timbangan &#8211; Bagian Kedua</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-kedua/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 13:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Kedua

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran
Apakah Shalat Tarawih Harus Berjamaah?
.
Daftar Isi
 
Muqaddimah
Hadis Aisyah RA

Penjelasan Hadis Aisyah RA
Kekhawatiran Nabi SAW
Jamaah Yang Bertambah Banyak
Catatan Atas Interpretasi Hadis Aisyah RA

Hadis Taqrir Nabi SAW
Hadis Anas RA
Hadis Nu’man bin Basyir RA dan Abu Dzar RA
Shalat Tarawih Di Rumah Lebih Utama
.
.
Ok kita mulai saja lanjutannya

 
Muqaddimah
Hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=206&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3><span style="color:#003366;">Shalat Tarawih Dalam Timbangan – Bagian Kedua<br />
</span></h3>
<h3><span style="color:#008000;">SUMBER: </span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/09/11/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-kedua/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></h3>
<p><strong>Apakah Shalat Tarawih Harus Berjamaah?</strong></p>
<p>.</p>
<p>Daftar Isi</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em><strong>Muqaddimah</strong></em><br />
<em><strong>Hadis Aisyah RA</strong></em></p>
<ul>
<li><em><strong>Penjelasan Hadis Aisyah RA</strong></em></li>
<li><em><strong>Kekhawatiran Nabi SAW</strong></em></li>
<li><em><strong>Jamaah Yang Bertambah Banyak</strong></em></li>
<li><em><strong>Catatan Atas Interpretasi Hadis Aisyah RA</strong></em></li>
</ul>
<p><em><strong>Hadis Taqrir Nabi SAW</strong></em><br />
<em><strong>Hadis Anas RA</strong></em><br />
<em><strong>Hadis Nu’man bin Basyir RA dan Abu Dzar RA</strong></em><br />
<em><strong>Shalat Tarawih Di Rumah Lebih Utama</strong></em><br />
.</p>
<p>.</p>
<p>Ok kita mulai saja lanjutannya</p>
<p><span id="more-206"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Muqaddimah</strong></p>
<p>Hal yang umum sekali bahwa <em>Shalat Tarawih itu berjamaah</em>. Tapi jika kita menempatkan diri berbicara masalah ini berdasarkan standar-standar tertentu maka jawabannya relatif. Bisa menjadi sangat umum atau malah tidak umum. Mari kita memeriksa hal ini dari sumber pedoman kita yang mulia <em>Al Imam Rasulullah SAW</em> dan tentu saja melalui hadis-hadis yang shahih. Jika kita melihat hadis-hadis yang shahih mengenai perkara ini maka dapat diketahui bahwa memang Shalat tarawih pernah dilakukan di zaman Rasulullah SAW secara berjamaah.</p>
<p>Perlu diingatkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan cara yang khusus dari shalat tarawih yang berbeda dengan shalat-shalat malam di bulan lain. Pada mulanya Rasulullah SAW shalat tarawih sendirian kemudian ada beberapa sahabat yang ikut shalat di belakang Beliau SAW hingga akhirnya jumlahnya menjadi sangat banyak. Tetapi setelah itu Rasulullah SAW tidak mengerjakannya secara berjamaah karena khawatir akan diwajibkan Allah SWT. Hadis-hadis yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah berjamaah dengan sahabat selama beberapa hari semuanya adalah hadis yang shahih dan tidak ada alasan untuk menolaknya.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Aisyah RA</strong></p>
<p>Berikut hadis Aisyah RA yang kami ambil dari Kitab <em>Al Muwatta Imam Malik Kitab Shalat Fi Ramadhan Bab Targhib Fi Shalat Fi Ramadhan</em> hadis no 248 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">حدثني يحيى عن مالك عن بن شهاب عن عروة بن الزبير عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صلى في المسجد ذات ليلة فصلى بصلاته ناس ثم صلى الليلة القابلة فكثر الناس ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أو الرابعة فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه و سلم فلما أصبح قال قد رأيت الذي صنعتم ولم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني خشيت أن تفرض عليكم وذلك في رمضان <em> </em></h2>
<p><strong> </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Yahya menyampaikan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair dari Aisyah istri Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW shalat di masjid pada suatu malam dan orang-orang pun shalat di belakangnya. Kemudian Beliau shalat di malam berikutnya dan lebih banyak orang yang shalat di belakangnya. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat dan Rasulullah SAW tidak menemui mereka. Pada pagi harinya, Beliau berkata ”Aku melihat apa yang kalian kerjakan, satu-satunya hal yang mencegah aku untuk keluar menemui kalian adalah karena aku khawatir shalat malam (bulan Ramadhan) akan menjadi wajib bagi kalian”. Hal ini terjadi di bulan Ramadhan.</em></p></blockquote>
<p>.</p>
<p>Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Abu Daud dan Nasa’i dengan beberapa tambahan. Syaikh Al Albani dalam Tulisannya <em>Shalatut Tarawih</em> mengutip hadis tersebut sebagai berikut</p>
<blockquote><p><em>Aisyah RA berkata ”Manusia shalat di masjid Rasulullah SAW di bulan Ramadlan<strong> </strong>dengan terpisah-pisah. Seseorang yang mempunyai sedikit dari hafalan AlQur’an bersama lima atau enam orang atau kurang atau lebih daripada itu. Mereka shalat bersama seorang tadi. Kemudian  Rasulullah SAW memerintahkan pada malam itu untuk meletakkan tikar di depan pintu kamarku. Aku pun melaksanakannya. Kemudian Rasulullah SAW  keluar setelah shalat Isya’ yang akhir. Dan berkumpullah manusia yang ada di masjid dan Rasulullah SAW shalat bersama mereka sampai larut malam. Rasulullah kemudian kembali ke rumah  dengan meninggalkan tikar begitu saja Pada pagi harinya manusia membicarakan shalat Rasulullah SAW bersama orang-orang yang ada di masjid pada malam itu. Maka masjid itu penuh dengan manusia. </em></p>
<p><em>Kemudian Rasulullah SAW keluar pada malam yang kedua dan mereka pun shalat bersama Beliau. Manusia kembali membicarakan hal itu. Setelah itu bertambah banyaklah yang menghadiri masjid sampai penuh sesak). Pada malam yang ketiga Beliau pun keluar dan manusia shalat bersama beliau. Ketika malam yang keempat, masjid hampir tidak cukup. Kemudian Rasulullah SAW shalat Isya’ yang akhir bersama mereka dan masuk ke rumah beliau, sedang manusia tetap (di masjid). Rasulullah berkata kepadaku “Wahai Aisyah, bagaimana keadaan orang-orang bisa seperti itu?” Aku katakan “Wahai Rasulullah, manusia mendengar tentang shalatmu bersama orang yang ada di masjid tadi malam, maka mereka berkumpul untuk itu agar engkau mau shalat bersama mereka.” Maka beliau berkata ”Lipat tikarmu, wahai Aisyah!” Aku pun melaksanakannya. Rasulullah SAW bermalam di rumah dan tidak dalam keadaan lalai sedangkan manusia tetap pada tempat mereka. Mulailah beberapa orang dari mereka mengucapkan kata,“shalat” Sampai Rasulullah SAW  keluar untuk shalat Shubuh. </em></p>
<p><em>Setelah shalat fajar, beliau menghadap kepada manusia dan bertasyahud kemudian bersabda “Amma ba’du, wahai manusia, demi Allah, Alhamdulillah tidaklah aku tadi malam dalam keadaan lalai dan tidaklah keadaan kalian tersamarkan bagiku. Akan tetapi aku khawatir akan diwajibkan atas kalian (dalam riwayat lain : Akan tetapi aku khawatir shalat malam diwajibkan atas kalian) kemudian kalian tidak sanggup untuk melaksanakannya, maka berarti kalian dibebani amal-amal yang kalian tidak mampu. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan.“ Pada riwayat lain ada tambahan dari Az Zuhri yang berkata “Setelah Rasulullah SAW  wafat, keadaannya demikian. Hal ini berlangsung sampai masa khilafah Abu Bakar dan pada awal khilafah Umar.” </em><em>(Hadis Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai dan lainnya)</em></p></blockquote>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Penjelasan Hadis Aisyah RA</strong></p>
<p>Mari kita perhatikan baik-baik hadis tersebut. Hadis tersebut menceritakan bahwa Rasulullah SAW shalat pada suatu malam di masjid kemudian beberapa orang shalat di belakang Beliau dan hari-hari berikutnya malah semakin bertambah banyak yang ikut shalat di belakang Beliau SAW. Hal pertama yang harus dipahami dari bagian ini adalah <strong><em>Rasulullah SAW tidak mengajak orang-orang untuk shalat berjamaah bersama Beliau.</em></strong> Orang-orang tersebut ikut sendiri shalat di belakang Nabi SAW dan Nabi SAW mengizinkan mereka untuk ikut. Bukti dari hal ini adalah</p>
<ul>
<li>Tidak adanya kata-kata yang jelas dalam hadis di atas yang menyatakan bahwa Nabi SAW mengajak orang-orang untuk shalat berjamaah.</li>
<li>Penggalan hadis selanjutnya justru membuktikan apa yang kami katakan. Dalam hadis <em>Al Muwatta</em> yang kami kutip, Rasulullah SAW berkata <em>Aku melihat apa yang kalian kerjakan</em>, kata-kata ini menyiratkan bahwa fenomena orang-orang yang ikut shalat di belakang Nabi SAW bukanlah berasal dari ajakan Rasulullah SAW.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kekhawatiran Nabi SAW</strong></p>
<p>Perhatikan kata-kata <em>satu-satunya hal yang mencegah aku untuk keluar menemui kalian adalah karena aku khawatir shalat malam (bulan Ramadhan) akan menjadi wajib bagi kalian</em>”. Pernahkah anda bertanya-tanya setelah kesekian kalinya membaca hadis ini, misalnya</p>
<ul>
<li><em>Mengapa Nabi SAW menjadi khawatir?. </em></li>
<li><em>Apakah Nabi SAW akan khawatir jika beliau sendiri yang mengajak orang-orang untuk berjamaah?.</em></li>
</ul>
<p>Lihatlah sekali lagi hadis tersebut, kekhawatiran Nabi SAW timbul ketika orang-orang yang shalat di belakang Beliau SAW bertambah banyak. Hal ini sampai membuat Beliau heran dan bertanya kepada Aisyah RA. <em> </em></p>
<blockquote><p><em>Rasulullah berkata kepadaku “Wahai Aisyah, bagaimana keadaan orang-orang bisa seperti itu?” </em></p></blockquote>
<p>Jika memang Beliau pada awalnya mengajak orang-orang untuk berjamaah maka tidak ada yang perlu diherankan. Seandainya Rasulullah SAW memang mengajak orang-orang untuk shalat berjamaah maka tidak perlu ada kekhawatiran Rasulullah SAW karena sudah merupakan hal yang lumrah bahwa orang-orang akan sangat antusias terhadap ajakan Nabi SAW.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Jamaah Yang Bertambah Banyak</strong></p>
<p>Dalam hadis ini tersirat bahwa orang-orang menjadi begitu antusias untuk shalat di belakang Nabi SAW sehingga mereka membicarakan hal itu kepada orang lain dan orang lain juga menginginkan shalat bersama Rasulullah SAW. Hal ini ternyata membuat Nabi SAW khawatir. Dan ini tampak jelas pada kata-kata</p>
<blockquote><p><em>Aku katakan “Wahai Rasulullah, manusia mendengar tentang shalatmu bersama orang yang ada di masjid tadi malam, maka mereka berkumpul untuk itu agar engkau mau shalat bersama mereka.” Maka beliau berkata ”Lipat tikarmu, wahai Aisyah!”</em></p></blockquote>
<p>Oleh karena itu Beliau untuk hari-hari berikutnya tidak lagi shalat berjamaah bersama orang-orang dan melakukan shalat malam di rumah.</p>
<p>Jadi <em>Fenomena Jamaah Yang Bertambah Banyak</em> membuat Nabi SAW khawatir kalau Shalat malam akan diwajibkan oleh Allah SWT.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Catatan Atas Interpretasi Hadis Aisyah RA</strong></p>
<p>Syaikh Al Albani dalam <em>Shalatut Tarawih</em> menjadikan hadis ini sebagai dalil bahwa <em>Shalat tarawih berjamaah itu sangat dianjurkan</em>, beliau berkata</p>
<blockquote><p><em>Perbuatan Nabi SAW berjama’ah selama tiga malam bersama mereka, merupakan petunjuk jelas bahwa shalat Tarawih itu sebaiknya dikerjakan dengan berjama’ah</em></p></blockquote>
<p>Catatan kami atas kata-kata Beliau adalah Perbuatan Nabi SAW berjamaah selama tiga malam bersama orang-orang justru menunjukkan dibolehkannya Shalat Tarawih berjamaah. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan hal itu sangat dianjurkan. Karena seperti yang kami katakan <strong><em>Rasulullah SAW tidak mengumumkan ajakan tetapi orang-oranglah yang ikut shalat di belakang Beliau SAW.</em></strong></p>
<p>Kemudian Beliau Syaikh Al Albani juga berkata</p>
<blockquote><p><em>Adapun Rasulullah SAW meninggalkannya pada malam ke empat, tidak dapat diartikan bahwa anjuran itu sudah dihapuskan, karena ketika itu beliau menyebutkan alasannya yaitu “Aku khawatir akan diwajibkan atas kamu”.</em></p></blockquote>
<p>Jika memang Nabi SAW yang menganjurkan atau mengajak orang-orang maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Kekhawatiran timbul ketika Rasulullah SAW melihat orang-orang menjadi begitu berlebihan dalam masalah ini.</p>
<p>Syaikh Al Albani akhirnya berkata</p>
<blockquote><p><em>Tetapi dengan wafatnya beliau, maka hilang pula kekhawatiran tersebut setelah Allah SWT menyempurnakan syariatnya. Berarti kita kembali kepada hukum yang terdahulu yaitu disyariatkan berjama’ah, oleh karena itu Umar RA berusaha menghidupkan kembali tuntunan tersebut. Demikian pula sikap yang diambil oleh Jumhur Ulama’</em></p></blockquote>
<p>Dari dulu kami ingin sekali mengkritisi bagian ini. Sebelumnya telah ditunjukkan bahwa ketika Rasulullah SAW shalat malam di masjid, beliau pada awalnya tidak mengajak orang-orang tetapi beliau membolehkan orang-orang untuk ikut shalat di belakang Beliau SAW. <strong><em>Jadi hukum terdahulu shalat tersebut adalah shalat sendiri dan dibolehkan berjamaah. </em></strong>Hal ini terus berlangsung hingga Rasulullah wafat seperti yang dikutip Az Zuhri</p>
<blockquote><p><em>“Setelah Rasulullah SAW wafat, keadaannya demikian. Hal ini berlangsung sampai masa khilafah Abu Bakar dan pada awal khilafah Umar.”</em></p></blockquote>
<p>Mengenai kata-kata ini Ibnu Hajar berkata <em>”maksudnya dalam keadaan shalat tarawih berjamaah ditinggalkan”</em> dan Syaikh Al Albani berkata <em>”Lebih tepat dikatakan bahwa maksudnya shalat tarawih dikerjakan dengan berkelompok-kelompok”.</em> Dalam hal ini kami berpandangan bahwa <em>keadaan demikian</em> itu maksudnya Tidak ada penetapan khusus bahwa shalat tarawih itu harus atau dianjurkan berjamaah tetapi dibolehkan untuk dilakukan berjamaah.</p>
<p>.</p>
<p>Bagian lain yang menarik adalah kata-kata <em>Tetapi dengan wafatnya beliau, maka hilang pula kekhawatiran tersebut</em>. Mengapa bisa begini? Apakah karena kekhawatiran tersebut ada pada Nabi SAW maka ketika Nabi SAW wafat, Sang Kekhawatiran akan ikut wafat. Kami rasa tidak, kekhawatiran tersebut masih ada tertera dalam hadis-hadis Beliau yang shahih dan kita bisa mengetahuinya dengan jelas. Apakah karena Nabi SAW wafat maka itu berarti tidak ada lagi syariat baru sehingga tidak mungkin bisa diwajibkan? Memang benar tidak akan ada lagi syariat baru dan syariat lama adalah <strong><em>Nabi SAW biasa shalat malam sendiri dan pernah berjamaah.</em></strong></p>
<p>.</p>
<p>Sebenarnya darimana muncul kekhawatiran Nabi SAW?. Kami pribadi yakin bahwa Nabi SAW adalah pribadi yang tidak akan sekedar menduga-duga atau sekedar khawatir. Rasa khawatir itu adalah bentuk kepedulian Rasulullah SAW kepada umatnya ketika melihat mereka bersusah-susah dan berlebihan untuk amalan yang telah diberikan kemudahan. Hal inilah yang membuat Rasulullah SAW takut kalau-kalau shalat malam itu menjadi diwajibkan. Bagi saya Rasa khawatir Nabi itu datang dari Allah SWT sebagai tanda bahwa Rasulullah SAW tidak menetapkan atau menganjurkan untuk shalat malam berjamaah tetapi Rasulullah SAW membolehkannya. Hal ini tampak jelas ketika orang-orang ingin shalat bersama Beliau SAW maka beliau mengizinkannya hanya saja saat orang-orang menjadi begitu antusias dan bertambah banyak maka Rasulullah SAW tidak lagi melakukannya.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hadis Taqrir Nabi SAW</strong></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Tsa’labah bin Abi Malik dan kami kutip dari <em>Sunan Baihaqi</em> juz 2 hal 495 hadis no 4386.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">ثعلبة بن أبي مالك القرظي حدثه قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات ليلة في رمضان فرأى ناسا في ناحية المسجد يصلون فقال ما يصنع هؤلاء قال قائل يا رسول الله هؤلاء ناس ليس معهم قرآن وأبي بن كعب يقرأ وهم معه يصلون بصلاته قال قد أحسنوا أو قد أصابوا ولم يكره ذلك لهم</h2>
<p><em>Tsa’labah bin Abi Malik Al Quradzi berkata Rasulullah SAW pada suatu malam di bulan Ramadhan keluar dan melihat sekelompok orang shalat di sebelah masjid. Beliau bertanya “Apa yang mereka lakukan ?”. Seseorang menjawab “Wahai Rasulullah, mereka adalah orang yang tidak bisa membaca Al Qur’an, Ubay bin Ka’ab membacakan untuk mereka dan bersama dia lah mereka shalat.” Maka beliau bersabda “Mereka telah berbuat baik” atau “Mereka telah berbuat benar dan hal itu tidak dibenci bagi mereka.”</em></p></blockquote>
<p>Baihaqi berkata perihal hadis ini bahwa hadis tersebut mursal hasan.Tetapi Syaikh Al Albani telah menguatkannya dan menyatakan bahwa hadis ini memiliki syawahid dari hadis lain yang bersambung dengan sanad “tidak mengapa”. Beliau berkata</p>
<p align="right">
<h2 style="text-align:right;">وقد روي موصولا من طريق آخر عن أبي هريرة بسند لابأس به في المتابعات والشواهد أخرجه ابن نصر في قيام الليل ( ص 20 ) وأبو داود ( 1/217 ) والبيهقي</h2>
<p align="right">
<p><em>Hadits ini telah diriwayatkan secara bersambung dari jalan lain dari Abu Hurairah RA dengan sanad tidak mengapa karena ada hadits-hadits pendukungnya. Hadits ini disebutkan pula oleh Ibnu Nashr di dalam Qiyamul Lail, riwayat Abu Dawud 1/217 dan Al Baihaqi.</em></p>
<p>Seperti penjelasan kami sebelumnya hadis tersebut adalah bukti nyata kalau Rasulullah SAW membolehkan shalat tarawih berjamaah. Tetapi kami tidak sependapat dengan Syaikh Al Albani jika hadis ini dijadikan dasar bahwa shalat tarawih berjamaah itu sangat dianjurkan. Penarikan kesimpulan pada hadis ini hanya menunjukkan pembolehan bukan dianjurkan. Kata-kata Nabi SAW <em>“Mereka telah berbuat baik” atau “Mereka telah berbuat benar dan hal itu tidak dibenci bagi mereka.”</em> lebih tepat menunjukkan dibolehkan atau diizinkan dan tentu saja hal ini baik dan benar bagi <em>Mereka yang tidak bisa membaca Al Quran</em> untuk shalat berjamaah dengan <em>Imam yang mahir bacaan Al Qur’annya.</em></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Anas RA</strong></p>
<p>Hadis Anas RA ini diriwayatkan dalam <em>Musnad Ahmad</em> juz 3 hal 199 no 13087, hal 212 no 13236 dan hal 291 no 14134 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Syaikh Albani juga menshahihkannya dalam <em>Shalatut Tarawih</em> dan menyatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Nashr dengan dua sanad yang shahih dan Thabrani dalam <em>Al Ausath</em>. Hadis tersebut diriwayatkan dengan sedikit perbedaan redaksi dan berikut kami kutip dari <em>Shalatut Tarawih</em> Syaikh Al Albani.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن أنس قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان فجئت فقمت إلى جنبه ثم جاء آخر ثم جاء آخر حتى كنا رهطا فلما أحس رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا خلفه تجوز في الصلاة ثم دخل منزله فلما دخل منزله صلى صلاة لم يصلها عندنا فلما أصبحنا قلنا : يا رسول الله أو فطنت لنا البارحة ؟ فقال : نعم وذاك الذي حملني على ما صنعت</h2>
<p><em>Dari Anas RA yang berkata ”Rasulullah SAW melaksanakan shalat di bulan Ramadhan. Aku datang dan berdiri di sampingnya. Kemudian datang yang lain dan yang lain sampai Kami menjadi berkelompok. Tatkala Rasulullah SAW merasa bahwa kami ada di belakangnya, Beliau meringankan bacaan shalat, kemudian masuk ke rumah beliau. Sesudah masuk ke rumahnya, Beliau shalat di sana dan tidak shalat bersama kami. Keesokan harinya kami bertanya “Wahai Rasulullah, apakah engkau tadi malam mengajari kami?”. Maka Beliau pun menjawab : “Ya, dan itulah yang menyebabkan aku berbuat.“</em></p></blockquote>
<p>Hadis ini kembali menguatkan apa yang kami katakan bahwa Rasulullah SAW pada awalnya memang sedang shalat sendiri kemudian para sahabat datang dan ikut shalat di belakangnya. Rasulullah SAW mengizinkan mereka untuk ikut shalat tetapi setelah itu Beliau pulang kerumah, shalat di sana dan tidak bersama mereka para sahabat. Jadi apa yang tersirat dari hadis ini adalah Rasulullah SAW lebih suka shalat sendiri tetapi tidak ada masalah jika mau berjamaah. Hal itu sudah jelas dibolehkan oleh Nabi SAW.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Abu Dzar RA dan Nu’man bin Basyir RA<br />
</strong></p>
<p>Kedua hadis ini dijadikan dalil sebagai anjuran shalat tarawih berjamaah oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shalatut Tarawih</em>. Hadis Nu’man bin Basyir dikatakan oleh Syaikh Al Albani diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Al Mushannaf</em>, Ibnu Nashr, Nasa’I, Ahmad, Al Faryabi dan Al Hakim. Kami temukan hadis ini dalam <em>Musnad Ahmad</em> juz 4 hal 272 no 18426 dan berkata Syaikh Al Arnauth <em>“Sanadnya shahih dan semua perawinya tsiqat yaitu perawi kitab Shahih kecuali Nu’aim bin Ziyad yang merupakan perawi Imam Nasa’i”</em>.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن النعمان بن بشير قال : قمنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة ثلاث وعشرين في شهر رمضان إلى ثلث الليل الأول ثم قمنا معه ليلة خمس وعشرين إلى نصف الليل ثم قام بنا ليلة سبع وعشرين حتى ظننا أن لا ندرك الفلاح قال وكنا ندعو السحور الفلاح</h2>
<p><em>Dari Nu’man bin Basyir yang berkata Kami shalat bersama Rasulullah SAW pada malam ke-23 di bulan Ramadlan sampai sepertiga malam pertama. Kemudian kami shalat bersama beliau pada malam ke-25 sampai pertengahan malam. Kemudian beliau shalat bersama kami pada malam ke-27 sampai kami menyangka bahwa kami tidak mendapatkan Falaah. Ia berkata ” kami menyebut Sahur dengan sebutan Falaah”.</em></p></blockquote>
<p>Jika memang hadis di atas dijadikan sebagai anjuran untuk shalat tarawih berjamaah maka ada apa dengan malam ke-24 dan ke-26. Bukankah shalat berjamaah ini yang membuat Rasulullah SAW khawatir kalau shalat malam akan diwajibkan seperti yang dijelaskan dalam hadis Aisyah RA?.</p>
<p>.</p>
<p>Perhatikan baik-baik hadis tersebut. Fenomena itu terjadi di malam ganjil akhir Ramadhan yaitu malam ke-23, ke-25 dan ke-27. Saat dimana Rasulullah SAW sedang I’tikaf  di masjid. Sama seperti sebelumnya, tidak ada indikasi yang jelas kalau Rasulullah SAW mengajak para sahabat untuk shalat tarawih berjamaah. Walaupun begitu kami akan bersikap adil bahwa juga tidak ada <em>kata-kata yang menguatkan bahwa Rasulullah SAW shalat sendiri pada awalnya.</em></p>
<p>.</p>
<p>Dengan melihat hadis Aisyah RA maka kami menduga bahwa Rasulullah SAW pada malam itu sedang beri’tikaf di masjid dan sedang shalat sendiri. Kemudian para sahabat ikut shalat di belakang Beliau. Dalam hal ini Beliau mengizinkan mereka untuk shalat berjamaah bersama beliau. Tetapi itu tidak berlangsung untuk seterusnya karena pada keesokan harinya baik malam ke-24 atau ke-26 Rasulullah SAW tidak shalat bersama mereka para Sahabat. Mungkin akan ada yang berkata bahwa bisa saja Rasulullah SAW shalat berjamaah pada malam ke-24 dan ke-26 hanya saja hal itu tidak diceritakan. Sayang sekali bukti jelas hal ini dapat dilihat dari Hadis Abu Dzar yang akan kita bicarakan.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>Abu Dzar RA juga mengisahkan cerita ini dengan cerita yang lebih panjang. Syaikh Al Albani dalam <em>Shalatut Tarawih</em> lagi-lagi menjadikan hadis Abu Dzar ini sebagai dalil bahwa <em>“Sangat dianjurkannya shalat tarawih berjamaah”</em>. Beliau Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud, Tirmidzi dan dishahihkannya, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ath Thahawi dalam <em>Syarh Ma’anil Atsar</em>, Ibnu Nashr, Al Faryabi dan Baihaqi, sanadnya shahih.</p>
<p>Berikut hadis Abu Dzar yang kami temukan dalam <em>Sunan Baihaqi</em> juz 2 hal 494 no 4385</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن أبي ذر قال صمنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم رمضان فلم يقم بنا من الشهر شيئا حتى كانت ليلة ثلاث وعشرين قام بنا حتى ذهب نحو من ثلث الليل ثم لم يقم بنا من الليلة الرابعة وقام بنا في الليلة الخامسة حتى ذهب نحو من نصف الليل فقلنا يا رسول الله لو نفلتنا بقية الليل فقال إن الإنسان إذا قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له بقية ليلته ثم لم يقم بنا الليلة السادسة وقام السابعة وبعث إلى أهله واجتمع الناس حتى خشينا أن يفوتنا الفلاح قال قلت وما الفلاح قال السحور</h2>
<p><em>Kami berpuasa bersama Rasulullah SAW tetapi Beliau tidak shalat bersama kami sampai tersisa tujuh hari bulan Ramadlan. Beliau shalat bersama kami sampai sepertiga malam. Kemudian pada sisa malam keenam dari bulan Ramadhan Beliau tidak shalat bersama kami. Dan Beliau shalat bersama kami pada sisa malam kelima sampai tengah malam. Lalu kami bertanya : “Wahai Rasulullah, seandainya engkau shalat sunnah bersama kami pada sisa malam ini.”  Beliau menjawab “Barangsiapa berdiri untuk shalat bersama imam sampai dia (imam) berpaling, maka dituliskan baginya shalat sepanjang malam.” Kemudian setelah itu beliau tidak shalat bersama kami sampai tinggal tersisa tiga malam Ramadhan. Beliau shalat bersama kami pada sisa malam yang ketiga dan beliau memanggil keluarga dan istrinya. Beliau shalat bersama kami sampai kami mengkhawatirkan Falaah. Abu Dzar RA ditanya “Apa Falaah itu ?” Beliau menjawab “Falaah adalah Sahur.”.</em></p></blockquote>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>Hadis ini adalah penjelas yang baik terhadap Hadis Nu’man bin Basyir. Kata-kata Abu Dzar RA <em>tetapi Beliau tidak shalat bersama kami sampai tersisa tujuh hari bulan Ramadlan </em>menunjukkan bahwa Rasulullah SAW terbiasa shalat malam sendiri di bulan Ramadhan. Dan pada malam ke-23, ke-25 dan ke-27 Beliau memang shalat bersama sahabat. Hadis Abu Dzar membuktikan pernyataan kami bahwa pada malam ke-24 dan ke-26 Rasulullah SAW tidak shalat bersama mereka.</p>
<ul>
<li><em>Kemudian pada sisa malam keenam dari bulan Ramadhan Beliau tidak shalat bersama kami. </em>Ini malam ke-24.</li>
<li><em>Kemudian setelah itu beliau tidak shalat bersama kami sampai tinggal tersisa tiga malam Ramadlan</em>. Artinya malam ke-26 Rasulullah SAW tidak shalat bersama Sahabat Nabi SAW.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>Mengapa pada malam ke-24 dan ke-26 Rasulullah SAW tidak shalat bersama sahabat?. Hal ini ada dua kemungkinan yang terpikirkan oleh kami</p>
<ul>
<li>Rasulullah SAW tidak shalat di masjid atau shalat di rumah</li>
<li>Rasulullah SAW shalat di masjid tetapi beliau ingin shalat sendiri atau tidak mau shalat berjamaah pada saat itu.</li>
</ul>
<p>Kedua kemungkinan tersebut sama mungkinnya walaupun kami cenderung pada yang kedua karena berdasarkan dalil yang shahih dijelaskan bahwa pada 10 terakhir bulan Ramadhan Rasulullah SAW sedang beri’tikaf di Masjid.</p>
<h2 style="text-align:right;">وَعَنْهَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ا: أَنَّ اَلنَّبِيَّ  كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ</h2>
<p><em>Dari Dia (Aisyah RA) bahwa Nabi SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri Beliau beri’tikaf sepeninggalnya. Mutaffaq Alaih.(Bulughul Maram Ibnu Hajar Kitab Puasa Bab I’tikaf dan Ibadah di Bulan Ramadhan hadis no 699).</em></p>
<p>.</p>
<p>Jadi pada malam ke-24 dan ke-26 Rasulullah SAW berada di masjid untuk I’tikaf  tetapi beliau ingin shalat sendiri atau tidak berjamaah. Hal ini kemungkinan karena beliau tidak ingin terus-terusan shalat berjamaah. Oleh karena itu kami lebih cenderung bahwa Hadis Abu Dzar RA dan Nu’man bin Basyr RA menetapkan kebolehan shalat tarawih berjamaah bukan berarti sangat dianjurkan.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Shalat Tarawih Di Rumah Lebih Utama </strong></p>
<p>Pada bagian pertama telah dijelaskan bahwa shalat Tarawih adalah Shalat sunah di malam bulan Ramadhan yang sangat di anjurkan Nabi SAW. Mengenai pelaksanaannya boleh dilakukan secara sendiri ataupun berjamaah. Pada hadis Abu Dzar terdapat sabda Rasulullah SAW <em>“Barangsiapa berdiri untuk shalat bersama imam sampai dia (imam) berpaling, maka dituliskan baginya shalat sepanjang malam.”</em>. Kata-kata ini dijadikan dasar bahwa shalat tarawih berjamaah sangat dianjurkan. Padahal kata-kata itu justru menyatakan bahwa Shalat berjamaah juga memiliki pahala tersendiri. Bukankah pada malam-malam ke-24 dan ke-26 Rasulullah SAW tidak shalat berjamaah bersama mereka. Jadi kata-kata Rasulullah SAW itu menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu dibolehkan dan memiliki pahala tersendiri.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>Mengenai mana yang lebih utama maka terdapat dalil yang jelas dari Rasulullah SAW bahwa shalat sunah di rumah lebih utama.</p>
<p>Seperti yang dinyatakan dalam Shahih Bukhari juz 8 hal 27 no 6113</p>
<p>.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ احْتَجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُجَيْرَةً مُخَصَّفَةً أَوْ حَصِيرًا فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيهَا فَتَتَبَّعَ إِلَيْهِ رِجَالٌ وَجَاءُوا يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ ثُمَّ جَاءُوا لَيْلَةً فَحَضَرُوا وَأَبْطَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُمْ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ وَحَصَبُوا الْبَابَ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ مُغْضَبًا فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا زَالَ بِكُمْ صَنِيعُكُمْ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُكْتَبُ عَلَيْكُمْ فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلَاةِ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ<em> </em></h2>
<p><em>Dari Zaid bin Tsabit RA bahwa Rasulullah SAW memasang tenda dari tikar pada sebuah tempat di masjid sehingga menjadi sebuah tempat untuk beliau shalat malam. Beberapa sahabat datang dan mereka shalat di belakang Nabi SAW. Kemudian pada malam berikutnya mereka datang lagi kesana tetapi Rasulullah SAW terlambat dan tidak keluar menemui mereka. Sehingga mereka mengeraskan suara mereka dan melempar pintu dengan batu kecil. Rasulullah SAW keluar dan berkata kepada mereka dengan marah “Janganlah demikian karena aku mengira (khawatir) bahwa shalat ini akan diwajibkan bagimu. Oleh sebab itu shalatlah di rumahmu masing-masing karena sebaik-baik shalat adalah di rumah kecuali shalat wajib”.</em></p></blockquote>
<p>Bagi kami, Hadis ini jelas menyatkan shalat tarawih di rumah lebih utama dan Rasulullah SAW membolehkan shalat tarawih berjamaah.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Rekontruksi Shalat Tarawih Rasulullah SAW</strong></p>
<p>Rekontruksi ini bertujuan untuk mengetahui dengan lebih jelas bagaimana sebenarnya shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sepanjang hidup beliau. Dalam hal ini kami hanya memanfaatkan data yang ada dan membuat perkiraan yang mungkin. Rekontruksi ini berlandaskan pada hadis-hadis Aisyah RA dan hadis Abu Dzar RA yang memang menggambarkan shalat tarawih yang dilakukan Rasulullah SAW.</p>
<p>Pernahkah terpikir oleh anda setelah membaca hadis Aisyah RA dan hadis Abu Dzar RA, yaitu kapan tepatnya peristiwa itu terjadi?. Jika kita membuat perkiraan lebar maka kita bisa berasumsi</p>
<ul>
<li>Asumsi waktu paling maksimal bahwa peristiwa hadis Aisyah RA dan hadis Abu Dzar RA terjadi bertepatan dengan awal diperintahkannya berpuasa yaitu pada tahun ke-2 H. Dari waktu ini sampai Nabi SAW wafat kami asumsikan ada lebih kurang 8 Ramadhan.</li>
<li>Asumsi waktu paling minimal bahwa peristiwa hadis Aisyah RA dan hadis Abu Dzar RA terjadi pada tahun terakhir ketika Nabi SAW hidup, jadi hanya satu Ramadhan.</li>
</ul>
<p>Jika satu Ramadhan ada lebih kurang 30 hari maka</p>
<ul>
<li>Dengan asumsi waktu paling maksimal, maka Nabi SAW melaksanakan shalat tarawih berjamaah selama 3 hari berdasarkan hadis Aisyah RA ditambah 3 hari di malam ganjil ke-23, ke-25, ke-27 berdasarkan hadis Abu Dzar dan selebihnya tidak berjamaah atau di rumah. 8 Ramadhan berarti 240 hari. Jadi 6 hari dari 240 hari atau lebih kurang 2,5%.</li>
<li>Dengan asumsi waktu paling minimal yaitu satu Ramadhan maka kemungkinannya adalah 6 hari dari 30 hari yaitu 20 %.</li>
</ul>
<p>Dengan kata lain jika dibuat interval maka shalat tarawih berjamaah yang dilakukan oleh Nabi SAW berkisar di antara 2,5%-20% dan justru 80%-97,5% shalat tarawih dilakukan Rasulullah SAW dengan tidak berjamaah atau di rumah. Jadi ini membuktikan bahwa Rasulullah SAW terbiasa shalat tarawih di rumah yang sesuai dengan perkataan Beliau bahwa <em>Shalat terbaik adalah di rumah kecuali shalat wajib.</em></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Karena Tulisan ini masih bersambung maka kami hanya menyimpulkan jawaban dari pertanyaan judul di atas <em>Apakah Shalat Tarawih Harus Berjamaah?</em>. <strong>Jawabannya tidak harus, Shalat sendiri atau berjamaah dibolehkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan dalil-dalil yang shahih.</strong></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><em>Catatan : </em></p>
<ul>
<li><em>Ternyata panjang juga ya </em></li>
<li><em>Ok ini kreditan keduanya </em><em>silakan tanggapannya</em>:</li>
<li><em>Ah betapa lamanya hari minggu</em></li>
</ul>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/206/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=206&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih Dalam Timbangan &#8211; Bagian Pertama</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-pertama/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 13:20:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Tarawih Dalam Timbangan &#8211; Bagian Pertama
SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran
Shalat Tarawih Sama Dengan Shalat Malam
Kali ini kami akan membicarakan masalah Shalat Tarawih. Perlu diingatkan bahwa tulisan kali ini cukup panjang dan berkesan menyulitkan, jadi harap dapat dimaklumi dan bagi yang enggan membacanya sampai habis maka lebih baik tidak membacanya sama sekali. Tulisan ini akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=202&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3><span style="color:#003366;">Shalat Tarawih Dalam Timbangan &#8211; Bagian Pertama</span></h3>
<h3><span style="color:#008000;">SUMBER: </span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/09/09/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-pertama/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></h3>
<p><strong>Shalat Tarawih Sama Dengan Shalat Malam</strong><br />
Kali ini kami akan membicarakan masalah <em>Shalat Tarawih.</em> Perlu diingatkan bahwa tulisan kali ini cukup panjang dan berkesan menyulitkan, jadi harap dapat dimaklumi dan bagi yang enggan membacanya sampai habis maka lebih baik tidak membacanya sama sekali. Tulisan ini akan kami bagi menjadi 5 bagian yaitu</p>
<p><span id="more-202"></span></p>
<ul>
<li>Shalat Tarawih Sama Dengan Shalat Malam</li>
<li>Apakah Shalat Tarawih Harus Berjamaah?</li>
<li>Benarkah Shalat Tarawih Bid’ah?</li>
<li>Kontroversi Rakaat Shalat Tarawih</li>
<li>Altenatif Pendapat Yang Benar Perihal Shalat Tarawih</li>
</ul>
<p>Kata<em> Tarawih</em> sendiri adalah terminologi yang baru yang tidak ditemukan di zaman Rasulullah SAW. Tarawih secara bahasa berarti <em>duduk sesaat beristirahat</em> sehingga yang dimaksud dengan penamaan Shalat Tarawih merujuk pada pelaksanaan shalat yang diselingi dengan duduk istirahat sebentar.</p>
<p>.<br />
Dan memang untuk apa memusingkan soal istilah jika substansi yang dibicarakan ya sama saja. Jika kita merujuk pada semua dalil yang digunakan sebagai dasar Shalat Tarawih maka dapat dilihat bahwa semua dalil itu merujuk pada Shalat Malam di bulan Ramadhan.</p>
<p>.<br />
<strong>Shalat Malam</strong> tidak hanya terkhusus di bulan Ramadhan karena sudah jelas itu juga dianjurkan di bulan-bulan lain. Bedanya shalat malam di bulan lain lebih terkenal dengan nama <em>Shalat Tahajud</em>. Dari sini secara sederhana maka cukup beralasan untuk menyatakan bahwa <em>Shalat Tarawih sama saja dengan Shalat Tahajud.</em></p>
<p><em>.</em><br />
Banyak sekali perdebatan yang terjadi seputar masalah tarawih dari yang paling krusial <em>apakah itu adalah sunnah? </em>Sampai pada hal yang suka bikin ribut yaitu <em>jumlah rakaat tarawih sendiri.</em> Dalam hal ini Ahlus Sunnah sepakat bahwa <em>tarawih berjamaah itu sunnah</em> sedangkan saudara kita yang Syiah dengan tegas menolak bahwa Tarawih itu sunnah. Bisa dikatakan kami punya pandangan sendiri yang berbeda dengan keduanya atau malah sepakat dengan keduanya dan anda dapat lihat itu nanti di bagian akhir</p>
<p>.</p>
<p><strong>Dalil Dianjurkan Shalat Malam</strong><br />
Yang sering dijadikan <em>Dalil sebagai Sunnahnya Shalat Tarawih</em> adalah hadis riwayat Abu Hurairah RA salah satunya dalam <em>Al Muwatta Imam Malik Kitab Shalat Fi Ramadhan Bab Targhib Fi Shalat Fi Ramadhan hadis no 249 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi<br />
</em></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يرغب في قيام رمضان من غير أن يأمر بعزيمة فيقول من قام رمضان إيمانا وإحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه قال بن شهاب فتوفي رسول الله صلى الله عليه و سلم والأمر على ذلك ثم كان الأمر على ذلك في خلافة أبي بكر وصدرا من خلافة عمر بن الخطاب <em> </em></h2>
<p><em>Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW mendesak orang-orang agar melaksanakan shalat di malam hari di bulan Ramadhan, tapi Beliau tidak pernah memerintahkannya secara tegas. Beliau berkata ”Barang siapa shalat di malam bulan Ramadhan dengan kesungguhan iman dan harapan maka seluruh dosanya yang telah lalu akan diampuni ”<br />
Ibnu Shihab Al Zuhri (salah satu perawi hadis ini) berkata ”Rasulullah SAW wafat ketika hal di atas masih menjadi kebiasaan dan berlanjut pada pemerintahan Abu Bakar dan permulaan pemerintahan Umar bin Khattab” </em></p></blockquote>
<p>Anda lihat sendiri tidak ada disebutkan yang namanya <em>shalat tarawih </em>tapi yang ada itu <em>shalat malam</em>. Dalam hal ini shalat malam yang dimaksud tidaklah berbeda dengan shalat-shalat malam di bulan-bulan lain hanya saja Rasulullah SAW sangat menganjurkannya di bulan Ramadhan. Jika anda melihat seseorang mengutip hadis secara terjemahan dengan kata-kata <em>tarawih</em> maka anda punya alasan kuat untuk meragukannya. Karena kata sebenarnya dalam bahasa arab adalah <em>Qiyam</em>. Kata itulah yang diartikan secara bebas sebagai <em>tarawih </em>dalam terjemahannya.<br />
.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Hadis Kata Tarawih</strong><br />
Mengapa kami sangat memperhatikan masalah ini?. Pembedaan Shalat Tarawih secara khusus dengan shalat malam memiliki konsekuensi pembedaan pula dalam pensyariatannya. Shalat Tarawih bukanlah shalat yang mempunyai ketetapan khusus dalam pensyariatannya. Shalat tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadhan. Shalat malam memang disunahkan tetapi shalat tarawih hanyalah sebuah penamaan.</p>
<p>Kami pernah membaca seseorang mengutip hadis riwayat Ibnu Majah bahwa Rasulullah SAW bersabda</p>
<blockquote><p><em>“Ini adalah bulan di mana Allah mewajibkan puasa sementara saya (Rasulullah saw) mengajarkan tarawih sebagai sunnah.”</em></p></blockquote>
<p>Perhatikan, hadis ini seolah-olah Rasulullah SAW sendiri yang menetapkan tarawih padahal hadis itu dalam bahasa arabnya tidak ada kata tarawih, kata-kata aslinya sebagai berikut</p>
<p>شهر كتب الله عليكم صيامه وسننت لكم قيامه<br />
Hadis tersebut ada dalam<em> Sunan Ibnu Majah hadis no 1328 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi<br />
</em>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Dalil Kata Tahajud</strong><br />
Anda bisa saja menolak dengan berkata shalat tarawih berbeda dengan shalat tahajud karena terminologi tahajud benar-benar ada dalam Kitab Allah</p>
<blockquote><p><em>Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.(QS Al Isra’ 79)</em></p></blockquote>
<p>Benar sekali shalat tarawih memang berbeda dengan shalat tahajud karena yang satu terminologinya memang ada dalam Kitab Allah dan yang satu entah muncul darimana terminologinya   .</p>
<p>Tetapi <em>keduanya adalah sama-sama Shalat Malam</em> hanya saja tarawih adalah penyebutan khusus untuk Shalat malam di bulan Ramadhan. Shalat malam sudah dari dulu disunahkan sebagaimana yang termaktub dalam Al Quranul Karim dan hadis-hadis shahih. Dan setelah itu shalat malam ini sangat dianjurkan dan ditekankan oleh Nabi SAW pada bulan Ramadhan. Ketika itu Rasulullah SAW tidak sedang membicarakan bentuk shalat yang baru tetapi sama seperti shalat-shalat malam sebelumnya. Jadi dari segi waktu maka shalat tahajud dan shalat tarawih memang berbeda tetapi dari segi substansi shalat keduanya sama saja.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Khatimah Pertama</strong></p>
<p>Berlandaskan hadis-hadis marfu’<em> </em>dan shahih<em> (sejauh pengamatan kami)</em> maka tidak ada satupun keterangan dari Rasulullah SAW yang menyatakan perbedaan khusus shalat malam baik shalat tarawih maupun shalat tahajud mengenai jumlah rakaat minimal dan maksimal. Dan Rasulullah SAW tidak pernah secara khusus membedakan tata cara shalat tahajud dan shalat tarawih.</p>
<p>Kami tidak menafikan bahwa terjadi perbedaan di antara ulama perihal apakah shalat tahajud dan shalat tarawih itu berbeda atau sama. Tetapi dalam hal ini kami tidak semata-mata berpegang pada Qaul ulama kecuali jika Qaul mereka memang berlandaskan pada hadis-hadis yang shahih. Dan kami tidak menentang tindakan para ulama hadis yang mencatat dalam kitab hadis mereka bab-bab tersendiri perihal <em>Shalat malam di bulan lain atau tahajud </em>dan <em>Shalat malam di bulan Ramadhan atau tarawih.</em> Bahkan kami setuju dibuat pemisahan seperti itu dengan landasan <strong><em>Shalat malam di bulan Ramadhan benar-benar sangat dianjurkan ketimbang pada bulan-bulan lain.</em></strong></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Salam Damai</strong></p>
<p><em>Catatan : </em></p>
<ul>
<li><em>Tulisan ini masih akan bersambung, jadi yang sabar ya</em></li>
<li><em> Saya minta bantuan doanya semoga kondisi saya jadi jauh lebih baik dan memungkinkan</em></li>
<li><em>Buat seseorang, ini adalah kreditan Janji saya</em> <em>dan semoga bisa tunai dalam waktu dekat</em></li>
</ul>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=202&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa Gaya Teroris</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/02/puasa-gaya-teroris/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/02/puasa-gaya-teroris/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 13:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Gaya Teroris
SUMBER: Antara News
Oleh Syafiq Basri A
Saking kagumnya dengan Anies Baswedan &#8211;tokoh pendidik muda dengan reputasi internasional&#8211;, pak Kiwir bermimpi idolanya itu mengisi program Ramadhan di televisi. Tapi ia kecewa, acara TV masih saja didominasi berbagai banyolan, kuis dan games yang menggemaskan. Itu sebabnya di luar acara yang bermutu seperti tafsir Quraisy Shihab, Kiwir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=198&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><span style="color:#800080;">Puasa Gaya Teroris</span></h2>
<h2><strong><span style="color:#0000ff;">SUMBER: </span><a href="http://www.antaranews.com/kolom/?i=1251774850" target="_blank">Antara News</a></strong></h2>
<h2><span style="color:#800000;">Oleh Syafiq Basri A</span></h2>
<p><a href="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/09/syafiq-b.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-199" title="syafiq b" src="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/09/syafiq-b.jpg?w=150&#038;h=185" alt="syafiq b" width="150" height="185" /></a>Saking kagumnya dengan Anies Baswedan &#8211;tokoh pendidik muda dengan reputasi internasional&#8211;, pak Kiwir bermimpi idolanya itu mengisi program Ramadhan di televisi. Tapi ia kecewa, acara TV masih saja didominasi berbagai banyolan, kuis dan <em>games </em>yang menggemaskan. Itu sebabnya di luar acara yang bermutu seperti tafsir Quraisy Shihab, Kiwir lebih suka membaca atau diskusi bersama Ucok, tetangganya, daripada menonton TV.</p>
<p>“Bulan puasa ini banyak orang yang memakai gaya teroris,”  kata Kiwir. ”Maksudnya apa, Mas?” tanya Ucok. Setiap menjelang buka puasa, kata Kiwir, banyak orang beradu cepat, ngebut di jalanan demi mencapai rumah sebelum beduk maghrib, sering tanpa memedulikan orang lain.<br />
<span id="more-198"></span><br />
Saat itu jalanan Jakarta macet. Yang jadi fokus para <em>shoimien</em> (mereka yang puasa) adalah sesegera mungkin membatalkan puasa. “Bahkan belum sempat <em>muazin</em> di masjid menyelesaikan kalimat <em>Allahu Akbar</em>, orang sudah langsung menyeruput minumannya. Seolah merasa berdosa kalau telat satu menit saja.”</p>
<p>“Lho, bukankah memang kita di<em>sunnah</em>kan menyegerakan berbuka Mas?” tanya Ucok.</p>
<p>Kiwir tersenyum. “Memang saya pernah dengar hadis itu, Bung Ucok. Tapi jangan lupa, Al-qur’an justru menganjurkan untuk menyempurnakan puasa hingga malam hari – sekitar 20 menit sesudah azan maghrib. <em>Wa-atimus-shiyaama ila-al-laili</em>,” kata Kiwir menyitir petikan Surat Al-Baqarah 187.  “Bukankah Al-qur’an harus lebih diutamakan ketimbang hadis yang sebagiannya bahkan tidak sahih?”</p>
<p>Lalu, apa kaitannya dengan teroris? “Cara berpikir para teroris itu. Naif. Merasa benar sendiri, dan memaksakan kehendak pada orang lain; padahal baru dapat sedikit ilmu dari seorang guru yang berhasil mencuci otak dan merekrut mereka sebagai ‘pengantin’.</p>
<p>Lalu mereka menganggap kalau mati bunuh diri begitu sebagai syahid. Padahal yang dilakukannya justru merugikan orang lain, bahkan terhadap umat Islam sendiri,” ujar Kiwir.</p>
<p>”Konsepsi syahid yang mereka pakai juga tidak jelas. Bukankah jika hendak memerangi musuh, itu hanya dilakukan jika kita diserang lebih dulu?” tanya Kiwir sambil mengutip Surat Al-Bagarah 190. “Malah saat perang itu pun kita tidak boleh melampaui batas. Nah, apakah orang-orang awam yang menjadi korban bom itu memerangi mereka, para teroris itu?”</p>
<p>Boleh jadi teroris itu tidak ingat hadis yang populer, bahwa jihad terbesar, kata Nabi Muhammad SAW, adalah memerangi ‘hawa nafsu’ diri sendiri. Itulah salah satu manfaat kita berpuasa. ”Bisakah melatih diri untuk memerangi nafsu dan syahwat yang merajalela?” tanya Kiwir.</p>
<p>Dahi Ucok mengerenyit. Ia bingung. “Begini Bung. Mereka kan menyangka benar sendiri, tapi tidak pernah mengecek. Kalau di dunia media itu namanya <em>check and recheck</em>.</p>
<p>Dalam beragama, orang awam memang boleh mendasarkan tindakannya pada ayat yang sudah pasti dan terang maknanya (muhkamaat) seperti misalnya bahwa Tuhan itu Esa, dan bahwa puasa Ramadhan itu wajib hukumnya bagi yang mukim dan sehat.</p>
<p>Tapi untuk ayat-ayat yang <em>mutasyabihat</em> – yang memiliki banyak penafsiran – kemampuan orang awam tidak mencukupi. Maka mereka harus bertanya pada beberapa ulama. Kita diajar untuk bersikap toleran dan <em>tawadhu</em>. Bandingkan pendapat seorang alim dengan ulama lain yang mumpuni, bukan sembarang ulama.”</p>
<p>“Ibaratnya kalau sakit ringan orang awam bisa mengobati sendiri pakai obat warung, tapi jika penyakitnya serius kita harus ke dokter spesialis ya Mas?” Ucok menanggapi.</p>
<p>”Benar Bung. Kata Al-qur’an, yang mengetahui <em>takwil</em> ayat-ayat <em>mutasyabihat</em> itu hanya Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya,” kata Kiwir mengutip surat Ali Imran ayat 7.</p>
<p>”Bung tahu ‘kan, perintah puasa itu agar kita bertakwa. Apa sih takwa?” tanya Kiwir. Tentu saja Ucok hanya bengong. Seumur-umur belum pernah ia mendengar definisi ’takwa’ yang pas. ”Takwa itu menurut sebagian ulama adalah ’berkorban untuk orang lain’ secara ikhlas, demi Allah semata,” kata Kiwir.</p>
<p>”Kalau begitu logika teroris itu terbalik dong?” kata Ucok. ”Begitulah. Maka dalam berpuasa, hindarkan sikap yang kontradiktif. Apa artinya puasa jika kita masih mengganggu tetangga atau merugikan orang lain di jalan,” ujar Kiwir sambil menyitir sebuah hadis Nabi saw yang merujuk pada seorang wanita yang meski solat tahajud setiap malam dan puasa pada siang hari tetap masuk neraka karena sering mengganggu tetangganya.</p>
<p>“Memanggil orang dengan azan boleh kan Bung?” Ucok mengangguk. “Tapi bagaimana kalau corong di masjid itu dipakai anak-anak bermain dan teriak-teriak jauh sebelum tiba saatnya solat, sehingga bayi-bayi dan orang sakit di sekitar masjid menjadi terganggu?” tanya Kiwir.</p>
<p>Islam itu artinya damai. Agama yang <em>rahmatan lil-alamien</em> – bukan agama yang mencemaskan orang lain, yang menghardik, mengancam dan membunuh orang yang tidak salah.</p>
<p>Al-Quran mengingatkan, kata Kiwir lagi merujuk pada Surat 5 ayat 32, ”Barang siapa membunuh seorang manusia tanpa alasan yang jelas dan legal, ia seakan-akan membunuh seluruh manusia di muka bumi ini. Dan sebaliknya, siapa saja yang menyelamatkan orang (dari kematian), ibaratnya ia menyelamatkan seluruh umat manusia ini.”</p>
<p>Islam adalah agama yang lebih mementingkan <em>muamalah</em>, yakni urusan sosial –– hubungan kita dengan sesama manusia atau <em>Hablum min-an-naas</em> &#8212; ketimbang urusan ritual yang menyangkut hubungan kita dengan Tuhan (Hablun min-Allah).</p>
<p>Buktinya dalam Al-quran dan kitab-kitab hadis, proporsi terbesar diberikan untuk urusan sosial itu. Sementara ulama bahkan memperkirakan bahwa jumlah ayat ibadah ritual  di dalam al-quran hanya 1-2 persen dibanding jumlah ayat-ayat sosial.</p>
<p>Kiwir memberi contoh. “Karakteristik orang beriman dalam Al-qur’an, misalnya, bukan saja ditunjukkan oleh <em>khusyu</em>-nya solat – yang merupakan ibadah ritual – tapi mereka juga harus menghindarkan diri dari perbuatan yang sia-sia dan menjaga amanat serta janji mereka. Keduanya adalah <em>muamalah</em>,” ujar Kiwir merujuk surat Al-Mu’minun (23:1-9).</p>
<p>Mengutip Jalaluddin Rahmat (Islam Alternatif, Mizan, 1986), Kiwir menyitir bahwa Nabi sendiri menganjurkan agar Imam memendekkan solat jamaah bila di tengah <em>makmum </em>ada yang sakit, orang lemah, orang tua, atau orang yang punya keperluan.</p>
<p>Menurut Bukhari, Nabi pernah mengundurkan waktu solat Jumat bila udara di Madinah sedang kelewat panas. Itu menunjukkan bahwa bila urusan ibadah bersamaan dengan urusan <em>muamalah</em> yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan, tapi bukan ditinggalkan. ”Bukankah itu sekaligus bukti bahwa Nabi sangat memperhatikan sekali urusan kemaslahatan umatnya?”</p>
<p>“Apa para teroris itu tidak pernah mendengar atau membaca teladan Nabi seperti itu ya Mas?” tanya Ucok penasaran.</p>
<p>“Entahlah.. Tanya saja pada Nurdin M.Top,” jawab Kiwir sambil tersenyum.<br />
”Udah ah, mari nonton Anies Baswedan, eh&#8230;bukan, maksud saya Pak Quraisy Shihab saja.”   (***)</p>
<p><em><span style="color:#0000ff;">*)</span> <span style="color:#800000;">Penulis adalah pengamat masalah media, sosial dan agama.</span></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=198&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/02/puasa-gaya-teroris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/09/syafiq-b.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">syafiq b</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAFSIR AYAT HUKUM PUASA</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/tafsir-ayat-hukum-puasa/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/tafsir-ayat-hukum-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 21:11:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Makalah [Pemikiran]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[TAFSIR AYAT HUKUM PUASA
Oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat *
Di antara kitab tafsir, ada kitab yang membahas ayat-ayat hukum di dalam Al-Quran. Seperti kitab tafsir yang ditulis oleh Muhammad &#8216;Ali Al-Shabuni, Tafsir Ayat Al-Ahkam. Inilah kitab tafsir yang mengumpulkan dan memilih khusus ayat-ayat hukum saja, dan tidak membahas seluruh ayat Al-Quran.
Jumlah ayat hukum dalam Al-Quran berbeda-beda sesuai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=178&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><span style="color:#003366;">TAFSIR AYAT HUKUM PUASA</span></h2>
<h3><span style="color:#3366ff;">Oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat *</span></h3>
<p>Di antara kitab tafsir, ada kitab yang membahas ayat-ayat hukum di dalam Al-Quran. Seperti kitab tafsir yang ditulis oleh <em>Muhammad &#8216;Ali Al-Shabuni</em>, <em>Tafsir Ayat Al-Ahkam</em>. Inilah kitab tafsir yang mengumpulkan dan memilih khusus ayat-ayat hukum saja, dan tidak membahas seluruh ayat Al-Quran.</p>
<p>Jumlah ayat hukum dalam Al-Quran berbeda-beda sesuai dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Ada yang menyebutkan bahwa jumlah ayat hukum hanya enam puluh ayat; ada yang menyebutkan jumlahnya ratusan ayat; tetapi ada pula yang berpendapat bahwa seluruh ayat Al-Quran itu mengandung implikasi hukum. Misalnya,<em> Jalaluddin Al-Suyuthi </em>dalam kitabnya, <em>Al-Iklil, </em>menunjukkan bahwa semua ayat Al-Quran mengandung implikasi hukum, dengan dasar ayat Al-Quran itu sendiri.<em> </em></p>
<p><em>Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah&#8230; </em>(QS 5: 49).</p>
<p><span id="more-178"></span></p>
<p><em>Al-Suyuthi </em>juga mengatakan bahwa ayat 6 dan 7 surah Al-Fatihah</p>
<p><em>[Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikinat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat]</em></p>
<p>mengandung implikasi hukum, yaitu hendaknya kita mengikuti orang-orang terdahulu yang baik dan tidak mengikuti orang-orang terdahulu yang jelek. Atau kita harus mengambil pelajaran yang baik dan meninggalkan yang jelek dari masa yang lalu.</p>
<p>Semua ayat Al-Quran (termasuk sejarah) mengandung hukum juga. Sebagai contoh, kisah Ash-habul Kahfi. Ashhabul Kahfi memasuki gua, tidur, dan meninggal dunia di situ. Lalu ada orang Mukmin yang mengatakan, <em>&#8220;Bagaimana kalau kita bangun di atas kuburan itu masjid?&#8221; </em>Kemudian orang-orang Mukmin itu membangun masjid di atas kuburan Ash-habul Kahfi. Peristiwa itu menjadi ketentuan hukum dalam Al-Quran. Itu peristiwa sejarah, tetapi di dalamnya ada ketentuan hukum, yaitu boleh membangun masjid di atas kuburan orang-orang saleh sebagai peringatan (dzikra).</p>
<p>Menurut sebagian orang, hukum seperti ini bertentangan dengan hadis yang mengatakan tidak boleh shalat di atas kuburan. Sebagian lagi berpendapat hukum ini ditunjang hadis lain yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. yang mulia pemah shalat di atas kuburan. Misalnya, Rasulullah pemah melakukan shalat di atas kuburan Al-Harqa, seorang perempuan penyapu masjid yang meninggal dunia, yang baru diketahui oleh Rasulullah saw. ketika beliau mendatangi masjid itu. Rasulullah saw. meminta sahabat-sahabatnya untuk menunjukkan di mana letak kuburan perempuan itu, dan beliau shalat di atas kuburannya.</p>
<p>Jadi, ayat Al-Quran ini mempunyai implikasi hukum yang bertentangan dengan hadis yang satu dan sesuai dengan hadis yang lain. Akan tetapi, dalam ilmu hadis, ketika kita memilih hadis mana yang paling kuat, maka kita memilih hadis yang paling sesuai dengan AI-Quran.</p>
<p>Ketika ingin mengelompokkan ayat-ayat hukum, kita menemukan kesulitan untuk mengelompokkan apakah ini ayat hukum, ayat sejarah, atau ayat akidah, karena pada kenyataannya ayat-ayat itu tumpang-tindih. Artinya, ayat yang satu bisa mengandung akidah, sejarah, dan juga hukum. Walaupun menemui kesulitan seperti itu,</p>
<p><em>Al-Shabuni </em>mengelompokkan ayat-ayat hukum dalam rangkaian kuliah dia tentang ayat-ayat hukum.</p>
<p>Ayat tentang puasa, misalnya, beliau cantumkan dalam kuliah yang kesembilan. Mari kita mulai membahas beberapa kata kunci dari ayat tentang puasa berikut ini.<em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>(Yaitu) pada hari-hari yang telah ditentukan. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.</em></p>
<p><em>Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan AI-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, dan barang-siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) se-banyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur </em>(QS 2: 183-185).</p>
<p><strong>Kata-kata Kunci Ayat-ayat Puasa</strong></p>
<p><strong>Al-Shiyam</strong></p>
<p><em>Al-shiyam</em> berasal dari kata <em>shama-yashumu-shawman wa shiyaman</em>. Al-shiyam menurut bahasa pada mulanya berarti meninggalkan diri dari sesuatu.</p>
<p>Kalau kendaraan atau binatang tunggangan tidak mau jalan, orang Arab menyebutnya, <em>Shamat al-khayl idza amsakat an al-sayr </em>(Kuda itu berpuasa, mogok, dan tidak mau jalan). Kalau angin yang bergerak kemudian tiba-tiba berhenti, orang Arab menyebutnya, <em>Shamat al-rih, </em>(angin berpuasa) artinya, berhenti bergerak.</p>
<p>Dalam <em>Al-Raghib,</em> yang disebut <em>shaum</em> adalah <em>tidak melakukan sesuatu baik berkaitan dengan makanan, pembicaraan, maupun perjalanan.</em> Karena itu, kuda yang tidak mau berjalan disebut &#8220;Kuda itu berpuasa&#8221;. Kata Abu Ubaidah, setiap orang yang meninggalkan makan, tidak mau bergerak, dan tidak mau berbicara (di dalam bahasa Arab) disebut <em>shaim.</em> Sedangkan menurut istilah <em>syara</em>&#8216;, yang disebut dengan<em> shiyam </em>adalah <em>menahan diri dari makan, minum, dan bercampur (dengan istri) dengan niat dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.</em></p>
<p>Pengertian di atas menunjukkan beberapa hal. <em>Pertama</em>, itulah syarat minimal puasa. <em>Kedua</em>, puasa itu harus disertai niat. Waktunya dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Dan sempurnanya puasa yaitu meninggalkan hal-hal yang tercela dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama.</p>
<p><strong>Ma&#8217;dudat</strong></p>
<p><em>Ma&#8217;dudat </em>berasal dari kata <em>&#8216;adda-ya&#8217;uddu</em>, artinya menghitung. Seperti halnya kata <em>wa &#8216;addadah </em>dalam surah Al-Humazah, yang artinya mengumpul-ngumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Kata <em>ayyaman ma&#8217;dudat</em>, dalam surah Al-Baqarah, berarti hari-hari yang dihitung waktunya. Yang dimaksudkan di sini yaitu bulan Ramadhan itu. <em>Al-&#8217;iddah </em>juga berarti bilangan-bilangan yang tertentu</p>
<p>Yuthiqunahu<em> </em></p>
<p><em>Yuthiqunahu</em> artinya melakukan sesuatu tetapi dengan berat sekali. Sesuatu yang sangat berat kita memikulnya tetapi masih bisa kita lakukan disebut <em>thagah</em>. Sehingga ada sebuah doa yang bunyinya, <em>&#8220;Wa la tuhammilna ma la thagata lana bih&#8221; </em>(Jangan engkau bebankan kepada kami apa yang tidak bisa kami pikul).</p>
<p><strong>Fidyah</strong></p>
<p><em>Fidyah</em> berasal dari kata <em>fada</em>. Fidyah artinya menebus. Orang Arab kadang-kadang bersumpah dengan kata-kata ini. Misalnya: <em>Ju&#8217;iltufidaka ya rasulallah </em>(Biarlah diriku menjadi tebusanmu wahai Rasulullah).</p>
<p><strong>Syahr</strong></p>
<p><em>Syahr</em> berasal dari <em>syahara</em>, yang berarti muncul. Kalau suatu perkara muncul ke permukaan, orang Arab mengatakannya,<em> Syahara al-amr </em>(Perkara itu tampak jelas). Kalau ada orang mencabut pedangnya dari sarungnya, mereka katakan, <em>Syahara al-sayf </em>(Dia membuka pedangnya).</p>
<p>Digunakannya kata <em>syahr</em> adalah karena ada sesuatu yang terbuka dan yang dikenal. Oleh karena itu kita kenal pula kata <em>-masyhur- </em>yang seringkali kita pergunakan yang berarti terbuka. Mengapa bulan disebut dengan syahr? karena bulan diketahui lewat penglihatan yang masyhur. Secara bahasa menunjukkan bahwa datangnya bulan itu harus. Dan berdasarkan berita yang kemudian tersebar secara masyhur. Dan hal ini merupakan salah satu dalil bahwa buIan puasa harus berdasarkan <em>ru&#8217;yat</em>. Artinya, ada orang yang melihat, kemudian menyampaikannya kepada orang banyak.</p>
<p><strong>Ramadhan</strong></p>
<p>Ramadhan merupakan sebuah kata mabni pada fathah, yang harus dibaca <em>ramadhana, </em>bukan <em>ramadhanu</em> atau <em>ramadhani. </em>Kata <em>ramadhan</em> berasal dari kata <em>al-ramdhu </em>yang artinya saat matahari terik sekali. Ramadhan artinya membakar sesuatu.</p>
<p>Menurut riwayat, kata Al-Zamakhsyari dalam Tafsir <em>Al-Kasysyaf</em>, dahulu ketika orang Arab memindahkan nama bulan itu ke dalam bahasa Arab karena yang menamai bulan-bulan itu sebetulnya adalah bukan bangsa Arab, tetapi bangsa Babylonia yang telah mengenal perhitungan peredaran bulan, mereka menggantinya berdasarkan waktu ketika mereka mengalami bulan-bulan itu. Sehingga ada nama Rabi&#8217; Al-Awwal dan Rabi&#8217; Al-Akhir. <em>Rabi&#8217;</em> artinya musim semi, karena kebetulan waktu itu Rabi&#8217; Al-Awwal jatuh pada musim semi. Akan tetapi karena perhitungan bulannya memakai peredaran bulan, bukan peredaran matahari, maka bulan Rabi&#8217; Al-Awwal atau Rabi&#8217; Al-Akhir tidak selalu jatuh pada musim semi.</p>
<p>Pada waktu pengalihan nama-nama bulan itu, Ramadhan jatuh pada musim panas sehingga disebutlah Ramadhan, musim yang sangat panas. Sekarang, walaupun Ramadhan jatuh pada musim dingin, tetap saja disebut ramadhan. Mungkin nama Ramadhan ini hanya cocok dipakai di Indonesia, karena bulan Ramadhan selalu jatuh pada musim panas. Dalam sebuah hadis ada riwayat yang menyebutkan bahwa ia disebut Ramadhan karena bulan ini membakar dosa-dosa kita.</p>
<p>Setelah kita melihat beberapa pengertian kata-kata kunci di atas, kita akan melihat segi-segi hukum ayat ini.</p>
<p><strong>Kandungan Makna Ayat-ayat Puasa</strong></p>
<p>Ayat ini mengandung beberapa makna. <em>Pertama, </em>puasa sebenarnya juga diwajibkan atas umat-umat sebelum kita, termasuk kaum Nasrani dan Yahudi. Kalau Anda mempelajari Ilmu Perbandingan Agama, maka Anda akan menemukan bahwa puasa terdapat dalam semua agama, juga dalam agama Hindu dan agama Budha. Tentu bentuk puasanya bermacam-macam. Ada sebagian ahli tafsir yang mengatakan bahwa orang-orang terdahulu juga diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan. Hanya saja, kata mereka, kewajiban ini diubah sesudah mengalami perkembangan.</p>
<p>Di sini, malah ada riwayat yang menyebutkan bahwa dahulu orang-orang Nasrani berpuasa pada bulan Ramadhan, tetapi karena bulan itu terlalu panas, maka mereka memindahkannya pada musim dingin dan ditambah sepuluh hari sehingga menjadi empat puluh hari. Sampai sekarang mereka berpuasa empat puluh hari.</p>
<p>Tetapi kalau saya boleh memberikan pendapat, yang dimaksud dengan ungkapan <em>&#8220;sama seperti diwajibkannya atas orang-orang sebelum kamu&#8221; </em>bukan berarti sama segala-galanya. Bukan berarti bahwa puasa itu harus dilakukan pada bulan Ramadhan, dengan syarat yang sama, yang mesti dilakukan sejak terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Karena setiap agama mempunyai syariat tertentu.<em> </em></p>
<p><em>Kedua, </em>puasa yang wajibnya ditentukan pada hari-hari tertentu, yaitu pada bulan Ramadhan.<em> </em></p>
<p><em>Ketiga</em>, dipilihnya bulan Ramadhan ini adalah karena bulan Ramadhan bulan yang paling mulia. Pada bulan inilah Al-Quran diturunkan. Hal ini mempunyai implikasi hukum, yaitu bahwa kita bisa memperingati peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah dengan berpuasa. Karena itu kita dianjurkan berpuasa pada hari lahir Rasulullah Saw.</p>
<p>Hari-hari penting boleh kita peringati dengan berpuasa. Kalau hari-hari kita mempunyai hari-hari yang kita anggap sebagai hari yang penting, maka kita boleh berpuasa pada hari itu sebagai tanda syukur kepada Allah Swt. Itu boleh dilakukan, sebagaimana bulan Ramadhan dipilih karena di bulan itu diturunkan Al-Quran.<em> </em></p>
<p><em>Keempat</em>, ayat puasa ini bersambung terus sampai ayat 187. Ayat pertama berakhir dengan kalimat <em>&#8220;supaya kamu bertakwa&#8221;. </em>Ayat terakhir tentang puasa diakhiri dengan <em>&#8220;mudah-mudahan mereka bertakwa&#8221;. </em>Ini artinya, diwajibkannya puasa adalah supaya orang-orang menjadi takwa.</p>
<p>Saya pernah menulis bahwa<a href="http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/shaum-madrasah-ruhaniah/" target="_blank"> puasa adalah madrasah ruhaniah</a>. Kalau ada madrasah untuk mendidik intelek kita, maka ada pula puasa yang mendidik ruhani dan ketakwaan kita. Mengapa puasa disebut madrasah untuk melatih ketakwaan? Karena tanda-tanda orang yang bertakwa dilatihkan pada bulan puasa ini.</p>
<p><strong>Tanda-tanda Orang Bertakwa</strong></p>
<p>Dalam Al-Quran, disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang bertakwa ialah infaq dalam keadaan senang dan susah. Di bulan puasa kita dilatih untuk infaq. Dalam hal memberi, diriwayatkan bahwa Rasulullah yang mulia ketika memasuki bulan puasa adalah laksana angin yang berhembus, karena begitu mudahnya beliau memberikan sesuatu kepada orang lain. Oleh karena itu, bulan puasa juga dinamakan bulan infaq. Kaumn Muslim berharap melakukan infaq karena akan diberi pahala yang besar.</p>
<p>Tanda lainnya ialah menahan amarah. Karena salah satu tanda orang yang takwa ialah bahwa dia sanggup mengendalikan amarahnya. Bukan berarti tidak marah. Dan tidak benar kalau orang takwa itu tidak marah, karena marah adalah salah satu emosi yang sehat.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Orang yang bertakwa ialah orang yang bisa mengendalikan amarahnya. Di bulan puasa kita dianjurkan untuk mengendalikan amarah kita, sampai pun kalau ada orang Yang mencaci-maki kita. Kita hanya boleh menjawab dengan satu kata saja, <em>&#8220;Saya ini sedang puasa!&#8221;</em></p>
<p><strong>Implikasi Hukum dari Ayat tentang Puasa</strong></p>
<p>Hukum yang pertama yang dibicarakan oleh para ahli fiqih sehubungan dengan ayat ini ialah apakah kaum Muslim pernah diwajibkan berpuasa sebelum turunnya ayat tentang puasa di bulan Ramadhan. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa dahulu kaum Muslim diwajibkan berpuasa tetapi hanya selama tiga hari. Itu pun boleh dipilih; yaitu antara melakukan puasa dan membayar fidyah. Yang mau berpuasa tidak usah membayar fidyah, dan yang tidak mau berpuasa hanya diwajibkan membayar fidyah kepada orang miskin. Tetapi kemudian kata mereka ayat ini dihapus oleh ayat berikutnya. Yang berpendapat seperti ini misalnya, ialah seorang ulama tabi&#8217;in yang bernama Atha&#8217;.</p>
<p>Suatu saat ada tamu yang berkunjung ke rumah Atha&#8217; siang hari. Dan Atha&#8217; sedang asyik makan. Kemudian ditanya, &#8220;Kenapa kamu makan di siang hari?&#8221; Lalu Atha&#8217; mengatakan, &#8220;Dahulu puasa itu diwajibkan tiga hari dan kamu boleh memilih. Yang mau berpuasa puasalah, yang tidak mau berpuasa hendaknya membayar fidyah kepada orang miskin. Tetapi kemudian ayat ini dihapuskan dengan ayat itu juga yaitu bahwa puasa diwajibkan di bulan Ramadhan, dan yang disebut dengan orang yang tidak mampu melakukan puasa ialah orang-orang yang sakit, orang tua seperti aku ini. Karena aku sudah tua, aku dibebaskan dari puasa dan aku harus membayar fidyah.&#8221; (Riwayat ini dapat Anda temukan dalam<em> tafsir Jami&#8217; Al-Bayan</em> dan <em>tafsir Al-Durr Al-Mantsur, juz I</em>).</p>
<p>Dalam satu riwayat disebutkan, &#8220;Rasulullah datang ke Madinah dan puasa pada hari Asyura dan tiga hari di setiap bulan.&#8221; Riwayat ini dijadikansebagai dasar pendapat di atas bahwa sebetulnya orang Islam diwajibkan berpuasa hanya pada hari Asyura dan tiga hari setiap bulan. Kemudian turun ayat puasa di bulan Ramadhan. Itu pun masih boleh memilih. Yang mau puasa boleh, dan yang tidak puasa boleh membayar fidyah kepada orang miskin. Kemudian itu pun masih dihapus lagi dengan ayat yang menyatakan bahwa semua orang wajib berpuasa kecuali orang tua, orang sakit, dan seterusnya.</p>
<p>Pendapat ini sangat sukar kita terima, karena hadisnya tidak kuat. Hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah datang ke Madinah dan puasa Asyura itu masih dipersoalkan. Karena ketika Rasulullah Saw. datang ke Madinah, beliau menemukan orang-orang Yahudi berpuasa, Puasa apa ini? Puasa Asyura. Mengapa? Karena pada hari inilah Allah menyelamatkan Musa dari Fir&#8217;aun. Lalu Rasulullah bersabda: &#8220;Aku lebih berhak untuk berpuasa,&#8221; maka berpuasalah beliau pada hari itu.</p>
<p>Hadis ini tentu saja tidak lolos dari studi kritis kita. <em>Pertama</em>, Rasulullah datang pertama kali ke Madinah pada bulan Rabi&#8217; Al-Awwal. Jadi tidak masuk akal bila orang berpuasa Asyura pada bulan Rabi&#8217; Al-Awwal. <em>Kedua</em>, mungkin orang berkata yang dimaksud datang ke Madinah itu sudah lama datang ke Madinah, dan baru sampai tahun terakhir. Itu pun tidak mungkin bahwa Rasulullah Saw. tidak mengetahui kebiasaan orang Yahudi dan baru tahu satu tahun terakhir saja.</p>
<p>Walhasil, sebelum turun perintah puasa di bulan Ramadhan, kaum Muslim tidak diwajibkan untuk berpuasa. Kata Ibn Jarir Al-Thabari, <em>&#8220;Inilah pendapat (qaul) yang paling benar menurut pendapatku.&#8221;</em></p>
<p>Jadi, yang dimaksud dengan kata ayyaman ma&#8217;dudat (hari-hari tertentu) itu bukan tiga hari di setiap bulan, tetapi maksudnya adalah bulan Ramadhan.</p>
<p>Hukum yang kedua dari ayat,<em> &#8220;Barangsiapa yang sakit di antara kamu, atau dalam perjalanan, maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.&#8221; </em>Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. <em>Pertama, </em>jumhur ulama mengatakan bahwa buat orang yang sakit dan orang yang bepergian boleh berbuka dan juga boleh berpuasa. Sebagian mazhab mengatakan bahwa kalau sakit atau dalam perjalanan, maka orang itu harus meng-qadha puasanya. Menurut pendapat yang terakhir ini, kalau Anda sedang sakit atau dalam perjalanan, Anda boleh berpuasa tetapi Anda juga harus meng-qadha. Itulah dua pendapat yang masing-masing mempunyai beberapa alasan.</p>
<p>Jumhur ulama mengatakan bahwa orang yang sakit dilarang berpuasa karena akan memberatkan puasanya. Al-Quran menyebutkan:<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Allah rnenghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.&#8221;</em> Dan oleh karena itu, orang yang sakit boleh berbuka puasa.<em> </em></p>
<p><em>Al-Qurthubi </em>dalam tafsirnya mengatakan bahwa orang yang sakit ada dua macam. Kalau dia puasa, maka dia akan semakin sakit. Untuk orang seperti ini wajib berbuka. Dan yang kedua, bagi orang yang sanggup berpuasa dalam keadaan sakit, disunatkan baginya berbuka, tetapi dia juga boleh berpuasa. Mazhab yang lain mengatakan bahwa puasa dalam keadaan sakit itu haram, karena itu wajib berbuka. Sakit apa pun. Ini adalah mazhab <em>Al-Zhahiri.</em></p>
<p>Masih ada lagi cerita dari Atha&#8217; yang waktu itu belum tua usianya. Waktu itu ditemukan bahwa dia berbuka di siang hari. Setelah ditanya, &#8220;Kenapa Anda berbuka?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Karena saya sakit mata. Dan dalam Al-Quran hanya disebutkan orang yang sakit saja, tanpa disebutkan jenis sakit apa pun. Dan saya sedang sakit mata. Oleh karena itu, saya sekarang berbuka.&#8221;</p>
<p>Di antara pendapat yang mengatakan wajib berbuka di saat sakit adalah Umar bin Khaththab, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdurrahman bin Auf, Abu Hurairah, Urwah bin Zubayr, dan juga para imam Ahlul Bayt.</p>
<p>Dalil ini juga berkenaan dengan tidak bolehnya bepuasa ketika bepergian. Yang masih menjadi perbedaan pendapat adalah penentuan jenis sakit dan ukuran jarak bepergian.</p>
<p><em>Umar bin Khaththab</em> pernah memerintahkan seorang laki-laki yang puasa dalam perjalanan untuk mengulangi puasanya. Kata <em>Yusuf bin Hakam</em>, &#8220;Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang puasa dalam perjalanan. Lalu Ibnu Umar berkata bahwa kalau kamu bersedekah kepada seseorang tetapi orang itu menolak sedekah kamu apakah kamu tidak marah. Nah ketahuilah bahwa buka di dalam perjalanan itu adalah sedekah dari Allah, dan Allah marah bila Dia ditolak sedekahnya.&#8221;</p>
<p><em>Abdurrahman bin Auf </em>berpendapat bahwa tidak boleh berpuasa dalam perjalanan baik perjalanan itu sulit atau gampang. Orang yang berpuasa dalam perjalanan hukumnya sama dengan orang yang buka dan tidak bepergian. Artinya, haram hukumnya bagi orang yang tidak berpuasa dalam kondisi tidak sedang bepergian. Ibnu Abbas mengatakan bahwa berbuka di dalam perjalanan adalah kewajiban. Dan para imam Ahlul Bayt, berdasarkan riwayat dari Abu Abdillah, yang sama seperti riwayat Abdurrahman bin Auf, mengatakan bahwa orang yang berpuasa di bulan Ramadhan di perjalanan sama hukumnya dengan orang yang tidak berpuasa tetapi tidak bepergian.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan pula bahwa Abu Abdillah mengatakan, <em>&#8220;Kalau aku menemukan orang yang mati ketika berpuasa dalam perjalanan, maka aku tidak akan menshalatkannya.&#8221;</em></p>
<p>Riwayat-riwayat dari Ahlus Sunnah, Muslim dan Turmudzi, dalam kitab<em> Taysir Al-Wushul ila Jami&#8217; Al-Ushul fi Hadits Al-Rasul</em>, dari Jabir r.a. berkata, &#8220;Rasulullah keluar di bulan Ramadhan ke kota Makkah, kemudian berpuasa sampai di tempat yang namanya <em>Qira&#8217; Al-Ghanim</em>. Orang-orang dalam keadaan berpuasa semua. Waktu itu Rasulullah meminta sebuah pinggan, wadah air, dan Rasulullah mengangkat pinggan itu tinggi-tinggi kemudian beliau minum di hadapan orang banyak. Kemudian dilaporkan kepada Rasulullah sesudah itu, ada orang yang terus saja berpuasa. Lalu Nabi berkata, &#8216;Mereka itu orang-orang yang durhaka. Mereka itu orang-orang yang durhaka.&#8217; Nabi Saw. menyebutnya dua kali.&#8221;</p>
<p>Berdasarkan hadis-hadis itu sebagian ulama berpendapat bahwa puasa dalam keadaan sakit dan dalam perjalanan itu hukumnya haram. Kita belum menceritakan ukuran jarak perjalanan yang mengharuskan kita tidak berpuasa, tetapi prinsip umumnya, menurut sebagian ulama, berpuasa dalam keadaan sakit dan puasa dalam perjalanan itu hukumnya haram.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>________________________________</strong></span></p>
<p><span style="color:#333399;"><strong>Di kutip dari buku &#8220;Renungan-renungan Sufistik&#8221; hal, 45-55</strong></span></p>
<p><span style="color:#333399;"><strong>Karya Dr. Jalaluddin Rakhmat</strong></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=178&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/tafsir-ayat-hukum-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SHAUM MADRASAH RUHANIAH</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/shaum-madrasah-ruhaniah/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/shaum-madrasah-ruhaniah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 20:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[SHAUM MADRASAH RUHANIAH
Oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat *

Puluhan tahun lalu, puluhan rektor universitas Amerika berkumpul dalam suatu konferensi di Universitas Michigan. Mereka seakan tersentak, ketika Dr. Benjamin E. Mays, Rektor Morehouse College, Georgia, berkata; 
&#8220;Kita memiliki orang-orang terdidik yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Kita juga memiliki lulusan-lulusan perguruan tinggi yang lebih banyak. Namun, kemanusiaan kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=173&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><span style="color:#003366;">SHAUM MADRASAH RUHANIAH</span></h2>
<h3><span style="color:#800080;">Oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat <span style="color:#0000ff;">*</span><br />
</span></h3>
<p>Puluhan tahun lalu, puluhan rektor universitas Amerika berkumpul dalam suatu konferensi di Universitas Michigan. Mereka seakan tersentak, ketika <em>Dr. Benjamin E. Mays</em>, Rektor Morehouse College, Georgia, berkata;<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Kita memiliki orang-orang terdidik yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Kita juga memiliki lulusan-lulusan perguruan tinggi yang lebih banyak. Namun, kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang berpenyakit&#8230;. Bukan pengetahuan yang kita butuhkan; kita sudah punya pengetahuan. Kemanusiaan sedang membutuhkan sesuatu yang spiritual.&#8221;</em></p>
<p>Mereka tersentak, karena menyadari bahwa selama ini perguruan tinggi telah mencetak manusia-manusia yang tidak utuh; manusia yang bernalar tinggi tetapi berhati kering, sarjana yang meraksasa dalam teknik tetapi masih merayap dalam etik, intelek-intelek yang pongah dengan pengetahuan tetapi yang kebingungan untuk menikmati kehidupan.</p>
<p><span id="more-173"></span></p>
<p>Teriakan <em>Mays</em> tidak berbeda dengan imbauan <em>Nugroho Notosusanto</em>, yang menginginkan agar pendidikan kita mulai memperhatikan humaniora. Untuk lebih manusiawi, supaya manusia lebih &#8220;humanior&#8221;, memang diperlukan sesuatu yang sifatnya ruhaniah, &#8220;something spiritual&#8221;. Dilepaskan dari dimensi ruhaniahnya, kemanusiaan menjadi &#8220;kemanusiaan yang berpenyakit&#8221;. &#8220;Semakin banyak orang pandai, semakin sulit dicari orang jujur,&#8221; begitu keluh <em>Jean</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Jaques Rousseau</em>. Rousseau menganggap semua penyakit kemanusiaan timbul karena manusia hanya mempertajam akalnya saja dan mengesampingkan panggilan hati-nuraninya. Manusia yang hanya berpikir saja adalah binatang yang bercacat <em>(l&#8217;homme qui inedite est un animal deprave). </em>Ilmunya akan menggapai angkasa tetapi hatinya diperbudak kerakusan, iri hati, kebencian, kegersangan emosi dan penipuan; keterampilannya mampu menggerakkan gunung-gunung tetapi tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.</p>
<p>Manusia adalah makhluk jasmaniah dan ruhaniah sekaligus. Karena itu, dalam dirinya ada potensi untuk berhubungan dengan dunia material dan dunia spiritual. Manusia adalah &#8220;radio dua band&#8221; yang mampu menangkap gelombang panjang dan juga gelombang pendek. Ia mampu menangkap hukum-hukum alam di balik gejalagejala fisik yang diamatinya, tetapi ia juga mampu me- nyadap isyarat-isyarat gaib dari alam yang lebih luas lagi. Bila satu potensi dikembangkan luar biasa sedangkan potensi lain dimatikan, manusia menjadi makhluk yang bermata satu.</p>
<p>Seorang pejabat akan melihat kumpulan rakyat kecil sebagai angka yang dapat dikalikan dengan satuan biaya dan menghasilkan proyek milyaran rupiah. Tetapi ia tidak mampu memandang butir-butir airmata kepedihan di balik mata-mata yang cekung dan ungkapan kemiskinan di sela-sela tulang rusuk yang mencuat. Seorang sarjana akan mampu melihat keteraturan di alam semesta, tetapi tidak mampu menyimak Sang Pencipta di balik semua keteraturan itu. Seorang dokter segera dapat melihat gejala-gejala penyakit pasiennya, tetapi tidak mampu melihat sentuhan kemanusiaan di dalamnya; sehingga ia hanya memandang pasien sebagai sebongkah tubuh yang dapat dikalikan dengan ribuan rupiah biaya periksa. Seorang ahli hukum cepat mengetahui pasal mana yang dapat dipakai untuk memenangkan perkara, tetapi buta dengan isyarat-isyarat keadilan; sehingga klien berubah menjadi sapi perahan.</p>
<p>Kebahagiaan, ketenteraman, keindahan, kesucian, keadilan, keharuan adalah gejala-gejala ruhaniah. Gejala-gejala ini tidak bisa dimiliki bila potensi ruhaniah dimatikan. Karena itu, tumpukan uang tidak melahirkan kebahagiaan. Rumah megah tidak menyiramkan ketenteraman. Barang-barang mewah tidak memancarkan keindahan. Upacara-upacara keagamaan yang spektakuler tidak menumbuhkan kesucian. Seperangkat peraturan tidak mendatangkan keadilan. Dan sejuta keluhan tidak menyentuh keharuan.</p>
<p>&#8220;Anda tidak bisa menyelamatkan dunia hanya dengan sebuah sistem,&#8221; ujar<em> Thomas Merton</em>, penulis <em>Mysticism in the Nuclear Age</em>, &#8220;Anda tidak bisa meraih kedamaian tanpa kedermawanan. Anda tidak bisa mendapatkan keteraturan sosial tanpa orang-orang suci, kaum mistis, dan para nabi.&#8221; Tidak ada satu sistem, teori, ideologi atau apapun namanya dapat menyelamatkan dunia dari krisis. Kita memerlukan orang-orang suci yang dengan sinar ruhaninya memancarkan kasih-sayang dan menerangi kegelapan. Lebih rabun pandangan, lebih banyak sinar diperlukan. Dunia sekarang lebih memerlukan kehadiran seorang manusia suci daripada seribu &#8220;manusia nalar&#8221;.</p>
<p>Manusia suci dalam Islam disebut manusia takwa.</p>
<p><em>Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar </em>(QS 10: 62-64).</p>
<p>Manusia takwa adalah wali-wali Allah&#8230;..</p>
<p><em>yang semula mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia </em>(QS 6: 122).</p>
<p>Cahaya yang terang yang dikaruniakan Allah kepada manusia takwa diumpamakan-Nya sebagai:</p>
<p><em>Sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun. Tidak ke barat tidak ke timur. Minyaknya saja hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki </em>(QS 24: 35).</p>
<p>Sedangkan orang kafir yang kehilangan cahaya diumpamakan sebagai:</p>
<p><em>Gelap-gulita di lautan yang dalam, yang diliputi ombak, yang di atasnya ada ombak pula, di atasnya lagi awan; gelap-gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya tiadalah ia dapat melihat, dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya petunjuk oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun </em>(QS 2: 183).</p>
<p>Untuk memperoleh cahaya yang terang diperlukan upaya. Sebagaimana diperlukan sekolah untuk mendidik manusia-manusia intelektual, maka diperlukan pula madrasah ruhaniah untuk menghasilkan manusia-manusia takwa. Madrasah ruhaniah ini ialah shaum (puasa).</p>
<p><em>Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa seperti diwajibkan pada umat sebelum kamu supaya kamu semua menjadi orang-orang takwa </em>(QS 2: 183)</p>
<p>Pelajaran apakah yang diberikan pada madrasah ruhaniah yang bernama <em>shaum</em>? Sebagian di antaranya ialah: ikhlas, pembersihan diri, ihsan, dan ibadah. Marilah kita merenungkan kembali pelajaran ini satu persatu.</p>
<p><strong>Ikhlas</strong></p>
<p><em>Ikhlas </em>berarti <em>beramal semata-mata karena mengharap keridhaan Allah</em>. <em>Shaum</em> adalah latihan ikhlas, sebab shaum tidak kelihatan orang. Kelelahan fisik, kelesuan, mata yang cekung, bibir yang kering bukan menunjukkan shaum saja. Shaum hanya bisa dijalankan dengan ikhlas. Karena itu orang melakukan puasa tidak karena mengharap pujian manusia, tidak karena mendambakan kekayaan, tidak pula ditujukan untuk mempertahankan kedudukan. Dalam puasa orang dididik bahwa keridhaan Allah lebih besar daripada dunia dengan segala isinya. <em>Wa ridhwanum minnallahi akbar! </em>(QS 9: 72).</p>
<p>Ikhlas menunjukkan sucinya niat, bersihnya tujuan amal, dan lepasnya manusia dari perbudakan dunia. Karena itu, bila puasanya berhasil, manusia tidak lagi membabi-buta mengejar kekayaan, bila kekayaan itu mengundang murka Allah; ia tidak lagi mempertahankan kekuasaan, bila kekuasaan itu menghalanginya untuk mencapai ridha Allah; ia tidak lagi bersikeras mempertahankan harga diri bila harga diri itu malah menjatuhkan dia dari rahman-rahim Allah. Puasa menegaskan kembali pandangan hidup Muslim: <em>wa ridhwanum minallahi akbar </em>(dan keridhaan Allah lebih besar dari segala-galanya).</p>
<p><strong>Pembersihan Diri</strong></p>
<p>Dalam puasa seorang Muslim dididik untuk menghindari segala perbuatan yang tercela. Ia mengendalikan lidahnya supaya tidak mengeluarkan kata keji, kata yang tajam dan menyinggung orang lain, atau menggunjingkan orang lain. Bahkan bila ia dicemoohkan orang sekalipun, Rasulullah Saw. menyuruhnya untuk menjawab sederhana. <em>&#8220;Inni shaim&#8221; </em>(Aku sedang berpuasa).</p>
<p>Ia mengendalikan telinganya, pandangannya, seluruh anggota badannya, bahkan getaran hatinya. <em>&#8220;Betapa banyaknya orang yang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga,&#8221; </em>begitu peringatan Rasulullah Saw. (HR Bukhari). Takwa tidak akan dapat dicapai tanpa proses pembersihan diri. Cahaya ruhaniah tidak akan mampu menembus hati yang dipenuhi dosa dan maksiat.<em> Nur rabbani </em>tidak akan terpantul dari jiwa yang kotor.</p>
<p><strong>Ihsan dan Ibadah</strong></p>
<p>Dalam puasa, seorang Muslim diajar untuk membiasakan berbuat baik. Berbuat baik kepada makhluk Allah dan berbuat baik dalam menyembah Allah. Dibiasakannya memperbanyak sedekah, menolong orang lain, menggembirakan yang susah, dan meringankan beban yang berat. Pada saat yang sama digerakkannya bibir dan lidahnya untuk berzikir dan membaca Al-Quran, ditegakkannya kakinya untuk shalat malam, dipenuhinya waktu sahur dengan istighfar. Matanya sayu karena kurang tidur. Bibirnya kering karena menahan lapar dan dahaga. Tubuhnya lemah karena kehabisan energi. Tetapi pandangan kalbunya cemerlang dengan sinar rabbani.</p>
<p>Andaikan empat pelajaran shaum ini dilanjutkan oleh kaum Muslim, dunia tidak akan kehabisan orang-orang suci. Keempat kualitas ini akan sanggup memberikan keharuan imani pada kegersangan intelektual, timbangan keadilan pada kepongahan kekuasaan, kelembutan kasih-sayang pada kekasaran kekayaan, keutuhan insani pada kemanusiaan yang bercacat. <em>Rabbana taqabbal minna, innaka antas sami&#8217;ud du&#8217;a! </em></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>_________________</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#0000ff;">*</span><span style="color:#3366ff;">Dikutip dari buku “Renungan-Renungan Sufistik” hal, 34-39<br />
</span> </strong></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong>Karya. Dr. Jalaluddin Rakhmat</strong></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=173&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/shaum-madrasah-ruhaniah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PESAN MORAL IBADAH SHAUM</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/pesan-moral-ibadah-shaum/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/pesan-moral-ibadah-shaum/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 16:44:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[PESAN MORAL IBADAH SHAUM
Oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat *
Ibadah shaum (puasa), seperti halnya ibadah-ibadah yang lain di dalam Islam, merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. Bukan hanya shaum saja yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah -ini yang sering kita lupakan- tetapi semua ibadah yang kita lakukan sebetulnya merupakan riyadhah untuk mendidikkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=169&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><strong><span style="color:#003366;">PESAN MORAL IBADAH SHAUM</span></strong></h2>
<p><span style="color:#993300;"><strong>Oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat <span style="color:#0000ff;">*</span></strong></span></p>
<p>Ibadah shaum (puasa), seperti halnya ibadah-ibadah yang lain di dalam Islam, merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. Bukan hanya shaum saja yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah -ini yang sering kita lupakan- tetapi semua ibadah yang kita lakukan sebetulnya merupakan<em> riyadhah</em> untuk mendidikkan nilai moral tertentu, nilai akhlak tertentu.</p>
<p>Setiap ibadah, baik ibadah shaum atau ibadah lain, di dalamnya terkandung apa yang kita sebut sebagai pesan moral. Bahkan begitu mulianya pesan moral ini, sampai Rasulullah Saw. Menilai &#8216;harga&#8217; suatu ibadah itu dinilai dari sejauh mana kita menjalankan pesan moralnya. Apabila ibadah itu tidak meningkatkan akhlak kita, Rasulullah Saw. menganggap bahwa ibadah itu tidak bermakna. Dengan kata lain, kita tidak melaksanakan pesan moral ibadah itu.</p>
<p><span id="more-169"></span></p>
<p>Dalam suatu hadis diriwayatkan bahwa pada bulan Ramadhan ada seorang wanita sedang mencaci-maki pembantunya. Dan Rasulullah Saw. mendengarnya. Kemudian beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan dan memanggil perempuan itu. Lalu Rasulullah Saw. bersabda, <em>&#8220;Makanlah makanan ini.&#8221;</em> Perempuan itu menjawab,<em> &#8220;Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.&#8221;</em> Rasul yang mulia bersabda lagi, <em>&#8220;Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang shaum dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.&#8221;</em></p>
<p>Ketika Rasulullah mengatakan <em>&#8220;Betapa sedikitnya yang shaum, dan betapa banyaknya yang kelaparan&#8221;</em>, Nabi menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang yang hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi tidak sanggup mewujudkan pesan moral ibadah itu, tidak lebih sekadar orang-orang yang lapar saja.</p>
<p>Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda, <em>&#8220;Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.&#8221; </em>Seseorang bisa saja melakukan ibadah puasa. Dia sanggup mematuhi seluruh ketentuan fiqih, tetapi dia tidak sanggup mewujudkan pesan moral puasa itu. Bahkan kalau orang itu puasanya cacat, atau puasanya itu batal, atau melakukan hal-hal yang terlarang, secara fiqih, maka tebusannya adalah menjalankan pesan moral itu. Misalnya, pada bulan puasa, sepasang suami-istri bercampur pada siang hari, maka kifaratnya ialah memberi makan enam puluh orang miskin, karena salah satu pesan moral puasa ialah memperhatikan orang-orang yang lapar di sekitar kita.</p>
<p>Oleh sebab itu, kita temukan orang-orang yang tidak sanggup berpuasa, di dalam Al-Quran, diharuskan untuk mengeluarkan fidyah buat orang-orang miskin. Jadi kalaupun tidak sanggup menjalankan ritus puasa, tidak sanggup melakukan upacara pelaksanaan puasa itu, paling tidak, laksanakanlah pesan moral puasa itu. Yaitu menyantuni fakir dan miskin.</p>
<p>Sekali lagi, semua ajaran Islam itu mengandung pesan moral. Dan pesan moral itulah yang saya pikir dipandang sangat penting di dalam Islam. Mengapa Islam menekankan prinsip moral itu? Prinsip akhlak itu? Karena kedatangan Rasulullah Saw. yang mulia Saw. bukan hanya untuk mengajarkan zikir dan doa. Bahkan Nabi secara tegas mengatakan bahwa misinya ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Oleh karena itu, seluruh ajaran Islam diarahkan untuk menyempurnakan akhlak; termasuk ibadah shaum, bangun tengah malam dan shalat. Semuanya diarahkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.</p>
<p>Bahkan kalau ada orang yang menjalankan pelbagai<em> &#8216;ibadah mahdhah</em>, tetapi kurang memperhatikan akhlaknya, Islam tidak menghitung ibadah itu. Ketika kepada Rasulullah dikatakan, <em>&#8220;Ya Rasulullah ada orang yang berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk melakukan qiyaimul layl, tetapi dia menyakiti tetangganya dengan lidahnya.&#8221;</em> Maka Rasulullah Saw. menjawab, <em>&#8220;Dia di neraka.&#8221;</em></p>
<p>Nabi pernah bertanya kepada sahabat-sahabatnya, &#8220;Tahukah kalian siapa yang bangkrut itu?&#8221; Lalu para sahabat berkata, &#8220;Bagi kami yang bangkrut itu ialah orang yang kehilangan hartanya dan seluruh miliknya.&#8221; &#8220;Tidak,&#8221; kata Rasulullah. &#8220;Yang bangkrut ialah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa pahala dari shaum-nya, pahala zakatnya dan hajinya, tetapi ketika pahala-pahala itu ditimbang datanglah orang mengadu, &#8216;Ya Allah dahulu orang itu pernah menuduhku berbuat sesuatu padahal aku tidak pernah melakukannya.&#8217; Kemudian Allah menyuruh orang yang diadukan itu untuk membayar orang itu dengan sebagian pahala dan menyerahkannya kepada orang yang mengadu tersebut.<br />
&#8220;Kemudian datang orang yang lain lagi dan mengadu, &#8216;Ya Allah hakku pernah diambil dengan sewenang-wenang.&#8217; Lalu Allah menyuruh lagi membayar dengan amal salehnya kepada orang yang mengadu itu.</p>
<p>&#8220;Setelah itu datang lagi orang yang mengadu; sampai seluruh pahala shalat, haji dan shaumnya itu habis dipakai untuk membayar orang yang pemah haknya dirampas, yang pernah disakiti hatinya, yang pernah dituduh tanpa alasan yang jelas. Semuanya dia bayarkan sampai tidak tersisa lagi pahala amal salehnya. Tetapi orang yang mengadu masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu.&#8221;</p>
<p>Kata Rasulullah selanjutnya, &#8220;Itulah orang yang bangkrut di Hari Kiamat&#8221;, yaitu orang yang rajin menjalankan ritus-ritus itu, upacara-upacara ibadah (shalat, shaum, zakat, dan lain sebagainya) tetapi dia tidak memiliki akhlak<br />
yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka.</p>
<p>Lalu, sebenarnya apa yang menjadi pesan moral ibadah shaum yang kita lakukan itu. Salah satu pesan moral ibadah shaum yang utama ialah kita dilarang memakan makanan yang haram; supaya kita menjaga diri jangan sembarang memakan makanan. Bahkan makanan halal pun tidak boleh kita makan sebelum datang waktunya yang tepat. Jadi, jangan sembarang makan. Jangan makan asal saja. Kita mesti memperhatikan apa yang kita makan itu. Sayyidina Ali k.w. pernah berkata, &#8220;Jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan hewan.&#8221; Maksudnya, mungkin, adalah bahwa kita tidak boleh terlalu banyak makan daging; apalagi cara memperolehnya dengan jalan yang tidak halal.</p>
<p>Pesan moral Ramadhan adalah jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan orang lain. Jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan rakyat kecil. Jangan pindahkan tanah dan ladang milik mereka ke perut Anda. Itulah pesan moral shaum yang menurut saya relevan dengan kondisi saat ini; ketika kita dikejar-kejar oleh konsumtivisme (senang berfoya-foya dan berbelanja barang yang tidak bermanfaat) dan dikejar-kejar untuk meningkatkan status sosial. Kita tidak jarang berani memakan hak orang lain. Kita sering jadi omnivora (binatang pemakan segala) tanpa memperhatikan halal dan haram.</p>
<p>Tetapi, tidaklah cukup hanya sampai di sini pesan moral shaum itu. Shaum juga mengajarkan bahwa walaupun harta itu milik kita, tetapi kita tidak boleh memakannya sebelum datang waktunya yang tepat. Saya, ingin mengutip lagi ucapan Sayyidina Ali k.w., <em>&#8220;Tidak pernah aku melihat ada orang yang memperoleh harta yang berlimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang disia-siakan.&#8221; </em>Kita tidak usah menjadi Marxis, untuk menyadari bahwa keuntungan yang berlimpah ruah yang dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di negara-negara miskin umumnya terjadi karena, misalnya, upah buruh yang murah sehingga si pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang besar. Beberapa waktu yang lalu, misalnya, kita membaca bahwa para pengusaha tekstil memperoleh keuntungan yang besar karena mereka membayar buruh dengan upah yang rendah.</p>
<p>Seandainya kita memperoleh gaji yang cukup tinggi, di dalam Islam, kita tidak boleh memakan semua upah yang kita terima walaupun itu hasil jerih payah kita sendiri. Kita, yang memperoleh penghasilan yang berlebih, mempunyai kewajiban untuk menyantuni orang-orang yang miskin. Dan itu merupakan pesan moral ibadah puasa. Puasa tidak akan bermakna apa-apa sebelum kita memberikan perhatian yang tulus kepada orang-orang yang menderita di sekitar kita. Di Masjid Al-Munawwarah, masjid di belakang rumah saya, dipraktikkan sebuah doa dari Rasulullah Saw. yang lazim diamalkan setiap selesai shalat fardhu di bulan puasa. Menurut saya, doa itu mengandung pesan moral ibadah puasa. Doa itu berbunyi begini:</p>
<p><em>Ya Allah masukkanlah rasa bahagia kepada penghuni kubur<br />
Ya Allah kayakanlah semua orang-orang yang miskin<br />
Ya Allah kenyangkan orang-orang yang lapar<br />
Ya Allah berilah pakaian orang-orang yang telanjang<br />
Ya Allah bayarkan utang orang-orang yang berutang<br />
Ya Allah bebaskan kesulitan orang yang mendapat kesulitan</em></p>
<p>Dan seterusnya. Doa itu panjang. Walaupun doa itu merupakan permohonan kita kepada Allah supaya yang lapar dikenyangkan, yang telanjang diberi pakaian, yang sakit disembuhkan, yang mendapatkan kesulitan dihilangkan dari kesulitannya, pada saat yang sama doa itu mengajarkan tanggung jawab kita kepada orang-orang yang menderita di sekitar kita.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>__________________<br />
</strong></span><br />
<strong><span style="color:#0000ff;">*</span><span style="color:#003366;">Dikutip dari buku “Renungan-Renungan Sufistik” hal, 40-44<br />
Karya. Dr. Jalaluddin Rakhmat.</span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=169&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/09/01/pesan-moral-ibadah-shaum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lailatul-Qadar</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/22/lailatul-qadar/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/22/lailatul-qadar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2009 23:07:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[LAILAT AL-QADAR
SUMBER: Media Isnet
Oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita  berbicara tentang surat Al-Qadar.
Surat  Al-Qadar  adalah  surat  ke-97  menurut urutannya dalam Mushaf.  Ia  ditempatkan  sesudah  surat  Iqra&#8217;.  Para   ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra&#8217;. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat
Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=157&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><span style="color:#008080;">LAILAT AL-QADAR</span></h2>
<p><strong><span style="color:#800000;">SUMBER:</span><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/LailatulQadar.html" target="_blank"> Media Isnet</a></strong></p>
<p><span style="color:#000080;"><strong>Oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.</strong></span></p>
<p><a href="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/quraish-shihab1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-158" title="Quraish Shihab" src="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/quraish-shihab1.jpg?w=325&#038;h=237" alt="Quraish Shihab" width="325" height="237" /></a></p>
<p>Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita  berbicara tentang surat Al-Qadar.</p>
<p>Surat  Al-Qadar  adalah  surat  ke-97  menurut urutannya dalam Mushaf.  Ia  ditempatkan  sesudah  surat  Iqra&#8217;.  Para   ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra&#8217;. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat<br />
Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.<br />
<span id="more-157"></span><br />
Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah  Allah  Swt.,   dan   dari   perurutannya   ditemukan<br />
keserasian-keserasian yang mengagumkan.</p>
<p>Kalau  dalam surat Iqra&#8217; Nabi Saw. (demikian pula kaum Muslim) diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu  antara  lain<br />
adalah  Al-Quran, maka wajar jika surat sesudahnya yakni surat Al-Qadar  ini  berbicara  tentang   turunnya   Al-Quran,   dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Quran.</p>
<p>Bulan  Ramadhan  memiliki  sekian  banyak  keistimewaan, salah satunya adalah Lailat Al-Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran<br />
&#8220;lebih baik dari seribu bulan.&#8221;</p>
<p>Tetapi  apa  dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang<br />
lalu,  atau  terjadi  setiap  bulan  Ramadhan  sepanjang masa? Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang  yang  menantinya<br />
pasti  akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya  air,<br />
heningnya  malam,  dan  menunduknya pepohonan dan sebagainya)? Bahkan masih banyak lagi  pertanyaan  yang  dapat  dan  sering<br />
muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.</p>
<p>Yang  pasti  dan  harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran  bahwa,  &#8220;Ada  suatu  malam  yang  bernama<br />
Lailat  Al-Qadar,  dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar<br />
dengan penuh kebijaksanaan.&#8221;</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami (QS Al-Dukhan [44]: 3-5).</p></blockquote>
<p>Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab  suci menginformasikan bahwa ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan<br />
(QS Al-Baqarah [2]: 185) serta pada malam Al-Qadar (QS Al-Qadr [97]: l).</p>
<p>Malam  tersebut  adalah  malam  mulia.  Tidak  mudah diketahui betapa besar kemuliannnya. Hal  ini  disyaratkan  oleh  adanya &#8220;pertanyaan&#8221; dalam bentuk pengagungan, yaitu:</p>
<blockquote><p>Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)</p></blockquote>
<p>Tiga belas kali kalimat ma  adraka  terulang  dalam  Al-Quran, sepuluh  di  antaranya  mempertanyakan  tentang kehebatan yang<br />
berkait dengan hari  kemudian,  seperti:  Ma  adraka  ma  yaum al-fashl,  dan sebagainya. Kesemuanya merupakan hal yang tidak<br />
mudah  dijangkau  oleh  akal  pikiran  manusia,  kalau  enggan berkata  mustahil  dijangkaunya. Tiga kali ma adraka sisa dari<br />
angka tiga belas itu adalah:</p>
<blockquote><p>Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (QS Al-Thariq [86]: 2)</p>
<p>Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (QS Al-Balad [90]: 12)</p>
<p>Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)</p></blockquote>
<p>Pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Quran berkaitan  dengan objek  pertanyaan  yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat,<br />
dan sulit  dijangkau  hakikatnya  secara  sempurna  oleh  akal pikiran manusia.</p>
<p>Walaupun   demikian,   sementara   ulama   membedakan   antara pertanyaan ma  adraka  dan  ma  yudrika  yang  juga  digunakan<br />
Al-Quran dalam tiga ayat.</p>
<blockquote><p>Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah dekat waktunya? (QS Al-Ahzab [33]: 63)</p>
<p>Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat? (QS Al-Syura [42]: 17~.</p>
<p>Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dandosa)? (QS &#8216;Abasa [80]: 3).</p></blockquote>
<p>Dua ayat pertama di  atas  mempertanyakan  dengan  ma  yudrika menyangkut   waktu   kedatangan  kiamat,  sedang  ayat  ketiga<br />
berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.  Ketiga  hal  tersebut tidak mungkin diketahui manusia.</p>
<p>Secara   gamblang   Al-Quran   &#8211;demikian   pula   As-Sunnah-menyatakan bahwa Nabi Saw. tak mengetahui kapan datangnya hari<br />
kiamat,  tidak  pula mengetahui tentang~perkara yang gaib. Ini berarti bahwa ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal<br />
yang  tidak  mungkin  diketahui  walau oleh Nabi Saw. sendiri, sedang wa  ma  adraka,  walau  berupa  pertanyaan  namun  pada<br />
akhirnya  Allah Swt. menyampaikannya kepada Nabi Saw. sehingga informasi  lanjutan  dapat  diperoleh  dari  beliau.  Demikian<br />
perhedaan kedua kalimat tersebut.</p>
<p>Ini  berarti  bahwa  persoalan  Lailat Al-Qadar, harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., karena di  sanalah kita dapat memperoleh informasinya.</p>
<p>Kembali kepada pertanyaan semula, apa malam kemuliaan itu? Apa arti malam Qadar, dan mengapa malam itu dinamai  demikian?  Di<br />
sini ditemukan berbagai jawaban.</p>
<p>Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:</p>
<p>1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan  hidup  manusia. Pendapat  ini  dikuatkan  oleh penganutnya dengan firman Allah dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 yang disebut di atas. (Ada  ulama yang  memahami  penetapan  itu  dalam batas setahun). Al-Quran yang turun pada malam Lailat Al-Qadar,  diartikan  bahwa  pada malam  itu  Allah  Swt.  mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya Muhammad Saw.,  guna  mengajak  manusia kepada  agama  yang  benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia baik sebagai  individu  maupunkelompok.</p>
<p>2. Kemuliaan.   Malam  tersebut  adalah  malam  mulia  tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih  sebagai  malam  turunnya Al-Quran,  serta  karena  ia  menjadi  titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata  qadar  yang  berarti  mulia ditemukan  dalam surat Al-An&#8217;am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik:</p>
<blockquote><p>Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat.</p></blockquote>
<p>3. Sempit. Malam tersebut adalah  malam  yang  sempit,  karena banyakuya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr:</p>
<blockquote><p>Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh ((Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.</p></blockquote>
<p>Kata qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara  lain dalam surat A1-Ra&#8217;d (13): 26:</p>
<blockquote><p>Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya).</p></blockquote>
<p>Ketiga arti tersebut  pada  hakikatnya  dapat  menjadi  benar,karena  bukankah  malam tersebut adalah malam mulia, yang bila</p>
<p>diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan  bahwa  pada malam  itu  malaikat-malaikat  turun ke bumi membawa kedamaian dan  ketenangan.  Namun  demikian,  sebelum  kita  melanjutkan bahasan  tentang  Laitat  Al-Qadar,  maka terlebih dahulu akan dijawab pertanyaan tentang kehadirannya  adakah  setiap  tahun atau  hanya  sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas<br />
abad yang lalu?</p>
<p>Dari Al-Quran  kita  menemukan  penjelasan  bahwa  wahyu-wahyu Allah  itu diturunkan pada Lailat Al-Qadar. Akan tetapi karena<br />
umat sepakat mempercayai bahwa  Al-Quran  telah  sempurna  dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam  mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh<br />
malam  tersebut  adalah  karena  ia  terpilih  menjadi   waktu turunnya Al-Quran.</p>
<p>Pakar  hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah  bersabda<br />
bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi.</p>
<p>Pendapat  tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka berpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak  teks<br />
hadis  yang  menunjukkan  bahwa  Lailat  Al-Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan  Rasululllah  Saw.  menganjurkan<br />
umatnya  untuk  mempersiapkan  jiwa menyambut malam mulia itu, secara khusus pada  malam-malam  ganjil  setelah  berlalu  dua<br />
puluh Ramadhan.</p>
<p>[tulisan Arab]</p>
<p>Demikian sabda Nabi Saw.</p>
<p>Memang  turunnya  Al-Quran  lima  belas abad yang lalu terjadi pada malam Lailat Al-Qadar, tetapi  itu  bukan  berarti  bahwa<br />
ketika  itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu<br />
turun,  tetapi  karena  adanya  faktor  intern  pada malam itu sendiri.</p>
<p>Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk  kata kerja  mudhari&#8217; (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang<br />
mengandung arti kesinambungan, atau  terjadinya  sesuatu  pada masa kini dan masa datang.</p>
<p>Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya  itu?<br />
Tidak  sedikit  umat  Islam  yang  menduganya  demikian. Namun dugaan itu menurut hemat penulis keliru, karena hal itu  dapat<br />
berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun tidak.  Di  sisi  1ain  berarti<br />
bahwa   kehadirannya   ditandai  oleh  hal-hal  yang  bersifat fisik-material,  sedangkan  riwayat-riwayat  demikian,   tidak<br />
dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.</p>
<p>Seandainya,  sekali  lagi  seandainya,  ada  tanda-tanda fisik material, maka itu pun takkan ditemui  oleh  orang-orang  yang<br />
tidak    mempersiapkan   diri   dan   menyucikan   jiwa   guna menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin  akan  menyatu  dan<br />
bertemu.  Kebaikan  dan  kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat Al-Qadar tidak mungkin akan diraih  kecuali  oleh  orang-orang<br />
tertentu  saja.  Tamu  agung  yang  berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun<br />
setiap  orang  di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas  kedatangan  kekasih,  namun  ternyata  sang<br />
kekasih tidak sudi mampir menemuinya?</p>
<p>Demikian  juga  dengan  Lailat  Al-Qadar.  Itu  sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan  ini  adalah<br />
bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan  Ramadhan.<br />
Karena,  ketika  itu,  diharapkan  jiwa  manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai  satu  tingkat<br />
kesadaran  dan  kesucian  yang  memungkinkan  malam  mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya  Rasul  Saw.<br />
menganjurkan sekaligus mempraktekkan i&#8217;tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.</p>
<p>Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah  mulai  bersemi,  dan Lailat  Al-Qadar  datang  menemui seseorang, ketika itu, malam<br />
kehadirannya menjadi saat qadar dalam  arti,  saat  menentukan bagi  perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat<br />
itu, bagi yang  bersangkutan  adalah  saat  titik  tolak  guna meraih  kemuliaan  dan  kejayaan hidup di dunia dan di akhirat<br />
kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna  menyertai dan  membimbingnya  menuju  kebaikan  sampai  terbitnya  fajar<br />
kehidupannya yang baru kelak  di  hari  kemudian.  (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!).</p>
<p>Syaikh  Muhammad &#8216;Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. &#8216;Abduh  memberi ilustrasi berikut:</p>
<blockquote><p>Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.</p></blockquote>
<p>Yang  membisikkan  kebaikan  adalah  malaikat,   sedang   yang membisikkan  keburukan  adalah  setan  atau paling tidak, kata &#8216;Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat  atau setan.  Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri  menyambutnya,  menjadikan  yang bersangkutan  akan  selalu  disertai  oleh  malaikat. Sehingga jiwanya selalu terdorong  untuk  melakukan  kebaikan-kebaikan, dan  dia  sendiri  akan  selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam  Lailat  Al-Qadar, tapi  sampai  akhir  hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.</p>
<p>Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambil mengamalkan  i&#8217;tikaf  di  masjid  dalam  rangka perenungan dan<br />
penyucian jiwa. Masjid adalah tempat  suci.  Segala  aktivitas kebajikan   bermula   di  masjid.  Di  masjid  pula  seseorang diharapkan merenung  tentang  diri  dan  masyarakatnya,  serta dapat  menghindar  dari  hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan  pengetahuan  dan  pengkayaan iman.  Itu  sebabnya  ketika  melaksanakan i&#8217;tikaf, dianjurkan untuk memperbanyak  doa  dan  bacaan  Al-Quran,  atau  bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.</p>
<p>Malam  Qadar  yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung  tentang<br />
diri  beliau  dan  masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya,  turunlah  Ar-Ruh  (Jibril)  membawa  ajaran  dan membimbing  beliau  sehingga  terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat  manusia.<br />
Karena  itu  pula  beliau  mengajarkan  kepada  umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar  itu,  antara  1ain adalah melakukan i&#8217;tikaf.</p>
<p>Walaupun  i&#8217;tikaf  dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja &#8211;bahkan dalam pandangan Imam Syafi&#8217;i,  walau<br />
sesaat  selama dibarengi oleh niat yang suci&#8211; namun Nabi Saw. selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan<br />
puasa.  Di  sanalah  beliau  bertadarus  dan  merenung  sambil berdoa.</p>
<p>Salah satu doa yang  paling  sering  beliau  baca  dan  hayati maknanya adalah:</p>
<blockquote><p>Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami<br />
dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).</p></blockquote>
<p>Doa ini bukan  sekadar  berarti  permohonan  untuk  memperoleh kebajikan  dunia  dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih<br />
lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai  usaha.  Permohonan  itu  juga  berarti  upaya  untuk menjadikan  kebajikan  dan  kebahagiaan  yang  diperoleh dalam<br />
kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di  dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.</p>
<p>Adapun   menyangkut   tanda   alamiah,   maka  Al-Quran  tidak menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal  tersebut,<br />
tetapi  hadis  tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal  melakukan  penyaringan  yang  cukup  ketat terhadap hadis Nabi Saw.</p>
<p>Muslim,  Abu  Daud,  dan  Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka&#8217;ab, sebagai berikut,</p>
<blockquote><p>Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar.</p></blockquote>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan,</p>
<blockquote><p>Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas &#8230;</p></blockquote>
<p>Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan  karena  itu kita  dapat  berkata  bahwa  tanda  yang  paling jelas tentang<br />
kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian  dan ketenangan.  Semoga  malam  mulia  itu berkenan mampir menemui<br />
kita.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
WAWASAN AL-QURAN<br />
Tafsir Maudhu&#8217;i atas Pelbagai Persoalan Umat<br />
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.<br />
Penerbit Mizan<br />
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124<br />
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038<br />
mailto:mizan@ibm.net</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=157&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/22/lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/quraish-shihab1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Quraish Shihab</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prof Dr Muhibbin: Hadis Palsu dan Lemah dalam Sahih Bukhari</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/13/prof-dr-muhibbin-hadis-palsu-dan-lemah-dalam-sahih-bukhari/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/13/prof-dr-muhibbin-hadis-palsu-dan-lemah-dalam-sahih-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 15:17:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Prof Dr Muhibbin: Hadis Palsu dan Lemah dalam Sahih Bukhari
SUMBER: REPUBLIKA ONLINE
&#8221;Telitilah kembali setiap hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Jangan asal riwayat Bukhari, lalu dikatakan sahih.&#8221;
Sebagian besar umat Islam di seluruh dunia, yakin dan percaya bahwa kitab hadis Jami&#8217; al-Shahih karya Imam Bukhari adalah sebuah kitab yang berisi kumpulan hadis-hadis paling sahih. Karena keyakinan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=153&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><span style="color:#003300;">Prof Dr Muhibbin: Hadis Palsu dan Lemah dalam Sahih Bukhari</span></h2>
<p><strong><span style="color:#800000;">SUMBER:</span> <a href="http://www.republika.co.id/berita/68251/Prof_Dr_Muhibbin_Hadis_Palsu_dan_Lemah_dalam_Sahih_Bukhari" target="_blank">REPUBLIKA ONLINE</a></strong></p>
<p><em><span style="color:#333399;"><strong>&#8221;Telitilah kembali setiap hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Jangan asal riwayat Bukhari, lalu dikatakan sahih.&#8221;</strong></p>
<p></span></em><a href="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/prof-dr-muhibbin.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-154" title="Prof Dr Muhibbin" src="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/prof-dr-muhibbin.jpg?w=325&#038;h=213" alt="Prof Dr Muhibbin" width="325" height="213" /></a>Sebagian besar umat Islam di seluruh dunia, yakin dan percaya bahwa kitab hadis <span style="color:#800000;"><em>Jami&#8217; al-Shahih</em> </span>karya Imam Bukhari adalah sebuah kitab yang berisi kumpulan hadis-hadis paling sahih. Karena keyakinan itu pula, sebagian besar ulama pun turut meyakini dan menempatkannya pada urutan pertama kitab hadis sahih.</p>
<p>Benarkah demikian? &#8221;Tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab <span style="color:#800000;"><em>Jami&#8217; al-Shahih</em> </span>karya Imam Bukhari itu benar-benar sahih. Terdapat beberapa hadis yang termasuk kategori lemah dan palsu,&#8221; kata <strong>Prof Dr H Muhibbin MAg</strong>, guru besar dan pembantu Rektor I IAIN Walisongo, Semarang.</p>
<p><span id="more-153"></span></p>
<p>Menurutnya, berdasarkan penelitian yang dilakukannya <span style="color:#800000;">(hasilnya penelitian Muhibbin ini sudah dibukukan&#8211;Red</span>), terdapat hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun antarhadis di dalam kitab tersebut.</p>
<p>&#8221;Hadis palsunya bermacam-macam. Ada yang karena tidak sesuai atau bertentangan dengan Alquran, namun ada pula yang tidak sesuai dengan kondisi kekinian,&#8221; terang mantan dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo ini.</p>
<p>Kepada <strong>Syahruddin El-Fikri</strong>, wartawan <em><span style="color:#800000;">Republika</span></em>, Muhibbin mengungkapkan berbagai kelemahan hadis yang terdapat dalam kitab<span style="color:#800000;"> <em>Jami&#8217; al-Shahih</em> </span>tersebut. Berikut petikannya.</p>
<p><strong>Benarkah hadis-hadis yang terdapat dalam kitab </strong><strong><em><span style="color:#800000;">Jami&#8217; al-Shahih</span></em></strong><strong><span style="color:#800000;"> </span>karya Imam Bukhari itu semuanya masuk kategori hadis sahih?</strong></p>
<p>Tidak. Tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab itu masuk dalam kategori sahih. Terdapat beberapa hadis palsu dan lemah (<em>dlaif</em>). Saya sudah mengungkapkan hal ini dalam disertasi doktoral saya yang sekarang sudah dibukukan.<br />
Perlu diketahui, sebelumnya pengungkapan hadis palsu dan lemah dalam karya Imam Bukhari itu juga sudah pernah diungkapkan para pemikir dan peneliti hadis lainnya. Misalnya, Fazlurrahman (1919-1988 M), Abu Hasan al-Daruquthni (306-385 H), al-Sarkhasi (w 493 H/1098 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M), Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935 M), Ahmad Amin (w 1373 H/1945 M), dan Muhammad Ghazali (w 1416 H/1996 M).</p>
<p><strong>Bisa dicontohkan, beberapa hadis palsu yang Anda temukan dalam kitab tersebut?</strong></p>
<p>Misalnya, hadis palsu yang terdapat dalam kitab itu, setelah diteliti, ternyata ada yang tidak sesuai dengan fakta sejarah. Misalnya, tentang Isra Mi&#8217;raj. Di dalam kitab itu, disebutkan bahwa terjadinya Isra Mi&#8217;raj itu sebelum jadi Nabi. Faktanya, Isra Mi&#8217;raj itu setelah Rasulullah diutus menjadi Nabi.</p>
<p>Kemudian, ada pula hadis Nabi yang bertentangan dengan ayat Alquran. Contohnya, tentang seseorang yang meninggal dunia akan disiksa bila si mayit ditangisi oleh ahli warisnya. <span style="color:#800000;">(Lihat <em>Kitab Jenazah</em>, bab ke-32, hadis ke 648/I&#8211;Red). </span>Ini <em>kan</em> bertentangan dengan ayat Alquran, bahwa seseorang itu tidak akan memikul dosa orang lain. (Lihat ayat Alquran surah al-Fathir ayat 18, Al-An&#8217;am ayat 164, Az-Zumar ayat 7, Al-Isra ayat 15, dan An-najm ayat 38&#8211;Red). Dan, masih banyak lagi hadis yang bertentangan atau tidak sesuai dengan ayat Alquran maupun hadis Nabi SAW.</p>
<p><strong>Apa kriterianya sehingga ungkapan itu dikatakan benar-benar hadis Nabi, padahal menurut Anda, itu bukan hadis sahih?</strong></p>
<p>Dalam penelitian yang kami lakukan, ada beberapa kriteria dalam menilai sebuah hadis itu dikatakan sahih atau tidak, mutawatir atau tidak, ahad, atau lainnya.</p>
<p>Dalam kitab Bukhari, beliau sendiri tidak memberikan keterangan perinci mengenai kriteria kesahihan hadis. Bukhari hanya mengatakan bahwa semua hadis yang ditulisnya dalam<span style="color:#800000;"> <em>al-Jami&#8217; al-Shahih</em> </span>itu sebagai hadis, dari seleksi sekitar 300 ribu hadis. Dan, satu-satunya yang dapat ditemukan dari Al-Bukhari adalah kriteria keharusan adanya pertemuan <span style="color:#800000;"><em>(al-Liqa`)</em> </span>antara satu perawi dengan perawi terdekatnya.</p>
<p>Menurut beberapa ahli hadis, seperti<span style="color:#800000;"> al-Naysaburi </span>(w 405 H/1014 M), al-Maqdisi (w 507 H), <span style="color:#800000;">al-Hazimi </span>(w 584 H), dan lainnya, kriteria hadis sahih yang dipakai Bukhari adalah kesahihah yang disepakati, diriwayatkan oleh orang yang masyhur sebagai perawi hadis dan minimal dua orang perawi di kalangan sahabat yang <em>tsiqah</em> (adil dan kuat hafalan), serta lainnya.</p>
<p>Padahal, para ulama hadis lainnya menyusun sejumlah kriteria dalam menilai hadis sebuah dapat dikatakan sahih dan tidak, mulai dari segi sanad (tersambungnya para perawi hadis), matan (isi hadis), serta kualitas dan kuantitas para perawi hadis. Bagaimana tingkat hafalannya, keadilannya, suka berbohong atau tidak, dan lain sebagainya.</p>
<p>Karena itu, kami menilai, kriteria yang dirumuskan oleh <span style="color:#800000;">al-Bukhari </span>mengandung beberapa kelemahan, terutama bila diverifikasi terhadap kitab <span style="color:#800000;"><em>al-Jami&#8217; al-Shahih</em> </span>itu sendiri.</p>
<p><strong>Apa saja kelemahannya?</strong></p>
<p>Kelemahan itu, antara lain, tentang minimal jumlah perawi hadis yang harus meriwayatkan hadis. Di dalam kitab tersebut, ditemukan cukup banyak hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi.</p>
<p>Begitu juga, dalam hal persambungan sanad hadis juga terdapat kelemahan. Di antaranya, seperti diakui sendiri oleh<span style="color:#800000;"> al-Bukhari</span>, di dalamnya ada hadis yang <em><span style="color:#800000;">muallaq, mursal</span>,</em> bahkan <em><span style="color:#800000;">munqathi`</span></em> (terputus).</p>
<p>Juga, ada perawi hadis yang tidak <span style="color:#800000;"><em>tsiqah</em>,</span> bahkan dituduh <em><span style="color:#800000;">majhul</span></em> (tidak diketahui identitasnya), dianggap <em><span style="color:#800000;">kadzab</span></em> (berbohong), dan lainnya.</p>
<p><strong>Bisa disebutkan beberapa contoh perawi hadis yang diketahui tidak </strong><strong><em>tsiqah</em></strong><strong> atau lemah dalam </strong><strong><em>Shahih Bukhari</em></strong><strong> itu?</strong></p>
<p>Misalnya, <span style="color:#800000;">Asbath Abu al-Yasa` al-Bashri</span>. Ia tidak diketahui identitasnya atau <em><span style="color:#800000;">majhul</span></em>, dan menyalahi riwayat orang-orang <span style="color:#800000;"><em>tsiqah</em>.<br />
</span>Lalu, ada <span style="color:#800000;">Ismal bin Mujalad</span>, seorang perawi yang <span style="color:#800000;"><em>dlaif</em> </span>(lemah) dan tidak termasuk orang yang kuat hafalannya.</p>
<p>Kemudian, ada <span style="color:#800000;">Hisyam bin Hajir, Ahmad bin Yazid bin Ibrahim Abu al-Hasan al-Harani, dan Salamah bin Raja&#8217; </span>sebagai perawi <span style="color:#800000;"><em>dlaif</em>. </span>Begitu juga, dengan<span style="color:#800000;"> Ubay bin Abbas</span>, dikenal sebagai perawi yang tidak kuat hafalannya dan <span style="color:#800000;"><em>munkir al-Hadits.</em></span></p>
<p><strong>Selain kedua contoh hadis yang ditengarai palsu tadi, apalagi contoh hadis yang diduga palsu dalam kitab </strong><strong><em><span style="color:#800000;">al-Jami&#8217; al-Shahih</span></em></strong><strong><span style="color:#800000;"> </span>tersebut?</strong></p>
<p>Selain ada hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun hadis Nabi sendiri dan tidak sesuai dengan fakta sejarah, juga diragukan hadis yang banyak mengungkapkan tentang masa depan. Misalnya, tentang ungkapan,<span style="color:#800000;"> <em>&#8216;Alaikum Bi sunnati wa sunnati khulafa`ur rasyidin</em></span> (Ikutlah kalian akan sunahku dan sunah <em>khulafa`ur rasyidin</em>). Bagaimana mungkin Rasulullah SAW mengucapkan hadis ini, padahal saat itu belum ada <em>khulafa`ur rasyidin</em>. Khalifah yang empat itu baru ada setelah Rasulullah SAW wafat.</p>
<p>Fathurrahman, seorang peneliti hadis mengungkapkan, dirinya tidak mau sama sekali menerima hadis-hadis Nabi Saw yang menyatakan tentang peristiwa masa depan. Istilahnya seperti ramalan.</p>
<p>Saya pribadi, masalah ini masih bisa diterima. Sebab, memang ada yang sesuai dan ada pula yang tidak.</p>
<p><strong>Dalam penelitian Anda, ada berapa banyak hadis yang tidak sahih dalam jumlahnya?</strong></p>
<p>Secara spesifik, saya tidak menyebutkan berapa jumlah hadis palsu atau lemah di dalam kitab tersebut. Namun, <span style="color:#800000;">al-Daruquthni </span>menyatakan, terdapat sekitar 110 hadis palsu di dalam kitab tersebut dari sejumlah 6.000-an hadis. Muhammad al-Ghazali menyebutkan lebih banyak lagi.</p>
<p>Beberapa di antara hadis yang kami nilai lemah dan palsu, yakni tentang hadis masalah poligami, tentang kehidupan dalam rumah tangga, tentang pernikahan. Misalnya, di dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan, Rasulullah SAW menikahi Maimunah pada saat berihram. Ini bertentangan dengan hadis Nabi sendiri yang melarang melakukan pernikahan selama masa haji atau berihram. Kemudian, pernyataan Rasulullah menikahi Maimunah pada waktu ihram itu juga bertentangan dengan hadis yang ditulis <span style="color:#800000;">al-Bukhari </span>di dalamnya kitabnya itu, yang menyatakan Rasulullah menikahi Maimunah ketika usai bertahalul.</p>
<p><strong>Dari hasil penelitian Anda, bisa ditarik kesimpulan bahwa tidak semua hadis dalam </strong><strong><em><span style="color:#800000;">Shahih Bukhari</span></em></strong><strong><span style="color:#800000;"> </span>benar-benar sahih?</strong></p>
<p>Ya. Tidak semuanya bisa dikatakan sahih. Sebab, Bukhari sendiri ada yang disebutkannya hadis <em><span style="color:#800000;">mursal, hasan</span>,</em> dan lain sebagainya.<br />
Ketidaklayakan disebut sebagai hadis sahih itu meliputi adanya pertentangan atau ketidaksesuaian dengan nas Alquran dan Sunnah Mutawatirah. Materi hadis bertentangan dengan keadaan dan <span style="color:#800000;"><em>Sirah Nabawiyah</em> </span>(sejarah hidup Nabi), bertentangan dengan fakta sejarah, adanya materi hadis yang mengandung prediksi atau ramalan dan bersifat politis, serta mengandung fanatisme kesukuan.</p>
<p><strong>Lalu, bagaimana sikap umat untuk menggunakan hadis-hadis yang terdapat dalam </strong><strong><em><span style="color:#800000;">Shahih Bukhari</span></em></strong><strong><span style="color:#800000;"> </span>itu?</strong></p>
<p>Saran saya, umat Islam hendaknya berhati-hati setiap akan menggunakan atau mengamalkan sebuah hadis Nabi. Sebab, sahih menurut perawi hadis A, belum tentu sahih menurut perawi hadis B. Demikian pula yang lainnya. Telitilah kembali sebelum menggunakan dan mengamalkannya.</p>
<p>Bagi para mubalig, kami menyarankan, hendaknya tidak asal mengutip hadis. Jangan selalu mengatakan bahwa itu hadis Nabi. Padahal, sesungguhnya bukan. Rasul menyatakan, barang siapa yang berbohong atas namaku maka tempatnya di neraka. <span style="color:#800000;"><em>Man Kadzdzaba alayya muta&#8217;ammidan fal yatabawwa&#8217; maq&#8217;adahu minan nar.</em></span></p>
<p>Telitilah kembali hadis-hadis yang ada sebelum diamalkan. Sudah benarkah itu hadis Nabi SAW. Jangan asal termuat dalam <span style="color:#800000;"><em>Shahih Bukhari</em>,</span> lalu diklaim sahih. Tanyakan pada yang lebih paham tentang hadis.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=153&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/13/prof-dr-muhibbin-hadis-palsu-dan-lemah-dalam-sahih-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/prof-dr-muhibbin.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Prof Dr Muhibbin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dr. M. Quraish Shihab, M.A: MARHABAN YA RAMADHAN</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/12/dr-m-quraish-shihab-m-a-marhaban-ya-ramadhan/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/12/dr-m-quraish-shihab-m-a-marhaban-ya-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 15:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[MARHABAN YA RAMADHAN
SUMBER ARTIKEL: Media Isnet
Oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
PUASA
MARHABAN YA RAMADHAN
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata &#8220;marhaban&#8221;  diartikan sebagai &#8220;kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).&#8221; Ia sama dengan ahlan wa sahlan  yang juga dalam kamus tersebut diartikan &#8220;selamat datang.&#8221;
Walaupun    keduanya    berarti    &#8220;selamat   datang&#8221;   tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=148&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#008000;"><strong>MARHABAN YA RAMADHAN</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">SUMBER ARTIKEL:</span> <a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Puasa1.html" target="_blank">Media Isnet</a></strong></p>
<p><span style="color:#008080;"><strong>Oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.</strong></span></p>
<p><strong>PUASA</strong></p>
<p><strong>MARHABAN YA RAMADHAN</strong></p>
<p><a href="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/quraish-shihab.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-149" title="Quraish Shihab" src="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/quraish-shihab.jpg?w=325&#038;h=237" alt="Quraish Shihab" width="325" height="237" /></a>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata &#8220;marhaban&#8221;  diartikan sebagai &#8220;kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).&#8221; Ia sama dengan ahlan wa sahlan  yang juga dalam kamus tersebut diartikan &#8220;selamat datang.&#8221;</p>
<p>Walaupun    keduanya    berarti    &#8220;selamat   datang&#8221;   tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan  ahlan  wa sahlan  untuk  menyambut  datangnya  bulan Ramadhan, melainkan &#8220;marhaban ya Ramadhan&#8221;.</p>
<p><span id="more-148"></span></p>
<p>Ahlan  terambil  dari  kata  ahl  yang   berarti   &#8220;keluarga&#8221;, sedangkan  sahlan  berasal  dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti &#8220;dataran  rendah&#8221;  karena  mudah  dilalui,  tidak seperti  &#8220;jalan  mendaki&#8221;.  Ahlan  wa  sahlan, adalah ungkapan selamat datang,  yang  dicelahnya  terdapat  kalimat  tersirat yaitu,  &#8220;(Anda  berada  di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.&#8221;</p>
<p>Marhaban terambil dari kata  rahb  yang  berarti  &#8220;luas&#8221;  atau &#8220;lapang&#8221;,  sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima  dengan  dada  lapang,  penuh  kegembiraan  serta dipersiapkan  baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang  diinginkannya.  Dari  akar   kata   yang   sama   dengan &#8220;marhaban&#8221;,  terbentuk  kata  rahbat  yang antara lain berarti &#8220;ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.&#8221; Marhaban ya Ramadhan berarti &#8220;Selamat  datang  Ramadhan&#8221;  mengandung  arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak   dengan   menggerutu   dan   menganggap    kehadirannya &#8220;mengganggu ketenangan&#8221; atau suasana nyaman kita.</p>
<p>Marhaban  ya  Ramadhan,  kita  ucapkan  untuk  bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.</p>
<p>Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada  lereng  yang  curam,  belukar yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu,  agar  perjalanan  tidak  melanjutkan.  Bertambah tinggi  gunung  didaki,  bertambah  hebat  ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan.  Tetapi,  bila  tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu  jalan,  tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan  akan ditemukan  kendaraan  Ar-Rahman  untuk  mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt.  Demikian  kurang Lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.</p>
<p>Tentu  kita  perlu  mempersiapkan  bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus  kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan  malam  Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian  untuk  agama,  bangsa  dan  negara. Semoga  kita berhasil,  dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Quran mempelajari bagaimana tuntunannya.</p>
<p><strong>PUASA MENURUT AL-QURAN</strong></p>
<p>Al-Quran  menggunakan  kata  shiyam  sebanyak  delapan   kali, kesemuanya  dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat.<br />
Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum,  tetapi  maknanya adalah menahan diri untuk tidak bebicara:</p>
<blockquote><p><em>Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia-pun</em><em> (QS Maryam [19]: 26).</em></p></blockquote>
<p>Demikian ucapan  Maryam  a.s.  yang  diajarkan  oleh  malaikat Jibril   ketika  ada  yang  mempertanyakan  tentang  kelahiran anaknya (Isa  a.s.).  Kata  ini  juga  terdapat  masing-masing sekali  dalam  bentuk  perintah  berpuasa  di  bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa &#8220;berpuasa adalah   baik   untuk   kamu&#8221;,   dan  sekali  menunjuk  kepada pelaku-pelaku  puasa  pria  dan  wanita,   yaitu   ash-shaimin wash-shaimat.</p>
<p>Kata-kata  yang  beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni  sha-wa-ma  yang  dari  segi  bahasa maknanya  berkisar  pada  &#8220;menahan&#8221;  dan &#8220;berhenti atau &#8220;tidak bergerak&#8221;. Kuda yang berhenti berjalan  dinamai  faras  shaim. Manusia  yang  berupaya menahan diri dari satu aktivitas –apa pun  aktivitas  itu&#8211;  dinamai  shaim  (berpuasa).  Pengertian kebahasaan  ini,  dipersempit  maknanya  oleh  hukum  syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk &#8220;menahan diri dari makan, minum,  dan  upaya  mengeluarkan  sperma  dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari&#8221;.</p>
<p>Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan  tujuan  puasa,  menambahkan kegiatan  yang  harus  dibatasi  selama  melakukan  puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.</p>
<p>Betapa pun, shiyam atau shaum &#8211;bagi manusia&#8211; pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula  puasa<br />
dipersamakan  dengan  sikap  sabar,  baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.</p>
<p>Hadis   qudsi   yang  menyatakan  antara  lain  bahwa,  &#8220;Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran&#8221; dipersamakan  oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.</p></blockquote>
<p>Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.</p>
<p>Ada  beberapa  macam  puasa  dalam  pengertian   syariat/hukum sebagaimana disinggung di atas.</p>
<ol>
<li> Puasa wajib sebutan Ramadhan.</li>
<li>Puasa kaffarat, akibat pelanggaran, atau semacamnya.</li>
<li>Puasa sunnah.</li>
</ol>
<p>Tulisan ini akan membatasi uraian pada hal-hal  yang  berkisar pada puasa bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>PUASA RAMADHAN</strong></p>
<p>Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam  surat Al-Baqarah  (2):  183,  184,  185,  dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru  diwajibkan  setelah  Nabi  Saw.  tiba  di Madinah, karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Para sejarawan  menyatakan  bahwa  kewajiban melaksanakan  puasa  Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya&#8217;ban tahun kedua Hijrah.</p>
<p>Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Quran  selama sebutan  penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Quran yang   seringkali   melakukan   penahapan   dalam    perintah-perintahnya,   maka   agaknya  kewajiban  berpuasa  pun  dapat dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyaman  ma&#8217;dudat (beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai tiga  hari  dalam  sebutan yang  merupakan  tahap  awal  dari kewajiban  berpuasa.  Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang dengan turunnya ayat 185:</p>
<blockquote>
<p>Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya.</p></blockquote>
<p>Pemahaman semacam  ini  menjadikan  ayat-ayat  puasa  Ramadhan terputus-putus  tidak  menjadi  satu  kesatuan. Merujuk kepada ketiga ayat puasa  Ramadhan  sebagai  satu  kesatuan,  penulis lebih cenderung mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa Al-Quran mewajibkannya tanpa penahapan. Memang, tidak mustahil bahwa   Nabi  dan  sahabatnya  telah  melakukan  puasa  sunnah sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari  Al-Quran,  apalagi tidak  ditemukan  satu  ayat  pun yang berbicara tentang puasa sunnah tertentu.</p>
<p>Uraian Al-Quran tentang kewajiban  puasa  di  bulan  Ramadhan, dimulai  dengan  satu  pendahuluan  yang  mendorong umat islam<br />
untuk melaksanakannya dengan  baik,  tanpa  sedikit  kekesalanpun.</p>
<p>Perhatikan  surat  Al-Baqarah  (2):  185.  ia  dimulai  dengan panggilan mesra, &#8220;Wahai orang-orang yang  beriman,  diwajibkan kepada  kamu  berpuasa.&#8221;  Di  sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa  itu, tetapi   terlebih   dahulu   dikemukakan  bahwa,  &#8220;sebagaimana diwajibkan terhadap umat-umat sebelum  kamu.&#8221;  Jika  demikian, maka  wajar  pula  jika  umat  Islam  melaksanakannya, apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan  yang  berpuasasendiri yakni &#8220;agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa).&#8221;</p>
<p>Kemudian Al-Quran dalam surat A1-Baqarah (2): 186  menjelaskan bahwa  kewajiban  itu  bukannya  sepanjang tahun, tetapi hanya &#8220;beberapa hari tertentu,&#8221; itu pun hanya diwajibkan  bagi  yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat, sehingga &#8220;barangsiapa  sakit  atau  dalam  perjalanan,&#8221; maka  dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari  yang  lain. &#8220;Sedang  yang  merasa  sangat  berat  berpuasa,  maka (sebagai gantinya) dia  harus  membayar  fidyah,  yaitu  memberi  makan seorang  miskin.&#8221; Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa &#8220;berpuasa adalah baik.&#8221;</p>
<p>Setelah itu disusul  dengan  penjelasan  tentang  keistimewaan bulan  Ramadhan,  dan  dari  sini  datang  perintah-Nya  untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan  bahwa orang  yang  sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan  memberikan penegasan  mengenai   peraturan   berpuasa sebagaimana  disebut  sebelumnya. Ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan  &#8220;Allah  menghendaki  kemudahdn  untuk kamu bukan kesulitan,&#8221; lalu diakhiri dengan perintah bertakbir dan bersyukur. Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa,  tetapi tentang  doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Quran tentang puasa  tentu  mempunyai  rahasia tersendiri.  Agaknya  ia  mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan,  dan  karena itu   ayat  tersebut  menegaskan  bahwa  &#8220;Allah  dekat  kepada hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya ayat 187 antara  lain  menyangkut  izin  melakukan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang<br />
lamanya puasa yang  harus  dikerjakan,  yakni  dari  terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.</p>
<p>Banyak   informasi   dan  tuntunan  yang  dapat  ditarik  dari ayat-ayat di atas berkaitan dengan hukum maupun tujuan  puasa.<br />
Berikut  akan  dikemukan  sekelumit baik yang berkaitan dengan hukum  maupun  hikmahnya,  dengan  menggarisbawahi  kata  atau kalimat dari ayat-ayat puasa di atas.</p>
<p><strong>BEBERAPA ASPEK HUKUM BERKAITAN DENGAN PUASA</strong></p>
<p><strong>A.  Faman kana minkum maridha (Siapa di antara kamu yang menderita sakit)</strong></p>
<p>Maridh berarti sakit. Penyakit dalam kaitannya dengan berpuasa secara garis besar dapat dibagi dua:</p>
<ol>
<li> Penderita tidak dapaat berpuasa; dalam hal ini ia wajib berbuka; dan</li>
<li>Penderita dapat berpuasa, tetapi dengan mendapat kesulitan atau keterlambatan penyembuhan, maka ia dianjurkan tidak berpuasa.</li>
</ol>
<p>Sebagian ulama menyatakan bahwa penyakit apa pun yang diderita oleh seseorang, membolehkannya untuk berbuka. Ulama besar ibnu Sirin, pernah ditemui makan  di  siang  hari  bukan  Ramadhan, dengan  alasan  jari  telunjuknya  sakit.  Betapa  pun,  harus dicatat, bahwa Al-Quran tidak merinci persolan ini. Teks  ayat mencakup pemahaman ibnu Sirin tersebut. Namun demikian agaknya kita dapat berkata bahwa Allah Swt.  sengaja  memilih  redaksi demikian, guna menyerahkan kepada nurani manusia masing-masing untuk menentukan sendiri apakah ia  berpuasa  atau  tidak.  Di sisi lain harus diingat bahwa orang yang tidak berpuasa dengan alasan sakit atau dalam perjalanan  tetap  harus  menggantikan hari-hari ketika ia tidak berpuasa dalam kesempatan yang lain.</p>
<p><strong>B. Aw&#8217;ala safarin (atau dalam perjalanan)</strong></p>
<p>Ulama-ulama berbeda pendapat tentang  bolehnya  berbuka  puasa bagi  orang  yang sedang musafir. Perbedaan tersebut berkaitan dengan jarak perjalanan. Secara  umum  dapat  dikatakan  bahwa jarak  perjalanan  tersebut  sekitar  90 kilometer, tetapi ada juga yang tidak menetapkan jarak tertentu,  sehingga  seberapa pun  jarak yang ditempuh selama dinamai safar atau perjalanan, maka  hal  itu  merupakan  izin  untuk  memperoleh   kemudahan (rukhshah).</p>
<p>Perbedaan  lain  berkaitan  dengan  &#8216;illat  (sebab)  izin ini. Apakah karena  adanya  unsur  safar  (perjalanan)  atau  unsure keletihan akibat perjalanan. Di sini, dipermasalahkan misalnya jarak antara Jakarta-Yogya yang ditempuh dengan pesawat kurang dari  satu  jam,  serta  tidak  meletihkan,  apakah  ini dapat dijadikan alasan untuk berbuka atau  meng-qashar  shalat  atau tidak.  Ini  antara  lain berpulang kepada tinjauan sebab izin ini.</p>
<p>Selanjutnya mereka  juga  memperselisihkan  tujuan  perjalanan yang  membolehkan  berbuka  (demikian juga qashar dan menjamak shalat). Apakah  perjalanan  tersebut  harus  bertujuan  dalam kerangka ketaatan  kepada  Allah,  misalnya  perjalanan haji, silaturahmi, belajar, atau termasuk juga perjalanan bisnis dan mubah (yang dibolehkan) seperti wisata dan sebagainya? Agaknya alasan yang memasukkan hal-hal  di  atas  sebagai  membolehkan berbuka,  lebih  kuat,  kecuali jika perjalanan tersebut untuk perbuatan  maksiat,  maka  tentu   yang   bersangkutan   tidak memperoleh  izin  untuk  berbuka  dan atau menjamak shalatnya. Bagaimana  mungkin  orang  yang  durhaka   memperoleh   rahmat kemudahan dari Allah Swt.?</p>
<p>Juga  diperselisihkan  apakah  yang  lebih  utama bagi seorang musafir, berpuasa atau berbuka? Imam Malik  dan  imam  Syafi&#8217;i menilai  bahwa  berpuasa  lebih utama dan lebih baik bagi yang mampu,  tetapi sebagian  besar  ulama  bermazhab  Maliki  dan Syafi&#8217;i  menilai  bahwa  hal  ini  sebaiknya diserahkan kepada masing-masing pribadi, dalam arti  apa  pun  pilihannya,  maka itulah  yang lebih baik dan utama. Pendapat ini dikuatkan oleh sebuah riwayat dari imam Bukhari dan Muslim melalui  Anas  bin Malik  yang menyatakan bahwa, &#8220;Kami berada dalam perjalanan di bulan Ramadhan, ada  yang  berpuasa  dan  adapula  yang  tidak berpuasa.  Nabi  tidak  mencela  yang berpuasa, dan tidak juga (mereka) yang tidak berpuasa.&#8221;</p>
<p>Memang ada juga ulama yang beranggapan  bahwa  berpuasa  lebih baik  bagi orang yang mampu. Tetapi, sebaliknya, ada pula yang menilai bahwa berbuka lebih baik  dengan  alasan,  ini  adalah izin  Allah.  Tidak  baik  menolak  izin dan seperti penegasan Al-Quran  sendiri  dalam  konteks  puasa,  &#8220;Allah  menghendaki kemudahan untuk kamu dan tidak menghendaki kesulitan.&#8221;</p>
<p>Bahkan  ulama-ulama  Zhahiriyah dan Syi&#8217;ah mewajibkan berbuka, antara lain berdasar firman-Nya dalam lanjutan ayat  di  atas, yaitu:</p>
<p><strong>C.  Fa &#8216;iddatun min ayyamin ukhar (sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain).<br />
</strong><br />
Ulama  keempat  mazhab  Sunnah   menyisipkan   kalimat   untuk meluruskan  redaksi  di  atas,  sehingga  terjemahannya  lebih kurang berbunyi, &#8220;Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (dan   ia  tidak  berpuasa),  maka  (wajib  baginya  berpuasa) sebanyak hari-hari yang ditinggalkan itu pada  hari-hari  yang lain.&#8221;</p>
<p>Kalimat  &#8220;lalu  ia  tidak  berpuasa&#8221;  adalah sisipan yang oleh ulama perlu adanya, karena terdapat sekian banyak  hadis  yang membolehkan  berpuasa  dalam  perjalanan,  sehingga  kewajiban mengganti itu, hanya ditujukan kepada para musafir  dan  orang yang sakit tetapi tidak berpuasa.</p>
<p>Sisipan  semacam ini ditolak oleh ulama Syi&#8217;ah dan Zhahiriyah, sehingga dengan demikian &#8211;buat mereka&#8211;  menjadi  wajib  bagi orang  yang  sakit  dan dalam perjalanan untuk tidak berpuasa, dan wajib pula menggantinya pada hari-hari yang  lain  seperti bunyi harfiah ayat di atas.</p>
<p>Apakah    membayar   puasa   yang   ditinggalkan   itu   harus berturut-turut? Ada sebuah hadis &#8211;tetapi dinilai lemah—yang menyatakan  demikian.  Tetapi  ada riwayat lain melalui Aisyah r.a. yang menginformasikan bahwa memang awalnya ada kata  pada ayat   puasa   yang   berbunyi   mutatabi&#8217;at,  yang  maksudnya memerintahkan  penggantian  (qadha&#8217;)   itu   harus   dilakukan bersinambung tanpa sehari pun berbuka sampai selesainya jumlah yang diwajibkan. Tetapi kata mutatabi&#8217;at dalam fa &#8216;iddatun min ayyamin   ukhar   mutatabi&#8217;at   yang   berarti   berurut  atau bersinambung itu, kemudian dihapus oleh  Allah  Swt.  Sehingga akhirnya  ayat  tersebut  tanpa  kata  ini,  sebagaimana  yang tercantum dalam Mushaf sekarang.</p>
<p>Meng-qadha&#8217; (mengganti) puasa, apakah harus segera, dalam arti harus   dilakukannya   pada   awal   Syawal,   ataukah   dapat ditangguhkan sampai sebelum datangnya Ramadhan berikut?  Hanya segelintir  kecil  ulama  yang  mengharuskan sesegera mungkin, namun umumnya tidak  mengharuskan  ketergesaan  itu,  walaupun diakui  bahwa semakin cepat semakin baik. Nah, bagaimana kalau Ramadhan berikutnya sudah berlalu, kemudian kita tidak  sempat menggantinya,  apakah  ada  kaffarat akibat keterlambatan itu? Imam Malik, Syafi&#8217;i, dan Ahmad, berpendapat bahwa  di  samping berpuasa,  ia  harus  membayar  kaffarat  berupa memberi makan seorang miskin; sedangkan imam Abu  Hanifah  tidak  mewajibkan kaffarat  dengan  alasan  tidak  dicakup  oleh redaksi ayat di atas.</p>
<p><strong>D. Wa &#8216;alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha&#8217;amu miskin (Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin) (QS Al-Baqarah [2]: 184).</strong></p>
<p>Penggalan ayat ini diperselisihkan maknanya oleh banyak  ulama tafsir.  Ada  yang  berpendapat  bahwa pada mulanya Allah Swt. memberi alternatif bagi orang yang wajib puasa, yakni berpuasa atau berbuka dengan membayar fidyah. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini berbicara tentang para musafir dan orang sakit, yakni  bagi  kedua  kelompok  ini  terdapat  dua  kemungkinan: musafir dan orang  yang  merasa  berat  untuk  berpuasa,  maka ketika  itu  dia harus berbuka; dan ada juga di antara mereka, yang pada hakikatnya  mampu  berpuasa,  tetapi  enggan  karena kurang  sehat  dan  atau  dalam  perjalanan,  maka bagi mereka diperbolehkan untuk berbuka dengan syarat membayar fidyah.</p>
<p>Pendapat-pendapat di atas tidak populer di kalangan  mayoritas ulama.  Mayoritas  memahami  penggalan  ini  berbicara tentang orang-orang tua  atau  orang  yang  mempunyai  pekerjaan  yang sangat  berat, sehingga puasa sangat memberatkannya, sedang ia tidak mempunyai sumber rezeki lain kecuali pekerjaan itu. Maka dalam  kondisi  semacam  ini. mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan syarat membayar fidyah. Demikian  juga  halnya terhadap  orang  yang sakit sehingga tidak dapat berpuasa, dan diduga tidak akan sembuh dari penyakitnya. Termasuk juga dalam pesan  penggalan  ayat  di atas adalah wanita-wanita hamil dan atau menyusui. Dalam hal ini terdapat rincian sebagai berikut:</p>
<p>Wanita yang hamil  dan  menyusui  wajib  membayar  fidyah  dan mengganti  puasanya  di  hari  lain,  seandainya  yang  mereka khawatirkan adalah janin atau anaknya  yang  sedang  menyusui. Tetapi  bila  yang mereka khawatirkan diri mereka, maka mereka berbuka dan hanya wajib menggantinya di hari lain, tanpa harus membayar fidyah.</p>
<p>Fidyah  dimaksud adalah memberi makan fakir/miskin setiap hari selama  ia  tidak  berpuasa.  Ada  yang  berpendapat  sebanyak setengah  sha&#8217;  (gantang)  atau kurang lebih 3,125 gram gandum atau kurma (makanan pokok). Ada juga yang menyatakan satu  mud yakni   sekitar   lima   perenam  liter,  dan  ada  lagi  yang mengembalikan penentuan jumlahnya pada kebiasaan yang  berlaku pada setiap masyarakat.</p>
<p><strong>E. Uhilla lakum lailatash-shiyamir-rafatsu ila nisa&#8217;ikum (Dihalalkan kepada kamu pada malam Ramadhan bersebadan dengan istri-istrimu) (QS Al-Baqarah [2]:187)</strong></p>
<p>Ayat ini membolehkan hubungan seks (bersebadan) di malam  hari bulan  Ramadhan, dan ini berarti bahwa di siang hari Ramadhan, hubungan seks  tidak  dibenarkan.  Termasuk  dalam  pengertian hubungan  seks  adalah  &#8220;mengeluarkan  sperma&#8221; dengan cara apapun. Karena itu walaupun ayat ini tak  melarang  ciuman,  atau pelukan antar suami-istri, namun para ulama mengingatkan bahwa hal tersebut bersifat makruh, khususnya bagi yang tidak  dapat menahan  diri,  karena  dapat  mengakibatkan keluarnya sperma. Menurut istri Nabi, Aisyah  r.a.,  Nabi  Saw.  pernah  mencium istrinya  saat  berpuasa.  Nah, bagi yang mencium atau apa pun selain  berhubungan  seks,  kemudian  ternyata  &#8220;basah&#8221;,  maka puasanya  batal;  ia harus menggantinya pada hari 1ain. Tetapi mayoritas ulama tidak mewajibkan  yang  bersangkutan  membayar kaffarat,  kecuali  jika  ia melakukan hubungan seks (di siang hari), dan kaffaratnya dalam hal ini  berdasarkan  hadis  Nabi adalah  berpuasa  dua  bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka ia harus memerdekakan hamba. Jika tidak mampu juga,  maka ia harus memberi makan enam puluh orang miskin.</p>
<p>Bagi  yang  melakukan hubungan seks di malam hari, tidak harus mandi sebelum terbitnya fajar.  Ia  hanya  berkewajiban  mandi sebelum  terbitnya  matahari  &#8211;paling tidak dalam batas waktu yang memungkinkan ia shalat  subuh  dalam  keadaan  suci  pada waktunya. Demikian pendapat mayoritas ulama.</p>
<p><strong>F. Wakulu wasyrabu hatta yatabayyana lakumul khaith al-abyadhu minal khaithil aswadi minal fajr (Makan dan minumlah sampai terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar).</strong></p>
<p>Ayat ini membolehkan seseorang untuk  makan  dan  minum  (juga melakukan hubungan seks) sampai terbitnya fajar.</p>
<p>Pada   zaman   Nabi,   beberapa   saat  sebelum  fajar,  Bilal mengumandangkan azan, namun beliau  mengingatkan  bahwa  bukan<br />
itu  yang dimaksud dengan fajar yang mengakibatkan larangan di atas.  Imsak  yang  diadakan  hanya  sebagai  peringatan   dan persiapan untuk tidak lagi melakukan aktivitas yang terlarang. Namun  bila  dilakukan,  maka  dari  segi  hukum  masih  dapat dipertanggungjawabkan  selama fajar (waktu subuh belum masuk). Perlu  dingatkan,  bahwa   hendaknya   kita   jangan   terlalu mengandalkan  azan,  karena  boleh jadi muazin mengumandangkan azannya setelah berlalu beberapa saat dari waktu subuh. Karena itu  sangat  beralasan  untuk  menghentikan aktivitas tersebut saat imsak.</p>
<p><strong>G. Tsumma atimmush shiyama ilal lail (Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam).</strong></p>
<p>Penggalan ayat ini datang setelah ada  izin  untuk  makan  dan minum sampai dengan datangnya fajar.</p>
<p>Puasa  dimulai  dengan  terbitnya  fajar,  dan berakhir dengan datangnya malam. Persoalan yang juga diperbincangkan oleh para<br />
ulama  adalah  pengertian  malam. Ada yang memahami kata malam dengan tenggelamnya matahari walaupun masih  ada  mega  merah, dan  ada  juga yang memahami malam dengan hilangnya mega merah dan menyebarnya  kegelapan.  Pendapat  pertama  didukung  oleh banyak  hadis  Nabi Saw., sedang pendapat kedua dikuatkan oleh pengertian kebahasaan dari lail  yang diterjemahkan  &#8220;malam&#8221;. Kata  lail  berarti &#8220;sesuatu yang gelap&#8221; karenanya rambut yang berwarna hitam pun dinamai lail.</p>
<p>Pendapat pertama sejalan juga dengan anjuran Nabi  Saw.  untuk mempercepat  berbuka  puasa,  dan  memperlambat sahur pendapat kedua sejalan dengan  sikap  kehatian-hatian  karena  khawatir magrib sebenarnya belum masuk.</p>
<p>Demikian  sedikit  dari  banyak  aspek hukum yang dicakup oleh ayat-ayat yang berbicara tentang puasa Ramadhan.</p>
<p><strong>TUJUAN BERPUASA</strong></p>
<p>Secara jelas  Al-Quran  menyatakan  bahwa  tujuan  puasa  yang hendaknya  diperjuangkan  adalah untuk mencapai ketakwaan atau<br />
la&#8217;allakum tattaqun. Dalam  rangka  memahami  tujuan  tersebut agaknya perlu digarisbawahi beberapa penjelasan dari Nabi Saw.<br />
misalnya,  &#8220;Banyak  di  antara  orang  yang   berpuasa   tidak memperoleh   sesuatu  daripuasanya,  kecuali  rasa  lapar  dan dahaga.&#8221;</p>
<p>Ini berarti bahwa menahan diri dari  lapar  dan  dahaga  bukan tujuan  utama dari puasa. Ini dikuatkan pula dengan firman-Nya bahwa  &#8220;Allah   menghendaki   untuk   kamu   kemudahan   bukan kesulitan.&#8221;</p>
<p>Di  sisi  lain,  dalam  sebuah  hadis  qudsi, Allah berfirman, &#8220;Semua amal putra-putri Adam  untuk  dirinya,  kecuali  puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya.&#8221; Ini  berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik.<br />
Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat  dikemukakan, misalnya  bahwa  puasa  merupakan  rahasia  antara  Allah  dan pelakunya  sendiri.  Bukankah  manusia  yang  berpuasa   dapat bersembunyi  untuk  minum  dan  makan? Bukankah sebagai insan,<br />
siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk  makan  atau minum  pada  saat-saat  tertentu  dari  siang hari puasa? Nah,<br />
kalau demikian, apa motivasinya  menahan  diri  dan  keinginan itu?  Tentu  bukan karena takut atau segan dari manusia, sebab<br />
jika demikian,  dia  dapat  saja  bersembunyi  dari  pandangan mereka.   Di  sini  disimpulkan  bahwa  orang  yang  berpuasa,<br />
melakukannya demi  karena  Allah  Swt.  Demikian  antara  lain penjelasan  sementara  ulama  tentang keunikan puasa dan makna<br />
hadis qudsi di atas.</p>
<p>Sementara pakar ada  yang  menegaskan  bahwa  puasa  dilakukan manusia   dengan   berbagai  motif,  misalnya,  protes,  turut<br />
belasungkawa,  penyucian  diri,  kesehatan,  dan  sebagai-nya. Tetapi  seorang  yang  berpuasa  Ramadhan dengan benar, sesuai<br />
dengan cara yang dituntut oleh Al-Quran, maka pastilah ia akan melakukannya karena Allah semata.</p>
<p>Di  sini  Anda  boleh bertanya, &#8220;Bagaimana puasa yang demikian dapat mengantarkan manusia kepada  takwa?&#8221;  Untuk  menjawabnya terlebih  dahulu  harus  diketahui  apa  yang  dimaksud dengan takwa.</p>
<p><strong>PUASA DAN TAKWA</strong></p>
<p>Takwa  terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  menghindar, menjauhi,  atau  menjaga  diri.  Kalimat  perintah  ittaqullah secara harfiah berarti, &#8220;Hindarilah,  jauhilah,  atau  jagalah dirimu dari Allah&#8221;</p>
<p>Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari  Allah  atau<br />
menjauhi-Nya,  sedangkan &#8220;Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada.&#8221; Karena itu perlu disisipkan  kata  atau  kalimat untuk  meluruskan  maknanya.  Misalnya  kata  siksa  atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung  arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.</p>
<p>Sebagaimana kita ketahui, siksa Allah ada dua macam.</p>
<ol>
<li>Siksa di dunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini, seperti misalnya, &#8220;Makan berlebihan dapat  menimbulkan penyakit,&#8221; &#8220;Tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan kepada bencana&#8221;, atau &#8220;Api panas, dan membakar&#8221;, dan hukum-hukum alam dan masyarakat  lainnya.</li>
<li>Siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan 1ain-lain yang dapat  mengakibatkan siksa neraka.</li>
</ol>
<p>Syaikh Muhammad Abduh menulis, &#8220;Menghindari siksa atau hukuman Allah,  diperoleh  dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa  yang  diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt ). Rasa  takut  ini,  pada mulanya  timbul  karena  adanya  siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah Swt. (yang menyiksa).&#8221;</p>
<p>Dengan demikian yang  bertakwa  adalah  orang  yang  merasakan kehadiran  Allah  Swt. setiap saat, &#8220;bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari  bahwa  Allah  melihatnya,&#8221; sebagaimana bunyi sebuah hadis.</p>
<p>Tentu banyak cara yang  dapat  dilakukan  untuk  mencapai  hal tersebut,  antara  1ain  dengan  jalan berpuasa. Puasa seperti yang  dikemukakan  di  atas  adalah  satu  ibadah  yang  unik. Keunikannya  antara  lain  karena  ia  merupakan upaya manusia meneladani Allah Swt.</p>
<p><strong>PUASA MENELADANI SIFAT-SIFAT ALLAH</strong></p>
<p>Beragama  menurut  sementara  pakar   adalah   upaya   manusia meneladani  sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai  makhluk.  Nabi  Saw.  memerintahkan,  &#8220;Takhallaqu  bi akhlaq Allah&#8221; (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).</p>
<p>Di  sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa&#8217;ali, yaitu  makan,  minum, dan  hubungan  seks. Allah Swt. memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri:</p>
<blockquote>
<p>Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri? (QS Al-An&#8217;am [6]: 101)</p>
<p>Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak (QS Al-Jin [72]: 3).</p></blockquote>
<p>Al-Quran juga memerintahkan Nabi Saw. untuk menyampaikan,</p>
<blockquote><p>Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan&#8230;? (QS Al-An&#8217;am [6]: 14).</p></blockquote>
<p>Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi  sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika  berbuka  puasa),  dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.</p>
<p>Tentu  saja  sifat-sifat  Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup  paling  tidak  sembilan  puluh  Sembilan sifat yang<br />
kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk  ilahi. Misalnya  Maha  Pengasih  dan  Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya  peneladanan  ini  dapat mengantarkan  manusia  menghadirkan  Tuhan dalam kesadarannya, dan  bila  hal  itu  berhasil  dilakukan,  maka  takwa   dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.</p>
<p>Karena  itu,  nilai  puasa  ditentukan  oleh  kadar pencapaian kesadaran  tersebut  &#8211;bukan  pada  sisi  lapar  dan  dahaga sehingga   dari   sini  dapat  dimengerti  mengapa  Nabi  Saw. menyatakan bahwa, &#8220;Banyak orang yang  berpuasa,  tetapi  tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.&#8221;</p>
<p><strong>PUASA UMAT TERDAHULU</strong></p>
<p>Puasa  telah  dilakukan  oleh umat-umat terdahulu. Kama kutiba &#8216;alal  ladzina  min  qablikum  (Sebagaimana  diwajibkan   atas<br />
(umat-umat)  yang  sebelum kamu). Dari segi ajaran agama, para ulama  menyatakan  bahwa  semua  agama  samawi,   sama   dalam<br />
prinsip-prinsip  pokok  akidah,  syariat, serta akhlaknya. Ini berarti bahwa semua agama samawi  mengajarkan  keesaan  Allah, kenabian, dan keniscayaan hari kemudian. Shalat, puasa, zakat, dan berkunjung ke tempat tertentu  sebagai  pendekatan  kepada Allah   adalah  prinsip-prinsip  syariat  yang  dikenal  dalam agama-agama samawi.  Tentu  saja  cara  dan  kaifiatnya  dapat berbeda, namun esensi dan tujuannya sama.</p>
<p>Kita dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat islam dan umat-umat terdahulu?</p>
<p>Manusia  memiliki  kebebasan  bertindak  memilih  dan  memilah aktivitasnya,  termasuk  dalam  hal  ini,  makan,  minum,  dan berhubungan  seks.  Binatang   &#8211;khususnya   binatang-binatang tertentu  tidak  demikian.  Nalurinya  telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu,  sehingga  &#8211;misalnya&#8211;  ada  waktu  atau musim  berhubungan  seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan,  dan atau menghindarkannya dari kebinasaan.</p>
<p>Manusia sekali lagi tidak demikian. Kebebasan yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat  pelaksanaan  fungsi dan peranan yang harus diembannya. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan,  bukan  saja  menjadikannya  tidak  lagi menikmati makanan  atau  minuman  itu,  tetapi  juga  menyita  aktivitas lainnya  kalau  enggan  berkata  menjadikannya  lesu sepanjang hari.</p>
<p>Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi  semakin  haus bagaikan  penyakit  eksim  semakin  digaruk semakin nyaman dan<br />
menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok.</p>
<p>Potensi dan daya  manusia  &#8211;betapa  pun  besarnya&#8211;  memiliki keterbatasan,  sehingga  apabila  aktivitasnya telah digunakan<br />
secara berlebihan ke arah tertentu &#8211;arah pemenuhan  kebutuhan faali  misalnya&#8211;  maka  arah  yang lain, &#8211;mental spiritual&#8211; akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.</p>
<p>Sebagaimana disinggung di atas, esensi  puasa  adalah  menahan atau  mengendalikan  diri.  Pengendalian  ini  diperlukan oleh manusia, baik secara individu  maupun  kelompok.  Latihan  dan pengendalian diri itulah esensi puasa.</p>
<p>Puasa dengan demikian dibutuhkan oleh semua manusia, kaya atau miskin, pandai atau  bodoh,  untuk  kepentingan  pribadi  atau masyarakat.   Tidak   heran  jika  puasa  telah  dikenal  oleh umat-umat sebelum umat Islam, sebagaimana diinformasikan  oleh Al-Quran.</p>
<p>Dari  penjelasan  ini,  kita  dapat  melangkah untuk menemukan salah satu jawaban tentang rahasia  pemilihan  bentuk  redaksi pasif  dalam  menetapkan  kewajiban  puasa. Kutiba &#8216;alaikumush shiyama (diwajibkan atas kamu  puasa),  tidak  menyebut  siapa yang mewajibkannya?</p>
<p>Bisa  saja  dikatakan  bahwa pemilihan bentuk redaksi tersebut disebabkan karena yang mewajibkannya  sedemikian  jelas  dalam hal  ini  adalah  Allah  Swt.  Tetapi  boleh  jadi  juga untuk mengisyaratkan  bahwa  seandainya   pun   bukan   Allah   yang mewajibkan  puasa,  maka manusia yang menyadari manfaat puasa, dan akan mewajibkannya atas dirinya sendiri. Terbukti motivasi berpuasa (tidak makan atau mengendalikan diri) yang selama ini dilakukan manusia,  bukan  semata-mata  atas  dorongan  ajaran agama.  Misalnya  demi  kesehatan,  atau kecantikan tubuh, dan bukankah pula  kepentingan  pengendalian  diri  disadari  oleh setiap makhluk yang berakal?</p>
<p>Di  sisi  lain bukankah Nabi Saw. bersabda, &#8220;Seandainya umatku mengetahui (semua keistimewaan) yang dikandung oleh  Ramadhan, niscaya mereka mengharap seluruh bulan menjadi Ramadhan.&#8221;</p>
<p><strong>KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN</strong></p>
<p>Dalam  rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan pada  ayat  lain dinyatakannya bahwa Al-Quran turun pada malam Qadar,</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailat Al-Qadr.</p></blockquote>
<p>Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar  itu, yang  menurut  Al-Quran  lebih  baik  dari  seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun  seizin  Tuhan, dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.</p>
<p>Di sisi lain &#8211;sebagaimana disinggung pada awal uraian—bahwa dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan, disisipkan ayat yang mengandung   pesan   tentang   kedekatan   Allah  Swt.  Kepada hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan doa siapapun yang dengan tulus berdoa.</p>
<p>Dari   hadis-hadis  Nabi  diperoleh  pula  penjelasan  tentang keistimewaan  bulan  suci  ini.  Namun  seandainya  tidak  ada<br />
keistimewaan  bagi  Ramadhan  kecuali Lailat Al-Qadr, maka hal itu pada hakikatnya telah cukup untuk  membahagiakan  manusia.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
WAWASAN AL-QURAN<br />
Tafsir Maudhu&#8217;i atas Pelbagai Persoalan Umat<br />
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.<br />
Penerbit Mizan<br />
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124<br />
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038<br />
mailto:mizan@ibm.net</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=148&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/12/dr-m-quraish-shihab-m-a-marhaban-ya-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/quraish-shihab.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Quraish Shihab</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Idris Tawfiq, Mantan Pastor yang Memilih Islam</title>
		<link>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/12/idris-tawfiq-mantan-pastor-yang-memilih-islam/</link>
		<comments>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/12/idris-tawfiq-mantan-pastor-yang-memilih-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 15:17:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kajianislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kajianislam.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Idris Tawfiq, Mantan Pastor yang Memilih Islam
SUMBER: REPUBLIKA ONLINE


&#8221;Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).&#8221; (QS Yunus: 25)
Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT akan memberikan hidayah (jalan kebaikan) kepada siapa saja yang dikehendakinya untuk memilih Islam. Tak peduli siapa pun. Baik dia budak, majikan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=144&subd=kajianislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><span style="color:#008080;">Idris Tawfiq, Mantan Pastor yang Memilih Islam</span></h2>
<p><strong><span style="color:#800000;">SUMBER:</span> <a href="http://www.republika.co.id/berita/65062/Idris_Tawfiq_Mantan_Pastor_yang_Memilih_Islam" target="_blank">REPUBLIKA ONLINE</a></strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>&#8221;Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).&#8221; (QS Yunus: 25)</strong></p>
<p>Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT akan memberikan hidayah (jalan kebaikan) kepada siapa saja yang <a href="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/idris-tawfiq.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-145" title="IDRIS TAWFIQ" src="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/idris-tawfiq.jpg?w=325&#038;h=220" alt="IDRIS TAWFIQ" width="325" height="220" /></a>dikehendakinya untuk memilih Islam. Tak peduli siapa pun. Baik dia budak, majikan, pejabat, bahkan tokoh agama non-Islam sekalipun.</p>
<p>Ayat tersebut, layak disematkan pada Idris Tawfiq, seorang pastor di Inggris yang akhirnya menerima Islam. Ia menjadi mualaf setelah mempelajari Islam dan melihat sikap kelemahlembutan serta kesederhanaan pemeluknya.</p>
<p>Sebelumnya, Idris Tawfiq adalah seorang pastor gereja Katholik Roma di Inggris. Mulanya, ia memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Baginya saat itu, Islam hanya identik dengan terorisme, potong tangan, diskriminatif terhadap perempuan, dan lain sebagainya.</p>
<p><span id="more-144"></span></p>
<p>Namun, pandangan itu mulai berubah, ketika ia melakukan kunjungan ke Mesir. Di negeri Piramida itu, Idris Tawfiq menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah dan serta keramahan sikap mereka.</p>
<p>Ia melihat, sikap umat Islam ternyata sangat jauh bertolak belakang dengan pandangan yang ia dapatkan selama ini di negerinya. Menurutnya, Islam justru sangat lembut, toleran, sederhanan, ramah, dan memiliki sifat keteladanan yang bisa dijadikan contoh bagi agama lainnya.</p>
<p>Di Mesir inilah, Tawfiq merasa mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya. Awalnya hanya sebagai pengisi liburan, menyaksikan Pirmadia, unta, pasir, dan pohon palem. Namun, hal itu malah membawanya pada Islam dan membuat perubahan besar dalam hidupnya.</p>
<p>&#8221;Awalnya mau berlibur. Saya mengambil penerbangan carter ke Hurghada. Dari Eropa saya mengunjungi beberapa pantai. Lalu, saya naik bis pertama ke Kairo, dan saya menghabiskan waktu yang paling indah dalam hidup saya.&#8221;</p>
<p>&#8221;Ini adalah kali pertama saya pengenalan ke umat Islam dan Islam. Saya melihat bagaimana Mesir yang lemah lembut seperti itu, orang-orang manis, tapi juga sangat kuat,&#8221; terangnya.</p>
<p>&#8221;Saya menyaksikan mereka tenang, lembut, dan tertib dalam beribadah. Begitu ada suara panggilan shalat (azan&#8211;Red), mereka yang sebagian pedagang, segera berkemas dan menuju Masjid. Indah sekali saya melihatnya,&#8221; terangnya.</p>
<p>Dari sinilah, pandangan Tawfiq berubah tentang Islam. &#8221;Waktu itu, seperti warga Inggris lainnya, pengetahuan saya tentang Islam tak lebih seperti yang saya lihat di TV, memberikan teror dan melakukan pengeboman. Ternyata, itu bukanlah ajaran Islam. Hanya oknumnya yang salah dalam memahami Islam,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Ia pun mempelajari Alquran. Pelajaran yang didapatkannya adalah keterangan dalam Alquran yang menyatakan: &#8216; Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang Yahudi dan Musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang beriman adalah orang yang berkata, &#8221;Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.&#8221; Yang demikian itu disebabkan di antara mereka itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena seungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.&#8221; (Al-Maidah ayat 82).</p>
<p>Ayat ini membuatnya berpikir keras. Baginya, Islam sangat baik, toleran. Justru, pihak lain yang memusuhinya. Inilah yang menjadi awal keislaman mantan pastor Inggris dan akhirnya menerima Islam.</p>
<p>Sepulang dari Mesir, Tawfiq masih menjadi penganut agama Katholik. Bahkan, ketika dia aktif mengajarkan pelajaran agama kepada para siswa di sebuah sekolah umum di Inggris, ia diminta mengajarkan pendidikan Studi agama.</p>
<p>&#8221;Saya mengajar tentang agama Kristen, Islam, Yudaisme, Buddha dan lain-lain. Jadi, setiap hari saya harus membaca tentang agama Islam untuk bisa saya ajarkan pada para siswa. Dan, di sana banyak terdapat siswa Muslim keturunan Arab. Mereka memberikan contoh pesahabatan yang baik, bersikap santun dengan teman lainnya. Dari sini, saya makin intens berhubungan dengan siswa Muslim,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dan selama bulan Ramadhan, kata dia, dia menyaksikan umat Islam, termasuk para siswanya, berpuasa serta melaksanakan shalat tarawih bersama-sama. &#8221;Hal itu saya saksikan hampir sebulan penuh. Dan, lama kelamaan saya belajar dengan mereka, kendati waktu itu saya belum menjadi Muslim,&#8221; papar Tawfiq.</p>
<p>Dari sini kemudian Tawfiq mempelajari Alquran. Ia membaca ayat-ayat Alquran dari terjemahannya. Dan ketika membaca ayat 83 surah Al-Maidah, ia pun tertegun.</p>
<p>&#8221;Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Alquran).&#8221; (Al-Maidah ayat 83).</p>
<p>Secara tiba-tiba, kata Tawfiq, ia pun merasakan apa yang disampaikan Alquran. Ia menangis. Namun, hal itu ia sembunyikan dari pandangan para siswanya. Ia merasa ada sesuatu di balik ayat tersebut.</p>
<p>Dari sini, Tawfiq makin intensif mempelajari Islam. Bahkan, ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, dengan dibomnya dua menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, dan ketika banyak orang menyematkan pelakunya kalangan Islam. Ia menjadi heran. Kendati masih memeluk Kristen Katholik, ia yakin, Islam tidak seperti itu.</p>
<p>&#8221;Awalnya saya sempat takut juga. Saya khawatir peristiwa serupa terulang di Inggris. Apalagi, orang barat telah mencap pelakunya adalah orang Islam. Mereka pun mengecamnya dengan sebutan teroris,&#8221; kata Tawfiq.</p>
<p>Namun, Tawfiq yakin, Islam tidak seperti yang dituduhkan. Apalagi, pengalamannya sewaktu di Mesir, Islam sangat baik, dan penuh dengan toleransi. Ia pun bertanya-tanya. &#8221;Mengapa Islam? Mengapa kita menyalahkan Islam sebagai agama teroris. Bagaimana bila kejadian itu dilakukan oleh orang Kristen? Apakah kemudian Kristen akan dicap sebagai pihak teroris pula?&#8221; Karena itu, ia menilai hal tersebut hanyalah dilakukan oknum tertentu, bukan ajaran Islam.</p>
<p><strong>Masuk Islam</strong><br />
Dari situ, ia pun mencari jawabannya. Ia berkunjung ke Masjid terbesar di London. Di sana berbicara dengan Yusuf Islam tentang Islam. Ia pun kemudian memberanikan diri bertanya pada Yusuf Islam. &#8221;Apa yang akan kamu lakukan bila menjadi Muslim?&#8221;</p>
<p>Yusuf Islam menjawab. &#8221;Seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, shalat lima kali sehari, dan berpuasa selama bulan Ramadhan,&#8221; ujar Yusuf.</p>
<p>Tawfiq berkata, &#8221;Semua itu sudah pernah saya lakukan.&#8221;<br />
Yusuf berkata, &#8221;Lalu apa yang Anda tunggu?&#8221;<br />
Saya katakan, &#8221;Saya masih seorang pemeluk Kristiani.&#8221;</p>
<p>Pembicaraan terputus ketika akan dilaksanakan Shalat Zhuhur. Para jamaah bersiap-siap melaksanakan shalat. Dan, saat shalat mulai dilaksanakan, saya mundur ke belakang, dan menunggu hingga selesai shalat.</p>
<p>Namun, di situlah ia mendengar sebuah suara yang mempertanyakan sikapnya. &#8221;Saya lalu berteriak, kendati dalam hati. &#8221;Siapa yang mencoba bermain-main dengan saya.&#8221;</p>
<p>Namun, suara itu tak saya temukan. Namun, suara itu mengajak saya untuk berislam. Akhirnya, setelah shalat selesai dilaksanakan, Tawfiq segera mendatangi Yusuf Islam. Dan, ia menyatakan ingin masuk Islam di hadapan umum. Ia meminta Yusuf Islam mengajarkan cara mengucap dua kalimat syahadat.</p>
<p>&#8221;<em>Ayshadu an Laa Ilaha Illallah. Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah</em>.&#8221; Saya bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.</p>
<p>Jamaah pun menyambut dengan gembira. Ia kembali meneteskan air mata, bukan sedih, tapi bahagia.</p>
<p>Ia mantap memilih agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Dan, ia tidak menyesali telah menjadi pengikutnya. Berbagai gelar dan penghargaan yang diterimanya dari gereja, ia tanggalkan.</p>
<p>Seperti diketahui, Idris Tawfiq memperoleh gelar kesarjanaan dari University of Manchester dalam bidang sastra, dan gelar uskup dari University of Saint Thomas Aquinas di Roma. Dengan gelar tersebut, ia mengajarkan pandangan Katholik pada jemaatnya. Namun, akhirnya ia beralih mengajarkan Islam kepada masyarakatnya. Selama bertahun-tahun, Tawfiq mengepalai pusat Studi keagamaan di berbagai sekolah di Inggris dan Wales, sebelum dia masuk agama Islam.</p>
<p>&#8221;Dulu saya senang menjadi imam (pastor&#8211;Red) untuk membantu masyarakat selama beberapa tahun lalu. Namun, saya merasa ada sesuatu yang tidak nyaman dan kurang tepat. Saya beruntung, Allah SWT memberikan hidayah pada saya, sehingga saya semakin mantap dalam memilih Islam. Saya tidak menyesal meninggalkan tugas saya di gereja. Saya percaya, kejadian (Islamnya&#8211;Red) ini, lebih baik dibandingkan masa lalu saya,&#8221; terangnya. sya/osa/berbagai sumber</p>
<p><strong>Berdakwah Lewat Lisan dan Tulisan</strong></p>
<p>Ketika ditanyakan pada Idris Tawfiq tentang perbedaan besar antara Kristen Katholik dan Islam, ia berkata: &#8221;Dasar dari agama Islam adalah Allah. Semua perkara disaksikan Allah, tak ada yang luput dari perhatian-Nya. Ini berbeda dengan yang saya dapatkan dari agama sebelumnya. Islam merupakan agama yang komprehensif.&#8221;</p>
<p>Ia menambahkan, Islam mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah setiap saat. Tak terbatas hanya pada hari Minggu. Selain itu, kata dia, Islam mengajarkan umatnya cara menyapa orang lain dengan lembut, bersikap ramah, mengajarkan adab makan dan minum, memasuki kamar orang lain, cara bersilaturahim yang baik. &#8221;Tak hanya itu, semua persoalan dibahas dan diajarkan oleh Islam,&#8221; terangnya.</p>
<p><strong>Penceramah dan penulis</strong><br />
Caranya bertutur kata, sikapnya yang sopan dan santun banyak disukai masyarakat. Gaya berbicaranya yang baik sangat sederhana dan lemah lembut, menyentuh hati, serta menyebabkan orang untuk berpikir. Ia pun kini giat berceramah dan menulis buku tentang keislaman.</p>
<p>Ia memberikan ceramah ke berbagai tempat dengan satu tujuan, menyebarkan dakwah Islam. Idris Tawfiq mengatakan, dia bukan sarjana. Namun, ia memiliki cara menjelaskan tentang Islam dalam hal-hal yang sangat sederhana. Dia memiliki banyak pengalaman dalam berceramah dan mengenali karakter masyarakat.</p>
<p>Ia juga banyak memberikan bimbingan dan pelatihan menulis serta berpidato bagi siswa maupun orang dewasa. Kesempatan ini digunakannya untuk mengajarkan pada orang lain. Termasuk, menjelaskan Islam pada dunia Barat yang banyak menganut agama non-Muslim.</p>
<p>Idris juga dikenal sebagai penulis. Tulisannya tersebar di berbagai surat kabar, majalah, jurnal, dan <em>website</em> di Inggris Raya. Ia juga menjadi kontributor regional dan Konsultan untuk <em>website</em> <em>www.islamonline.net</em> dan <em>ww.readingislam.com.</em></p>
<p>Dia menulis artikel mingguan di <em>Mesir Mail</em>, koran tertua Mesir berbahasa Inggris, dan <em>Sawt Al-Azhar</em>, surat kabar Al-Azhar University. Dia adalah pengarang sejumlah buku. Antara lain, <em>Dari surga yang penuh kenikmatan: sederhana, pengenalan Islam; Berbicara ke Pemuda Muslim; Berbicara ke Mualaf</em>. Selain itu, ia juga menjadi juru bicara umat Islam di Barat. Ia juga banyak berceramah melalui radio dan televisi. osa/sya/berbagai sumber</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kajianislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kajianislam.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kajianislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kajianislam.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kajianislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kajianislam.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kajianislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kajianislam.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kajianislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kajianislam.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kajianislam.wordpress.com&blog=1288320&post=144&subd=kajianislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kajianislam.wordpress.com/2009/08/12/idris-tawfiq-mantan-pastor-yang-memilih-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/007f18e2827f157bf90b7cf6f0183b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kajianislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kajianislam.files.wordpress.com/2009/08/idris-tawfiq.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IDRIS TAWFIQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>