Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (1)

Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (1)

SUMBER: Media-Isnet

Oleh Dr. Quraish Shihab

Ust. Dr. Quraish Shihab

Berbicara mengenai wawasan Al-Qur’an tentang  suatu  masalah tidak   akan   sempurna,  bahkan  boleh  jadi  keliru,  jika pandangan hanya tertuju kepada satu dua ayat yang  berbicara menyangkut   hal   tersebut.   Karena   cara  demikian  akan melahirkan  pandangan  parsial  yang  tidak  sejalan  dengan tujuan   pemahaman   wawasan,   lebih-lebih   bila  analisis dilakukan terlepas dari konteks (munasabah)  ayat,  sejarah, asbab  al-nuzul  (latar  belakang turunnya ayat), penjelasan Nabi  (As-Sunnah),  dan  sebagainya,  yang   dihimpun   oleh pakar-pakar  Al-Qur’an  dengan  istilah pendekatan “tematis” (maudhu’i).

Bahasan ini mencoba  menerapkan  metode  tersebut,  walaupun dalam  bentuk  yang  terbatas  –  karena penerapannya secara sempurna membutuhkan waktu yang tidak singkat, rujukan  yang memadai,   serta   kemampuan   analisis  yang  dalam.  Namun demikian,  keterbatasan  di  atas,  akan  diusahakan   untuk ditutupi   dengan  menyajikan   pandangan   beberapa  pakar berkompeten dalam bidang Al-Qur’an.

ISTILAH-ISTILAH AL-QUR’AN

Salah  satu   keistimewaan   Al-Qur’an   adalah   ketelitian redaksinya.  Tidak  heran, karena redaksi tersebut bersumber langsung dari Allah swt. Hal ini perlu digarisbawahi,  bukan saja   karena   sekian   banyak   ulama  melakukan  analisis kebahasaan  dalam  mengemukakan  dan   atau   menolak   satu pendapat,  tetapi  juga  karena  Kitab  Suci ini menggunakan beberapa istilah yang berbeda ketika menunjuk  kepada  orang Yahudi  dan  Nasrani,  dua  kelompok masyarakat yang minimal disepakati oleh seluruh ulama sebagai Ahl Al-Kitab.

Selain istilah  Ahl  Al-Kitab Al-Qur’an  juga  menggunakan istilah  Utu  Al-Kitab Utu nashiban minal kitab, Al-Yahud, Al-Ladzina  HaduBani  IsrailAn  Nashara,  dan  istilah lainnya.

Kata  Ahl Al-Kitab terulang di dalam Al-Qur’an sebanyak tiga puluh satu  kali, Utu  Al-Kitab  delapan  belas  kali Utu nashiban  minal  kitab  tiga  kali, Al-Yahud  delapan kali, Al-Ladzina Hadu sepuluh kali, An-Nashara empat  belas  kali, dan Bani/Banu Isra’il empat puluh satu kali

Kesan  umum  diperoleh bahwa bila Al-Qur’an menggunakan kata Al-Yahud maka isinya adalah kecaman  atau  gambaran negatif tentang   mereka.  Perhatikan  misalnya  firman-Nya  tentang kebencian orang Yahudi terhadap kaum  Muslim  (QS- Al-Maidah [5]:  82), atau ketidakrelaan orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kaum Muslim sebelum umat Islam mengikuti mereka (QS Al-Baqarah  [2]:  120),  atau  pengakuan  mereka bahwa orang Yahudi dan Nasrani adalah putra-putra dan kinasih Allah  (QS Al-Ma-idah  [5]:  18),  atau  pernyataan  orang Yahudi bahwa tangan Allah terbelenggu (kikir) (QS Al-Maidah [5]: 64), dan sebagainya.

Bila Al-Qur’an menggunakan Al-Ladzina Hadu, maka kandungannya ada  yang  berupa  kecaman, misalnya  terhadap mereka  yang  mengubah  arti  kata-kata  atau  mengubah  dan menguranginya (QS Al-Nisa,  [41]:  46),  atau  bahwa  mereka tekun mendengar  (berita kaum Muslim) untuk menyebarluaskan kebohongan  (QS  Al-Maidah  [5]:  41),  dan  ada  juga  yang bersifat  netral,  seperti  janji  bagi  mereka yang beriman dengan benar untuk tidak  akan  mengalami  rasa  takut  atau sedih (QS Al-Baqarah [2]: 62).

Kata  Nashara  sama  penggunaannya  dengan  Al-Ladzina Hadu, terkadang  digunakan  dalam  konteks  positif  dan   pujian,
misalnya  surat  Al-Maidah  [5]: 82 yang menjelaskan tentang mereka yang paling akrab persahabatannya dengan  orang-orang
Islam; dan di kali lain dalam konteks kecaman, seperti dalam surat   Al-Baqarah   [2]:   120   yang   berbicara   tentang ketidakrelaan mereka terhadap orang Islam sampai kaum Muslim mengikuti  mereka.  Dalam   kesempatan   lain   kandungannya bersifat  netral:  bukan  kecaman bukan pula pujian, seperti dalam surat  Al-Hajj  [22];  17  yang  membicarakan  tentang putusan    Tuhan    yang    adil    terhadap    mereka   dan kelompok-kelompok  lain,  kelak  di  hari  kemudian.  Dengan demikian,   kita   dapat mengatakan  bahwa  bila  Al-Qur’an menggunakan  Al-Yahud,  maka  pasti  ayat  tersebut   berupa kecaman  atas sikap-sikap buruk mereka, dan jika menggunakan kata Nashara, maka ia belum  tentu  bersikap  kecaman,  sama halnya dengan Al-Ladzina Hadu.

Agaknya ini sebabnya sehingga surat Al-Baqarah [2]: 120 yang berbunyi “Lan  tardha  ‘ankal-Yahud  wa  lan  Nashara  hatta
tattabi’a  millatahum
(orang  Yahudi dan Nasrani tidak akan rela   kepadamu   (Muhammad)   sampai    engkau    mengikuti
agama/tatacara  mereka,”  menggunakan  kata  “lan” terhadap orang Yahudi, dan kata “la” terhadap orang Nasrani. Menurut
pakar-pakar  bahasa Al-Qur’an, antara lain Az-Zarkasyi dalam bukunya Al-Burhankata  “lan” digunakan  untuk  menafikan sesuatu  di  masa  datang,  dan penafian tersebut lebih kuat dari “la” yang  digunakan  untuk  menafikan  sesuatu,  tanpa mengisyaratkan  masa  penafian  itu,  sehingga boleh saja ia terbatas untuk masa lampau, kini, atau masa datang.

Ayat di atas, secara tegas menyatakan bahwa selama seseorang itu  Yahudi (Ingat bukan Al-Ladzina Hadu atau Ahl Al-Kitab),
maka ia pasti tidak akan rela  terhadap  umat  Islam  hingga umat  Islam  mengikuti  agama/tatacara  mereka.  Dalam arti, menyetujui sikap dan tindakan serta arah yang mereka tuju.

Mufasir besar Ar-Razi mengemukakan  bahwa  maksud  ayat  ini adalah menjelaskan:

“Keadaan  mereka  dalam  bersikeras berpegang pada kebatilan mereka, dan ketegaran mereka dalam kekufuran,  bahwa  mereka itu  juga  (di  samping  kekufuran  itu)  berkeinginan  agar diikuti millat mereka. Mereka tidak rela dengan kitab  (suci yang dibawa beliau), bahkan mereka berkeinginan (memperoleh) persetujuan  beliau  menyangkut   keadaan   mereka.   Dengan demikian  (Allah)  menjelaskan  kerasnya  permusuhan  mereka terhadap Rasul, serta menerangkan situasi yang mengakibatkan keputusasaan tentang persetujuan mereka (menganut Islam).”

Syaikh Muhammad Thahir bin Asyur dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat  hatta  tattabi’a  millatahum (sampai  engkau
mengikuti agama mereka) adalah:

Kinayat  (kalimat  yang  mengandung makna bukan sesuai bunyi teksnya) keputusasaan (tidak adanya kemungkinan) bagi  orang Yahudi  dan  Nasrani  untuk memeluk Islam ketika itu, karena mereka  tidak  rela  kepada  Rasul  kecuali  (kalau   Rasul) mengikuti  agama/tatacara  mereka.  Maka  ini  berarti bahwa mereka tidak mungkin akan mengikuti agama beliau; dan karena keikutan  Nabi  pada  ajaran  mereka  merupakan sesuatu yang mustahil, maka kerelaan mereka terhadap  beliau  (Nabi)  pun demikian. Ini sama dengan (firman-Nya): “hingga masuk ke lubang jarum” (QS Al-A’raf [7]: 40) dan (firman-Nya), “Aku  tidak  akan  menyembah  apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah (Tuhan)  yang  aku  sembah”  (QS  Al-Kafirun [109]: 2-3).

Dalam uraian Syaikh Fadhil di atas ditemukan kalimat “ketika itu” untuk menjelaskan  bahwa  keputusasaan  tersebut  hanya ditekankan  oleh ayat ini pada Al-Yahud wan-Nashara tertentu ketika itu, bukan terhadap mereka  semua,  karena  kenyataan
menunjukkan  bahwa  setelah  turunnya ayat ini ada di antara Ahl Al-Kitab yang memeluk agama Islam.  Pengertian  tersebut
sama dengan firman-Nya dalam surat Yasin [36]: 10:

“Sama  saja  bagi  mereka:  apakah  kamu  memberi peringatan kepada mereka, ataukah kamu tidak memberi peringatan  kepada mereka, mereka tidak akan beriman.”

Yang  dimaksud  di  sini  adalah  orang-orang kafir tertentu ketika itu (pada  masa  Nabi),  bukan  seluruh  orang  kafir karena kenyataan juga menunjukkan bahwa sebagian besar dari orang kafir pada masa Nabi,  pada  akhirnya  memeluk  Islam. Arti  surat  Al-Baqarah  [2]:  120 di atas perlu ditegaskan, karena sering terjadi kesalahpahaman tentang  maknanya.  Dan juga sebagaimana diketahui, Yudaisme bukanlah agama dakwah, bahkan mereka cenderung eksklusif  dalam  bidang  agama  dan orang lain cenderung enggan menganut agamanya. Di sisi lain, seperti dikemukakan dalam  riwayat-riwayat,  sebab  turunnya surat Al-Baqarah   [2]:   120  di  atas  berkenaan  dengan pemindahan kiblat shalat kaum Muslim ke  arah  Ka’bah,  yang ditanggapi  oleh  non-Muslim dengan sinis, karena ketika itu kaum Yahudi Madinah dan  kaum  Nasrani  Najran  mengharapkan agar  Nabi  dan  kaum  Muslim  mengarahkan  shalat mereka ke kiblat mereka.  Demikian  pendapat  Ibnu  Abbas  sebagaimana dikemukakan oleh As-Sayuthi dalam kaxyanya Ashab Al-Nuzul

Penafian   Al-Qur’an   terhadap  An-Nashara,  tidak  setegas penafiannya terhadap Al-Yahud,  sehingga  boleh  jadi  tidak semua  mereka bersikap demikian. Boleh jadi juga kini dan di masa lalu demikian, tetapi masa datang tidak lagi.  Walhasil penggunaan  kata  “la”  buat mereka tidak setegas penggunaan kata “lan” untuk orang Yahudi.

Dengan merujuk kepada ayat-ayat yang  menggunakan  kata  Ahl Al-Kitab,  ditemukan  bahwa  pembicaraan  Al-Qur’an  tentang
mereka berkisar pada uraian tentang sikap dan sifat mereka – positif  dan negatif serta sikap yang hendaknya diambil oleh kaum Muslim terhadap mereka.

SIFAT DAN SIKAP AHL AL-KITAB

Al-Qur’an banyak  berbicara  tentang  sifat  dan  sikap  Ahl Al-Kitab   terhadap   kaum  Muslim,  dan  berbicara  tentang keyakinan  dan  sekte  mereka  yang  beraneka  ragam.  Surat An-Nisa,  [4]:  171  dan  Al-Ma-idah  [5]: 77 mengisyaratkan bahwa mereka memiliki paham keagamaan yang ekstrem.

“Wahai Ahl Al-Kitab, jangan melampaui batas  dalam  agamamu, dan  jangan  mengatakan terhadap Allah kecuali yang hak” {QS Al-Nisa, [4]: 171).

Mereka juga dinilai oleh Al-Qur’an sebagai telah  mengkufuri ayat-ayat   Allah,  serta  mengingkari  kebenaran  (kenabian Muhammad saw).

“Wahai Ahl  Al-Kitab,  mengapa  kamu  mengingkari  ayat-ayat Allah   padahal  kamu  mengetahui  (kebenarannya)?  Hai  Ahl Al-Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil,    dan    menyembunyikan   kebenaran   padahal   kamu mengetahui?” (QS Ali ‘Imran [3]: 70-71).

Nabi  Muhammad   saw.   diperintahkan   oleh   Allah   untuk menyampaikan kepada mereka:

Katakanlah:  “Hai  Ahl  Al-Kitab, apakah kamu memandang kami salah hanya lantaran kami beriman kepada Allah,  kepada  apa yang  diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya,  sedang  banyak  di  antara   kamu   benar-benar orang-orang yang fasik?” (QS Al-Ma-idah [5]: 59).

Bahkan   Allah   Swt.   secara   langsung  dan  berkali-kali mengingatkan  kaum  Muslim  untuk  tidak  mengangkat  mereka sebagai pemimpin-pemimpin atau teman-teman akrab atau tempat menyimpan rahasia.

Hai orang-orang  yang  beriman,  janganlah  kamu  mengambil orang-orang       Yahudi       dan      Nasrani      menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin  bagi sebagian   yang   lain.  Barangsiapa  di  antara  kamu  yang mengambil mereka menjadi pemimpin, maka  sesungguhnya  orang itu  termasuk  golongan  mereka.  Sesungguhnya  Allah  tidak
memberi  petunjuk  kepada  orang-orang   yang   zalim”
(QS Al-Ma-idah [5]: 51).

Dalam  QS  Ali  ‘Imran [3]: 118 kaum Muslim diingatkan untuk tidak menjadikan orang-orang di luar kalangan Muslim sebagai
bithanah   (teman-teman  tempat  menyimpan  rahasia)  dengan alasan bahwa:

“… mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kerugian bagi kamu  (kaum  Muslim).  Mereka  menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari  mulut  mereka  sedang  apa yang  disembunyikan  oleh hati mereka lebih besar lagi. Kami telah menjelaskan  kepadamu  tanda-tanda  (siapa  kawan  dan siapa  lawan), jika kalian memahaminya.” (QS Ali ‘Imran [3]: 118).

Terhadap merekalah Nabi saw. bersabda,

Jangan memulai mengucapkan salam kepada  orang  Yahudi  dan jangan pula pada Nasrani. Kalau kamu menemukan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah  ia  ke  pinggiran” (HR Muslim melalui Abu Hurairah).

Sahabat  dan  pembantu  Nabi  saw.,  Anas bin Malik, berkata bahwa Nabi saw. bersabda,

“Apabila Ahl Al-Kitab mengucapkan salam  kepada  kamu,  maka katakanlah, Wa ‘alaikum” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam  buku  Dalil  Al-Falihin dikemukakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hukum memulai ucapan  salam  kepada
orang-orang  kafir. Mayoritas melarangnya tetapi banyak juga yang membolehkan antara lain sahabat Nabi, Ibnu Abbas. Namun
apabila mereka mengucapkan salam, maka adalah wajib hukumnya bagi kaum Muslim untuk menjawab  salam  itu.  Ulama  sepakat
dalam hal ini.

(Bersambung)

___________________________________________________________

ARTIKEL LANJUTAN

  1. Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (1)
  2. Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (2)
  3. Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (3)
  4. Ahlul Kitab Menurut Al Qur’an (4)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: