Sifat-Sifat Rasulullah Menurut Al-Qur’an
KH. Jalaluddin Rakhmat –
Saya ingin memulai tulisan ini dengan menyampaikan dua buah hadits tentang kecintaan kepada Rasulullah saw. Pertama, hadits yang masyhur diriwayatkan dalam kitab-kitab ahli sunnah, di antaranya dalam Al-Targhib wal Takhib, sebuah kitab hadits yang sangat populer di antara kita. Kedua, hadits yang dikutip dari Bihar Al-Anwar, kitab hadits yang cukup besar dan menjadi rujukan mazhab Ahlul Bayt.
Hadits yang pertama menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Rasulullah saw sedang berbincang-bincang dengan para sahabatnya, seorang pemuda datang mendekati Rasul sambil berkata, “Ya Rasulullah, aku mencintaimu.” Lalu Rasulullah saw berkata: “Kalau begitu, bunuh bapakmu!” Pemuda itu pergi untuk melaksanakan perintah Nabi. Kemudian Nabi memanggilnya kembali seraya berkata, “Aku tidak diutus untuk menyuruh orang berbuat dosa.” Aku hanya ingin tahu, apa betul kamu mencintai aku dengan kecintaan yang sesungguhnya?”
Tidak lama setelah itu, pemuda ini jatuh sakit dan pingsan. Rasulullah saw datang menjenguknya. Namun pemuda itu masih dalam keadaan tidak sadar. Nabi berkata, “Nanti kalau anak muda ini bangun, beritahu aku.” Rasululah saw kemudian kembali ke tempatnya. Lewat tengah malam pemuda itu bangun. Yang pertama kali ia tanyakan ialah apakah Rasulullah saw telah berkunjung kepadanya. Diceritakanlah kepada pemuda itu bahwa Rasulullah saw bukan saja berkunjung, tapi beliau juga berpesan agar diberitahu jika pemuda itu bangun. Pemuda itu berkata, “Tidak, jangan beritahukan Rasulullah saw. Bila Rasulullah harus pergi pada malam seperti ini, aku kuatir orang-orang Yahudi akan mengganggunya di perjalanan.” Segera setelah itu, pemuda itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Pagi hari usai shalat subuh, Rasulullah saw diberitahu tentang kematian pemuda itu. Rasul datang melayat jenazah pemuda itu dan berdo’a dengan do’a yang pendek tetapi sangat menyentuh hati, “Ya Allah, sambutlah Thalhah di sisi-Mu, Thalhah tersenyum kepada-Mu dan Engkau tersenyum kepadanya.”
Dengan hal itu Nabi menggambarkan kepada kita, bahwa orang yang mencintainya akan dido’akan oleh Nabi untuk berjumpa dengan Allah swt. Allah akan ridha kepadanya dan dia ridha kepada Allah, Radhiyyatan Mardhiyyah. Dia tersenyum melihat Allah dan Allah tersenyum melihatnya.
Hadits yang kedua mengisahkan seorang pedagang minyak goreng di Madinah. Setiap kali dia hendak pergi, termasuk pergi ke pasar, dia selalu melewati rumah Rasulullah saw. Dia selalu singgah di tempat itu sampai dia puas memandang wajah Rasul. Setelah itu ia pergi ke pasar. Suatu saatetelah melepaskan rindunya kepada Rasul, seperti biasanya ia pergi ke pasar. Tapi tidak berapa lama setelah itu, dia datang lagi. Nabi terkejut sehingga bertanya, “Kenapa kau balik lagi?” Ia menjawab, “Ya Rasulullah, setelah saya sampai di pasar hati saya gelisah. Saya ingin kembali lagi. Izinkan saya memandang Engkau sebentar saja untuk memuaskan kerinduan saya.” Kemudian Rasul berbincang-bincang dengan orang itu.
Tidak lama setelah itu Nabi tidak lagi melihat tukang minyak itu lewat di depan rumahnya. Berhari-hari orang itu tidak lagi kelihatan batang hidungnya di depan Rasulullah saw. Lalu Rasul mengajak sahabat-sahabatnya untuk menjenguk dia. Berangkatlah mereka ke pasar dan mendapat kabar bahwa orang itu telah meninggal dunia. Rupanya pertemuan sampai dua kali waktu itu merupakan isyarat bahwa dia tidak bisa lagi memandang wajah Rasulullah saw.
Rasul bertanya kepada orang-orang di pasar, “Bagaimana akhlak orang itu?” Mereka berkata, “Orang itu pedagang yang sangat jujur. Cuma ada sedikit saja, orang ini senang perempuan.” Kemudian Rasul berkata, “Sekiranya orang itu dalam dagangnya agak lancung sedikit, Allah akan mengampuni dosanya karena kecintaannya kepadaku.” Tetapi orang itu sangat jujur dan kecintaannya kepada Rasul dibuktikan dalam kejujurannya di dalam berdagang.
Dua hadits di atas menceritakan kepada kita tentang pentingnya mencintai Rasulullah saw. Sudah sering kita mendengar hadits yang berbunyi, “Belum beriman kamu sebelum aku lebih kamu cintai daripada dirimu, anak-anakmu, dan seluruh ummat manusia.”
Kita semua diperintahkan mencintai Rasulullah saw. Mencintai Rasul merupakan bagian dari seluruh bangunan keislaman kita. Oleh karena itu, dahulu para ulama melakukan berbagai cara agar kecintaan kepada Nabi terus-menerus dibangkitkan. Di antaranya dengan menghias majelis-majelis mereka dengan bacaan shalawat, mengadakan peringatan maulid, dan mengungkapkan kecintaan mereka dengan puisi-puisi, sehingga sepanjang sejarah sudah terkumpul ribuan puisi yang ditulis untuk mengungkapkan kecintaan kepada Rasululah saw.
Beberapa waktu yang lalu di masjid Asy-Syifâ, Universitas Diponegoro, saya mengajak semua orang untuk kembali membangkitkan kecintaan kepada junjungan kita Rasulullah saw. Ada orang yang bertanya kepada saya: “Saya ingin mencintai Rasulullah, tapi apa yang harus saya lakukan supaya kecintaan itu tertanam di dalam hati saya. Kalau saya ini mencintai seorang perempuan, saya bayangkan wajahnya, rambutnya, dan bibirnya supaya tumbuh kerinduan saya kepada perempuan itu. Apakah saya harus membayangkan wajah Rasululah saw, supaya saya bisa men-cintainya?” Waktu itu saya menjawab: “Inilah bencana paling besar yang menimpa kita sekarang ini. Kita hanya bisa mencintai sesuatu yang bisa dilihat, diraba, dan disaksikan. Kita ini sama dengan orang-orang kafir yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Mereka hanya mencintai yang zhahir saja, mata mereka tidak dapat menembus hal-hal yang bathiniyah.
Jadi, kalau kita mau mencintai, maka cinta kita hanya cinta fisikal saja, cinta yang sensual. Kita tidak dididik untuk mencintai orang bukan karena tubuhnya. Di dalam ilmu percintaan, cinta karena tubuh adalah tahapan cinta yang paling rendah. Para ahli jiwa mengatakan, cinta pertama pada anak-anak adalah cinta pada sesuatu yang bisa dilihat. Menurut Sigmund Freud, pertama kali seseorang mencintai ialah ketika dia merasakan kenikmatan pada waktu menyusu kepada ibunya. Itulah cinta yang paling rendah. Makin dewasa orang itu, makin abstrak atau makin tidak kelihatan cintanya. Sayang, tampaknya kedewasaan kita ini lambat.
Salah satu ciri ketidakdewasaan kita adalah bila kita mencintai sesuatu, itu dikarenakan oleh hal-hal yang kongkret dan bisa dilihat. Kita cinta kepada gunung, karena kehijauannya yang bisa dilihat dan kesejukkan anginnya yang bisa dirasakan. Bukan karena keanggunannya dan misteri yang ada dibalik gunung itu. Kalau kita menceritakan laut, yang kita ceritakan adalah gelombangnya, batu-batu karangnya, dan ikan-ikannya. Tidak kita ceritakan keluasan samudera itu, kedahsyatannya, dan pengaruhnya kepada jiwa kita. Sebab, semua hal itu terlalu abstrak dan kita terbiasa dengan hal-hal yang kongkret.
Ketika Pemilu, kita memilih partai bukan program-programnya. Karena program bersifat abstrak, tidak kelihatan. Kita jugamemilih bukan karena perilaku para politisinya, karena perilaku itu tidak kelihatan.
Tapi saya tidak akan menceritakan hal itu, saya akan membawa Anda mencintai Rasulullah saw dengan kecintaan yang lebih tinggi tingkatnya. Bukan kecintaan fisikal atau jasmaniah. Kecintaan jasmaniah itu adalah kecintaan ala ABG, yang tidak layak buat orang-orang dewasa seperti kita.
Kalau kita buka ayat Al-Qur’an, ketika Allah berkisah tentang Rasulullah saw, tidak pernah diceritakan sifat-sifat jasmaniah Rasulullah saw. Al-Qur’an selalu menceritakan sifat-sifat ruhaniah Rasulullah saw. Bercerita tentang akhlak Rasulullah saw, bukan penampilan fisiknya.
Berbeda dengan para sahabat. Kalau sahabat bercerita tentang Rasulullah saw sering berupa penampilan fisiknya. Misalnya diceritakan bahwa Rasul itu kalau tertawa sampai kelihatan gusinya. Atau diceritakan tentang tetesan keringat Rasul. Siti Aisyah pernah terpesona dengan tetesan keringat di dahi Rasul, sampai dia berkata: “Ya Rasulullah, ingin saya bacakan sebuah puisi kepadamu.” Lalu Siti Aisyah menuliskan puisinya dengan mengutip syair seorang Arab tentang tetesan keringatnya. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Siti Aisyah hanya mencintai Rasulullah saw karena jasmaninya.
Saya ingin mengetengahkan satu ayat Al-Qur’an. Ada riwayat yang agak lucu tentang ayat ini. Katanya setelah Al-Qur’an terkumpul dan tertulis pada zaman Abu Bakar, seseorang berkata bahwa ada satu ayat yang hilang. Pada waktu itu, seseorang yang mengumpul-kan ayat harus membawa saksi satu orang. Sehingga jumlah pengumpul ayat ada dua orang. Seseorang berbicara, “Ada yang terlewat, satu ayat belum masuk ke situ.” Dia hanya seorang diri, tidak mempunyai saksi. Namanya Khuzaimah bin Tsabit. Lalu orang-orang berkata, “Kesaksian Khuzaimah bin Tsabit dihitung menjadi dua, karena hanya dia yang mengetahui ayat Al-Qur’an ini.”
Lepas dari persoalan hadits ini shahih atu tidak, ayat itu bercerita tentang akhlak Rasullullah saw dan ayat itu sering menjadi wirid kita semua. Mungkin ini juga merupakan cara agar kita mampu memasukkan akhlak itu dalam kehidupan kita. Ayat itu berbunyi, “Laqad Jâ’akum Rasûlum Min Anfusikum…” (QS Al-Taubah 128). Menurut Fakhrur Râzi, kata anfusikum menurut qira’at nabi saw, qira’at Fatimah as, dan qira’at Aisyah dari Ibnu Abbas as harus dibaca Anfasikum. Dibacanya difathahkan bukan didhammahkan. Hal ini akan kita ceritakan kemudian.
Fakhrur Razi menjelaskan ada empat sifat Nabi yang tergambar dalam Surat At-Taubah ayat 128. Pertama, Min Anfusikum, dari kalanganmu sendiri. Nabi berasal dari sesama manusia seperti kamu. Nabi yang datang itu bukanlah Nabi yang datang sebagai makhluk ghaib, bukan pula Superman, tapi Nabi yang datang dari tengah-tengah manusia. Bahkan Nabi diperintahkan untuk berkata bahwa Nabi adalah manusia seperti kita semua, seperti dalam ayat “Qul innamâ anâ basyârum mitslukum…” (QS. Al-Kahfi 110) Nabi adalah manusia biasa. Kalau ia berjalan, ada bayang-bayang badannya. Kalau terkena panas matahari, berkeringat kulitnya. Kalau terkena anak panah, berdarah tubuhnya. Ia bukan manusia istimewa dari segi jasmaniahnya, ia pun merasakan lapar dan dahaga. Al-Qur’an menegaskan bahwa kehidupan Nabi itu sama seperti kehidupan manusia biasa. Nabi dapat merasakan kepedihan dan penderitaan seperti manusia biasa yang mendapatkan musibah.
Dalam qira’at Min Anfasikum, diterangkan bahwa kata Anfas mengandung arti yang paling mulia. Jadi ayat ini berarti, “Sudah datang di antara kamu seorang Rasul yang paling mulia.” Artinya Rasulullah diakui kemuliaannya, bahkan sebelum Rasul membawa ajaran Islam. Dia adalah orang yang paling baik di tengah-tengah masyarakatnya dilihat dari segi akhlaknya. Sebagian orang ada yang menyebutkan bahwa Rasul berasal dari kabilah yang paling baik. Jadi sifat pertama nabi adalah paling mulia akhlaknya, sampai orang-orang di sekitarnya memberi gelar Al-Amîn, orang yang terpercaya.
Sifat kedua Nabi ialah, berat hatinya melihat penderitaan umat manusia. Para ahli tafsir mengatakan yang dimaksud dengan berat hati Nabi ialah kalau manusia menemukan hal-hal yang tidak enak. Dalam riwayat yang lain, yang diartikan dengan berat hati Rasul ialah jika orang Islam berbuat dosa kepada Allah. Dalam sebuah hadits, diriwayatkan bahwa sampai sekarang Rasulullah masih dapat melihat perbuatan-perbuatan kita dan Rasul akan menderita jika melihat kita berbuat dosa. Karena beliau sangat ingin supaya kita memperoleh petunjuk Allah. Bahkan Rasul sampai bersujud di hadapan Allah agar diizinkan untuk dapat memberi syafaat kepada umatnya.
Jalaluddin Rumi bercerita dalam salah satu syairnya yang dibukukan dalam Al-Matsnawi tentang Rasulullah saw. Pada suatu hari di mesjid, Rasul kedatangan serombongan kafir yang meminta untuk bertamu. Mereka berkata, “Kami ini datang dari jarak yang jauh, kami ingin bertamu kepada Engkau, Ya Rasulullah.” Lalu Rasul mengantarkan para tamu tersebut kepada para sahabatnya. Salah seorang kafir yang bertubuh besar seperti raksasa tertinggal di mesjid, karena tidak ada seorang sahabat pun yang mau menerimanya. Dalam syair itu disebutkan, ia tertinggal di mesjid seperti tertinggalnya ampas di dalam gelas. Mungkin para sahabat takut menjamu dia, karena membayangkan harus menyediakan wadah yang sangat besar.
Lalu Rasul membawa dan menempatkannya di sebuah rumah. Dia diberi jamuan susu dengan mendatangkan tiga ekor kambing dan seluruh susu itu habis diminumnya. Dia juga menghabiskan makanan untuk delapan belas orang, sampai orang yang ditugaskan melayani dia jengkel. Akhirnya petugas itu menguncinya di dalam. Tengah malam, orang kafir itu menderita sakit perut. Dia hendak membuka pintu tapi pintu itu terkunci. Ketika rasa sakit tidak tertahankan lagi, akhirnya orang itu mengeluarkan kotoran di rumah itu.
Setelah itu, ia merasa malu dan terhina. Seluruh perasaan bergolak dalam pikirannya. Dia menunggu sampai menjelang subuh dan berharap ada orang yang akan membukakan pintu. Pada saat subuh dia mendengar pintu itu terbuka, segera saja dia lari keluar. Yang membuka pintu itu adalah Rasulullah saw.
Rasul tahu apa yang terjadi kepada orang kafir itu. Ketika Rasul membuka pintu itu, Rasul sengaja bersembunyi agar orang kafir itu tidak merasa malu untuk meninggalkan tempat tersebut.
Ketika orang kafir itu sudah pergi jauh, dia teringat bahwa azimatnya tertinggal di rumah itu. Jalaluddin Rumi berkata, “Kerasukan mengalahkan rasa malunya. Keinginan untuk memperoleh barang yang berharga menghilangkan rasa malunya.” Akhirnya dia kembali ke rumah itu.
Sementara itu, seorang sahabat membawa tikar yang dikotori oleh orang kafir itu kepada Rasul, “Ya Rasulullah, lihat apa yang dilakukan oleh orang kafir itu!” Kemudian Rasul berkata, “Ambilkan wadah, biar aku bersihkan.” Para sahabat meloncat dan berkata, “Ya Rasulullah, engkau adalah Sayyidul Anâm. Tanpa engkau tidak akan diciptakan seluruh alam semesta ini. Biarlah kami yang membersihkan kotoran ini. Tidak layak tangan yang mulia seperti tanganmu membersihkan kotoran ini.” “Tidak,” kata Rasul, “ini adalah kehormatan bagiku.” Para sahabat berkata, “Wahai Nabi yang namanya dijadikan sumpah kehormatan oleh Allah, kami ini diciptakan untuk berkhidmat kepadamu. Kalau engkau melakukan ini, maka apalah artinya kami ini.”
Begitu orang kafir itu datang ke tempat itu, dia melihat tangan Rasulullah saw yang mulia sedang membersihkan kotoran yang ditinggalkannya. Orang kafir tidak sanggup menahan emosinya. Ia memukul-mukul kepalanya sambil berkata, “Hai kepala yang tidak memiliki pengetahuan.” Dia memukul-mukul dadanya sambil berkata, “Hai hati yang tidak pernah memperoleh berkas cahaya.” Dia bergetar ketakutan menahan rasa malu yang luar biasa. Kemudi-an Rasul menepuk bahunya menenangkan dia. Singkat cerita, orang kafir itu masuk Islam.
Boleh jadi cerita Jalaluddin Rumi ini adalah sebuah metafora. Suatu perlambang bahwa kedatangan Rasul adalah untuk membersihkan kotoran dan noda-noda yang ada pada diri kita. Betapa banyaknya kaum muslimin menodai rumah Rasul dengan kemaksiatan dan akhlak yang buruk. Kita ini sama dengan orang kafir yang menaburkan kotoran di rumah Rasul yang suci. Bedanya ialah, kita percaya karena kecintaan Nabi kepada kita, Rasul akan mengulurkan syafaatnya kepada kita. Derita kita adalah juga derita Rasul. Karena itu, jangan ragu-ragu untuk datang meminta syafaatnya dan bersimpuh di hadapan Nabi sambil mengucapkan, “Yâ Abal Qâsim, Yâ Rasûlallâh, Yâ Wajîhan ‘Indallâh, Isyfa’lanâ ‘Indallâh.”
Terlalu banyak kotoran yang kita taburkan di rumah Nabi yang mulia. Seperti tertulis dalam sebuah puisi Iqbal. Ketika sakit keras, Iqbal pernah berdo’a: “Ya Allah kalau Engkau adili aku di hari kiamat nanti, jangan dampingkan aku di samping Nabi Al-Musthafa. Karena aku malu mengaku sebagai umatnya padahal hidupku bergelimang dalam dosa.”
Kita sebenarnya harus malu seperti malunya orang kafir itu. Kita datang berziarah kepada Rasul di bulan Maulid ini dengan membawa seluruh kemaksiatan. Kita sudah banyak mengotori rumah Rasul yang mulia dengan akhlak yang tercela. Tapi kita percaya bahwa Nabi mendengar jeritan kita. Kita sadari kejelekan akhlak-akhlak kita dan kita malu bertemu dengan Rasul dengan membawa dosa. Tetapi kita percaya bahwa kita menantikan tepukan tangan Rasul untuk menentramkan batin kita dan mengharapkan syafaatnya.
Sifat ketiga Rasullullah saw, ialah bahwa ia sangat ingin agar kaum muslimin memperoleh kebaikan. Ia ingin memberikan petunjuk kepada umatnya. Keinginan untuk memberikan petunjuk kepada kita begitu besar, sehingga Rasul bersedia memikul seluruh penderitaan dalam berdakwah.
Adapun sifat keempat Rasulullah saw, ialah bahwa ia sangat penyantun dan penyayang kepada kaum mukminin. Menurut para ahli tafsir, belum pernah Allah menghimpunkan dua nama-Nya sekaligus pada nama seorang nabi, kecuali kepada Nabi Muhammad saw. Nama yang dimaksud ialah nama Raûfur Rahîm.
Raûfur Rahîm itu adalah nama Allah. Nama itu pun dinisbahkan Allah kepada Rasulullah. Menurut sebagian ulama, Raûfun artinya penyayang dan Rahîm artinya pengasih. Jika kedua kata itu digabungkan dalam satu tempat, maka artinya berbeda. Menurut sebagian ahli tafsir, nama itu berarti sifat Nabi yang penyayang tidak hanya kepada orang yang taat kepadanya, tapi juga penyayang kepada orang yang berbuat dosa. Nabi melihat amal kita setiap hari. Beliau berduka cita melihat amal-amal kita yang buruk.
Dalam riwayat yang lain, Rasul itu Raûfun Liman Râ’ah, Rahîmun Liman Lam Yarâh. Artinya, Rasul itu penyayang kepada orang yang pernah berjumpa dengannya dan juga penyayang kepada orang yang tidak pernah berjumpa dengannya. Suatu hari Rasul berkata, “Alangkah rindunya aku untuk berjumpa dengan ikhwânî.” Para sahabat bertanya, “Bukankah kami ini ikhwânuka.” “Tidak,” jawab Rasul, “kalian ini sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku adalah orang yang tidak pernah berjumpa denganku, tapi membenarkanku dan beriman kepadaku.” Rasul sangat sayang kepada orang yang tidak pernah berjumpa dengan Rasul tetapi beriman kepadanya.
Di dalam Tafsir Al-Dûrrul Mantsûr, diriwayatkan sebagai berikut, “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku, padahal tidak pernah berjumpa denganku.” Rasul menye-butnya sampai tiga kali. Rasul juga sayang bukan hanya kepada orang Islam saja, tetapi juga kepada orang kafir.
Saya akan menceritakan hadits lain. Diriwayatkan bahwa ketika Rasul berdakwah di Thaif, Rasul dilempari batu sehingga tubuhnya berdarah. Kemudian Rasul berlindung di kebun Uthbah bin Rabi’ah. Rasul berdo’a dengan do’a yang sangat mengharukan. Rasul memanggil Allah dengan ucapan, “Wahai yang melindungi orang-orang yang tertindas, kepada siapa Engkau akan serahkan aku, kepada saudara jauh yang mengusir aku?” Kemudian datang malaikat Jibril seraya berkata: “Ya Muhammad, ini Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu. Dan ini malaikat yang mengurus gunung-gunung, diperintah Allah untuk mematuhi seluruh perintahmu. Dan dia tidak akan melakukan apapun kecuali atas perintahmu.” Lalu malaikat dan gunung berkata kepada Nabi, “Allah memerintahkan aku untuk berkhidmat kepadamu. Jika engkau mau, biarlah aku jatuhkan gunung itu kepada mereka.” Namun Nabi berucap, “Hai malaikat dan gunung, aku datang kepada mereka karena aku berharap mudah-mudahan akan keluar dari keturunan mereka orang-orang yang mengucapkan kalimat Lâilâha illallâh.” Nabi tidak mau menurunkan azab kepada mereka. Nabi berharap kalau pun mereka tidak beriman, keturunan mereka nanti akan beriman. Kemudian berkata para malaikat dan gunung, “Engkau seperti disebut oleh Tuhanmu, sangat penyantun dan penyayang.”
Kasih sayangnya tidak terbatas kepada umatnya. Perasaan cinta kita kepada Nabi tidak sebanding dengan besarnya kecintaan Nabi kepada kita semua. Kecintaan Nabi terhadap orang-orang yang menderita begitu besar. Menurut Siti Aisyah, Nabi tidak makan selama tiga hari berturut-turut dalam keadaan kenyang. Ketika Aisyah bertanya apa sebabnya, Nabi menjawab, “Selama masih ada ahli shufah —orang-orang miskin yang kelaparan di sekitar mesjid— saya tidak akan makan kenyang.” Dan itu tidak cukup hanya pada saat itu, Nabi juga memikirkan umatnya di kemudian hari. Beliau khawatir ada umatnya yang makan kenyang sementara tetangga di sekitarnya kelaparan.
Karena itu, Nabi berpesan, “Tidak beriman kamu, jika kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara tetanggamu kelaparan.” Nabi pun mengatakan, “Orang yang senang membantu melepaskan penderitaan orang lain, akan senantiasa mendapat bantuan Allah swt.” Empat sifat Rasulullah kepada umatnya, yang sangat luar biasa.
Marilah kita kenang kecintaan Rasulullah yang agung kepada kita dan bandingkanlah apa yang bisa membuktikan kecintaan kita kepadanya. Sekarang kita bertanya, sudah sejauh mana kita mengikuti sunnah Rasulullah saw? Dapatkah akhlak kita seperti akhlak Nabi sebagaimana yang disebut dalam surat Al-Taubah 128? Bagai-mana kita dapat ikut merasakan penderitaan orang-orang di sekitar kita? Bagaimana kita menjadi orang yang berusaha agar orang- orang lain itu hidup bahagia dan memperoleh petunjuk Allah? Bagaimana kita menumbuh-kan sikap Raûfur Rahîm di dalam diri kita seperti Rasulullah saw contohkan kepada kita?
Marilah kita sebarkan kecintaan kepada Rasulullah saw di dalam diri kita, keluarga kita, dan pada masyarakat di sekitar kita. Akhirul kalam, yang harus selalu kita ingatkan pada diri kita adalah misi Rasulullah yang paling utama, yaitu misi akhlak yang mulia. Tidak ada artinya menisbahkan diri kita kepada Rasulullah saw tanpa memelihara akhlak yang mulia. Hendaknya kita selalu malu untuk mengucapkan shalawat kepada junjungan kita, sementara di punggung kita penuh dengan dosa dan maksiat. Kita telah mengotori rumah Rasulullah saw dengan akhlak buruk kita. ***
(sumber: Buletin Al-Tanwir: Nomor 119 Edisi 15 Juli 1998)
Diambili dari: jalal-center.com
DIarsipkan di bawah: Cinta Rasul

Begitu indahnya sifat2 Rasulullah.
Kepada siapa saja yang mencintainya, sesungguhnya orang itu benar2 beruntung.
Semoga kita,umat Islam di masa yang sekarang, dapat mencintai Rasulullah seperti sahabat2 beliau.
saya terharu membaca kisah dan sifat rasulullah SAW saya merasa malu menjadi umat beliau karena sifat dan kelakuan saya jauh berbeda dengan sifat beliau, padahal tiap hari saya selalu bersholawat kepada beliau serta kepada keluarga beliau. mudah2an dengan membaca artikel ini saya bisa merubah sifat saya agar seperti rasulullah SAW minimal mengikuti sunahnya, terimakasih kepada penulis artikel ini, mudah2an rasullulah memberi syafa’at kepada kita umat islam di hari akhir.amin
setelah saya membaca sifat rasulullah saya ingin sekali menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari .mulai dari cara berbicara sampai cara bersikap dan berprilakunya.muda-mudahan setelah membaca artikel ini saya bisa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari,terima kasih kepada penulis artikel ini,mudah2an rasulullah memberi syafa’at kepada kiti semua di hari akhir,amin.
Mencintai rasul/nabi apabila rasul/nabi-nya masih hadir hidup diantara kita dari semua agama.
Tetapi apabila rasul/nabi-nya telah wafat dari tiap-tiap agama yang ada menurut Ali Imran (3) ayat 80: adalah nabi/rasul itu diarbabankan (diberhalakan) oleh umatnya.
Padahal Allah mengharuskan shahadat tauhid (satu) dari pada shahadatain (dua) sesuai Al Jaatsiyah (39) ayat 45.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Ya Allah sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
ya Rasulullah sungguh engkau adalah manusia yang penyatun dan penyayang kepada seluruh umat manusia dari sebelum dan sesudah mu. Engkau begitu peduli dengan penderitaan kami, sementara kami amat sedikit patuh dan tunduk pada ajaran mu.
ya Rasulullah sungguh kami merasa malu dengan diri kami yang bergelimang dosa, kami mengharapkan syafa’atmu meskipun kami tahu bahwa kami adalah umat yang sedikit berterima kasih kepadamu. biarlah langit dan bumi menjadi saksi bahwa aku mencintaimu dengan segenap hatiku bahwa aku bershalawat kepadamu “Allahhumma shali ala Muhammad wa ali Muhammad”.
Saya bingung wahai engkau muslim. Apa yang anda kejar dari sang Muhammad. Saya bingung apa alquran memang dari Allah swt.?????? Kalau memang, napa sich alquran mengajarkan tuch memusuhi yang membenci kita. Kenapa sich orang yang menyebut nama Allah itu sambil membunuh orang dan bunuh diri bisa masuk surga??? aneh???
Kami sangat mengagumi Gus dur. Kami lebih menghargai gus dur ketimbang FPI yang munafik. KAmi warga china sangat mencitai kedamaian. Tapi kami memandang FPI itu terlalu berlebihan .apa sudah barang tentu anda itu yang paling benar. Apa Buddha, Konghucu n Kristen itu salah>>???
Saya sangat sedih memandang teman agama laen yang minoritas. Kristen itu baek. sangat menghargai kami yang berbeda, mereka begitu mencintai kami dan kamu muslim. Tapi kenapa Gereja mereka harus di bom??? mereka harus dikatakan kafir??? Mengapa mereka dilarang berkembang di Aceh atau di Indonesia. Apakah mata hati nuarani kalian tidak terbuka ketika, mereka membatalkan acara Natal mereka untuk mengumpulkan sumbangan bagi tsunami AceH??? Apkah mereka layak dikatakan kafir??? Apakah mereka pernah mengatakan kalian hina>>???? Mari wahai FPI, sadarkan OTAKMU>>>> jangan EGOIS LOEEE!!!!! Cintai musuhmu. Jangan bunuh diri lagi ya?!!!!!!
@Kaum yang mencintai minoritas/Kaum yang tobat dari muslim,
sebenarnya sih saya ndak mau nanggapai tulisan yang nggak nyambung dengan artikel diatas… tapi apa boleh buat.
dari tulisan anda, anda sendiri provokator, ngaku cina, cinta gusdur dll walhasil your big bullshit sdh ketahuan..
kalo perbuatan dari perorangan golongan dijadikan ukuran satu kelompok maka:
1. belanda yang kristiani juga brengsek karena telah menistakan dan membantai bangsa Indonesia dalam penjajahannya selama 350 tahun.
2. Amerika mulai sebelum bush sampai Obama sekarang (yang juga penganut kristen) telah membomi penduduk sipil baik di Iraq maupun afghanistan hampir tiap hari….. belum lagi tangan2 berdarahnya di berbagai belahan dunia lalu apa semua umat nasrani bejat seperti mereka?
3. yahudi zionist yang mendirikan negaranya dengan menduduki tanah palestina dengan membawa-bawa klaim keagamaan dari taurat… tiap hari membantai bangsa palestina tak berdosa… lalu apa semua pengikut taurat biadab seperti rezim zionis?
4. bahkan komunis baik cina maupun rusia (yang tidak mengenal tuhan/ateis) telah melakukan pembantaian ribuan manusia tak berdosa) lalu apa semua manusia yang tak bertuhan (ateis) berprilaku sadis dan kejam seperti itu?
dan dan dan masih banyak lagi…
terakhir.. yang aneh pada diri anda… menentang kejahatan.. tapi ocehan anda sendiri seperti orang yang tidak mempunyai etika!!
BAgi ketua FPI, (sensor)
-kajian islam-
tolong gunakan bahasa yang sopan…! terima kasih
trims
BUAT “Kaum yang tobat dari muslim” dan “kaum yang mencintai minoritas” … saya punya pertanyaan seperti ini…
1. Apakah hanya karena segelintir orang yang punya “pandangan” bahwa membunuh dan bunuh diri itu benar lantas anda anggap bahwa semua muslim itu seperti itu?
2. Apakah yang membuat anda berpikir bahwa ISLAM mengajarkan hal yang seperti itu?
3. Tahukah mengapa Osama Bin Laden yang katanya beragama ISLAM itu dan membom WTC sampe sekarang gak pernah ketangkap sama amerika (katanya amerika itu negara canggih). Mengapa anda tidak berfikir bahwa Osama Bin Laden melakukan hal itu karena suruhan amerika, untuk memperburuk citra muslim?
4. Di TV saya sering lihat bahwa orang china sering jadi bandar besar Shabu-Shabu dan koruptor kelas kakap, apakah benar jika saya berfikir bahwa semua warga china itu bandar shabu2 dan koruptor kelas kakap. Jika saya punya fikiran seperti itu.. menurut pendapat anda, apakah saya adil. Tentu tidak kan??
Buat kaum yg merasa minoritas,sungguh pandangan anda hanya dr sbelah pihak.tolong jg lht bgmn israel membntai orang2 palestina.oya soal budha, hindu,konghuchu,kristen dan sebagainya.memang ya.islam mengganggap salah.manusia d cptakan olh satu tuhan.mungkn kah tuhan bikin banyak agama?.o ya,agama d luar islam menurut saya bkn agama.Silahkan anda pikir sendiri dgn pemikiran yg jernih
allahumma shali ala muhammad wa ala ali muhammad…. bukalah mata hatimu,agar dapat melihat cahaya kebenaran dari allah….,sesungguhnya allah maha pengasih dan penyayang…serta mengampuni dosa orang2 yg bertaubat…..
Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ala ali Muhammad
makasih buat penulis artikel ini..
Saya menjadi sadar betapa jauhnya sifatku dari sifat rasulullah saw.
Semoga kita semua seluruh umat manusia di dunia, mendapat syafa’at dari rasulullah saw..
aamin
Ada orang yang mengatakan jangan nilai agama dari pengikutnya, padahal zaman Rasulullah, zaman para sahabat banyak yang tertarik masuk Islam karena keteladan dan kebaikan akhlak, bukan dengan kekerasan bukan dengan jumlah yg mayoritas, mudah-mudahan islam benar-benar menjadi rakhmatan lil alamin
alhamdulillah uraian tadi sungguh menyentuh hati.semoga kita dapat mengamalkan semua yang telah dicontohkan Rasulullah saw.amin…
Sangat menyentuh.. dan sangat susah untuk mempraktekan dan mengamalkan apa yang telah diteladankan oleh Rasul…Sifat yang maha pengasih dan penyayang itulah yang sangat sangat jarang terjadi pada saat ini
salam,,mudahan kte berjaya dalam mengamalkan sunnah yang dtgglkn utk kte semua whai umt islam…amin..
Soal sifat2 dan perbuatan Rasulullah saw saya rasa tidak perlu dibahas karena pasti semua makhluk yang ada di langit dan di bumi pasti akan memuliakan beliau, beliau adalah kekasih Allah, uswatun hasanah, rahmatan lil ‘alamin, sayyidul anbiyai wal mursalin, satu-satu manusia yang bisa bertemu dan berdialog langsung dengan Allah di Shidratul Munthaha. Yang perlu dipertanyakan disini adalah :
1. Dalam Surat Abasa watawalla, didalam terjemahan disitu dikatakan bahwa …….dia (Muhammad) bermuka masam…..
Pertanyaannya benarkah pada saat peristiwa itu beliaulah yang bermuka masam ketika ada seorang yang buta ingin bergabung dalam majelis Rasulullah?kalo benar apakah itu sesuai dengan sikap dan perilaku beliau yang dikatakan adalah uswatun khasanah yang memiliki budi pekerti yang luhur
2. Maaf kepada pada Ustadz……………dalam ceramah2 agama sering kali para ustadz menyampaikan bahwa Rasulullah saw adalah seorang nabi yang buta huruf.
Pertanyaannya benarkah beliau adalah seorang yang buta huruf/bodoh?bagaimana dengan gelar beliau Sayyidul Anbiyai wal Mursalin, mungkinkan pemimpin para nabi dan rasul itu bodoh?Semua nabi dan rasul mengatakan tentang kebesaran dan ketinggian ilmu Muhammad Rasulullah dalam kitab dan suhuf2nya meskipun beliau belum dilahirkan. Dalam QS. Al Baqarah:32, Allah perintahkan Nabi Adam as untuk mengajarkan nama-nama kepada para malaikat. Nah bagaimana mungkin Muhammad Rasulullah dikatakan bodoh/buta huruf sedangkan beliau bergelar pemimpin para nabi dan rasul yang di dalamnya termasuk Nabi Adam as yang telah mengajari para malaikat.
Dari dua hal tersebut diatas kita tidak menyadari bahwa kita telah melecehkan nabi dan rasul kita sendiri dan dari dua hal yang saya kemukakan diatas itu baru sedikit masih banyak hal2/pernyataan2 yang tanpa kita sadari kita telah melecehkan Nabi Besar Muhammad saw.
Maka dari itu marilah sama-sama kita renungkan bersama dan kita tadabur Al Qur’an agar kita mendapatkan petunjuk.
Telah di tuliskan diatas bahwa nabi muhammad adalah manusia biasa menurut saya nabi muhammad adalah satu mutiara terindah diantara ribuan mutiara bahkan mungkin jutaan mutiara karena telah diriwayatkan dalam kisah kenabian bahwa nabi muhammad mengetahui tentang alam gaib seperti ketika nabi melalui sebuah kuburan yang penghuninya disiksa dan nabi juga mengetahui tentang kejadian yang telah lampau dan kejadian yang akan datang dan pada isra mi raj nabi sanggup sampai sidratulmuntaha danjibril tidak sanggup