Dakwah Jangan Menyebarkan Kebencian

Dakwah Jangan Menyebarkan Kebencian

SUMBER: http://www.pikiran-rakyat.com/node/196100

JAKARTA, (PRLM).- Dosen Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Doktor Dhiyauddin Quswandi dalam seminar internasional yang bertema peran dakwah damai para habaib menyatakan, para ulama dalam menyampaikan dakwahnya tidak boleh menyebarkan kebencian kepada kelompok tertentu.

Menurut dia, ulama memiliki tiga peran penting yaitu sebagai pendakwah, pendidik, dan pemersatu sehingga, seluruh tema sentral dalam dakwah harusnya mengarah kepada tiga hal tersebut. Indonesia adalah bangsa yang memiliki banyak etnis, budaya dan agama, oleh karenanya, ulama dalam dakwahnya harus menghargai adanya keberagaman itu. Baca lebih lanjut

Islamisasi itu Jerih Payah Wali Songo

Islamisasi itu Jerih Payah Wali Songo

SUMBER: Islam-indonesia.com

.

Usai menamatkan buku Ensiklopedia Islam, hati Agus Sunyoto tiba-tiba tersentak. Dalam buku yang diterbitkan oleh Ikhtiar Baru Van Houve tersebut, ia sama sekali tak menemukan satu pun kata yang menyebut Wali Songo. Ingatannya kemudian melayang kepada sebuah buku lain berjudul Walisanga Tak Pernah Ada? karya Sjamsudduha, yang pernah dibacanya beberapa waktu sebelumnya.

“Saya pikir adalah ahistoris, kalau ndak mau saya bilang naïf, saat kita membahas perkembangan Islam di Indonesia, sama sekali tidak menyebut nama Wali Songo”, ujar sejarawan kelahiran Surabaya, 53 tahun yang lalu itu.

Istilah Wali Songo memang kadung dimengerti oleh sebgaian besar masyarakat Islam Indonesia hanya sebagai mitologi. Itu setidaknya tercermin dari cerita-cerita yang berserakan di kalangan masyarakat yang hanya mengidentikan Wali Songo dengan soal-soal karomah, keajaiban dan realita supranatural yang kadang tidak terjangkau otak manusia modern. Yang terjadi adalah sejarah Wali Songo jika tidak dipuja-puja berlebihan malah dijadikan bahan ejekan oleh sebagian orang untuk merujuk sebuah kepercayaan agama yang berbau tahayul dan tidak rasional. Baca lebih lanjut

Pembelaan Untuk Ibnu Ishaq: Pemurnian Sejarah atau Penyimpangan Sejarah

Pembelaan Untuk Ibnu Ishaq

SUMBER: Analisis Pembela Kebenaran

Oleh J Algar (SP)

PENOLAKAN TERHADAP MUHAMMAD BIN ISHAQ
Pemurnian Sejarah atau Penyimpangan Sejarah

Sejarah atau Sirah Nabi Muhammad SAW adalah wujud hidup dari ajaran Islam karena di dalamnya kita dapat mengetahui dengan jelas kehidupan Pribadi yang paling agung yaitu junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang tentu saja merupakan panduan bagi kita semua umat Islam dalam mengarungi kehidupan di dunia ini demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Beliau SAW dan KeluargaNya yang suci. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mendapatkan atau mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW yang benar atau shahih. Baca lebih lanjut

BIANG-KEROK PERPECAHAN UMAT

BIANG-KEROK PERPECAHAN UMAT

Dalam rubrik “Pembaca Bicara,” Gala 1 Mei 1990, Muhammad Maududi menuding Khawarijisme sebagai biang kerok pecahnya ukhuwwah Islamiyyah. Sebagai golongan, kaum Khawarij memang sudah lama punah; tetapi sebagai aliran pemikiran, Khawarijisme masih ada. Maududi menulis, “Khawarij tidak pernah masuk ke Indonesia, karena keburu punah. Tetapi karakteristiknya dijadikan model kefanatikan mazhab oleh semua mazhab yang ada di Indonesia.”

Kita boleh tidak setuju dengan pendapatnya. Kita ragu apakah betul semua mazhab di sini kefanatikannya sama seperti Khawarij. Atau apakah betul fanatisme mazhab ini sudah ada sejak dulu atau hanya muncul belakangan ini? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, harus lebih dahulu dijawab apa tanda-tanda pengikut Khawarij?. Baca lebih lanjut

Muhammad SAW, Guntur Romli dan Pembajakan Sirah Nabi

Muhammad SAW, Guntur Romli dan Pembajakan Sirah Nabi

SUMBER: hauzah.wordpress.com

Oleh QOSIM NURSHEHA DZULHADI

Tulisan Mohammad Guntur Romli (Kompas, 1 September 2007) menarik untuk dicermati. Setelah membaca tulisannya yang lumayan panjang itu, penulis berkesimpulan bahwa Guntur ingin menyatakan bahwa Nabi Muhammad tumbuh dan ‘dibesarkan’ oleh milieu Kristen. Artinya, lingkungan dan kaum cerdik pandai Kristen punya andil yang cukup vital terhadap pribadi dan nubuwwah (kenabian) Nabi Muhammad SAW. Tentu saja tulisan tersebut ‘menarik’: perlu dicermati dan dikritisi. Baca lebih lanjut

Tanggapan untuk artikel “Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen”

Tanggapan untuk artikel “Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen”

SUMBER: hauzah.wordpress.com

Oleh MUSADIQ MARHABAN

Menurut hemat saya, artikel kajian historis ini kurang lengkap karena tidak di dukung data-data yang kredibel. Di samping itu, kajian ini sangat terbatas dan benar seperti antum katakan penggiringan opini dengan data data yang terkesan spekulatif. Sebagai contoh, apabila Muhammad saw dipengaruhi ajaran Kristen, maka mengapa dia menyampaikan berbagai pemikiran yang justru tidak sejalan dengan ajaran Kristen? Bukan hanya sebatas itu, banyak kisah-kisah kenabian Al-Qur’an yang justru berbeda dari berbagai pemberitaan yang ada di PL (Perjanjian Lama) dan PB (Perjanjian Baru), meskipun tokoh-tokoh nabinya sama; dan baik Yahudi maupun Kristen tidak memiliki catatan historis tentang hal ini. Kasus Samiri bisa dijadikan contoh, sedangkan seluruh naskah masoretik menyebutkan bahwa peristiwa patung tuangan didalangi oleh Nabi Harun as sendiri. Dan masih banyak kasus-kasus kenabian lainnya yang bisa diangkat sebagai contoh. Baca lebih lanjut

PENEGAK MAZHAB UKHUWAH

PENEGAK MAZHAB UKHUWAH

Hari ini, 13 Rajab, sekitar 14 abad lalu, lahir seorang anak di dalam Ka`bah. Ibunya menamainya Haydhar (Singa). Muhammad saw, yang kelak menjadi guru dan saudara setianya, menamainya Ali. Ketika keadaan ekonomi keluarga Abu Thalib melemah, Muham­mad saw. membawa Ali ke rumah. Dia tumbuh besar di samping Mu­hammad Rasulullah saw. Tidak jarang dia tidur satu ranjang de­ngan Rasulullah saw. Ketika kecil, dia menghangatkan badannya dan merapatkannya ke tubuh Nabi. “Aku tidak pernah melupakan semerbak tubuh Rasul,” kata Ali kemudian hari.

Setelah dewasa, dia sering duduk di samping Nabi, menghangatkan nyala iman di hatinya. Dia anak muda yang hampir seluruh hidupnya belajar di “Universitas” Nabawi. Dia tumbuh dalam asuhan wahyu. Dia diwisuda di Ghadir Khum pads 14 Hijri, dan disumpah untuk melanjutkan ajaran gurunya. Nabi melantiknya dan melingkarkan serban hitam (al-sahab) di kepalanya. “Man kuntu mawlah, fa `aliyun mawlah,” seru Rasulullah saw. di depan puluhan ribu jamaah haji. Sepanjang sejarah, ribuan orang saleh menggemakan ucapan Nabi itu: Man kuntu mawlah, fa `aliyun mawlah (Siapa yang menjadikan aku sebagai mawla-nya, hendaknya Ali pun men­jadi mawla-nya pula).

Apa arti mawla? Menurut kamus, mawla artinya pemimpin, pelindung, sahabat, kekasih. Secara singkat, mawla berarti rujukan. Siapa yang merujuk kepada Rasulullah saw. dalam pikiran dan perilaku hendaknya merujuk juga kepada Ali. Mazhab Ali adalah mazhab Rasulullah saw. “Hai Ali, kedudukanmu terhadapku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa a.s.,” kata Nabi meyakin­kan Ali dan setiap kaum Mukmin.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.