Akhlak Rasulullah Saw

Akhlak Rasulullah Saw

SUMBER: Hauzah Paradigma dan Paradogma

Rasulullah SAWW adalah manusia paling sempurna dan penghulu para nabi-nabi terdahulu. Untuk membuktikan keagungannya, kita cukup mengetahui bahwa Allah SWT memanggilnya dalam Al Quran dengan sebutan “wahai Rasul” dan “wahai Nabi”. Dan di samping itu, Ia telah menjadikannya panutan bagi seluruh alam semesta. Ia berfirman: “Sungguh telah terdapat budi yang luhur bagi kalian dalam diri Rasulullah”. Sungguh beliau memiliki akhlak yang luhur dan sempurna.

Allah berfirman: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada di atas puncak budi pekerti yang agung”, “Seandainya engkau berperangai kasar dan keras hati, niscaya mereka akan berpaling darimu”.

Dengan ini dapat diketahui bahwa salah satu faktor berkembangnya Islam dengan pesat adalah akhlak Rasulullah SAWW yang terpuji. Ia tidak pernah menyia-siakan waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Ketika berdoa ia selalu merintih: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala bentuk pengangguran dan rasa malas”. Ia berprinsip untuk selalu menegakkan keadilan. Dalam menjalankan perdagangan ia tidak pernah berbohong dan melaksanakan praktek penipuan, serta mempersulit pembeli. Ia tidak pernah berdebat dengan siapa pun, dan tidak pernah melimpahkan tanggung jawabnya kepada orang lain.

Ia memiliki pendirian bahwa kejujuran dan menjaga amanat adalah pondasi utama kehidupan. Ia pernah bersabda: “Dua hal itu (kejujuran dan menjaga amanat) sangat ditekankan oleh para nabi terdahulu”.

Ia memiliki statemen bahwa semua anggota masyarakat harus berdiri tegak melawan para lalim dan jangan hanya menjadi penonton.

Ia pernah berpesan: “Bantulah saudaramu, baik ia sebagai zalim atau mazlum”. Para sahabat bertanya dengan penuh keheranan: “Kita telah mengetahui bagaimana cara membantu saudara yang dimazlumi. Bagaimana cara membantu saudara yang zalim?” Ia menjawab: “Cegahlah ia jangan sampai berbuat lalim kepada orang lain”.

Pembaca yang budiman, kita sekarang sedang hidup di sebuah dunia yang didominasi oleh dekadensi moral dan berkuasanya hawa nafsu. Solusi terbaik -–untuk menanggulangi kondisi tersebut– adalah kita harus mengkaji kembali sejarah para nabi umumnya, dan sejarah Rasulullah SAWW khususnya yang dipenuhi oleh berbagai pelajaran berharga. Sejarah mereka –-untuk masa sekarang– adalah sebuah teladan perikemanusiaan yang luhur.

Sejarah telah menunjukkan tiga contoh golongan yang dapat dijadikan pelajaran oleh umat manusia. Mereka adalah para raja dan kaisar, para filsuf dan para nabi. Para nabi a.s. memiliki masa lalu yang layak untuk dijadikan teladan. Kejujuran dan keakraban lebih mendominasi kehidupan mereka dari pada keangkuhan dan kekuasaan. Dari kening-kening mereka terpancar sinar ilahi yang menjadikan mata terbelalak melihatnya, bak sinar matahari pagi yang sejuk dipandang, akan tetapi bak misteri ghaib yang tidak terungkap substansinya.

Mata yang paling sederhana pun dapat melihat sinar tersebut dengan mudah. Akan tetapi, kejeniusan seseorang tidak dapat memecahkan rahasianya dengan mudah.

Jiwa-jiwa yang peka terhadap segala keindahan dan rahasia (spiritual) akan dapat merasakan kehangatannya bagaikan kehangatan cinta dan harapan. Dan hal itu akan didapatkannya di dalam gerak-gerik dan perilaku mereka.

Jiwa mereka dipenuhi oleh ilham dan wahyu yang mengalir dengan tenang di dalamnya. Setiap kali kita menengok sejarah masa lalu, kita akan mendapatkan bahwa umat manusia selalu mencari wajah-wajah sederhana nan menakjubkan itu. Ibrahim, Nuh, Musa dan Isa adalah sekelumit contoh dari mereka. Akan tetapi, bagaimana dengan Muhammad SAWW sebagai penutup para nabi a.s.? Menghadapi orang-orang yang menentangnya, ia hanya membaca ayat-ayat Al Quran, atau ia menerangkan keyakinannya dengan metode yang sederhana dan enggan berdebat. Kehidupannya mengingatkan kita kepada orang agung dan zahid. Ia sangat mencintai kelaparan dan menguji kesabarannya dengan menahan lapar. Kadang-kadang ia sangat merasa lapar dan dengan hanya mengganjalkan batu di perutnya ia berusaha untuk mencegah rasa sakit karenanya.

Menghadapi orang-orang yang selalu menyakitinya, ia selalu memaafkannya dan memperlakukan mereka dengan baik sehingga mereka malu sendiri. Suatu hari ketika ia melalui sebuah lorong Madinah, seorang Yahudi menuangkan air di atas kepalanya dari atap rumahnya. Akan tetapi, ia berlalu begitu saja tanpa marah sedikit pun setelah membersihkan diri dan bajunya di sebuah pojok lorong. Di hari yang lain, padahal ia tahu bahwa perlakuan itu akan terulang lagi, ia tetap berjalan di lorong tersebut.

Pada hari berikutnya ketika ia sedang berlalu di lorong tersebut, orang Yahudi itu tidak lagi menuangkan air di atas kepalanya. Ia heran. Dengan tersenyum ia berkata: “Mengapa hari ini ia tidak menyiramkan air lagi?” Penduduk yang bermukim di sekitar lorong itu berkata: “Ia sakit”. “Kita harus menjenguknya”, tegasnya.

Ketika melihat keakraban dan kecintaan luhur di wajah Muhammad SAWW, orang Yahudi merasa bahwa dirinya adalah sahabat lamanya. Dihadapkan kepada pandangan mata Muhammad SAWW yang penuh cinta dan kasih sayang, ia merasa jiwanya telah tercuci bersih dan kehendak untuk menyakitinya lagi hilang musnah.

Ia sangat rendah hati sehingga bangsa Arab yang congkak dan fanatis tunduk di hadapannya. Kehidupan, perilaku dan akhlaknya mengilhamkan kecintaan, kekuatan, kerelaan, ketegaran, cara berpikir yang tinggi dan keindahan jiwa. Kesederhanaan perilakunya dan kerendahan hatinya tidak mengurangi keteguhan jiwa dan daya tarik spiritualnya. Setiap kalbu akan tunduk di hadapannya. Setiap kali duduk bersama orang lain dalam sebuah pertemuan, ia tampil sebagai sosok yang teragung.

About these ads

4 Tanggapan

  1. begitu sempurnanya akhlak rosululloh saw, bahkan susah tuk di anuti bagi diriku

  2. assalamu alaikum….syukron atas penjelasannya…semoga bermanfaat juga untuk smua….

  3. Kajilah AlQuran, Insya Allah kita akan mengenal bagaimana Akhlaq Rasulullah saw, tanpa sulit mencari dan melaksanakannya, karena AlQuran sumber utama dari Akhlaq para nabi dan Rasul, utamanya dalam pengabdiannya secara utuh kepada Allah swt, contoh dalam surat Al Ikhlas, surat Al Falaq dan surat An Naas, didalamnya seluruhnya adalah akhlaq nabi Muhammad saw.
    .1. Surat Al Ikhlash akhlaq Rasul dalam mentauhidkan Allah secara utuh dan murni, hingga terjadi keikhlasan yang utuh dalam berbuat hidup didunia ini hanya mematuhi Allah swt, dalam berkebajikan.seluruh hidup Rasul hanyalah berbuat kebajikan karena Allah seutuhnya.hingga hilang penyakit `Ishyan (memusyrikkan Allah )
    2. Surat Al Falaq, akhlaq Rasul dalam kejernihan dihati bertaqwa tidak memiliki sifat Hasud (penyakit hati) Rasul tidak memiliki sakit hati terhadap siapapun, selalu berjiwa besar dengan Qolbun salimnya.hingga terhindar penyakit Fasiq (munafiq)
    3. Surat An Naas adalah akhlaq Rasul dalam berfikir selalu Ulil AlBab, sehat dan jernih berfikir tentang kebesaran Allah dan kekuasaannya, hingga hilang sifat kufurnya (cara berfikir syetan Jin dan setan Manusia )
    Jadi bila ingin berakhlaq seperti Rasul dalam hidup ini :
    1. Selama hidup tidak memusyrikkan Allah
    2. Selama hidup tidak pernah sakit hati
    3. Dan selama hidup tidak seperti syetan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: