Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso”
Beragama yang Tidak Korupsi
Oleh: Faisal
Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?“
Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.
“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.
“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang
memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid,
melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat,
baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
Ekstrinsik VS Intrinsik
Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.
Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.
Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.
Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.
Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.
Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.
Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.
Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama. [ed.AYS]
Sumber: Jalal Center
DIarsipkan di bawah: Artikel Islam, Renungan

Semoga qt mau berintropeksi dengannya.
Assalamu alaikum Wr Wb,
Pertama tama saya mau perkenalkan diri saya, Nama Ali Sugiono, saya sudah menjadi Islam sejak kecil karena kedua orang tua saya Islam, Alhamdulillah saya sangat sangat bersyukur atas kodrat ini. Saya tidak punya latar pendidikan agama, jadi belajar agama dari sekolah umum sampe perguruan tinggi, lantas selebihnya belajar sendiri dari buku buku. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan Emha Ainun terutama rujukan kepada pendapat diluar Islam, seperti Gordon Alport atau Leo Tostoy. Orang Islam tidak bisa merujuk kepada pendapat orang orang non islam, saya setuju bahwa masih banyak orang orang Islam yang kurang memperhatikan keadaan sosial ekonomi sekitarnya sementara dia berlebihan secara ekonomi, tetapi kita tidak bisa bilang orang yang suka beramal, tidak korupsi dan penuh kasih sayang, itulah yang sesungguhnya orang sembahyang dan membaca Al Quran. Orang orang non islam banyak yang suka beramal, kasih sayang. apa mereka disebut sembahyang dan baca Al Quran. Come on… This is rubbish. Wama kholaktul jinnah wal insan illah liyya budu’ Tidak lah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk memnyembahku. Pernyataan saudara Emha sangat berbahaya yang menyamakan semua agama. I am sorry, although I am not educated in Muslim school, but I can not take this. Orang Islam kok bangga dengan merujuk pendapat pendapat non muslim…. saya bukan benci kepada orang yang bukan Islam tetapi orang yang bukan Islam harus di beritahu bahwa Inna dinna indalahil islam. orang Islam yang tidak memperhatikan sekelilingnya adalah salah, tetapi lebih salah lagi kalo sudah kaya malah jauh dari melakukan sholat. jadi biar kita tidak korupsi dan penyayang kepada orang lain tetapi dahinya tidak pernah sujud menyembah Allah S.W.T yang satu dan tidak pernah berikrar syahadat maka dia pasti masuk nereka.
Wassallam,
Ali Sugiono
sugiono_ali@yahoo.co.id
Kebanyakan dari kita memang diajarkan agama hanya syariatnya saja jadi yang kita kejar hanya mencari sorga dan pahala, tapi jika kita sudah tahu hakikat, ma’rifat dan tarekatnya anda2 semua akan setuju dengan pendapat Cak Nun. Meskipun saya baru belajar hakikatnya masih sangat sedikit sekali tapi saya setuju dengan pendapat Cak Nun.
SAUDARA ALI SUGIONO,
CETEK BANGET PIKIRAN LU. ISLAM LU LEVEL-NYA MASIH NDESO & KATRO’
Tidak setuju dan tidak sependapat dengan statemen Emha, syah syah saja. Halal ! Namun perlu koreksi diri untuk sdr Sugiono supaya belajar kepada ALI bin ABI THALIB dulu, beliaulah GErbangnya Ilmu. Dan saya yain EMHA sangat belajar dari Ilmu-ilmu ALI. Jadi bukan dari ALI SUGIONO !! Karena Ali tidak ingin Sugih, tapi ALLOH yang menyugihkan KARENA AMALAN ILMUnya dan semoga ALLOH tidak menyugihkan Ali yang ini yang hanya kepingin sugih….ali sugiono, arab jawa, jawa arab. Katro pisan…elu no no…li.. li…(ma’af disensor)..
@Mas Goodrill
salam, ma’af mas ya, tolong gunakan bahasa yang sopan, makasih atas kunjungannya!
Sungguh aneh dan berlebihan tanggapan dari mas akulelaki dan mas goodrill ini, kalau saya baca sepertinya mas ali sugiono ini hanya salah paham atas tulisan MH diatas, jadi kalau mau domentari itu salah pahamnya itu aja, jangan dicaci maki segala, kaya orang-2 wahabi yang kalang kabut kalau nabinya ( Ibnu thaymiah dan Muhammad bin abdul wahab) di salahkan orang.
kepada
ali sugiona
rasanya tidak layak jika kita membeda-bedakan orang, dalam konteks ini adalah kapasitas intelektual dan aktualnya wacana. kenapa kita harus malu merujuk pada kaum nonmuslim yang, terlepas tujuannya apa, kontekstual. wong gusti allah saja bilang innalladziinaamanu walladzi na haadu wannashoro wasshobi’iina MAN AMANA, kenapa kita yang tarafnya masih kutu kodok berani mengklaim mana salah, mana benar, mana yang patut mana yang gombalmukiyo.
wong hadis juga ada yang bunyinya ada CINA lha emang cina itu muslim semua? ya nda’. hanya rasul SAW menganjurkan ke cina mempelajari ekonomi. menganut pada konteks yang tebih klik gitu lho, mas
nuwuun
Wah, saya ketemu orang-orang hebat di sini, pagi ini.
Pertama, saya setuju pendapat cak Nun.
Lalu terperangah membaca comment-nya Sugiono. Saya berpendapat, Sugiono dalam hal ini berkata lugas, sederhana, tetapi benar,
Sayang sekali, gaya bahasa Cak Nun yang simpatik, gaya bahasa Sugiono yang low profile, direspon dengan gaya JIL oleh “akulelaki” dan Gudril dengan kasar dan menjijikkan, khas JIL.
Lalu space ini disejukkan oleh mbak Suci (perempuan ‘kan?) – tengkyu banget, Mbak. tapi menurut saya, Mas Giono tidak salah paham kok. Malah jeli, karena ia melihat lubang yang tidak dilihat oleh saya, gudril, dan kebanyakan kita.
Saya selalu heran mengapa orang pinter macam arriyona suka alergi pada islam yang konservatif ala sugiono atau saya… jangan2 ini seperti yang dikatakan Quran, “orang2 kafir itu berkata, ‘apakah aku harus beriman sebagaimana orang2 bodoh itu beriman?”
coba berfikir lebih matang lagi, banyak ikut kajian islam, fahami alqur’an. jangan terjebak menjadi munafik. katakan yg benar adalah benar
Saya sangat setuju dengan tulisan Cak Nun. Dan sebenarnya kalau kita setuju dengan tulisan beliau, berarti kita tidak bisa menyalahkan mr. Ali Sugiono. Karena prinsip tulisan Cak Nun adalah tentang CINTA KASIH. Jadi sangat aneh, setelah setuju dengan tulisan cak nun, lantas berbantahan dengan mr. ali sugiono. Rasanya itu kurang mencerminkan makna dari CINTA KASIH yang dimaksud CAK NUN.
Kebenaran yang kita yakini bukan berarti lantas menyalahkan yang lain ataupun memaksakan kebenaran kita kepada orang lain.
weleh-weleh, mbok ampun dho eyel-eyelan to dab….sing santai gitu lho….sing ayem wae….islam itu keselamatan, penganut sejatinya adalah orang yang tentu paham benar darimana keselamatan, kembali kemana keselamatan, bagaimana keselamatan… muslim sejati akan akan terasa ayem kita didekatnya, akan tenteram kita mendengarnya bicara, akan aman kita dari tingkah lakunya, nyaman berinteraksi dengannya…. insan yang begini yang mudah diomongkan tapi sulit sekali di wujudkan…mbok ayo sama-sama sinau, sama-sama noto ati. ora sah saling menjelekkan. matur nuwun.
Ass,
Semoga keselamatan buat kita semua umat Islam, kenapa kita harus menanggapi sesuatu dengan kata-kata yang kasar,setiap orang punya pemikiran masing2 dan biarlah dia mencari kebenaran menurut dia, kita tidak akan pernah bisa merubah orang lain selama orang itu tidak ingin berubah dan bagaimana orang itu akan mengikuti pemikiran kita kalau kita memaksa dengan kata2 kasar, kalau tahu dicubit itu sakit janganlah mencubit, itu pelajaran yang saya dapatkan selama saya hidup, semoga bisa menjadi bahan renungan, terimakasih
Wassalam
@ Mas Ali Sugiono.
Assalamualaikum Mas Ali,
Dalam Qur’an jelas disebutkan bahwa:
(1) Allah memberi petunjuk kepada mereka yang dikehendaki-Nya, dan Allah menyesatkan mereka yang dikehendaki-Nya.
(2) Allah bisa saja membuat SELURUH manusia menjadi muslim, tapi itu SENGAJA TIDAK dilakukan-Nya, sebagai ujian/cobaan bagi manusia itu sendiri.
(3) Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
(4) Setiap perbuatan akan mendapat balasan sekecil apapun.
(5) “untukku agamaku dan untukmu agamamu”
Menurut pendapat saya yang bodoh ini, dari situ kita dapat menyimpulkan beberapa hal:
(1) Kalau seseorang memang TIDAK dikehendaki Allah untuk mendapat petunjuk atau menjadi muslim, bukankah itu sama dengan Allah memang “mentakdirkan” orang tsb untuk “sesat”? Tapi, karena Allah Maha Adil, tentu setiap perbuatan baik yang dilakukan orang itu tetap akan ada perhitungannya bukan?
(2) Ibaratnya: surga/ridha Allah adalah “garis finish” penuh “piala”. Dan agama adalah “kendaraan”.
Bagi saya, Islam adalah “kendaraan tercepat di seluruh alam semesta” untuk mencapai “finish” dan meraih “juara pertama”.
Bagaimanapun, setiap manusia mempunyai fitrah berupa “rasa membutuhkan Tuhan” (yg dalam sains disebut spiritual intelligent, godspot, dsb.). Jadi apapun “kendaraan” yang digunakan, tujuannya adalah mendekati “Tuhan”.
Tentu saja, dalam hal ini agama TIDAK bisa disamakan. Jadi, Islam adalah agama dengan “teknologi” paling canggih dan paling cepat karena memang “paling baru” / mutakhir, sedangkan agama lain teknologinya jelas dibelakang.
Tapi, itu BUKAN berarti bahwa mereka TIDAK bisa mencapai “finish”, menurut saya “kendaraan” lain bisa saja sampai di garis finish, walaupun di “urutan belakang” dengan “trophy pas-pasan”.
(3) Jadi, adalah ANEH dan MEMALUKAN kalau ada muslim (yang sdh diberi teknologi pamungkas itu) masih “kalah” dengan yang non-muslim saat “berlomba-lomba melakukan kebaikan” ‘kan?
(4) Makanya, saya sangat bisa memaklumi dan mengerti maksud ucapan Cak Nun diatas. Lagipula, bukankah orang yang rajin ibadah tapi juga rajin berbuat dosa itu masuk kategori orang fasik? Bukankah itu sama saja dengan “mempermainkan” Allah?
(5) Intinya adalah: ibadah (syariat) merupakan sebuah metode untuk memproses kita menjadi manusia paripurna, yaitu manusia berakhlak mulia (sebagaimana juga dalam Qur’an: bahwa Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak dan bahwa Rasulullah yang berakhlak mulia adalah teladan bagi umat beliau).
(6) Nah, kalau dalam keadaan rajin ibadah ternyata masih juga gemar berdosa, bukankah itu hanya akan menjadikan kita “serendah-rendahnya makhluk” dan gagal menjadi “sebaik-baiknya makhluk”??
@ Mas Ali Sugiono.
Assalamualaikum Mas Ali,
Dalam Qur’an jelas disebutkan bahwa:
(1) Allah memberi petunjuk kepada mereka yang dikehendaki-Nya, dan Allah menyesatkan mereka yang dikehendaki-Nya.
(2) Allah bisa saja membuat SELURUH manusia menjadi muslim, tapi itu SENGAJA TIDAK dilakukan-Nya, sebagai ujian/cobaan bagi manusia itu sendiri.
(3) Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
(4) Setiap perbuatan akan mendapat balasan sekecil apapun.
(5) “untukku agamaku dan untukmu agamamu”
Menurut pendapat saya yang bodoh ini, dari situ kita dapat menyimpulkan beberapa hal:
(1) Kalau seseorang memang TIDAK dikehendaki Allah untuk mendapat petunjuk atau menjadi muslim, bukankah itu sama dengan Allah memang “mentakdirkan” orang tsb untuk “sesat”? Tapi, karena Allah Maha Adil, tentu setiap perbuatan baik yang dilakukan orang itu tetap akan ada perhitungannya bukan?
(2) Ibaratnya: surga/ridha Allah adalah “garis finish” penuh “piala”. Dan agama adalah “kendaraan”.
Bagi saya, Islam adalah “kendaraan tercepat di seluruh alam semesta” untuk mencapai “finish” dan meraih “juara pertama”.
Bagaimanapun, setiap manusia mempunyai fitrah berupa “rasa membutuhkan Tuhan” (yg dalam sains disebut spiritual intelligent, godspot, dsb.). Jadi apapun “kendaraan” yang digunakan, tujuannya adalah mendekati “Tuhan”.
Tentu saja, dalam hal ini agama TIDAK bisa disamakan. Jadi, Islam adalah agama dengan “teknologi” paling canggih dan paling cepat karena memang “paling baru” / mutakhir, sedangkan agama lain teknologinya jelas dibelakang.
Tapi, itu BUKAN berarti bahwa mereka TIDAK bisa mencapai “finish”, menurut saya “kendaraan” lain bisa saja sampai di garis finish, walaupun di “urutan belakang” dengan “trophy pas-pasan”.
(3) Jadi, adalah ANEH dan MEMALUKAN kalau ada muslim (yang sdh diberi teknologi pamungkas itu) masih “kalah” dengan yang non-muslim saat “berlomba-lomba melakukan kebaikan” ‘kan?
(4) Makanya, saya sangat bisa memaklumi dan mengerti maksud ucapan Cak Nun diatas. Lagipula, bukankah orang yang rajin ibadah tapi juga rajin berbuat dosa itu masuk kategori orang fasik? Bukankah itu sama saja dengan “mempermainkan” Allah?
(5) Intinya adalah: ibadah (syariat) merupakan sebuah metode untuk memproses kita menjadi manusia paripurna, yaitu manusia berakhlak mulia (sebagaimana juga dalam Qur’an: bahwa Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak dan bahwa Rasulullah yang berakhlak mulia adalah teladan bagi umat beliau).
(6) Nah, kalau dalam keadaan rajin ibadah ternyata masih juga gemar berdosa, bukankah itu hanya akan menjadikan kita “serendah-rendahnya makhluk” dan gagal menjadi “sebaik-baiknya makhluk”??
Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan di hati Mas Ali. Maklum, saya masih harus sangat-sangat banyak belajar.
Wassalam
b0nK
Artikelnya bagus, sarat dengan pesan moral dan ilmu. Allah tidak pernah pilih kasih dalam menurunkan hikmah berupa ilmu kepada semua manusia, pun manusia itu bukan beragama Islam sekalipun. Rujukan yang kita ambil baik dari orang Islam atau non Islam menurut hemat saya syah2 saja, karena semua ilmu datangnya dari Allah. Ketika Allah dulu menyemayamkan ilmu ke kening Soichiro Honda kemudian dengan hikmah tersebut terciptalah mesin honda yang kita kenal sekarang dan bermanfaat bagi orang banyak didunia adalah bukti bahwa ilmu dan cinta kasih Allah tidak pernah pilih kasih.
Islam adalah akhlaq. Akhlaq mengajarkan bahwa cinta kasih tidak pernah memihak kepada siapapun. Artikel diatas seperti mengatakan “maknailah islam-mu dengan makna yang sesungguhnya, yaitu bersikap adil kepada sesama (lingkungan) dan kepada Tuhanmu (Allah)” karena keduanya adalah bentuk realis dari ibadah yang diajarkan Allah.
cak nun adalah seorang budayawan yang ngiyaini. sebagai seorang budayawan beliau sangat kental terlihat lewat bahasa-bahasanya yang sangat berestetika, oleh karena itu saya sangat tertarik ketika membacanya artikel-artikel yang ditulisnya. belum lagi soal isinya. menurut saya beliau adalah cendekiawan muslim abad ini. cerdas boleh dibilang begitu. pokoknya akulah penggemar barunya. salam buat penggemar lainnya.
@All :
mohon maaf, ANDA SEMUA gak usah nyalah-nyalahkan orang lain…
dan saya sendiri nulis inipun belum tentu benar…
adanya benar dan salah itu RELATIF.
dan alqur’an pun belum tentu benar jika digunakan oleh orang yg tidak benar.
=========
Oya perlu diingat, bahwa apa saja yang dituturkan Emha, atau dalam tulisannya emha, jangan langsung ditelan begitu saja. itu perlu adanya Ijtihad dan proses. sudah……..
jadi, semua yg keluar dari Emha, haruslah diProsesi lagi. hingga melahirkan ILMU bagi kita.
wiss ngunu ae rek………
sepurane kabehhh……..
nuwun sewu seblumnya, kalo yang beginian tolong jangan diposting di blog gan, bahaya! kalo di baca newbie bisa salah kaprah pengertiannya.