Jemputlah Dia yang Menggumamkan Namamu!

Jemputlah Dia yang Menggumamkan Namamu!

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=324804444441


Pada pertengahan tahun enam puluhan, saya membentuk keluarga sederhana di tengah tetangga-tetangga yang sederhana dan di perumahan sangat sederhana. Pendapat saya tentang agama juga sederhana. Pegangan saya Al-Quran dan hadis, titik. Saya tidak suka pada peringatan maulid, karena tidak diperintahkan dalam Al-Quran dan hadis. Saya tidak suka salawat yang bermacam-macam selain salawat yang memang tercantum dalam hadis-hadis sahih. Saya senang berdebat mempertahankan paham saya. Saya selalu menang, sampai saya bertemu dengan Mas Darwan.

Mas Darwan adalah orang yang jauh lebih sederhana dari saya. Mungkin pendidikannya tidak melebihi sekolah dasar. Ia pensiunan PJKA. Usianya boleh jadi sekitar enam puluhan. Tetapi penderitaan hidup membuatnya tampak lebih tua. Pendengarannya sudah rusak. Karena itu, ia sedikit bicara, banyak bekerja. Ia sering memperbaiki rumahku tanpa saya minta. Ia sangat menghormati saya, yang dianggapnya seorang kiyai muda di kampung itu. Padahal ia tahu bahwa saya selalu datang terlambat ke mesjid untuk salat subuh.

Continue reading

Tasawuf Bukan Berasal dari Islam?

Tasawuf Bukan Berasal dari Islam?

Oleh : Haidar Bagir (Tulisan diambil dari ‘Buku Saku Tasawuf‘)

Dalam sejarahnya, tasawuf tak pernah lepas dari hujatan orang. Menurut mereka, tasawuf adalah bid’ah, mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dala agama. Bahkan, tasawuf adalah suatu aliran yang sesat dan menyesatkan, baik karena kejahilan, motif menutupi ketidaksetiaan mereka kepada syariat, maupun malah untuk menghancurkan agama sendiri dari dalam. Apa yang menyebabkan sikap-sikap bermusuhan seperti ini terhadap tasawuf? Yang pertama adalah keyakinan tasawuf bahwa selain syariat, ada thariqah dan hakikat. Keyakinan inilah yang menyebabkan penolakansecara total terhadap tasawuf. Sedang yang kedua adalah adanya kepercayaan-kepercayaan tertentu yang diungkapkan sebagian sufi, seperti hulul,ittihad,wahdah al-wujud, dan sebagainya. Keberadaan-keberadaan kepercayaan yang heterodoks (nyeleneh) dan rumit seperti ini menyebabkan para penentangnya hanya mempersoalkan kepercayaan-kepercayaan ini tanpa mesti menolak keseluruhan tasawuf-kecuali sekelompok orang yang memang cenderung mengafir-ngafirkan kelompok lain yang bukan kelompoknya.

Continue reading

HAJI MABRUR

HAJI MABRUR

Oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat*

Dan ibadah haji ke Rumah itu wajib bagi manusia karena Allah (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana  (QS 3:97).

Apakah ukuran mampu itu? Para sahabat Nabi Saw. menyebutkan dua hal, yaitu ada bekal dan kendaraan. Tetapi, Adh-Dhahak, ulama besar yang Pernah berguru kepada sahabat, hanya mensyaratkan tubuh yang sehat dan tenaga. Bila perlu, kata Adh-Dhahak selanjutnya, berangkatlah ke Baytultah walaupun berjalan kaki.

Continue reading

SHAUM MADRASAH RUHANIAH

SHAUM MADRASAH RUHANIAH

Oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat *

Puluhan tahun lalu, puluhan rektor universitas Amerika berkumpul dalam suatu konferensi di Universitas Michigan. Mereka seakan tersentak, ketika Dr. Benjamin E. Mays, Rektor Morehouse College, Georgia, berkata;

“Kita memiliki orang-orang terdidik yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Kita juga memiliki lulusan-lulusan perguruan tinggi yang lebih banyak. Namun, kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang berpenyakit…. Bukan pengetahuan yang kita butuhkan; kita sudah punya pengetahuan. Kemanusiaan sedang membutuhkan sesuatu yang spiritual.”

Mereka tersentak, karena menyadari bahwa selama ini perguruan tinggi telah mencetak manusia-manusia yang tidak utuh; manusia yang bernalar tinggi tetapi berhati kering, sarjana yang meraksasa dalam teknik tetapi masih merayap dalam etik, intelek-intelek yang pongah dengan pengetahuan tetapi yang kebingungan untuk menikmati kehidupan.

Continue reading

Dari Mana Berawalnya Tasawuf?

Dari Mana Berawalnya Tasawuf?

Haidar Bagir
 

Saya harus mengakui bahawa Alquran mengandung benih-benih nyata tentang mistisisme yang mampu untuk berkembang sendiri secara autonomi tanpa perlu dibantu oleh pengaruh-pengaruh asing” (Louis Massignon).

Kutipan di atas adalah dari seorang orientalis yang belakangan dikenali kerana telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk studi tasawuf. Ungkapan ini penting — selain untuk mengungkapkan tujuan yang hendak dicapai oleh bahagian ini — kerana para orientalis adalah di antara kelompok yang menyatakan bahawa tasawuf pada dasarnya adalah pinjaman dari agama Kristian.

Pada umumnya mereka berhujah bahawa Islam mengajarkan suatu monoteisme ringkas yang cocok dengan fikiran sederhana kaum Arab badwi. Kenyataannya, seperti juga diungkapkan oleh Nicholson –lagi-lagi seorang orientalis ahli Tasawuf: “Kendati Muhammad sistem dogma atau pun (semacam) teologi mistikal, Alquran jelas sekali mengandung bahan-bahan bagi keduanya. (Di dalam Alquran) Allah berfirman: ‘Allah cahaya langit dan bumi’ (24:35); Dialah Dzat yang Mahaawal dan Mahaakhir (57:3); Tidak ada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu selain Dia bersifat sementara dan fana (28:88); Aku tiupkan ruh-Ku ke dalam (diri manusia) (15:29); Kami ciptakan jin dan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan jiwanya, sebab kami lebih dekat kepadanya ketimbang urat-lehernya sendiri (50:16);

lanjutkan disini

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.