Zakat Profesi Dua Puluh Persen Dan Kerancuan Ushul Fiqih

ZAKAT PROFESI: DUAPULUH PERSEN? [1]

Menurut Emha Ainun Nadjib, Dr. Amien Rais pernah dituduh “kafir” karena menetapkan zakat profesi (Gala, 19 April1990). Sebenarnya dia “dikafirkan” bukan karena zakat profesi‑nya, tetapi karena dia menetapkan duapuluh persen. [2] Buktinya, di seantero tanah air, para ilmuwan fiqih Majelis Ulama Indonesia membahas zakat profesi. Kita merasakan ada yang tidak adil dalam konsep zakat yang kita miliki. Petani, yang memperoleh penghasilan 1.000 kg beras setahun, wajib mengeluarkan zakat 10 persen dari hasil itu. Jika kita konversikan dengan uang, petani harus mengeluarkan Rp 60.000,- dari penghasilan tahunannya yang Rp 600.000,- Bagilah itu menjadi 12 bulan. la akan memperoleh rata-rata Rp 50.000,- sebulan (konversikan saja dengan harga beras sekarang, harga tersebut adalah harga ketika artikel ini ditulis). Kata ilmuwan fiqih, petani itu wajib mengeluarkan zakatnya rata-rata Rp 5.000,- setiap bulan.

Berapa zakat untuk dokter spesialis? Bila sehari ia menerima rata-rata sepuluh orang pasien, katakanlah ia memperoleh Rp 150.000,- Sebulan ia mendapat kira-kira tiga juta rupiah — 60 kali penghasilan petani itu. Petani wajib mengeluarkan Rp 5.000,- —sepuluh persen dari pendapatannya-. Dokter, menurut sebagian ilmuwan fiqih, tidak wajib zakat. Menurut Kitab Al-Fiqih ‘ala Al-Madzhahib Al-Arba`ah 1:596, (Jilid 1, halaman 596), harta yang wajib dikeluarkan zakatnya itu ada empat macam: ternak, emas dan perak, perdagangan, barang tambang dan rikaz, dan pertanian. “La zakata fi ma ada hadzihil khamsah” (Tidak ada zakat di luar yang lima ini),” kata Abdurrahman Al­jazairi, penulis kitab itu.

Baca lebih lanjut

PENEGAK MAZHAB UKHUWAH

PENEGAK MAZHAB UKHUWAH

Hari ini, 13 Rajab, sekitar 14 abad lalu, lahir seorang anak di dalam Ka`bah. Ibunya menamainya Haydhar (Singa). Muhammad saw, yang kelak menjadi guru dan saudara setianya, menamainya Ali. Ketika keadaan ekonomi keluarga Abu Thalib melemah, Muham­mad saw. membawa Ali ke rumah. Dia tumbuh besar di samping Mu­hammad Rasulullah saw. Tidak jarang dia tidur satu ranjang de­ngan Rasulullah saw. Ketika kecil, dia menghangatkan badannya dan merapatkannya ke tubuh Nabi. “Aku tidak pernah melupakan semerbak tubuh Rasul,” kata Ali kemudian hari.

Setelah dewasa, dia sering duduk di samping Nabi, menghangatkan nyala iman di hatinya. Dia anak muda yang hampir seluruh hidupnya belajar di “Universitas” Nabawi. Dia tumbuh dalam asuhan wahyu. Dia diwisuda di Ghadir Khum pads 14 Hijri, dan disumpah untuk melanjutkan ajaran gurunya. Nabi melantiknya dan melingkarkan serban hitam (al-sahab) di kepalanya. “Man kuntu mawlah, fa `aliyun mawlah,” seru Rasulullah saw. di depan puluhan ribu jamaah haji. Sepanjang sejarah, ribuan orang saleh menggemakan ucapan Nabi itu: Man kuntu mawlah, fa `aliyun mawlah (Siapa yang menjadikan aku sebagai mawla-nya, hendaknya Ali pun men­jadi mawla-nya pula).

Apa arti mawla? Menurut kamus, mawla artinya pemimpin, pelindung, sahabat, kekasih. Secara singkat, mawla berarti rujukan. Siapa yang merujuk kepada Rasulullah saw. dalam pikiran dan perilaku hendaknya merujuk juga kepada Ali. Mazhab Ali adalah mazhab Rasulullah saw. “Hai Ali, kedudukanmu terhadapku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa a.s.,” kata Nabi meyakin­kan Ali dan setiap kaum Mukmin.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.