Hari Lebaran (1 Syawal) berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Hari Lebaran (1 Syawal) berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

SUMBER: Ariefew.com

Dari informasi yang kita terima dan kita baca akhir-akhir ini, kemungkinan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H ada perbedaan penetapan. Hal ini disebabkan ketinggian bulan (moon altitude) pada tanggal 29 Agustus kurang dari 2 derajat sehingga tak memungkinkan hilal terlihat dengan mata telanjang.

Apa sih yang dimaksud dengan informasi di atas tersebut ? Sekarang mari kita sedikit belajar bersama-sama tentang ilmu hisab atau astronomi ini. Tapi sebelum melangkah lebih jauh silahkan di download dulu program MoonTools for Windows di artikel Baca lebih lanjut

Rekayasa Sunnah (Nabi Saw)

Rekayasa Sunnah (Nabi Saw)

SUMBER: Analisis Pembela Kebenaran

Oleh J Algar (SP)

Muqaddimah

Judul yang mengerikan tetapi itulah apa adanya. Penjelasannya bisa sangat panjang dan akan saya buat dengan sesederhana mungkin. Apa itu Sunnah? Nah bahaya kan kalau anda salah menangkap apa yang saya maksud. Bisa dilihat disini, disana atau Untuk mempermudah maka anda dapat melihat penjelasan dari Ustad ini. Sederhananya saya ambil yang ini

Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW.

. Baca lebih lanjut

Firqatun Naajiyah (Golongan yang selamat) ?

Firqatun Naajiyah (Golongan yang selamat) ?

SUMBER: Hauzah Lintas Paradigma Paradogma

Oleh AHMAD DIMYATI

Saat di sekolah Madrasah Aliyah (MA) saya diajari seorang guru, suatu paham yang mengubah peta politik dan budaya Hijaz khususnya Saudi Arabia. Pencetus ajaran tersebut adalah Muhammad bin Abdul Wahab. Guru saya tersebut membagikan dengan gratis sebuah buku kecil berwarna (kalau tidak salah) hijau dengan judul “Al-Fiqrqatun An-Naajiyah” dengan tulisan berbahasa Arab dan seluruh isi kitab tersebut berbahasa Arab gundul (tidak berharokat).

Waktu itu, saya dan teman-teman bersikap polos dan mengikuti pengajian yang dirancang guru tersebut dengan keinginan kuat untuk menguasai Bahasa Arab. Sehingga sampai akhir studi tidak banyak perubahan pada diri saya dan teman-teman berkaitan dengan pemahaman dan pengamalan agama. Namun, saat ini saya tertarik untuk membahas judul buku tersebut, yaitu “Al-Fiqrqatun An-Naajiyah” yang artinya golongan yang selamat. Baca lebih lanjut

BIANG-KEROK PERPECAHAN UMAT

BIANG-KEROK PERPECAHAN UMAT

Dalam rubrik “Pembaca Bicara,” Gala 1 Mei 1990, Muhammad Maududi menuding Khawarijisme sebagai biang kerok pecahnya ukhuwwah Islamiyyah. Sebagai golongan, kaum Khawarij memang sudah lama punah; tetapi sebagai aliran pemikiran, Khawarijisme masih ada. Maududi menulis, “Khawarij tidak pernah masuk ke Indonesia, karena keburu punah. Tetapi karakteristiknya dijadikan model kefanatikan mazhab oleh semua mazhab yang ada di Indonesia.”

Kita boleh tidak setuju dengan pendapatnya. Kita ragu apakah betul semua mazhab di sini kefanatikannya sama seperti Khawarij. Atau apakah betul fanatisme mazhab ini sudah ada sejak dulu atau hanya muncul belakangan ini? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, harus lebih dahulu dijawab apa tanda-tanda pengikut Khawarij?. Baca lebih lanjut

BID’AH DALAM ISLAM

BID’AH DALAM ISLAM

SUMBER: Islat

Oleh Muhammad Zen
Kita seringkali mendengar kata bid’ah digunakan dalam banyak majelis-majelis agama, dan kitapun sering menyaksikan sebagian kelompok menggunakan kata ini untuk menuduh sebagian kelompok yang lain. Memang secara umum bid’ah dipahami sebagai suatu bentuk kesesatan dalam agama, akan tetapi jika kita tidak memahami apa itu bid’ah sebenarnya dan dengan mudah menuduh orang lain dengan tuduhan bid’ah, maka hal ini merupakan suatu bentuk kekeliruan dan ketergesa-gesaan.

Baca lebih lanjut

TAUHID DALAM IBADAH

TAUHID DALAM IBADAH

Menyembah Tuhan yang Esa merupakan dasar seluruh dakwah para Nabi pada setiap masa, yaitu semua orang harus menyembah Tuhan yang Esa dan meninggalkan peribadatan kepada sesuatu yang lain.

Perintah samawi yang paling mendasar adalah menyembah Tuhan yang Esa dan melepaskan sikap mendua dalam ibadah. Inilah yang menjadi program awal seluruh utusan Allah yang telah dibangkitkan untuk memerangi segala macam syirik, khususnya dalam ibadah.

Al-Quran al-Majid menyebut kebenaran ini dengan jelas, dengan firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (sesembahan selain Allah). [Surat An-Nahl, ayat 36]

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku. [Surat Al-Anbiya’, ayat 25]

Al-Quran juga menyebut ibadah kepada Tuhan yang Maha Esa sebagai pokok kebersamaan antara semua syariat samawi, seperti dalam firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun …” [Surat Ali Imran, ayat 64]

Tauhid dalam ibadah merupakan landasan yang kukuh dan diterima. Tidak seorang-pun di kalangan kaum Muslimin yang menentangnya. Meskipun kelompok Mu’tazilah berbeda pendapat tentang tauhid dalam sifat, dan kelompok “Asyari berselisih tentang tauhid dalam af’al (perbuatan) namun semuanya bersatu dalam, masalah tauhid dalam ibadah.

Baca lebih lanjut

PASIVA DALAM NERACA GERAKAN MODERNIS ISLAM

PASIVA DALAM NERACA GERAKAN MODERNIS ISLAM

(Di bawah ini adalah artikel lama KH. Jalaluddin Rakhmat, tapi isinya masih sangat relevan sekali dengan masa kini, dan menarik untuk dibaca)

Ketika bulan November 1989 NU menyelenggarakan muktamar, semua pengamat Islam di Indonesia tercenung. Sebagai sebuah gerakan tradisional, NU masih menunjukkan dinamika yang menakjubkan. Akarnya pada massa rakyat masih kukuh, seperti ditampakkan dengan kontribusi mereka yang tulus dan spontan. Keutuhannya sebagai persyarikatan masih bertahan, seperti ditunjukkan dengan mulusnya penerimaan Abdurrahman Wahid. Bidang garapannya bahkan terbentang lebih luas, seperti dinyatakan oleh Presider Soeharto saat berpidato pada pembukaan Muktamar tersebut.

Pernah terjadi ketika gerakan-gerakan modernis muncul, NU berada pada posisi defensif. Gerakan modernis menyerang NU sebagai “old crack” yang membela kebekuan, khurafat, takhayul, bid’ah, atau … sinkretisme. NU dijadikan kaum reaksioner yang menghambat kemajuan umat Islam. Sementara itu, Muhammadiyah (bersama Persis dan Al-Irsyad) dianggap sebagai agen-agen pembaruan— gerakan tajdid dan dakwah Islamiah. Benturan NU dan Muhammadiyah tidak jarang terjadi pada tingkat mikro— pada masjid atau kampung yang kecil.

Waktu kemudian mengubah konflik ini menjadi pembagian tugas (atau lebih tepat pembagian wilayah). Muhammadiyah dan kawan-kawan berhasil menguasai golongan menengah ke atas, kelompok berpendidikan, dan daerah perkotaan. Paham Muhammadiyah dan kawan-kawan menjadi Islam urban. Sementara itu, NU tetap kukuh di daerah pedesaan. Pengaruh pesantren sebagai benteng NU tidak terkalahkan untuk golongan menengah ke bawah dan “grass root levels”. Hasil akhirnya menarik. Apa yang selama puluhan tahun diserang oleh kaum modernis —sebagai bid`ah, syirk, dan sebagainya— masih tegak berdiri. Yang menakjubkan ialah kenyataan bahwa sebagian kaum modernis menemukan: Di balik tradisionalisme NU, justru tersembunyi kekuatan Islam. Dengan perkataan lain, sebagian serangan kaum modernis sebenarnya merugikan Islam, seandainya berhasil.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.