Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso”

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso”
Beragama yang Tidak Korupsi

Oleh: Faisal

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu:  pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.
“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.
“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang
memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga  harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid,
melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit,  dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.  Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat,
baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik VS Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.  Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.
Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.  Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.  Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri.  Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.  [ed.AYS]

Sumber: Jalal Center

74 Tanggapan

  1. Semoga qt mau berintropeksi dengannya.

  2. Assalamu alaikum Wr Wb,

    Pertama tama saya mau perkenalkan diri saya, Nama Ali Sugiono, saya sudah menjadi Islam sejak kecil karena kedua orang tua saya Islam, Alhamdulillah saya sangat sangat bersyukur atas kodrat ini. Saya tidak punya latar pendidikan agama, jadi belajar agama dari sekolah umum sampe perguruan tinggi, lantas selebihnya belajar sendiri dari buku buku. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan Emha Ainun terutama rujukan kepada pendapat diluar Islam, seperti Gordon Alport atau Leo Tostoy. Orang Islam tidak bisa merujuk kepada pendapat orang orang non islam, saya setuju bahwa masih banyak orang orang Islam yang kurang memperhatikan keadaan sosial ekonomi sekitarnya sementara dia berlebihan secara ekonomi, tetapi kita tidak bisa bilang orang yang suka beramal, tidak korupsi dan penuh kasih sayang, itulah yang sesungguhnya orang sembahyang dan membaca Al Quran. Orang orang non islam banyak yang suka beramal, kasih sayang. apa mereka disebut sembahyang dan baca Al Quran. Come on… This is rubbish. Wama kholaktul jinnah wal insan illah liyya budu’ Tidak lah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk memnyembahku. Pernyataan saudara Emha sangat berbahaya yang menyamakan semua agama. I am sorry, although I am not educated in Muslim school, but I can not take this. Orang Islam kok bangga dengan merujuk pendapat pendapat non muslim…. saya bukan benci kepada orang yang bukan Islam tetapi orang yang bukan Islam harus di beritahu bahwa Inna dinna indalahil islam. orang Islam yang tidak memperhatikan sekelilingnya adalah salah, tetapi lebih salah lagi kalo sudah kaya malah jauh dari melakukan sholat. jadi biar kita tidak korupsi dan penyayang kepada orang lain tetapi dahinya tidak pernah sujud menyembah Allah S.W.T yang satu dan tidak pernah berikrar syahadat maka dia pasti masuk nereka.

    Wassallam,

    Ali Sugiono
    sugiono_ali@yahoo.co.id

    • Memang Cak Nun itu sudah sampai maqom/taraf ma’rifat jadi kebanyakan dafi kita kadang-kadang sulit untuk mencerna pemikiran/tulisanya, itulah islamnya orang jawa.

      • assalamualaikum warohmah…mf mungkin butuh pembetulan sdkit tentang statemen mas, cz maqom hakekat dan ma’rifat yang bisa merasakan pelakunya bukan orang lain dan maqom iru tak bisa di jelaskan itu sudah undang-undang dalam kitab Ihya’ Ulumuddin…tingkatan itu tak terbatas…yang tau wali Alloh hanya Alloh dan para Wali juga, orang awam tak akn tau…slh stu conth mungkin itu mf apabila ada slah2 kata yang kurang berkenan

      • saya kira pendapat saudara di atas,,bisa di mengerti tp lebih baik kita telaah lebih jauh apa itu arti sembahyang dan baca al qur’an yg sebenarnya,,,,masalah merujuk pendapat dr manapun asalnya bila itu bs di terima dg hati tdk ada slhnya,,walaupun dr orang yg keliatan gila sekalipun,,,mks

    • knp kita harus egois dgn ilmu,ilmu datang dari mana saja tidak hanya dari islam saja bahkan dari orang gilapun bila itu terdapat ilmu yang bermanfaat harus kita ambil seperti yang di contohkan filusup muslim(ibnu sina,ibnu rus dll) dulu banyak yang mengambil atau merujuk dari non muslim(descrates,tales,plato.bahkan karlmark).. bahkan sejauh ini kita harus waspada dngan penumpang2 gelap islam(mui) yang bisa menghancurkan islam(sampang)itu sendiri

    • Mas Ali Sugiono yth , perkenankan saya bilang ” Sampeyan masih membutuhkan waktu untuk mencerna tulisan Emha Ainun Najib”…… It takes time for you to understand ……

  3. Kebanyakan dari kita memang diajarkan agama hanya syariatnya saja jadi yang kita kejar hanya mencari sorga dan pahala, tapi jika kita sudah tahu hakikat, ma’rifat dan tarekatnya anda2 semua akan setuju dengan pendapat Cak Nun. Meskipun saya baru belajar hakikatnya masih sangat sedikit sekali tapi saya setuju dengan pendapat Cak Nun.

    • ini artinya dwi kunthi maqamnya sdh sm dgn mh ,sebab anda sdh setuju,berarti anda sdh mengerti.kan anda bilang klo yg tdk mengerti hakikat,tarikat dan ma’rifat tdk akn phm atau setuju. waaaaaah.. hbt jg ya anda sdh phm dg keilmuan mh. pendapat2 nyleneh kok di dukung…..

    • assalamualaikum warohmah wabarokah mbk…mf sebelumnya low ada kata-kata saya yang kurang berkenan.

      syareat tanpo hakekat itu berlubang, hakekat tanpa syareat itu batal. qita bisa contohkan anak sekolah, tak bisa kita langsung belajar ke tingkat yang lbh tinggi jika kita tak mulai dasar. syareat dengan hakekat selalu berbenturan tapi tujuannya sama dan kisah nabi khidir dg nabi musa adlah lambang yang tepat untuk bahasan ini. gak mungkin mendapatkan inti sari vitaminnya kalau gak membuka kulitnya dulu,,,? so……? semangat mbk dalam menyelami ilmunyaNya.

  4. SAUDARA ALI SUGIONO,

    CETEK BANGET PIKIRAN LU. ISLAM LU LEVEL-NYA MASIH NDESO & KATRO’

  5. Tidak setuju dan tidak sependapat dengan statemen Emha, syah syah saja. Halal ! Namun perlu koreksi diri untuk sdr Sugiono supaya belajar kepada ALI bin ABI THALIB dulu, beliaulah GErbangnya Ilmu. Dan saya yain EMHA sangat belajar dari Ilmu-ilmu ALI. Jadi bukan dari ALI SUGIONO !! Karena Ali tidak ingin Sugih, tapi ALLOH yang menyugihkan KARENA AMALAN ILMUnya dan semoga ALLOH tidak menyugihkan Ali yang ini yang hanya kepingin sugih….ali sugiono, arab jawa, jawa arab. Katro pisan…elu no no…li.. li…(ma’af disensor)..

  6. @Mas Goodrill

    salam, ma’af mas ya, tolong gunakan bahasa yang sopan, makasih atas kunjungannya!

  7. Sungguh aneh dan berlebihan tanggapan dari mas akulelaki dan mas goodrill ini, kalau saya baca sepertinya mas ali sugiono ini hanya salah paham atas tulisan MH diatas, jadi kalau mau domentari itu salah pahamnya itu aja, jangan dicaci maki segala, kaya orang-2 wahabi yang kalang kabut kalau nabinya ( Ibnu thaymiah dan Muhammad bin abdul wahab) di salahkan orang.

    • waduh..ini ada yg lbh aneh lgi… menuduh kelompok lain dg nb selain muhammad saw. ini sm artinya dg mengkfrkan mrk. mbok ya hati2 klo bikin statemen itu. jgn nyakitin klompok lain…bgt mbak suci apa mas suci ini…

  8. kepada
    ali sugiona

    rasanya tidak layak jika kita membeda-bedakan orang, dalam konteks ini adalah kapasitas intelektual dan aktualnya wacana. kenapa kita harus malu merujuk pada kaum nonmuslim yang, terlepas tujuannya apa, kontekstual. wong gusti allah saja bilang innalladziinaamanu walladzi na haadu wannashoro wasshobi’iina MAN AMANA, kenapa kita yang tarafnya masih kutu kodok berani mengklaim mana salah, mana benar, mana yang patut mana yang gombalmukiyo.
    wong hadis juga ada yang bunyinya ada CINA lha emang cina itu muslim semua? ya nda’. hanya rasul SAW menganjurkan ke cina mempelajari ekonomi. menganut pada konteks yang tebih klik gitu lho, mas
    nuwuun

  9. Wah, saya ketemu orang-orang hebat di sini, pagi ini.
    Pertama, saya setuju pendapat cak Nun.
    Lalu terperangah membaca comment-nya Sugiono. Saya berpendapat, Sugiono dalam hal ini berkata lugas, sederhana, tetapi benar,
    Sayang sekali, gaya bahasa Cak Nun yang simpatik, gaya bahasa Sugiono yang low profile, direspon dengan gaya JIL oleh “akulelaki” dan Gudril dengan kasar dan menjijikkan, khas JIL.
    Lalu space ini disejukkan oleh mbak Suci (perempuan ‘kan?) – tengkyu banget, Mbak. tapi menurut saya, Mas Giono tidak salah paham kok. Malah jeli, karena ia melihat lubang yang tidak dilihat oleh saya, gudril, dan kebanyakan kita.
    Saya selalu heran mengapa orang pinter macam arriyona suka alergi pada islam yang konservatif ala sugiono atau saya… jangan2 ini seperti yang dikatakan Quran, “orang2 kafir itu berkata, ‘apakah aku harus beriman sebagaimana orang2 bodoh itu beriman?”

  10. coba berfikir lebih matang lagi, banyak ikut kajian islam, fahami alqur’an. jangan terjebak menjadi munafik. katakan yg benar adalah benar

  11. Saya sangat setuju dengan tulisan Cak Nun. Dan sebenarnya kalau kita setuju dengan tulisan beliau, berarti kita tidak bisa menyalahkan mr. Ali Sugiono. Karena prinsip tulisan Cak Nun adalah tentang CINTA KASIH. Jadi sangat aneh, setelah setuju dengan tulisan cak nun, lantas berbantahan dengan mr. ali sugiono. Rasanya itu kurang mencerminkan makna dari CINTA KASIH yang dimaksud CAK NUN.

    Kebenaran yang kita yakini bukan berarti lantas menyalahkan yang lain ataupun memaksakan kebenaran kita kepada orang lain.

  12. weleh-weleh, mbok ampun dho eyel-eyelan to dab….sing santai gitu lho….sing ayem wae….islam itu keselamatan, penganut sejatinya adalah orang yang tentu paham benar darimana keselamatan, kembali kemana keselamatan, bagaimana keselamatan… muslim sejati akan akan terasa ayem kita didekatnya, akan tenteram kita mendengarnya bicara, akan aman kita dari tingkah lakunya, nyaman berinteraksi dengannya…. insan yang begini yang mudah diomongkan tapi sulit sekali di wujudkan…mbok ayo sama-sama sinau, sama-sama noto ati. ora sah saling menjelekkan. matur nuwun.

  13. Ass,

    Semoga keselamatan buat kita semua umat Islam, kenapa kita harus menanggapi sesuatu dengan kata-kata yang kasar,setiap orang punya pemikiran masing2 dan biarlah dia mencari kebenaran menurut dia, kita tidak akan pernah bisa merubah orang lain selama orang itu tidak ingin berubah dan bagaimana orang itu akan mengikuti pemikiran kita kalau kita memaksa dengan kata2 kasar, kalau tahu dicubit itu sakit janganlah mencubit, itu pelajaran yang saya dapatkan selama saya hidup, semoga bisa menjadi bahan renungan, terimakasih

    Wassalam

  14. @ Mas Ali Sugiono.

    Assalamualaikum Mas Ali,

    Dalam Qur’an jelas disebutkan bahwa:

    (1) Allah memberi petunjuk kepada mereka yang dikehendaki-Nya, dan Allah menyesatkan mereka yang dikehendaki-Nya.
    (2) Allah bisa saja membuat SELURUH manusia menjadi muslim, tapi itu SENGAJA TIDAK dilakukan-Nya, sebagai ujian/cobaan bagi manusia itu sendiri.
    (3) Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    (4) Setiap perbuatan akan mendapat balasan sekecil apapun.
    (5) “untukku agamaku dan untukmu agamamu”

    Menurut pendapat saya yang bodoh ini, dari situ kita dapat menyimpulkan beberapa hal:

    (1) Kalau seseorang memang TIDAK dikehendaki Allah untuk mendapat petunjuk atau menjadi muslim, bukankah itu sama dengan Allah memang “mentakdirkan” orang tsb untuk “sesat”? Tapi, karena Allah Maha Adil, tentu setiap perbuatan baik yang dilakukan orang itu tetap akan ada perhitungannya bukan?
    (2) Ibaratnya: surga/ridha Allah adalah “garis finish” penuh “piala”. Dan agama adalah “kendaraan”.
    Bagi saya, Islam adalah “kendaraan tercepat di seluruh alam semesta” untuk mencapai “finish” dan meraih “juara pertama”.
    Bagaimanapun, setiap manusia mempunyai fitrah berupa “rasa membutuhkan Tuhan” (yg dalam sains disebut spiritual intelligent, godspot, dsb.). Jadi apapun “kendaraan” yang digunakan, tujuannya adalah mendekati “Tuhan”.
    Tentu saja, dalam hal ini agama TIDAK bisa disamakan. Jadi, Islam adalah agama dengan “teknologi” paling canggih dan paling cepat karena memang “paling baru” / mutakhir, sedangkan agama lain teknologinya jelas dibelakang.
    Tapi, itu BUKAN berarti bahwa mereka TIDAK bisa mencapai “finish”, menurut saya “kendaraan” lain bisa saja sampai di garis finish, walaupun di “urutan belakang” dengan “trophy pas-pasan”.
    (3) Jadi, adalah ANEH dan MEMALUKAN kalau ada muslim (yang sdh diberi teknologi pamungkas itu) masih “kalah” dengan yang non-muslim saat “berlomba-lomba melakukan kebaikan” ‘kan?
    (4) Makanya, saya sangat bisa memaklumi dan mengerti maksud ucapan Cak Nun diatas. Lagipula, bukankah orang yang rajin ibadah tapi juga rajin berbuat dosa itu masuk kategori orang fasik? Bukankah itu sama saja dengan “mempermainkan” Allah?
    (5) Intinya adalah: ibadah (syariat) merupakan sebuah metode untuk memproses kita menjadi manusia paripurna, yaitu manusia berakhlak mulia (sebagaimana juga dalam Qur’an: bahwa Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak dan bahwa Rasulullah yang berakhlak mulia adalah teladan bagi umat beliau).
    (6) Nah, kalau dalam keadaan rajin ibadah ternyata masih juga gemar berdosa, bukankah itu hanya akan menjadikan kita “serendah-rendahnya makhluk” dan gagal menjadi “sebaik-baiknya makhluk”??

  15. @ Mas Ali Sugiono.

    Assalamualaikum Mas Ali,

    Dalam Qur’an jelas disebutkan bahwa:

    (1) Allah memberi petunjuk kepada mereka yang dikehendaki-Nya, dan Allah menyesatkan mereka yang dikehendaki-Nya.
    (2) Allah bisa saja membuat SELURUH manusia menjadi muslim, tapi itu SENGAJA TIDAK dilakukan-Nya, sebagai ujian/cobaan bagi manusia itu sendiri.
    (3) Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    (4) Setiap perbuatan akan mendapat balasan sekecil apapun.
    (5) “untukku agamaku dan untukmu agamamu”

    Menurut pendapat saya yang bodoh ini, dari situ kita dapat menyimpulkan beberapa hal:

    (1) Kalau seseorang memang TIDAK dikehendaki Allah untuk mendapat petunjuk atau menjadi muslim, bukankah itu sama dengan Allah memang “mentakdirkan” orang tsb untuk “sesat”? Tapi, karena Allah Maha Adil, tentu setiap perbuatan baik yang dilakukan orang itu tetap akan ada perhitungannya bukan?
    (2) Ibaratnya: surga/ridha Allah adalah “garis finish” penuh “piala”. Dan agama adalah “kendaraan”.
    Bagi saya, Islam adalah “kendaraan tercepat di seluruh alam semesta” untuk mencapai “finish” dan meraih “juara pertama”.
    Bagaimanapun, setiap manusia mempunyai fitrah berupa “rasa membutuhkan Tuhan” (yg dalam sains disebut spiritual intelligent, godspot, dsb.). Jadi apapun “kendaraan” yang digunakan, tujuannya adalah mendekati “Tuhan”.
    Tentu saja, dalam hal ini agama TIDAK bisa disamakan. Jadi, Islam adalah agama dengan “teknologi” paling canggih dan paling cepat karena memang “paling baru” / mutakhir, sedangkan agama lain teknologinya jelas dibelakang.
    Tapi, itu BUKAN berarti bahwa mereka TIDAK bisa mencapai “finish”, menurut saya “kendaraan” lain bisa saja sampai di garis finish, walaupun di “urutan belakang” dengan “trophy pas-pasan”.
    (3) Jadi, adalah ANEH dan MEMALUKAN kalau ada muslim (yang sdh diberi teknologi pamungkas itu) masih “kalah” dengan yang non-muslim saat “berlomba-lomba melakukan kebaikan” ‘kan?
    (4) Makanya, saya sangat bisa memaklumi dan mengerti maksud ucapan Cak Nun diatas. Lagipula, bukankah orang yang rajin ibadah tapi juga rajin berbuat dosa itu masuk kategori orang fasik? Bukankah itu sama saja dengan “mempermainkan” Allah?
    (5) Intinya adalah: ibadah (syariat) merupakan sebuah metode untuk memproses kita menjadi manusia paripurna, yaitu manusia berakhlak mulia (sebagaimana juga dalam Qur’an: bahwa Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak dan bahwa Rasulullah yang berakhlak mulia adalah teladan bagi umat beliau).
    (6) Nah, kalau dalam keadaan rajin ibadah ternyata masih juga gemar berdosa, bukankah itu hanya akan menjadikan kita “serendah-rendahnya makhluk” dan gagal menjadi “sebaik-baiknya makhluk”??

    Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan di hati Mas Ali. Maklum, saya masih harus sangat-sangat banyak belajar.

    Wassalam

    b0nK

  16. Artikelnya bagus, sarat dengan pesan moral dan ilmu. Allah tidak pernah pilih kasih dalam menurunkan hikmah berupa ilmu kepada semua manusia, pun manusia itu bukan beragama Islam sekalipun. Rujukan yang kita ambil baik dari orang Islam atau non Islam menurut hemat saya syah2 saja, karena semua ilmu datangnya dari Allah. Ketika Allah dulu menyemayamkan ilmu ke kening Soichiro Honda kemudian dengan hikmah tersebut terciptalah mesin honda yang kita kenal sekarang dan bermanfaat bagi orang banyak didunia adalah bukti bahwa ilmu dan cinta kasih Allah tidak pernah pilih kasih.

    Islam adalah akhlaq. Akhlaq mengajarkan bahwa cinta kasih tidak pernah memihak kepada siapapun. Artikel diatas seperti mengatakan “maknailah islam-mu dengan makna yang sesungguhnya, yaitu bersikap adil kepada sesama (lingkungan) dan kepada Tuhanmu (Allah)” karena keduanya adalah bentuk realis dari ibadah yang diajarkan Allah.

  17. cak nun adalah seorang budayawan yang ngiyaini. sebagai seorang budayawan beliau sangat kental terlihat lewat bahasa-bahasanya yang sangat berestetika, oleh karena itu saya sangat tertarik ketika membacanya artikel-artikel yang ditulisnya. belum lagi soal isinya. menurut saya beliau adalah cendekiawan muslim abad ini. cerdas boleh dibilang begitu. pokoknya akulah penggemar barunya. salam buat penggemar lainnya.

  18. @All :
    mohon maaf, ANDA SEMUA gak usah nyalah-nyalahkan orang lain…
    dan saya sendiri nulis inipun belum tentu benar…

    adanya benar dan salah itu RELATIF.

    dan alqur’an pun belum tentu benar jika digunakan oleh orang yg tidak benar.
    =========
    Oya perlu diingat, bahwa apa saja yang dituturkan Emha, atau dalam tulisannya emha, jangan langsung ditelan begitu saja. itu perlu adanya Ijtihad dan proses. sudah……..

    jadi, semua yg keluar dari Emha, haruslah diProsesi lagi. hingga melahirkan ILMU bagi kita.

    wiss ngunu ae rek………

    sepurane kabehhh……..

    • waduh, tolong diperjelas makd sampeyan “al quran pun belum tentu benar jk digunakan oleh orang yg tdk bnr” menurut sy dhof ini, al quran itu selalu dan pasti bnr,biarpun yg mempergunakan orang salah. tp yg salahkan ORANGNYA bukan al qurannya.

  19. nuwun sewu seblumnya, kalo yang beginian tolong jangan diposting di blog gan, bahaya! kalo di baca newbie bisa salah kaprah pengertiannya.

  20. @cak sun
    Kebenaran itu mutlak, yang datangnya dari Allah, bukan relatif. Adapun yang merelatifkannya adalah manusia. Maka dari itu memohonlah kepada-Nya agar selalu berada diatas jalan Al-Haq sampai ajal menjemput.

  21. Assalamualikum….
    Maaf kalo sy agak beda….
    Kalo saya melihatnya adalah benar semuanya dan ga ada yang salah….si Ali, si Dwi, Si Aku lelaki dll….
    coba pikir apa yang salah???
    Kan mereka bawa kualitas diri masing2 kan? coba kita Liat kualitas diri kita!!!!!! coba…!!!! kalo tau pasti Malu…..(“…”)
    Emang udah hebat, udah pinter, udah bersih, udah beriman and udah segal2nya? Kalo udah… apa Allah sudah mengakui semuanya? Tapi yang pasti Allah punya cara sndiri yang ga bakaln orang tau n bisa nyamain kekuasaan Allah….Biarlah itu Terserah Allah….

    Kenapa Rosulullah sll mnjga Wudhu, sholat dan sell melaksanakan sholat taubah?padahal Rosulullah hampir bs dipastikan InsyaAllah miniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiimmmmm sekali dosanya ato malah ga ada dosa…..coba kita berfikir bersama!!!

    Saya Setuju kalo Tulisan cak Nun jangan di telen bgitu aja….setuju banget…..toh semua yang ditulis cak Nun hanya sebatas sifatnya Keilmuan aja bukan jadi sebuah hadist……

    Tapi yang beginilah manusia, beginilah kesombongan, beginilah, kesabaran dll yang terjadi di dunia….Tp yang pasti Allah punya cara melihat MakhlukNya….

    Maaf kalo ada yang salah mohon dibetulin….tp yg baik mah kalo ada yang salah ya diingatkan bukan dihujat.

  22. semua merupakan sebuah proses dari diri dari masing2 pihak kearah yg lebih baik. peace semoga bermanfaat dan slalu mengaktualisasikan diri jangan ragu perbedaan semata kesamaan yg tertunda. selebihnya mengharapkan ridho Alloh swt saja.

  23. hehe…….99x

  24. ikan teri dalem kulkas…yg penting ikhlas..:D

  25. ini hanya sebuah pendapat klo ada yang tdk berkenan yo maap. Sebenarnya yg diungkapkan oleh cak nun mengandung pengertian yang dalam. intinya kita harus berbuat baik. kalau kita menjalankan syariat agama yo terapkanlah di kehidupan sehari-hari. begitu saja cak.

  26. Tuk pak ali sugiono…………coba kita tengok lagi sejarah RASULLULOH…..suatu malam ketika orang orang kafir mengejar ngejar Nabi MUh SAW…maka diperintahlah Nabi oleh pamannya ABU THOLIB untuk segera menghindar karna orang kafir sudah mulai mendekat kerumahnya……maka dg segala pertimbangan Nabi lalu menghindar. Dan saudara ali sugiono perhatikan ya….Abu Tholib lalu menggantikan Nabi berbaring di tempat tidur Nabi dengan berselimut milik Nabi…lalu datanglah orang kafir dan betapa kagetnya orang kafir itu ketika tidak mendapati Nabi dlm kamarnya,hanya ada Abu Tholib. SElamatlah Nabi. Dan Abu Tholib sampai ahir hayatnya belum BerSyahadat….Nota bine Abu tTholib masih kafir. Jangan Menilai orang lain belum tentu kita lebih baik dari mereka. Atau lebih jelasnya lagi bca Surat Al Maun. Neraka Wail bagi Orang yn SHOLAT …yaitu yg Sholat dalam…..WASSALAM.

  27. wah memang sebuah “PENCERAHAN” kita memangharus berpikiran dewasa dalam beribadah. and ingin banget rasanya selalu hadir dalam pengajian bulanan yang dipandu oleh EMHA ( Mocopat Syafa’at jogja).

  28. kebenaran mutlak itu ALLAH, selain itu adalah kebenaran semu

  29. Pesan Islam sudah jelas : hablimunallah dan habluminannas, vertikal dan horizontal, syariat dan hakikat, dunia dan akhirat, ritual dan sosial… Ingat Islam itu adalah mengajarkan keseimbangan, ajaran yang tiada duanya…

  30. Wah, rame..ga ah, ga akan comment, aku warga baru di sini, pengen liat dan pengen tau aza, hmmm..makin panas aza rek… saya jadi pengen tau, setinggi apa tumpukan buku di rumahnya…wkkkkk….

  31. Yang nggak habis mengerti lak de’e gak sembayang tapi hablumnase apik, karek habuminalloh, padahal yang dinilai pertama sholatnya, tapi yang dapat menghitung hanya Alloh, karena manusia nggak dapat menghitung secara matematik…..( jamaah PB Menturo di Lamongan)

  32. Tulsian Cak Nun memang harus di kupas dulu tdk bisa langsung ditelan.

  33. I love You FULL MH AINUN NADJIB
    ^_^ Heheheee

  34. setuju dengan cak nun 100%,okay

  35. Tidak usah pada ribut sendiri biarkan lah warna itu hitam,putih,dll,itu kan tetap warna,
    urus saja moral mu masing2,jangan menyalahkan satu sama
    lain!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!you know

  36. Tidak bisa bisa dinilai di atas kertas mana yang lebih baik… ? Menurut saya itu kondisional, tergantung situasi pada waktu orang tsb menghadapinya…
    Kalau secara teori diatas kertas, ibadah itu ya vertikal, ya horizontal…
    Yang mudah tidak usah dipersulit, yang tidak perlu tidak usah dibikin masalah….

  37. gak sah podo ngoreksi awak e wong liyo kabeh,koreksinen awak mu dewe??????ojo sok bener,okay

  38. yakinkan diri bahwa Allah Maha Melihat, masalah pahala dan dosa Allah yang menenukan kita sebagai manusia hanya menjalani dengan jalan yang telah di Gariskan Nya.

  39. Saya adalah termasuk orang yang sefaham dengan pak Ali tapi juga tidak sepenuhnya “menyalahkan” uraian dari Cak Nun…sebab bukankah sudah menjadi ketetapan (qath’i), bahwasananya agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam yang notabenenya “tata cara” peribadatannyapun sudah ditetentukan oleh Allah melalui Rasulullah S.A.W otomatis diluar itu tertolak semua…walau pun tidak bisa dipungkiri masih banyak dari kita (kaum muslimin) termasuk saya…belum bisa dikatakan sepenuhnya “sudah mengerjakan sholat” karena setelah itu kita masih melakukan perbuatan keji dan munkar…karena sesungguhnya kalau kita mau sedikit saja memaknai makna akan “sholat” bukankah itu adalah jalan yang ditunjuk Allah agar kita terhindar ai perbuatan keji dan munkar…dan lebih keji dan munkar lagi kalau kita melakukan “hablum minallah” diluar ajaran yang telah Allah tentukan…

  40. Assalamulaikum… Wr Wb

    Menurut saya, tidak ada yang salah dengan artikel Cak Nun. Saya tidak melihat Cak Nun menyuruh meninggalkan Sholat, Puasa, Haji, Baca Quran. Justru Cak Nun memberi penekanan semua syariat itu hendaknya menghasilkan Out Put yang tepat, jangan kalah sama orang orang yang tidak mengerjakan syariat tapi memiliki ahlak yang baik.

    Atau dengan kata lain. Ayo dong berlomba lomba menunjukkan ahlak yang baik, masa kalah dengan orang orang yang tidak mengerti syariat. Karena semua syariat itu salah satu tujuannya adalah pembinaan iman yang menghasilkan out put akhlak yang mulia.

    Salam

  41. Semua manusia itu ciptaan Allah SWT, Janganlah membaggakan golongan2 masing2.
    semua manusia sejajar, klo urusan surga dan neraka biar menjadi urusan Allah.

    to Ali Sugiono: Jika setiap tindakan langsung dengan kekerasan niscaya bumi ini akan cepet hancur, karna percuma ibadah tapi congkak.
    marilah kita bersabar, tersenyum,saling mengingatkan dengan cara yang ma’ruf.
    Klo kita orang islam contohlan Muhammad SAW, apakah dia pernah marah terus mencak2, mengumpat,dll….??? tentu tidak kan.

  42. hati hati mas smuanya, lidah bisa menuntun kita ke surga ataupun neraka. ghibah adalah salah satu nya.
    inilah indahnya kemajemukan.

  43. Menilai Cak Nun tidak bisa hanya melihat satu tulisan beliau. Pun-menilai benar salah sesuatu harus punya pembandingnya. tak ada salah manakala tak ada si benar. Keislaman itu kaffah. Benar prinsip, benar terapan. Benar personal benar sosial, akidah dan muamalah. Keislaman tidak hanya bersumber dari merely masyarakat islam… Kita boleh kok mengambil himkah dari orang non islam, dari binatang ataupun dari tumbuhan demi mencapai kesempurnaan keislaman itu.
    Naik haji kita pake pesawat, bawa hp, pake sendal.. dll. Bahkan “Peniti” kita dari Cina..!

    Anda wajib memakai al-quran dan al-hadist dalam bersikap dan mengaktualisasikan kebenaran. tetapi ketika belum juga ada contoh… ambilah dari masyarakat diluar islam hikmah itu.

    Misal… dalam masyarakat yahudi sangat kuat dalam “semangat” dan ikatan klan mereka. Ayo kita ambil “semangat” si yahudi itu dalam beragama islam kita.. bagaimana???
    Nggak paham juga???

  44. Sundul tulisan di atas… 100% mendukung urian dan tulisan di atas…

  45. assalamualaikum.. hebat ,luar biasa jika kita yakin atas kbnaran itu,,, pro kontra takkn terjati,,, intix kbnran adalah hak hakiki setiap mnusia yg di mnifestasikan lewat kjadian abadi mnusia,,,,, jdi fine2 ja

  46. assalamualaikum”
    saya sangat setuju dg ucapan emha ainun najib”
    agama adalah ibarat ilmu yg harus bisa di tempatkan di depan di belakang di atas dan di bawah,,,apalah arti kekusyukan ibadah kita kalau tidak di landasi dg tingkah laku dan etika yg sangat baik dan bermanfaat bagi sesama.

  47. saudaraku ali, semoga Allah menambahkan keimanan di dada mu, dan tetap menjaga langkahmu dijalan yang lurus untuk menegakkan islam yang sebenarnya, kebenaran itu mutlak, bagaimana rosullullah dibujuk oleh kaum kafir mekkah untuk mengikuti mereka, asal jangan menyampaikan wahyu dari Allah, jawaban rosulullah adalah ” meski kau berikan matahari ditangan kanan ku dan bulan ditangan kiriku, aku tidak akan berhenti untuk menyampaikan mana yang hak dan mana yang batil. artikel cak nun emang bagus, tapi ada yang perlu ditelaah lebih jauh, krn pabila dibaca oleh orang yang kurang faham maka akan menganggap agama itu sama, yang pentingberbuat baik, dan ibadah wajib seperti sholat itu nomor sekian. saudaraku semua, berhati-hatilah, penyakit pluralisme, sekularisme, liberalisme islam sudah menyebar. kita harus tahu mana yang haq mana yang batil. penyakit ini disebarkaan oleh kaum orientalis, yang ingin menghancurkan islam dari dalam, dan bahayanya lagi sudah merasuk di sebagian orang islam sendiri, smoga Allah menunjuki jalan yang benar buat kita, sesama muslim adalah saudara, tugas kita adalah saling mengingatka. ingat, tidak ada ajaran cinta kasih yang ada pengasih dan penyayang.

  48. ……orang indonesia pinter pinter ya??

  49. knp yg komen di sini terkesan mengeroyok argumen dr sdr Ali Sugiono,,buknkh di dlm negara demokrasi,,beda pendpt itu wjr,,di jamin olh UUD,,Emha Ainun Najib mmg budayawan bsr,,dan sy jg termasuk pengidola beliau,,nmn bkn berarti setiap pemikiran beliau terlarang untuk di kritisi,,tulisan dan ide pemikiran emha ainun najib bukan qur’an,,yg memiliki level kebenaran yg absolut,,di setiap ide dan pemikiran manusia,,psti ada lemahnya,,pasti pula ada benarnya,,pemikiran lemah tdk ada slhnya untuk di kritisi dan di perbaiki,,begitu jg dgn pemikiran yg bertabur kebenaran,,tdk di lrg untk di pertahankan,,ahli filsafat pernh bilang,,kebenaran itu relatif,,yg absolut itu kebenaran yg dtg dr agama atau dr qur’an,,

  50. 1.pendapat cak nun memang ga bisa ditelan bgt saja,maka solusinya GA PERLU DITELAN SEKALIAN, dr pada kelolodan. 2.pndapat mas ali pun jgn terlalu dirisaukan,blh2 saja kan beda pendapat sama orang terkenal sekalipun,macam cak nun itu. ga haram… 3.saya ingat salah satu puisi cak nun, yg baitnya bgni ” atau badan kita yg terlalu besar sementara jiwa kita agak kerdil, suka amat kita itu omong kosong ,basar kepala, ilmu kita tdk seberapa tp hati takabur..takabur..takabur..” ( opo hubungane yo sama komntarku ini ???? ga nyambung blas…nggo lucu2 wae mas…

  51. inilah islam, banyak pemahan dan pemikiran setelah perpulangnya Rosullullah…maka banyak sekali pemikiran – pemikiran tentang islam..dan saya kira perlu kita selalu berdiskusi untuk selalu menyatukan perbedaan pendapat tentang ketuhanan- keislaman…Inilah islam Rahmatan Lil Allamin…didebat tapi tetap dicari…toh intinya merujuk pada Qur’an dan Hadist..,tetapi juga perlu perangkat yg lain…artinya harus benar2 dicerna

  52. Semua adalah tergantung dr kemampuan daya pikir masing2. Semakin mampu daya pikir nya, dia akan lebih sering menggunakan hati daripada menggunakan akal

  53. wow, begitu aja report, mari kita belajar kembali kepada AlQuran, nggak perlu emosi dg orang lain, nanti kita memaksakan kehendak dosa kan, kita belajar dua hamba Allah di s.AlKahfi Nabi Musa dg Nabi Hidhir (samaran), musa diajak belajar dari Hidir , keduanya sadar utamanya Musa as, nggak mungkin sama ilmu hidir dg Musa as, musa menghargai hidir, dg kesabarannya, musa tdk pernah tahu apa maksudnya hidir merusak membunuh dan berbuat yg masyarakat tdk melakukannya, bingung Musa as, sampai tdk sabar melihat apa yang dilakukan Khidhir as, beliau hanya tersenyum tdk sabarnya Musa as, Musa nggak bakalsabar kamu ikutin aku, setelah dijelaskan barulah Nabi Musa faham. hikmah apa yang mampu kita serap. 1. keliru kita bila orang lain kita inginkan seperti diri kita. 2. tidaklah diri kita ingin menjadi orang lain, kita tidak berpendirian, biarlah apa yang dilakukan orang lain bertanggung jawab sendiri kepada Allah. 3. musa bukan hidhir dan khidir bukan Musa as, tdk akan pernah sama dlm mendapat petunjuk Allah sesuai dg kemasan kadarnya masing-masing, ok kan, mungkin kita tdk atau sedikit faham apa yg dikemukakan cak Nun, biarlah sdr kita sperti itu hebat cak nun dg gayanya ( nilai positip) kitapun punya dg gaya kita, pasti cak nun memahaminya hungga masing-masing bernilai ibadah (positif thingking), insya Allah hidup ini kita tdk akan pernah resah apapun yang dilakukan orang lain skalipun tdk sejalan dg fikiran kita, hanya tinggal menghargai saja. (Wala Tafarraquu) karena kita sedang ikat kuat-kuat tali Allah dalam hati kita. ingat pasti kita akn ketemu masalah apa yang dialami cak nun tp dlm versi yang berbeda krn kndisi berbeda, insya Allah pasti aman dan damai bila kita kembali kepada AlQuran, kita kan bertanggung jawab sendiri2 dihadapan Allah. dg kondisi selamat karena banyak amal sholeh yanng kita perbuat amin……..

  54. cak cak dak tahu..(pura pura dak tahu ah..)

    • Sedikit2 kok bawa2 surga dan neraka to..
      Kalau Allah memasukan saya ke neraka karena memberi makan 100 orang kafir yang kelaparan, saya tak milih masuk neraka saja tapi tetep memberi makan orang kafir yang membutuhkan itu. Toh neraka juga bertujuan baik kok, untuk “memfitrahkan” manusia kembali.
      O iya semua pendapat itu kan “pintu”, yang penting bukan warnanya, tapi tujuan pintu itu mengarah. Take it or leave it.

  55. Kalau boleh saling mengingatkan; sebenarnya salah dan benar itu semu. Yang abadi hanya Allah SWT. Menyalahkan dan membenarkan hanyalah tugas hakim. Dan Allah adalah Ahkamul hakimin. Hati-hati ketika selalu merasa benar! Sebab iblis adalah salah satu makhluk tertua yang tentunya banyak makan asam garam dan dia sangat pandai menghias kesalahan menjadi kebenaran di depan kita. Mintalah hidayah-Nya! Semoga kita menemukan kebenaran hakiki. Amin.

  56. Cak Nun itu menjawab dalam kapasitas pribadi yang terdesak untuk memilih satu dari tiga pilihan yang semuanya salah. Maka dia memilih yang paling sedikit salahnya dan yang paling dekat dengan hakikat agama. Dalam jerat kondisi semacam itulah jawaban beliau itu seharusnya dipahami.

  57. saya sgt se7dgn pmahaman mh memang pd hakikatnya semua agama adlh Islam tp bagi mereka yg mengerti apa devenisi Islam itu yg sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: